My Little Devil

My Little Devil
Perasaan yang hangat


__ADS_3

Masih di ruangan yang sama. Tepat di balik Sofa yang menutupi tubuh mungilnya itu terdapat seorang bocah perempuan yang sudah sedari tadi berdiam disini.


Ia meringkuk di sudut ruangan yang agak gelap tertutup Gorden kamar menatap Bahu dan Punggung kekar Pria yang sedari tadi Minum hingga sudah tak sadarkan diri.


Netra abunya terus memandang sendu ke arah Sosok yang selalu terlihat kasar dan begitu angkuh di hadapan semua orang, sekarang seperti Singa yang tengah menahan luka di sekujur batinnya.


Ia tak mau mendekat membiarkan hening sedikit menenangkan pikiran Pria itu.


"Daddy juga sama seperti Leen," gumam Evelyne yang menangis melihat kekacauan Maxwell.


Ia disini sudah sejak Maxwell masuk. Tubuh kecilnya menyelinap dan terus menahan takut dan kecemasan kala botol-botol kaca itu dilempar ganas ke dinding sana.


Dirasa Maxwell sudah lama tak bergerak akhirnya Evelyne berdiri dengan langkah kaki hati-hati mendekat ke arah Ranjang.


Ia beberapa kali berjinjit kala pecahan kaca ini menghalangi kaki mungil tanpa alas itu. Evelyne masih dibaluti Jas Maxwell yang tak sempat ia tukar.


"Dad!"


Panggil Evelyne tapi tak ada jawaban atau pergerakan dari Maxwell yang sudah bersandar ke Samping ranjang mengarah ke area jendela lebar kamar.


Dengan hati-hati Evelyne naik ke atas Ranjang dengan perasaan takut jika Maxwell marah dan mengoyaknya disini. Tapi, rasa perduli Evelyne terlalu besar hingga ia tetap merangkak mendekati Bahu dan kepala Maxwell yang tersandar ke Ranjang kokoh ini.


"Daddy!"


Lirihnya lagi kala sudah duduk di pinggir ranjang tepat di samping bahu Maxwell yang terlihat tidur dengan pipi basah dan keadaan kemeja sudah terbuka terduduk di lantai.


Tonjolan otot-otot seksi dan bentuk dada bidang yang sangat sempurna itu terkadang membuat Evelyne melamun.


"Kenapa Leen jadi begini?!" gumam Evelyne heran sendiri. Tak biasanya ia begitu tertarik dengan Tubuh seseorang apalagi logikanya ia masih kecil.


Jadi rasa ketertarikan ini datang dari mana?


Pertanyaan terlintas di otak polosnya. Tak ingin menjadi orang lain akhirnya Evelyne kembali fokus menatap wajah Tampan Maxwell yang seketika naik level.


Rambut yang berantakan dengan bibir pink segar itu tampak sedikit terbuka bahkan aroma alkohol ini menguarkan hawa jantan dan sangat perkasa.


"Daddy sangat Tampan," malu-malu Evelyne menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Di rasa ia mulai begitu fanatik akhirnya Evelyne memutuskan untuk membereskan kamar ini agar Daddynya bisa tidur nyenyak.


"Leher Daddy pasti sakit saat bangun nanti. Leen harus menyangganya dengan bantal," gumam Evelyne tapi ia sadar jika melakukan itu sekarang bisa saja Maxwell akan bangun dan meracau seperti orang tak waras lagi.


Sebaiknya Leen bersihkan dulu kamar lalu ganti baju Daddy dan baru ambil bantal.


Pikir Evelyne begitu. Dengan Tubuh mungil di telan Jas kebesaran itu ia memutar otak dengan menarik Selimut di atas ranjang secara hati-hati lalu turun menapaki lantai yang dingin ini.


Ia menggulung selimut itu memanjang lalu bersiap mendorongnya agar serpihan kaca ini mendarat ke sudut ruangan.


Namun. Tetap saja Evelyne terlalu bersemangat sampai ceroboh memunguti serpihan kaca yang cukup besar sampai melukai tangannya.


"Leen sudah hati-hati. Kalau Bubu lihat pasti dia akan mengomel sepanjang hari," gumam Evelyne membiarkan darah di telunjuknya menetes.


Dalam suasana seperti ini ia jadi merindukan Sosok wanita yang selama ini membesarkannya di Pura. Evelyne memanggilnya BuBu dengan rasa kedekatan yang tinggi.


"Nanti saat Daddy sudah bangun. Leen akan minta berkunjung ke Pura, pasti Bubu senang," gumamnya lalu kembali melanjutkan pekerjaan.


Luka di jari kelingkingnya ia bekap dengan Selimut ini sesekali melihat Maxwell yang masih belum berubah posisi.


Di rasa lantainya sudah bersih. Evelyne dengan kaki mungil dan langkah berjinjit itu mendorong Pintu kamar mandi yang tak bisa ia gapai.

__ADS_1


"Leen mau masuuk!!" desak Evelyne mendorongnya sekuat tenaga tapi masih belum bisa.


Alhasil Evelyne langsung mengambil jarak ke belakang bersiap untuk mendobrak dengan kaki mungil yang tak sepadan.


"Biarkan Leen masuuuk!!"


Brughh..


Ia membentur Pintu kamar mandi sampai tubuhnya tersungkur kembali ke belakang. Betisnya memar begitu juga bagian pergelangan kakinya.


"Aunty Robot. Biarkan Leen masuk. Leen hanya ingin mengambil air," gumam Evelyne karna berpikir jika Pintu ini sama seperti Mesin sensor di kamar Maxwell di Kediaman.


Karna kerusuhan yang Evelyne ciptakan nyatanya terdengar oleh Maxwell yang mulai naik ke permukaan alam sadarnya. Ia mengernyit kala cahaya dari balik tirai yang terhembus angin menembus kelopak mata tajamnya.


"Ehm."


Gumam Maxwell memeggangi kepalanya yang terasa berat. Ia perlahan menegakkan tubuhnya yang terasa pegal dari sandaran Ranjang lalu membuka matanya dengan perlahan.


Samar-samar ia melihat ada Boneka mini di depan Pintu kamar mandi. Tapi, saat ia mengusap matanya memperjelas akhirnya pandangan tadi berubah nyata.


"Kauu.."


Evelyne langsung menolehkan wajah kesalnya. Ia tersentak saat Maxwell sudah bangun dengan keadaan urakan tapi terkesan seksi dan menawan.


"D..Dad! Maaf tadi Leen ingin masuk ke sini."


"Kenapa bisa kau disini?" tanya Maxwell seraya menahan denyutan di kepalanya. Ia begitu banyak minum sampai melewati batas hingga kelangsungan Mabuk.


Melihat keadaan Daddy-Nya belum sepenuhnya baik Evelyne langsung merangkak dengan dada datar putihnya terekspos tak memakai apapun di dalam sana.


"Dad! Leen tadi mengikuti Daddy.."


"Kauu..."


"Dad! Jangan marah dulu. Daddy masih belum sehat," gumam Evelyne mengusap kepala Maxwell dengan lembut dan sangat berani.


Maxwell diam menatap tajam wajah cantik belia Evelyne kecil yang tampak begitu mencemaskan-Nya.


"Daddy harus istirahat. Naiklah ke Ranjang supaya Tubuh Daddy tak sakit."


"Jiromee!!" panggil Maxwell menepis tangan mungil Evelyne yang mengusap rambutnya.


"Jiromee!!!"


"Uncle tak ada di luar. Dad!" jawab Evelyne kembali mengusap kepala Maxwell seakan tak jera-jera.


Maxwell yang merasa tak punya tenaga untuk beraktifitas lagi hanya bisa diam menyandarkan tubuhnya kembali dengan kepala mengadah membuat leher kokohnya bertambah gagah.


"Dad!"


"Pergilah pada Jirom," gumam Maxwell menatap Evelyne yang menggeleng. Dahinya seketika bertaut kala Evelyne memanjat Ranjang ini ingin naik kembali.


Ia yang kesusahan terpaksa harus di dorong oleh tangan kekar Maxwell yang menopang bokong mungil bocah ini.


"Kau mau apa?"


"Daddy tenang saja," jawab Evelyne duduk di belakang kepala Maxwell dengan kedua kaki terjuntai ke bawah.


Maxwell ingin beranjak tapi kedua tangan mungil Evelyne sudah memeggang kepalanya.

__ADS_1


"Evelyne!!"


"Leen akan memijat kepala Daddy agar Pusingnya reda. Leen juga melakukan itu pada Bubu," Gumam Evelyne tak segan meremas rambut Maxwell lembut dengan jemari kecilnya yang sangat lincah membuat pijatan yang khas.


Walau tak begitu terasa tapi ntah kenapa Maxwell merasa tenang.


"Pejamkan mata Daddy. Leen akan menjagamu dari mereka semua."


Maxwell hanya diam. Ia membiarkan Evelyne memijat kepalanya yang belum pernah di peggang oleh siapapun kecuali Ibunya.


Mata Maxwell bergulir memandang ke sudut kolong Ranjang dimana ada Bingkai Foto yang tergeletak di sana.


"Daddy tidurlah!"


"Hm."


Maxwell tak menjawab selain gumaman datarnya. Ia meraih Bingkai Foto itu hingga mata Evelyne bisa menatapnya.


"Wanita itu sangat cantik. Dad!" puji Evelyne yang sejatinya tahu itu adalah Foto Ibu Maxwell.


Beberapa jam kebelakang ia melihat Maxwell bicara sendirian dengan ungkapan sangat menyakitkan. Ia juga melihat Maxwell memeluk Foto ini sampai akhirnya tak sadarkan diri.


"Terlihat seperti seorang Peri!"


"Dari mana kau tahu?" tanya Maxwell mengusap permukaan Bingkai ini dengan tatapan kosong.


"Leen tahu semuanya. Dari mulai kesukaan Daddy dan.."


"Kesukaanku?" gumam Maxwell merasa ia tak punya hal seperti itu. Ia yang mengadah menatap manik abu hangat Evelyne hingga kepalanya tepat di atas paha mungil ini.


"Yah. Daddy selalu melakukannya hampir setiap menit bahkan tak terhitung," jelas Evelyne menopang dagu ke kening Maxwell yang membiarkan tingkah manja bocah ini.


"Kau jangan membual."


"Leen benar. Daddy selalu marah-marah ke semua orang dan membentak setiap waktu. Itu kesukaan Daddy-kan?"


Sontak wajah Maxwell yang tadi serius seketika berubah dongkol. Ia mendorong bahu Evelyne yang pasrah terdampar ke atas ranjang tawa geli muncul.


"Daddy terlalu serius. Leen hanya bercanda."


"Kau pikir itu lucu?" tanya Maxwell dengan wajah kesal bukan main.


"Yah. Setiap Daddy marah maka pasti akan mengusir Leen. Mata Daddy melebar dengan hidung kembang-kempis, Daddy seperti Kerbau yang tengah menunggu antrian Toilet."


"Kauu.."


Maxwell tak bisa marah kala melihat Evelyne tertawa begitu puas. Ntah dari mana ia mendapat ejekan yang murahan seperti itu.


Tawa geli Evelyne lama-kelamaan mereda tapi Maxwell hanya diam menipiskan bibirnya hampir tak terlihat sama sekali. Ia memandangi Evelyne dalam diam cukup ia dan Tuhan yang tahu.


Untuk sejenak Evelyne menormalkan nafasnya. Ia beralih memandang Maxwell dengan sudut mata berair seraya mengulurkan kedua tangannya seakan menyuruh Maxwell merebahkan kepala di perutnya.


"Peluk Leen!".


Pinta Evelyne lembut dan hangat. Ntah batu apa yang mengenai kepala Maxwell ia sampai melabuhkan kepalanya ke perut datar Evelyne yang mengusap kepalanya halus.


" Daddy tak sendirian. Ada Leen yang akan selalu memperhatikan. Daddy!"


Gumam Evelyne sangat tulus menyeruk ke sela hati Maxwell yang selama ini sudah membeku. Sikap tulus Evelyne yang selalu tak kenal lelah dan Putus asa memaksa masuk dalam Dunianya membuat Maxwell terbiasa.

__ADS_1


...


Vote and Like Sayang..


__ADS_2