My Little Devil

My Little Devil
Kemarahan Tuan Fernandez


__ADS_3

Perdebatan keras antara Suami dan Istri itu terdengar menggema di dalam kamar yang sedari tadi menjadi saksi bisu bagaimana marahnya Tuan Fernandez saat mengetahui bahwa Nyonya Meeiner bertemu dengan kaki tangan Maxwell Pria yang sangat ia benci.


Anggotanya sudah melaporkan semua kejadian hari ini termasuk Nyonya Meeiner yang terlihat dekat dengan Evelyne yang menjadi perusak Rumah Tangga Putrinya.


"Apa otakmu sudah di cuci oleh mereka. Ha??? Kemana pergi akal sehatmu??" bentakan Tuan Fernandez di hadapan Nyonya Meeiner yang sudah berkaca-kaca.


Ia tak pernah bertengkar sehebat ini dengan Suaminya karna dirinya selalu menurut dan tak suka ikut campur apapun masalahnya. Tapi, masalah satu ini membuat Nyonya Meeiner tak bisa bungkam dan diam saja.


"Tak ada yang mencuci otakku! Akal sehatku tak menghilang tapi pikiranmu yang terlalu dangkaal!!"


"MEEINER!!!" kerasnya ingin menampar Nyonya Meeiner yang tak gentar sama sekali. Ia masih berdiri di tempat walau ia akui keberaniannya selalu ciut dengan amarah Pria Arogan ini.


"Pukul!! Ayo pukull aku. Jika kau puas melakukannya aku akan sangat senang," sarkasnya parau dan sesak.


Tangan kekar Tuan Fernandez yang tadi terangkat seketika langsung turun. Ia mengusap wajahnya kasar dengan deru nafas yang sangat emosi.


"Mulai saat ini, kau jangan berhubungan dengan mereka. Kau mengerti?"


"Dan mulai saat ini. Kau jangan ikut campur urusan mereka!! Aku akan menurutimu jika kau melakukan itu," tukas Nyonya Meeiner dan itu semakin membuat bara api di dada Tuan Fernandez membeludak.


"Kau lebih memilih mereka dari pada Putrimu??"


"Aku tak memihak siapapun. Evelyne bukan seperti yang mereka katakan. Aku bisa merasakannya. Suamiku!" lemah Nyonya Meeiner tak mau Tuan Fernandez gelap mata.


Tapi, yang menjadi masalah adalah Maxwell. Evelyne dekat dengan Pria itu dan hawa permusuhan Tuan Fernandez juga akan menelannya hidup-hidup.


"Mereka itu sangat licik. Bisa saja Maxwell mendekatkan Wanita itu padamu untuk memata-mataiku. Kau tak mengerti tentang kekotoran Maxwell sialan itu!!"


"Dia tak pernah membahas tentang kau. Sama sekali tak pernah menanyakan apa yang kau lakukan padaku," bantah Nyonya Meeiner benar adanya. Selama berjalan dengan Evelyne wanita itu selalu punya dunianya sendiri. Bahkan, ia bisa merasakan jika Evelyne sangat menginginkan perdamaian antara kedua kubu.


"Itu hanya umpan. Saat kau sudah nyaman padanya dan lihat sekarang, kau berani melawanku!" desis Tuan Fernandez dan benar-benar menyakiti Nyonya Meeiner.


Ia tahu pernikahannya dengan Tuan Fernandez hanya sebagai paksaan karna seharusnya hari itu yang menikah bukanlah dirinya melainkan saudari perempuannya. Tapi, saat di hari H adiknya pergi dengan kekasihnya dan alhasil Nyonya Meeiner mau tak mau menggantikan posisi Adiknya karna Pernikahan ini murni kesepakatan antara dua keluarga.


"Kau tak mengerti perasaan Maxwell!"


"Apa kau mengerti?" remeh Tuan Fernandez tapi senyum tipis Nyonya Meeiner tertuai lugas dan seperti sangat berpengalaman.


"Sangat! Bagaimana hidup dengan seseorang yang tak kita cintai?! Dan berusaha menelan semua sifat buruknya!"


"Kau mengataiku?" desis Tuan Fernandez tapi Nyonya Meeiner hanya menatapnya datar dan terlihat begitu menentang keputusannya.


"Jika kau merasa begitu aku bisa apa?!"


"Kauuu..."


"Aku sudah puas melihat sikap kasar dan semena-menamu. Jika kau masih ikut campur urusan mereka aku juga tak akan tinggal diam!" tegas Nyonya Meeiner segera berlalu pergi setelah menambah amarah di dada Tuan Fernandez yang langsung menendang kursi di hadapannya hingga terpental ke sudut ruangan.


"Maxwell!!! Kau memang sangat licik memasukan wanita itu dalam pikiran Istrikuu!!" geram Tuan Fernandez sudah tak bisa mentolerir lagi.


........


Di tempat yang berbeda. Dua insan manusia itu masih belum mau menyudahi pertempuran panasnya bahkan keduanya seperti robot yang tak kehabisan energi.


Berbagai pose dan tempat selalu di coba bahkan sekarang Maxwell di buat geli karna Evelyne meminta bercinta di depan Wastafel yang semakin menambah sensasi erotis.

__ADS_1


"Emmm..Maax!" erang Evelyne berpeggangan ke pinggir Wastafel dengan satu kaki naik ke atasnya dan Maxwell menghujam di belakang.


Keringat membanjiri tubuh mereka bahkan Evelyne tak berhenti mengeluarkan suara syahdu di telinganya dan itu semakin membakar jiwa Maxwell yang juga merasa gila dan tak waras dengan kenikmatan duniawi ini.


"Akhhs.. S..Sayang!"


"Emm..Maaxemm!" racau Evelyne beralih mencengkram lengan kekar Maxwell karna hentakan di bawah sana semakin cepat.


Bibir keduanya kembali bertemu dengan decapan erotis dan suara decipan kulit beradu nyaring menjadikan atmosfer yang semakin membeludak.


Shitt. Ini sangat nikmat.. Ini luar biasa Evelynee!!


Jeritan batin Maxwell sampai tak tahan lagi dan terus mempercepat hujaman pusaka perkasanya. Tusukan ini sangat dalam bahkan sampai menyentuh titik sensitif erotis Evelyne yang menggeram hebat di sela ciuman panas dan liar keduanya.


Di rasa ia akan keluar lagi Maxwell segera melepas ciumannya dan beralih mencengkram dua bukit kembar nan sekang Evelyne yang sudah merah karna puas ia jamah dan remas sesuka hati.


"A..aku.." nafas Evelyne memburu hebat begitu juga Maxwell. Keduanya bersitatap dalam dan sayu di pantulan kaca yang memperlihatkan wajah erotis Evelyne yang semakin membuat Maxwell gila.


"Kau suka?? Kau menyukainya. Hm?" bisik Maxwell menghisap leher Evelyne dengan nafas mengigil dan pacuan meningkat.


Evelyne hanya bisa mengangguk dengan kepala terkadah bersandar ke bahunya bahkan ia merasa ini begitu menyenangkan dan tak bisa di tepis.


"Jawab aku. Kau menyukainya? Sayang!"


"Aakhss.. Hemmm.. I..iya."


"Suka? Atau sangat suka? Hm?" pancing Maxwell terus menerus karna ia tahu Evelyne akan segera meledak.


Terbukti saat Maxwell semakin mempercepat pacuannya maka suara Evelyne melengking keras sampai tak bisa menahan rasa nikmat bercampur dengan panorama bahagia yang membuat ia tak berhenti meraung.


"S..Sebentar.."


Maxwell mengigit bahu Evelyne seraya pacuan terus memburu sampai di titik puncaknya keduanya meledakan lahar yang sedari tadi di pancing keluar dan kali ini lebih dahsyat sampai tubuh Evelyne meneggang hebat saat Maxwell mendorong lekat ke dalam.


"M..Maax emm!"


"Kau.. Kau sangat nikmat!" bisik Maxwell memeluk tubuh Evelyne yang sudah lemas bersandar padanya. Bahkan kedua kaki jenjang mulus ini mengigil menahan sensasi hebat yang menjalar di sekujur tubuhnya.


Dada Evelyne naik turun dengan kening bersandar ke rahang tegas Maxwell yang juga menormalkan pompaan dadanya.


"Kau puas? Hm?" lirih Maxwell mengulum senyum melihat pantulan wajah lemah Evelyne dari arah cermin.


"Apa kau tak lelah?" gumam Evelyne memejamkan matanya dengan satu tangan beralih membelai rahang tegas mulus Maxwell yang di banjiri keringat.


"Tidak. Kau ingin lagi?"


"Biarkan aku bernafas sebentar!" gumam Evelyne tak menolaknya. Maxwell benar-benar merasa senang dan kagum dengan ketahanan tubuh Evelyne yang tak pernah redup dan seakan-akan ia menandingi keperkasaannya dan memang sebanding.


Karna tak ingin Evelyne pegal terlalu lama berdiri di sini. Maxwell dengan hati-hati menarik Miliknya dari liang lembab ketat ini sampai Evelyne meloloskan desa**han halus yang syahdu.


"M..Max!"


"Kita ganti tempat!" bisik Maxwell mengecup punggung mulus seksi Evelyne lalu menggendong wanita itu ala Bridal Style ke luar kamar mandi.


Evelyne hanya pasrah di bawa ke arah Sofa panjang di sudut ruangan karna ia juga tengah lelah tapi tak mau berhenti.

__ADS_1


Maxwell duduk di atas sana seraya memangku Evelyne yang ingin bermain padanya.


"Tak mau seperti ini!"


"Sesuai keinginanmu. Nyonya!" jawab Maxwell lembut membalikan tubuh Evelyne membelakanginya.


Maxwell juga tak bisa tahan untuk segera memulai penyatuan kembali terbukti dengan Miliknya yang sudah mengeras dan kembali tegak menantang. Ouhh.. Sangat seksi.


"Emm.. Kenapa jadi ingin terus?" lirih Evelyne mengigit bibir bawahnya menatap ke bawah. Ia menyukai bentuk dan kekokohan Pusaka Maxwell yang sangat bangga bisa memuaskan sang pemilik hati.


"Jangan salahkan aku jika kau tak akan bisa berjalan besok."


"Kalau begitu kau harus menggendongku. Ehmm.. M..Max!" erang Evelyne menyandarkan tubuhnya ke dada bidang Maxwell yang menggesekan Miliknya ke arah liang nikmat Evelyne sebelum menerobos masuk.


Ia sesekali menggeram kala Evelyne juga menggerakan pinggangnya hingga membuat sensasi tersengat bagi Maxwell yang ingin menjerit melihat keganasan wanita ini.


Saat Maxwell sudah menekan perlahan maka saat itulah Evelyne dan Maxwell saling berciuman menikmati sensasi gila ini. Hanya selang beberapa saat mereka kembali menyatu dan rasa bahagia di dada keduanya tak bisa dilelakan.


"Ehmm!!" erangan keluar begitu saja. Maxwell beralih mengecup leher, bahu dan tangan Evelyne yang ia genggam lembut dan penuh kasih.


Evelyne merasa sangat diistimewakan dan juga senang karna Maxwell selalu bersamanya.


"Max!"


"Hm?" Maxwell memeluk Evelyne yang mengusap lengan kekarnya di bawah sana.


"Apa kita saling mencintai?"


Pertanyaan Evelyne barusan membuat Maxwell terdiam. Ia juga tak tahu apa itu Cinta karna selama ini ia tak pernah merasakannya.


"Kenapa bertanya seperti itu?"


"Tidak ada. aku juga bingung menganggapnya apa," jawab Evelyne tak tahu menahu soal apapun. Yang ia mengerti hanya ingin selalu bersama dan Maxwell hanya miliknya.


"Anggap saja kau dan aku ini satu tubuh dan jiwa. Seperti kau dan Leen!"


"Begitukah?"


Maxwell mengangguk tak bisa menjabarkan kalimat yang lebih baik dan hanya bisa mengatakan itu saja. Evelyne bisa memahaminya dan merasa lebih baik setelah mendengarnya.


"Max!"


"Apa?"


"Boleh aku pinjam foto Ibumu?" tanya Evelyne membuat Maxwell terdiam tapi segera mengecup bahu Evelyne.


"Untuk?"


"Untuk di tunjukan pada Nyonya Meeiner."


"Hey! Aku sudah mengatakan jika.."


"Aku percaya padanya!" sela Evelyne serius. Maxwell juga langsung diam. Evelyne tak pernah salah mengenali orang dan ia tahu itu.


....

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2