My Little Devil

My Little Devil
Penyerangan


__ADS_3

Setelah mendengar penuturan Evelyne tentang suatu hal yang akan terjadi pada Leen, perasaan Maxwell menjadi tak karuan. Ia berusaha menepis pikiran-pikiran negatif karna notabene-Nya Evelyne dewasa memiliki hasrat pendendam dan juga kebencian yang besar. Ia berusaha untuk mengendalikan pikirannya agar tak terpengaruh sedikit-pun dengan kalimat Evelyne barusan.


Seperti sekarang. Ia terus mencoba untuk memahami Evelyne yang tampak sangat terburu-buru mendesaknya untuk kembali ke Markas untuk mendapatkan informasi.


"Aku ingin pergi sekarang."


Maxwell terdiam sejenak. Ntah apa yang tengah ia pikirkan Maxwell segera berdiri lalu meraih Jaket di atas ranjang.


Dengan wajah datar itu terlihat jelas ia sudah malas untuk berdebat dengan Evelyne.


"Wow! Kau cepat menurut."


Maxwell sama sekali tak menjawab itu. Ia mengeluarkan Ponselnya dimana Hunter sudah di bawah Lobby Perusahaan.


Pria yang mengetuai Pasar gelap yang dulu ia datangi sudah ia panggil kesini karna ingin mencari sesuatu.


"Pakai celana-mu!" gumam Maxwell tahu Evelyne tak memakai bawahannya.


Sontak Evelyne terhenyak dengan wajah agak kaku meraba bagian pahanya. Sedetik kemudian senyum sinisnya membuat Maxwell membelo jengah.


"Mata-mu jeli juga."


"Jangan membuang waktu lagi. Hunter ada di bawah, kau bisa bertanya padanya!" tegas Maxwell lalu pergi keluar dari kamar tanpa menatap Evelyne yang seketika merubah wajahnya dingin.


Ia melempar hunusan tajam akan kepergian Maxwell yang begitu angkuh dan sangat arogan. Pria ini tak bisa sama sekali ia buat memanas.


"Cih. Dia pikir dia siapa," gumam Evelyne seraya berjalan ke area Lemari.


Ia membuka kasar benda itu lalu mencari celana tapi lebih tepatnya ia menyukai Boxer milik Maxwell. Ia sudah terbiasa memakai Kemeja besar yang selalu di koyak untuk Bera-Nya dan bagian daleman yang agak kebesaran tapi ia suka.


"Aku akui kau memang sulit di tebak tapi kau cukup baik. Aku terkesan," gumam Evelyne lalu memakai benda itu.


Tak lupa ia juga mengambil Topi Maxwell yang ia temukan di sudut bawah lemari lalu berulah ia keluar dari kamar.


Saat tiba di ruangan kerja Maxwell. Mata abu Evelyne mencari-cari keberadaan sosok itu. Ia melanjutkan langkah keluar hingga tepat di depan Lift sana Maxwell dengan pesona ekstra dan gaya khas keangkuhannya tengah membiarkan Hunter keluar dari lift.


"Tuan! Ada apa kau memanggilku?"


"Kau sudah lama di tinggal di area Pura, bukan?" tanya Maxwell dan diangguki Hunter.


Ia agak tegang karna tak biasanya Maxwell memanggilnya secara khusus apalagi Pria ini selalu membuat korban ketika tengah bertemu.


"T..Tuan. Aku.."


Ucapannya terhenti kala matanya tak sengaja menangkap sosok wanita yang berdiri di depan pintu sana. Ia menyeringit merasa Familiar dengan mata abu dan wajah cantik ini.


"Berikan aku alasan yang tepat. Atau kau akan menyesal sudah memandang-ku," geram Evelyne menyadarkan Hunter yang seketika langsung berdehem.


"A.. Maaf. Nona! aku hanya merasa kau sangat cantik."


"Hanya itu?" Evelyne mulai naik darah karnanya.


"T..tapi.."


"Dia adalah salah satu orang Pura Goodness. Kau cukup menanyai apa yang perlu dia jawab," tegas Maxwell lalu kembali berjalan ke arah ruangannya melewati Evelyne yang hanya membisu memandangnya panas.


Melihat kepergian Maxwell rasa panik Hunter belum usai. Ia merasa wanita ini tak jauh berbeda dengan Tuannya.

__ADS_1


"Aku tak punya banyak waktu. Kau cukup ingat dan jelaskan!"


"I... Iya. Nona!"


Jawab Hunter mendengarkan Evelyne yang bersedekap dada bersandar ke daun pintu sana.


"Kau kenal dengan Biksu Aide'an?"


Hunter terdiam sejenak dan cukup lama mencerna apa yang Evelyne katakan. Nama itu terasa tak asing tapi ia berusaha mengingatnya.


"Dia petinggi Pura Goodness yang dulu pernah terbakar habis."


"P..Pura dan.."


Seketika Hunter tersentak kala sudah sedikit paham dan mengingatnya. Ia segera menatap Evelyne yang terlihat membeku.


"Aku ingat tapi tak terlalu mengerti. Pura itu memang ada dan sudah tua, dulu dia punya kejayaannya sendiri dan masa emas yang gemilang."


"Apa kau tahu perselisihan Pura itu dengan siapa saja?"


Hunter diam tapi ia juga tak terlalu paham karna saat itu ia masih kecil dan hanya di bawa ayahnya berkunjung ke sana untuk menemui beberapa Biksu yang terlihat sejahtera saja.


"Pura itu tak pernah ada masalah. Pendeta Aide'an memimpin dengan baik. Dia juga beberapa kali menolak Anggota Pemerintahan yang ingin menjadikan area Pura itu sebagai Objek wisata karna saat itu banyak umat Hindu berdatangan ke sana bahkan mengalahkan objek yang lain."


"Apa kau melihat dalang dari Kebakaran malam itu?" tanya Evelyne dengan raut wajah begitu dingin.


Hunter menggeleng membuat kedua tangannya terkepal dan sangat ingin menghabisi orang-orang itu.


"Saat itu aku tak lagi tinggal di sana. Tapi, Ayah-ku mengatakan jika sebelum kejadian itu muncul, Pura dalam keadaan baik- baik saja dan.."


"JIKA BAIK KENAPA BISA TERBAKAR?? AKU MELIHAT JELAS JIKA AYAH DAN IBUKU DI TERPANGGANG DI SANA!!!"


"Jika itu memang kecelakaan kenapa malam itu suara tembakan dan anak panah terdengar?! Apa itu logis?"


"Nona kenapa kau bisa tahu?" tanya Hunter heran.


"Karna aku adalah.."


"Hanya itu yang kau tahu?" suara Maxwell menyela obrolan panas ini. Ia berdiri di samping Evelyne yang tampak sudah memburu dan benar-benar terlihat membenci hal ini.


"Tuan! Yang tahu tentang seluk-beluk Pura itu hanya Ayah-ku. Aku hanya mendengar sekilas apalagi di tahun itu umurku masih belia, aku juga tak paham kenapa wanita ini bisa tahu."


Maxwell menghela nafas ringan. Evelyne terlalu terburu-buru dan hanya mengedepankan emosinya. Wanita ini sama sekali tak stabil.


"Kau cari semua informasi tentang Kebakaran itu. Siapapun orangnya dan kemungkinan musuh kau selidiki segalanya."


"Baik. Tuan!"


Hunter pergi ke dalam Lift tapi sebelum itu ia menatap Evelyne dengan pandangan aneh. Agak heran memang melihat Wanita secantik itu punya tempramen yang buruk.


Kala Lift sudah tertutup Maxwell ingin berbalik pergi ke dalam tapi Evelyne langsung menghadang tegas langkahnya hingga lagi-lagi wanita ini mengikis jarak yang ada.


"Tak ada yang bisa ku andalkan. Kau juga tidaak!!"


Dengan tenang Maxwell menyelami netra abu ini. Hanya dengan Evelyne ia bisa bersikap seperti ini karna tahu sumbu wanita ini pendek dan berapi besar.


"Sudah sampai hari ini satu orang saja tak bisa kau temukaan!!"

__ADS_1


"Kau tahu apa masalahmu?" tanya Maxwell menatap lekat manik abu Evelyne yang juga membangkang padanya.


"Masalah terbesar-mu itu DIRIMU SENDIRI."


"Kauu.."


"Kau tahu tentang tanda di tengkukmu?"


Evelyne diam. Ia tahu itu tapi tak ingin Maxwell membahas hal ini.


Melihat kebisuan Evelyne seketika Maxwell langsung mengambil nafas dalam.


"Kau tak mau menjelaskan secara rinci padaku. Bagaimana aku bisa membantumu?"


"Aku hanya ingin kau menemukan orang itu. Bukan membahas tentang diriku sendiri," desis Evelyne membuat senyum remeh Maxwell tercipta.


"Itu adalah segel jiwa terlarang milik Pura Goodness!"


Degg..


Evelyne terkejut saat Maxwell mengatakan itu. Ia benar-benar tak percaya jika Maxwell tahu tentang tanda di tengkuknya yang selama ini mustahil di ketahui orang luar.


"Segel itu dibuat dengan pengorbanan Nyawa. Kau mulai merasa aneh?"


"K..Kau tak tahu apapun," geram Evelyne tapi tatapan Maxwell begitu menukik segera menarik pinggang Evelyne merapat ke arahnya.


Ia memberi remasan kuat di sana hingga Evelyne harus mencengkram lengan kekarnya.


"Mulailah menyelidiki dirimu sendiri. Bisa saja kau penyebab Kebakaran itu."


"T..tidak mungkin. Aku tak mungkin melakukannya!!" bantah Evelyne mendorong bahu Maxwell yang tak berpindah tempat atau merubah posisi ini.


Tatapan Evelyne mulai berkabut tertekan akan ucapan Maxwell yang seperti menyalahkannya.


"Cih. Berpikirlah lebih tenang, kau tak bisa selalu bertanya sedangkan kau sendiri takut mengetahui jawabannya."


Gumam Maxwell menekankan itu. Evelyne segera menyentak lengannya lalu berjalan cepat menuju jendela di lantai ini.


Maxwell hanya membiarkan Evelyne melompat ke luar sana dengan beban yang sudah ia berikan.


"Aku tahu jika Anggota pemerintahan itu juga ikut campur dalam hal ini," gumam Maxwell sudah menerima data dari Jack.


Ia menganalisis semua itu sampai menemukan cela perselisihan antara Pura dan Pemerintahan kala itu. Hanya saja, Maxwell tak ingin Evelyne bertindak gegabah karna di balik peristiwa kelam itu pasti ada orang besar dan lebih tahu area perang dari pada mereka.


"Tuan!"


Jirome keluar dari Lift dengan raut wajah cukup tegang. Maxwell menatapnya datar seperti biasanya.


"Hm."


"Tuan! Anggota Deamon Dark tiba-tiba menyerang area luar Perusahaan," ucap Jirome yang bukan takut akan penyerangan ini tapi tadi ia melihat jika Wanita itu ada di lingkungan area Penyerangan.


"Mereka cukup banyak. Bisa saja Wanita itu akan terkena imbasnya, Tuan!"


Maxwell tak menunggu lagi. Ia bergegas masuk ke dalam Lift dengan Pistol yang sudah siap di balik Jaketnya.


Ia sedikit cemas karna Evelyne belum tentu bisa menghadapi musuh sebanyak itu.

__ADS_1


...


Vote and Like Sayang..


__ADS_2