
Malam ini semakin larut menggulingkan Rembulan di penghujung tanjung lautan. Hawa dingin mulai menyeruk beku bahkan dapat menempel ke baja-baja Mobil yang tengah melaju dengan stabil di jalanan Kota Brusell yang seperti biasa dipadati oleh kendaraan-kendaraan mewah dan Bus kota tapi tak menyesakan sama sekali.
Masih ada banyak ruang untuk melepas kepenatan dan pandangan bebas ke penjuru jalan yang sudah di pasang Teknologi canggih untuk mengatur kemanan lalu lintas.
Dari segi rambu jalan dan ada Papan Elektrik yang berkelip memperlihatkan wajah Petugas Keamanan yang seperti mengawasi keadaan Jalan dan kecepatan maksimal di jalur yang mereka lalui.
Tentu hal itu tak luput dari tatapan dingin Evelyne yang belum pernah ada di masa ini. Menurutnya Gedung menjulang tinggi dan pemandangan lampu gemerlap Kota Brusell yang indah begitu mengusik ketenangannya.
"Kenapa setelah ku lihat-lihat dia ada kemiripan dengan Evelyne?!"
Batin Jirome mencuri-curi pandang dari kaca spion. Ia heran dengan respon Evelyne kala di perlihatkan dengan pemandangan kota maju dan Mobil-mobil yang terus berlalu-lalang.
Wanita ini seperti datang dari Zaman Purba kala yang merasa heran dengan perkembangan Zaman yang semakin canggih.
Tahu jika Jirome terus mencari tahu tentang Evelyne. Maxwell langsung menendang tegas kursi kemudi di depannya hingga Jirome tersigap.
"Tuan!"
"Fokus menyetir!" tegas Maxwell menarik perhatian Evelyne yang semula seperti ingin meruntuhkan Gedung-gedung tinggi yang mereka lalui tadi.
Jarak duduk mereka cukup jauh tersisa dua tempat lagi untuk manusia duduk di sana. Jirome-pun bingung mau mengatakan jika wanita ini kekasih Tuannya kenapa sikap keduanya begitu dingin dan seperti bermusuhan?! Tapi, jika bukan kekasih kenapa Kemeja mahal dan baju kaos santai Tuannya ada di tubuh molek wanita ini.
Sangat membingungkan. Bukan?
"Kenapa lama sekali??" protes Evelyne karna ia punya batas waktu. Maxwell hanya diam tak meladeni tingkah arogan Evelyne yang bisa saja membuat Jirome tahu segalanya.
Melihat Maxwell yang tak menggubrisnya menarik aksi gila Evelyne yang langsung menendang lutut Maxwell menarik keterkejutan Jirome yang sampai jantungan melihat wajah beku Tuannya.
"Cepatlah!! Kau pikir aku tengah main-main. Ha??"
"Kau pikir aku tengah bermain?" desis Maxwell merasakan nyeri di lututnya. Ia mendengus kesal dengan wajah tertolak ketus ke luar jendela.
Jirome sudah pucat karna menduga Maxwell akan membunuh wanita ini atau dirinya yang kena imbasnya.
"Kau sudah hidup di zaman modern bukan? Lalu kenapa masib saja se-IDIOT ini?"
"Enyahlah kau dari dunia ini," umpat Maxwell sama sekali tak ingin berdebat lagi. Ia tak akan sanggup melawan mulut pedas dan penuh ketajaman milik Evelyne yang juga tak akan mau kalah dengannya.
"Kau bicara apa?"
"Wanita iblis," gumam Maxwell tapi dapat di dengar Evelyne yang seketika menegakkan tubuhnya dari sandaran kursi.
"Kau bilang apa? Katakan sekali lagi!!"
__ADS_1
Maxwell tak bersuara. Ia memilih untuk memasang Handset di telinganya membunyikan suara musik cukup keras lalu memejamkan matanya tak menggubris Evelyne lagi.
Alhasil Evelyne sampai mengigil menahan rasa kesal lalu kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi Mobil dengan wajah kelamnya di buang ke luar jendela.
Dan disini Jirome-lah yang menjadi pihak ketiga antara perang dingin kusumat antara Wanita Iblis dan Pria Idiot yang membingungkan.
"Sebaiknya aku tak ikut campur. Tuan sudah begini berarti dia bukan wanita sembarangan,"
Batin Jirome mencari jalan aman. Ia menambah laju kecepatan Mobil ke arah Markas besar Black Devil yang tak pernah bisa di lacak oleh Team IT manapun.
Evelyne hanya diam untuk waktu yang lama melihat jalanan yang mereka lalui. Jelas ini keluar dari Zona gemerlap kota dan sepertinya mereka pergi ke area Pegunungan terbukti dengan Hutan-hutan yang masih rimbun dengan cuaca yang tiba-tiba mendung.
Memang gelap tapi saat Mobil ini sudah semakin masuk ke dalam sana tiba-tiba saja ada cahaya dari beberapa Pepohonan yang membuat Evelyne sampai menegakkan tubuhnya.
"Tempat apa ini?"
Batin Evelyne melihat banyak pepohonan besar yang masih asri disini. Hutan lembab dengan aroma dedaunan mati yang khas.
Suara lulungan anjing liar terdengar mengerikan dengan jalanan yang tadi hanya bebatuan polos sekarang sudah di lebih rapi.
Pohon-pohon besar ini tampak sangat di tata rapi tak seperti saat pertama masuk yang mengakar panjang. Dari sini Evelyne melihat ada Lorong gelap di depan sana tepat di perut Bukit yang terlihat sangat misterius tetapi matanya menangkap banyak penghuni disini.
"Apa dia akan membunuhku?"
Batin Evelyne kala mata tajamnya bak serigala malam itu menangkap bayangan-bayangan hitam di beberapa semak dan Pepohonan besar yang seperti tunduk pada mereka.
"Kenapa berhenti?" tanyanya bersiaga dengan kewaspadaan meningkat.
Merasakan kegelisahan Evelyne. Maxwell langsung membuka matanya lalu melepas benda di telinganya. Tak lama berselang cahaya mulai datang dari arah dinding lorong hingga mata Evelyne sampai terpaku kuat.
"I..ini.."
Ia melihat sebuah terowongan berdinding besi di kiri kanan dan atas bawah yang mengkilap dilapisi baja. Lorong ini cukup besar hingga bisa di lalui dua Mobil sekaligus tapi yang membuat Evelyne sangat heran kenapa bisa ada hal semacam ini di dalam perut Bukit?!
"Kau terlalu Kuno," decah Maxwell keluar dari Mobil. Ia berjalan mendahului Jirome yang masih menunggu Evelyne keluar.
"Jika ingin mengikuti Tuan maka.."
Belum sampai habis Jirome bicara Evelyne sudah lebih dulu keluar berjalan penuh pesonanya sendiri mengikuti Maxwell yang terlihat sudah jauh darinya.
"Berhentii!!!"
Maxwell masih tetap berjalan sampai ada belokan lorong di depan sana ia tetap meninggalkan Evelyne yang seketika langsung menggeram.
__ADS_1
"Berhenti atau kesepakatan kita batal!!"
Sontak Maxwell langsung berhenti membuat seringaian Evelyne meruak langsung berjalan cepat mendahuluinya. Maxwell hanya diam mengikuti Evelyne yang belagak tahu jalan ini padahal ia hanya mengedepankan egonya.
Kaki jenjang putih mulus tanpa alas milik Evelyne melalui lantai besi ini dengan tegas. Ia melihat jika disini banyak yang tak di mengerti olehnya tapi Evelyne masih bisa mengimbanginya.
"Ini dimana?"
"Saat masuk ke sana kau jangan sembarangan berkeliaran," ucap Maxwell berhenti kala jalan ini sudah buntu.
Ada dinding baja di hadapan mereka hingga Evelyne meraba permukaan besi dingin ini menduga jika tak ada cela sama sekali.
"Kau menipuku?" ketus Evelyne berbalik menatap tajam Maxwell yang merapat ke arahnya. Sontak Evelyne semakin berapi-api kala gaya Maxwell ingin menciumnya tapi sedetik kemudian bahu Evelyne di dorong kasar ke samping membentur dinding.
"Kauu.."
"Jangan terlalu percaya diri," gumam Maxwell menempelkan telapak tangannya di pertengahan dinding baja ini hingga Evelyne tersentak kala dinding itu terbuka membentuk Lift.
Ia yang tak tahu apa-apa hanya mengikuti Maxwell masuk ke dalam benda Kota baja ini hingga dinding itu kembali tertutup dan Evelyne sontak langsung merapat ke dinding kala ada getaran halus yang ia rasakan.
"Apa ada gempa?"
"Hm," jawaban asal Maxwell yang sama sekali tak perduli dengan kebingungan Evelyne. Beberapa saat kemudian Ponselnya tiba-tiba berdering hingga Evelyne langsung memasang wajah waspada.
"Benda apa itu??"
Menjaga jarak dengan Maxwell yang mengambil Ponsel di saku celananya. Tak lama setelah melihat siapa yang menelpon Maxwell langsung mematikannya.
"Kau memasang peledak??"
"Jika ingin sudah ku lakukan sedari lama," jawab Maxwell menyimpan kembali Ponselnya. Hawa wajah Maxwell terlihat berbeda dari yang tadi ia lihat.
Ada guratan marah tapi ini benar-benar benci tak menyimpan cela untuk mengendur sama sekali.
Dia pasti juga punya sesuatu yang belum di tuntaskan.
Pikir Evelyne yang tak mau ikut campur. Setelah masalahnya selesai ia tak akan menuntut apapun dari Maxwell lagi.
"Kau tenang saja. Saat tujuanku tercapai kau akan bebas."
"Maksudmu?" tanya Maxwell karna kata-kata Evelyne begitu ambigu.
Bukannya menjawab. Evelyne hanya memandang sekilas lalu tak memperdulikannya lagi. Jelas ia tak mau mengatakan hal yang menjadi ketentuan dari Segel jiwa mereka.
__ADS_1
...
Vote and Like Sayang.