My Little Devil

My Little Devil
Balmon yang malang


__ADS_3

Sudah hampir satu bulan semenjak Evelyne melahirkan. Maxwell juga sudah membawanya kembali ke Villa Tuan Fernandez karna Nyonya Meeiner meminta agar tetap di villa selama Evelyne benar-benar bisa untuk mengurus anak dan pulih seperti biasanya.


Berkat pengobatan yang intensif dan selalu di pantau oleh para tenaga medis ahli akhirnya Evelyne bisa keluar dari masa rawat walau seperti biasa Maxwell harus terus memantaunya.


Selama itu pula Leonard juga sering ke villa untuk menjenguk Baby Leen. Ia sangat senang bertemu dengan si kecil itu apalagi hari ini Evelyne tengah di ajari cara memasang popok oleh Nyonya Meeiner yang selalu ada.


"Nak! Perhatikan baik-baik apa yang aku lakukan pada Baby. Hm?"


"Iya. Mom!" gumam Evelyne tengah duduk di atas ranjang besar miliknya dimana Nyonya Meeiner tengah memasang popok Baby Leen yang tampak sudah begitu aktif padahal masih sangat belia.


Tatapan Evelyne begitu lekat seakan ia benar-benar ingin belajar karna tak mau Maxwell selalu memandikan dan mengganti popok bocah ini.


"Pastikan dulu kau memposisikan pokoknya dengan tepat di kedua kaki anakmu dan.."


"Kau diam!!" tekan Evelyne pada Baby Leen yang mengangkat-angkat kakinya secara bergantian hingga Nyonya Meeiner kesusahan.


"Nak! Itu hal biasa, dia masih kecil dan sangat menggemaskan."


"Tapi dia sangat lincah, Mom!" gumam Evelyne tapi Baby Leen justru semakin menjadi-jadi menarik ujung bedongnya yang semula rapi sekarang sudah acak-acakan.


Melihat itu Nyonya Meeiner lebih santai tapi tidak dengan Evelyne yang justru ingin segera bisa mengurus anaknya sendiri.


"Biarkan aku mencoba. Mom!" mengambil alih pokok di tangan Nyonya Meeiner yang agak takut.


"Evelyne! Kau perhatikan dulu nanti baru kau.."


"Aku bisa. Hanya memasangkan benda ini sama sekali tak rumit," gumam Evelyne melihat pokok itu sekilas lalu segera memasukan kedua kaki mungil itu dalam satu lingkaran di pokok hingga rengekan Baby Leen membuatnya tersentak.


"Hey! Kau tenang saja. Mommy-mu ini sangat berbakat bahkan pernah mengikat leher seseorang sampai putus. Percaya saja padaku. Hm?"


"Evelyne! Jangan menakutinya seperti itu, Nak!" decah Nyonya Meeiner kala melihat wajah Baby Leen tampak risih kala Evelyne memposisikan kakinya sembarangan.


Ia menyilangkan kedua kaki mungil Baby Leen lalu mengikatnya dengan popok yang sudah ia tarik memanjang sampai kapas di dalamnya keluar. Sungguh Nyonya Meeiner hampir saja mau berteriak memanggil Maxwell yang tengah ada di perusahaan.


"Evelyne! Jangan di ikat seperti itu!"


"Sustt. Mommy jangan mengatakan apapun pada Maxwell, ya?" bisik Evelyne tampak semangat meraih popok baru di dekat paha Nyonya Meeiner lalu melakukan hal yang sama ke kedua tangan Baby Leen yang seketika langsung menangis.


"Astaga! Kauu.."


"Semalam kau menangis sampai Daddymu harus menggendong sampai dini hari. Sekarang menangis saja, dasar monster!" sinis Evelyne memukul-mukul kecil karna gemas akan paha berisi Baby Leen yang tampak montok dan kenyal.


Ada kebahagiaan tersendiri di hati Evelyne saat mendengar tangis pura-pura si kecil ini dan tentu ia tak akan puas menjahilinya.


Karna tangisan lantang Baby Leen tadi mengundang Leonard yang tadi ada di bawah langsung berlari ke kamar bersama Tuan Fernandez yang tadi tengah membicarakan bisnis.


Keduanya terkejut melihat Baby Leen menangis sedangkan Evelyne tampak senang memancing suara keras itu.


"Evelyne!"


"Susst!! Saksikan saja dramanya," gumam Evelyne tahu jika Baby Leen pasti akan menambah volume suaranya.

__ADS_1


Dan benar saja, saat Leonard mendekat bersama Tuan Fernandez ia seperti kucing yang memekik karna terjepit.


"Jangan melakukan ini padanya!"


"Leon! Dia hanya ingin di perhatikan, lihat saja tak ada air mata sama sekali. Suara saja yang besar," ketus Evelyne tapi Leonard tak menyukai itu. Ia segera melepas ikatan simpul Evelyne ke kaki dan tangan mungil ini lalu beralih menggendongnya ringan dan hati-hati.


"Susst! Jangan menangis lagi. Hm?"


"Apa dia terluka?" tanya Tuan Fernandez melihat kaki dan tangan cucunya ini. Syukur saja tak ada bekas merah atau luka apapun karna memang Evelyne tahu porsi kekuatannya.


"Evelyne! Kau jangan selalu mengusik putrimu seperti ini. Dia masih bayi!" tegur Leonard membuat tangis Baby Leen tersendat dan seperti suka jika Mommynya di marahi.


"Aku tak benar-benar mengikatnya. Kalian terlalu emosional."


"Bagaimana kalau dia terluka. Ha? Kau ini tak bisa di beri arahan," kesal Leonard mengusap-ngusap betis Baby Leen yang terlihat menjadi ratu di kalangan para pria ini.


"Biasanya kau selalu membelaku? Kenapa sekarang jadi sangat menyebalkan??"


"Kau itu sudah keterlaluan. Kemaren kau hampir menjatuhkannya, menimpali dengan bantal dan bercerita hal yang menakutkan. Dia masih kecil dan belum bisa di ajak bermain. paham?"


Evelyne hanya diam. Jujur ia ingin mengurus anak tapi saat melihat wajah cantik Baby Leen muncul niat untuk menjahilinya dan rasanya hanya ingin bermain saja.


"Kalau Maxwell tahu ini kau pasti akan habis."


"Kalian menyuruhku mengajaknya bermain. Jadi apa salahku sekarang?" tanya Evelyne mengambil satu popok yang baru lalu cepat-cepat turun dari ranjang.


Ia keluar dari kamar berpapasan dengan Maxwell yang tadi sudah pulang lebih awak di depan pintu.


Evelyne tak menjawab, memandang saja dia enggan. Jirome yang tadi membawa banyak paper-bag belanjaan tuannya sudah paham jika ada keributan lagi.


"Ada apa?" tanya Maxwell masuk ke dalam seraya melonggarkan dasi di lehernya.


"Biasa," gumam Tuan Fernandez menghela nafas duduk di samping Nyonya Meeiner yang menunjukan dua popok yang koyak tadi.


"Evelyne ingin belajar memasangkan popok Baby Leen. Tapi, dia malah mengikat kaki dan tangannya!"


"Dan untung saja tak kuat," timpal Leonard masih asik menggendong Baby Leen yang tampak menatap Maxwell dengan mata abu bening indah tapi ada raut sendu yang dalam.


Maxwell tahu jika pasti ibu dan anak ini terlibat pertengkaran kecil.


"Kau sangat nakal. Hm?" gumam Maxwell mencium pipi gembul itu sampai senyum di bibir mungil Baby Leen mekar membuat mereka salah tingkah.


"Dia persis seperti Evelyne saat kecil. Dulu juga sering membuat gaduh semua orang," gumam Leonard tapi Maxwell juga paham itu.


"Dia sudah minum asi?"


"Sudah. Pagi-pagi sekali Evelyne bangun dan menyusuinya. Aku pikir dia sudah mulai paham karna mau belajar mengurus bayi tapi nyatanya mereka bertengkar lagi," gumam Nyonya Meeiner sudah pasrah membereskan semua peralatan bayi di atas ranjang.


Maxwell menghela nafas ringan. Ia mengambil alih Baby Leen dari gendongan Leonard yang tak rela memberikan si kecil ini.


"Biarkan aku yang mengurusnya. Kau pergi temui Evelyne!"

__ADS_1


"Kau memarahinya?" tanya Maxwell membuat mereka saling pandang. Leonard hanya diam pertanda itu benar.


"Aku hanya cemas. Evelyne terlalu amatir untuk menjaga seorang bayi!"


"Kau bilang kau sangat mengenalnya," datar Maxwell membiarkan Baby Leen menarik-narik dasi di lehernya.


"Maksudmu?" bingung Leonard melihat Baby Leen yang seperti sangat jatuh cinta pada Daddynya.


"Dia punya caranya sendiri! Lagi pula putriku juga tahu kalau Mommynya tak suka bermanis mulut," jawab Maxwell membuat mereka diam.


Jirome yang meletakan paper-bag di sofa mengangguki itu karna ia tahu Evelyne bukan tipe wanita yang bisa memuji atau bersikap manis jika bukan masalah Maxwell.


"Benar. Evelyne tak pernah bersikap lembut karna dia suka bermain hal-hal menegangkan. Aku yakin ponakan kecilku ini juga hanya menjahili Mommy-nya saja!"


"Cih, kau hanya seorang asisten!" ledek Leonard karna ia dan Jirome memang bukan teman baik.


"Setidaknya aku tahu lebih banyak darimu," ketus Jirome dan Baby Leen hanya mengacuhkan mereka karna dunianya tengah di kurung oleh pesona Maxwell.


Tak beberapa lama kemudian terdengar suara gonggongan dan lulungan keras Balmon diiringi Yello yang terengah-engah tiba di depan pintu.


"T..Tuan!"


"Ada apa?" tanya Maxwell mendekat bersama Baby Leen yang menarik-narik dasi di lehernya.


Nafas Yello memburu karna ia berlari dari luar ke lantai atas kamar ini.


"Tuan! N..Nona.."


"Apa yang terjadi?" tanya Leonard jantungan begitu juga Maxwell yang sudah mendingin.


"N..Nona di luar sedang.."


Tanpa banyak bertanya lagi Maxwell bergegas pergi ke arah sumber suara gonggongan Balmon yang terdengar memprihatinkan. Semua orang juga ikut ke lantai bawa menuruni tangga dengan tergesa-gesa pergi ke area taman di samping villa.


"Evelyne!!! Sayang kau.."


Brakk..


Maxwell mundur kala kaca penghubung antara taman dan dinding bangunan ini di tabrak sesuatu hingga mata mereka langsung membulat sempurna.


Antara ingin marah dan juga geli terpapar di wajah mereka kala melihat Balmon memakai Popok bayi dengan sempurna tadi menabrak kaca masuk ke Villa karna ingin lari dari Evelyne yang tampak menakuti hewan peliharaan Maxwell itu.


"Lihat!! Aku berhasil. Maax!!" pekik Evelyne kegirangan mendekati Balmon yang gemetar berusaha melepas popok di bokongnya tapi Evelyne tampak membawa pisau jadi ia urungkan.


Ia menunjukan hasil kerja kerasnya pada mereka yang saling pandang tapi Baby Leen langsung tersenyum lebar menunjukan gusi merahnya melihat Balmon begitu tersiksa karna Mommynya.


"Kau yakin ingin menikahinya?" lirih Leonard pada Maxwell yang tampak menahan lembut Evelyne. Usaha ibu satu anak ini memang tak sia-sia tapi kenapa harus Balmon?! Apalagi mereka akan menikah besok jadi apa tak bisa cerdas sedikit?!


...


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2