My Little Devil

My Little Devil
Melepaskan diri


__ADS_3

Jam sudah menunjukan pukul 3 dinihari. Selama itu waktu bergulir menenggelamkan langit yang semakin gelap dengan bintang-bintang berangsur menghilang.


Perputaran masa yang sangat cepat ini dapat di rasakan oleh Maxwell yang sedari tadi duduk selonjoran di sofa dekat Ranjang seraya memandangi Evelyne yang masih dalam belenggu borgol dan selimutnya.


Sejak perdebatan tadi mereka sama sekali tak saling menyapa. Evelyne hanya diam tapi Maxwell tahu wanita licik ini tengah berusaha lepas dari Borgol yang sudah mengikat kedua lengannya.


"Sampai kapan kau mau mengikatku?"


Tanya Evelyne akhirnya membuka suara. Maxwell yang tengah menyeduh Vodka di Sofa itu hanya diam dengan tangan menggoyang halus gelas di tangannya.


"Sampai kau menjawab pertanyaanku."


"Kau tak perlu membuang waktumu," desis Evelyne benar-benar kekeh tak ingin menjelaskan tentang dirinya dan Evelyne kecil.


Maxwell juga harus terus bersabar karna tak mudah membuat wanita ini tunduk padanya. Selama berjam-jam Maxwell menunggu tetap saja Evelyne belum juga menyerah.


"Ingin membuat penawaran denganku?" tawar Maxwell meletakan gelas Vodkanya ke atas meja dengan Sofa.


Ia menatap datar manik abu dingin ini sampai akhirnya Evelyne memberikan seringaian sadis dari lekukan bibir pink segar itu.


Ia seakan meremehkan Maxwell yang benar-benar terus di uji dan tak tahu kapan ia akan menunggu lagi.


"Aku TAK SUDI."


"Nyalimu cukup kuat," jawab Maxwell mengenyampingkan egonya. Ia yang sudah membersihkan diri dengan Bathrobe hitam yang membalut tubuh gagahnya benar-benar Evelyne akui sangat tampan dan seksi.


Tapi. Jelas hal itu tak ia pedulikan dan terus mendesak Maxwell untuk melepaskan Borgol ini.


"Kau hanya ingin memanfaatkannya. Bukan?"


"Hm. Menurutmu?" tanya Maxwell beradu pandangan tajam. Keduanya saling menusuk dalam bayang pandangan membunuh itu tapi tiba-tiba saja Maxwell mengalihkan pandangan ke arah lain.


Sontak Evelyne menipiskan bibirnya dengan senyuman sangat khas.


"Kau sangat na'if."


Maxwell hanya diam beralih menegguk tandas gelas Vodka di dekatnya dengan dada bergemuruh. Mata Evelyne sangat membangkitkan jiwa dendam dan amarah seseorang. Wanita ini punya hawa iblis yang membuat Manusia lupa diri.


"Sudahi penderitaan mu. Jangan selalu menahan hal itu dan cepat akhiri siksaannya. Itu sangat menyenangkan. Hm?"


Kedua tangan Maxwell terkepal erat. Evelyne terus memancing amarah yang ada di dalam dirinya dan tak takut berakhir di tangan kekar itu sama sekali.

__ADS_1


"Ayolah. Menahan itu sangat sakit. Kau hanya sendirian tanpa siapapun. Aku akan membantumu membalasnya."


"Kau yakin?" tanya Maxwell melempar tatapan mematikan. Ia bangkit dari sofa itu lalu naik ke atas ranjang mengungkung kedua kaki Evelyne yang masih dibaluti selimut.


Pandangan sangat misterius dengan kedua lengan kekar itu perlahan mengungkung tubuh Evelyne mengikis jarak yang ada.


Hidung mancung keduanya nyaris bersentuhan dengan hembusan nafas dapat menerpa wajah masing-masing.


"Hm. Aku bisa membalaskan rasa sakitmu."


"Kau.."


Gumam Maxwell menjeda ucapannya dengan jarak begitu dekat dan sangat intim. Evelyne benar-benar bisa menggoda seorang pria terbukti dengan raut wajahnya yang terlihat begitu menikmati aroma tubuh Maxwell dari jarak setipis ini.


Saat jarak ini semakin terkikis Evelyne di kejutkan dengan rambutnya yang langsung di tarik dengan cengkraman yang sangat kuat menekan kepalanya ke atas bantal empuk ini.


"K..kau.."


"Atas dasar apa aku mempercayaimu. Hm?" geram Maxwell tak menahan kekuatannya. Evelyne merasakan jika kulit kepalanya akan koyak di tarik Maxwell yang terlihat sangat membatasi dirinya.


"L..Lepass!!!"


"Suttt!! Jangan memerintahku." lirih Maxwell dengan kening menekan dahi Evelyne yang bisa merasakan kekuatan dan hawa gagah perkasa Pria yang menindihnya ini.


Maxwell hanya memberi seringaian iblis tapi ia sangat puas dengan lawannya satu ini. Walau di siksa berulang kali Evelyne tak pernah tunduk padanya.


"AKU AKAN MEMBUNUHMU!!!"


"Aku menantikannya," bisik Maxwell menarik dirinya dari tubuh Evelyne karna jujur Maxwell juga pria normal. Ia merespon setiap apa yang Evelyne tunjukan padanya.


Terbukti dengan tarikan nafasnya yang tak stabil. Ia juga menahan pembengkakan di bawah sana berharap jika Evelyne tak mengetahui hal ini.


Jika dia tahu tubuhku bereaksi. Kepalanya akan sangat membesar.


Pikir Maxwell yang sangat muak dengan kesombongan wanita ini. Hasratnya memang sangat aneh bisa bangkit dengan jarak sedekat itu. Biasanya tidak sama sekali.


"Lepaskan aku!!"


Maxwell hanya acuh. Ia memilih pergi ke kamar mandi membuat Evelyne benar-benar sangat murka langsung memakinya dengan kalimat tak manusiawi.


"Dari pada bertemu denganmu lebih baik aku memakan bangkai di jalanaaan!!!"

__ADS_1


"Makanlah!" jawab Maxwell dari dalam kamar mandi sana.


Dada Evelyne naik turun menahan emosi yang begitu meluap-luap. Ia tak bisa lagi menunggu disini hingga berusaha melepaskan diri dari gulungan selimut di tubuhnya.


"Dia pasti bukan Pria biasa."


Batin Evelyne yang sedari dulu melihat dari jiwa kecil Evelyne jika Maxwell mempunyai Klan kegelapan. Pria itu tak bisa di bunuh secepat ini.


Setelah beberapa lama. Evelyne akhirnya bisa lepas dari gulungan selimut itu hingga ia menggeliat untuk mengurai ikatan Dasi di kakinya.


Otak Evelyne nyatanya tak sebodoh itu. Ia menjadikan sudut Sofa sebagai tarikan dari simpul Dasi di kakinya hingga walau menggores kulit tapi Evelyne bisa melepasnya.


"Kau pikir ini bisa menahan ku lama?!" remeh Evelyne merasa cukup bebas.


Ia tanpa malu berdiri dengan tubuh tanpa halangan sama sekali. Hanya kedua tangannya yang di Borgol sementara kakinya masih bisa berjalan.


Jelas tadi Evelyne melihat Maxwell keluar dari Pintu itu. Ia juga bisa keluar dari sana seperti yang tadi ingin ia lakukan.


Tak mau membuang waktu lagi. Evelyne berjalan ke arah Pintu dengan tangan menekan gagangnya tapi lagi-lagi ini terkunci.


"Shitt," umpat Evelyne mencari jalan lain. Ia melihat Balkon yang hanya di tutup oleh kaca tebal dan mungkin ia bisa ke sana.


Pandangan Evelyne sangat risih pada barang-barang disini bahkan ia seperti tak terbiasa.


"Tempat yang menjijikan," desis Evelyne memindai semua lekuk ruangan ini.


Ia menendang kecil kaca itu dengan sudut kakinya tapi tak terbuka. Akhirnya Evelyne memutar otak dengan kekuatan yang memang tak bisa di remehkan menerjang kaca ini dengan kedua kakinya.


Prankk..


Pecahan kaca bertebaran dan tanpa takut sama sekali Evelyne melompat langsung ke arah Sofa Balkon yang terhubung langsung dengan dunia luar.


Matanya berbinar melihat area Taman di bawah sana penuh hasrat kebebasan. Hingga satu kaki Evelyne naik ke atas pagar Balkon dengan kondisi tubuh separuh terlihat dari area bawah.


Saat Evelyne ingin melompat turun tiba-tiba ia terperanjat.


"Aaaaa!!!"


Teriakan wanita di bawah sana membuat Evelyne menyeringit tapi tubuhnya sudah lebih dulu di tarik masuk ke dalam kamar dengan kasar.


.....

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2