My Little Devil

My Little Devil
Tak bisa menahan lebih lama


__ADS_3

Setelah membuat Balmon trauma akan tingkah gila dan absurd-nya Evelyne akhirnya dapat di hentikan karna Maxwell mengajaknya untuk kembali masuk ke villa untuk melakukan fitting baju pernikahan yang kemaren sempat tertunda karna padatnya jadwal Maxwell.


Evelyne hanya menurut saja di ajak bertemu dengan para team yang diminta untuk membuat beberapa pilihan pakaian pernikahan yang di tentukan Maxwell.


"Nona!"


Sapa dua orang wanita muda yang tampil santai dengan dress menjuntai anggun sampai di mata kaki. Mereka menyambut Evelyne yang diiring ke ruang keluarga yang tak jauh dari ruang tamu.


Disini masih ada Leonard bersama Jirome tengah menyelidiki isi paper-bag yang di bawa para staf ini sampai Nyonya Meeiner menggeleng saja.


"Nona! Kami sudah menyiapkan 5 stel gaun untukmu. Kau bisa mencobanya hari ini!"


"Gaun?" gumam Evelyne menaikan satu alisnya bingung seraya menatap Maxwell yang masih menggendong Baby Leen.


"Gaun pernikahan besok. Cobalah mana yang kau suka!" jawab Maxwell menatap hangat Evelyne yang tak menyangka akan serumit ini.


"Maksudmu besok aku harus memakai gaun?"


"Iya. Sayang! Tak mungkin kau .."


"Tak usah pakai baju. Bagaimana?" tawar Evelyne semangat membuat Leonard dan Jirome yang mendengar di belakang sampai tersedak liurnya sendiri dan tatapan menajam Maxwell segera meroket.


Salah satu staf itu bernama Jesy. Ia terlihat menyimpul senyum karna karakter Evelyne cukup blak-blakan.


"Nona! Besok adalah acara penting bagi anda dan tuan. Akan banyak orang yang datang dan anda harus menunjukan pesona yang luar biasa."


"Pasti banyak wanita-kan?" tanya Evelyne melirik sinis Maxwell yang hanya diam. Ia juga tak berminat berdebat hanya karna masalah wanita lain.


"Jelas. Nona! Agar anda selalu menjadi pusat perhatian maka anda harus tampil .."


"Baiklah!" sela Evelyne mantap. Ia pantang untuk mendengar suara-suara lintah yang butuh belaian besok hari.


"Mommy akan bantu bersiap. Nak!"


"Hm. Bantu dia Mom!" gumam Maxwell beralih duduk di atas sofa memandangi Evelyne yang diiring pergi ke area pintu di dalam ruangan ini.


Jesy masuk bersama satu rekannya begitu juga Nyonya Meeiner yang dibantu para pelayan membawa beberapa gaun yang di siapkan masuk ke dalam sana sampai akhirnya mereka kembali keluar.


Disini hanya ada mereka para pria saja. Leonard dan Jirome duduk di samping Maxwell yang asik memainkan jari mungil Baby Leen. Bocah cantik ini juga tenang dan nyaman di lengan kekar Daddynya.


"Kau yakin ingin menikahi Evelyne?" tanya Leonard tapi Maxwell hanya diam pertanda tak mau meladeninya.


Melihat itu Jirome terpancing untuk mengambil alih suara agar Leonard tak terus bertanya.


"Apa sudah tak jelas di depan matamu. Ha?"


"Aku hanya bertanya. Pikirkan baik-baik karna Evelyne tak akan bisa seperti istri-istri di luar sana," jawab Leonard hanya mencemaskan jika Evelyne akan terus membuat masalah dan Maxwell akan meninggalkannya.


"Lihat saja! Dia selalu berbuat hal aneh dan tak masuk akal. Jika kau memperkenalkannya dengan dunia luar mereka akan mencemo'oh-mu. Max!" imbuh Leonard tak bermaksud buruk.


"Menurutmu dia seburuk itu?" tanya Maxwell tanpa mengalihkan objek perhatiannya pada Baby Leen.


"Bukan itu maksudku. Aku hanya cemas kau lelah menghadapi sikap kekanak-kanakannya dan kalian.. "


"Aku tak akan melepaskannya!" tegas Maxwell penuh intimidasi dan keseriusan menatap Leonard dengan tajam.


Pernyataan itu keluar dengan penuh tanggung jawab dan kepastian tiada tara.


"Apa yang membuatmu sampai sebegitu menginginkannya? Aku tahu Evelyne memang sangat cantik dan misterius tapi kau butuh kesabaran untuk menghadapi setiap sikapnya. Max!"


"Aku tak keberatan!" sambar Maxwell merasa tak ada masalah dengan itu. Justru ia sangat senang bahkan Evelyne adalah dunia baru pelepas lelah untuknya.


"Max! Maksudku.."


"Dia memiliki nilai dan jiwa yang bersih. Pikirannya penuh dengan kejutan dan hanya saja kalian terlalu awam untuk memahaminya," tegas Maxwell justru membungkam Leonard yang akhirnya diam.


Ia berharap besok Evelyne tak membuat kegaduhan di pesta sebesar itu apalagi Maxwell bukanlah orang sembarangan. Pasti akan banyak musuh yang mencoba mencari cela sekecil apapun.


"Aku juga tahu Evelyne itu istimewa. Tapi, aku hanya ingin dia ada di tangan yang tepat."


"Dan itu bukan tanganmu!" jawab Maxwell dingin kembali bermain dengan Baby Leen yang menggenggam-genggam jempol besarnya.


Jirome hanya bisa diam karna urusan keyakinan Maxwell memang selalu teguh pada pendiriannya.

__ADS_1


"Tuan! Pernikahan besok di adakan di outdoor. Tuan memilih pantai terluas di negara ini dan tentunya bersama kapal pesiar di acara malamnya. Apa perlu aku siapkan tempat lain untuk kalian berdua?" tanya Jirome mengingat rincian kegiatan besok.


Maxwell tampak berpikir sejenak. Ia rasa rangkaian acara itu sudah cukup pas karna Evelyne akan kelelahan jika banyak tempat yang ingin di datangi dalam satu hari.


"Siapkan satu minggu setelahnya di area pegunungan!"


"Kau yakin membawa Evelyne kesana?" tanya Leonard agak ngeri. Pegunungan adalah tempat ekstrem yang bisa memacu adrenalin Evelyne.


"Berhentilah mengaku-ngaku sebagai kakaknya. Kau tak terlihat natural!" seru Maxwell menyelipkan nada cemo'oh dan itu langsung membuat Leonard tak bisa bicara lagi dan akhirnya diam memainkan ponselnya.


Setelah beberapa lama pintu itu terbuka. Awalnya mereka tak menyadari hal itu karna mereka sibuk memuja Baby Leen yang malah terpaku ke depan.


"Ada apa. Hm?" gumam Maxwell mengecup pipi gembul putih Baby Leen yang masih tak berkedip menatap kedepan.


Maxwell mulai merasa aneh mengangkat pandangannya ke arah yang sama hingga..


Degg..


Matanya melebar dengan jantung yang hampir mau lepas melihat sesosok bidadari seksi yang tengah memakai gaun pernikahan dengan bagian dada rendah dan tak bisa di kancing karna terlalu besar.


"Shitt!!" umpat Maxwell buru-buru sadar dan segera melempar bantalan sofa pada wajah Leonard dan Jirome yang tadi seperti tak punya jiwa melihat kecantikan dan seksinya ibu satu anak itu.


"KELUAAAR!!!" bentak Maxwell hingga keduanya langsung bergegas pergi walau kesadaran mereka masih 50% belum terkumpul sepenuhnya, bahkan Jirome sesekali menabrak Leonard yang juga tak fokus lagi.


Nyonya Meeiner dan Jessy yang tadi gelagapan saat Evelyne keluar lebih dulu langsung pucat melihat wajah dingin Maxwell.


"M..Max! Aku akan membawa putrimu jalan-jalan sebentar!" elak Nyonya Meeiner mencari aman. Ia bergegas mengambil alih Baby Leen dari gendongan kekar Maxwell lalu pergi dari ruangan eksekusi ini.


Ada apa? Apa yang salah denganku?


Pikir Evelyne merasa heran. Ia meneliti gaun berwarna silver yang ia pakai dimana bagian pinggang ketat dan ada rumbai ekor yang cantik di bawahnya. Tapi, ada belahan sampai sejengkal di atas paha membuat kaki jenjang mulusnya terekspos.


"Tuan! Saya kira ukuran dada nona sama seperti yang kemaren. Jadi.."


"Kau benar. Aku rasa gaunnya kekecilan tapi aku suka, ini tak panas!" sela Evelyne mencari mati. Pantas saja tak panas, model kainnya begitu tipis dan terbuka memudahkan udara untuk menerobos masuk.


Melihat ketidakpekaan Evelyne mengundang murka Maxwell yang segera berdiri. Jesy jadi gugup kala pria tampan bertubuh kekar sempurna itu mendekat dan sangat menghakimi.


"T..Tuan!"


Evelyne hanya diam kala Maxwell berdiri di hadapannya dengan tatapan penuh intimidasi sekaligus juga kagum padanya.


"Apa aku cantik?"


"Kau suka?" desis Maxwell menyelidik.


"Maksudnya?"


"Kau suka memamerkan tubuhmu?" sarkas Maxwell yang selalu panas saat Evelyne sembarangan menunjukan tubuh seksi ini apalagi di hadapan pria lain.


"Ayolah. Ini biasa, Max! Bahkan setiap malam aku tak memakai apapun dan kau biasa saja."


"Itu berbeda. Evelyne!" geram Maxwell segera menarik pinggang ramping itu merapat ke tubuhnya hingga jarak mereka sangat tipis.


Jesy yang baru keluar-pun langsung terkejut tapi ia sadar segera berlari keluar membawa guan-guannya. Tentu Evelyne jadi bingung sendiri.


"Max! Kau menyuruhku memakai gaun ini lalu sekarang marah-marah? Maunya apa?" decah Evelyne dengan nafas berat karna ia sesak dengan bagian dadanya yang nyaris mau koyak.


"Kau pasti memaksa mereka untuk memakai ini."


"Iya. Aku suka gaunnya karna dingin dan hanya agak kecil di bagian dada saja itu tak masalah. Aku masib nyaman," jawab asal Evelyne tapi segera mendesis kala Maxwell merem**mas satu squishi kembar yang tak lagi muat di tangan besarnya.


"M..Maax!"


"Dada mu yang besar dan kau salahkan gaunnya!" gumam Maxwell antara kesal tapi juga ikut gemas dan tak bisa tahan.


Evelyne merenggut karna memang ia merasakan perbedaan pada bagian dadanya semenjak menyusui. Rasanya lebih berat dan sering nyeri jika Baby Leen tak minum asi.


"Iya, Max! Bahkan kau sampai menukar Bra baru untukku. Untung saja cuma ini yang berubah, perutku masih rata dan .."


"Kau itu semakin seksi!" desis Maxwell menyela gerutuan Evelyne yang seketika menerima tatapan nakal Maxwell padanya.


Tubuh Evelyne memang sudah kembali seperti semula karna Nyonya Meeiner memberinya ramuan tradisonal keluarga untuk mengembalikan porsi tubuh seksinya.

__ADS_1


Seksi. Haiss.. Ia jadi berpikir hal kotor.


Ia sudah lama tak melakukan itu karna Maxwell selalu menolak dengan alasan ia masih dalam masa pemulihan.


"Max!"


"Hm?" serak Maxwell memang sudah tak tahan untuk meredam hasrat setiap melihat bentuk tubuh Evelyne. Ia tak munafik jika ini sangat sempurna tapi juga berbahaya.


Evelyne yang pantang di pancing itu segera mengusap dada bidang Maxwell di balik kemeja kerjanya itu.


"Ayo main!" ajaknya dengan tatapan begitu memancing. Hasrat di tubuh Maxwell semakin berapi-api bahkan senjatanya sudah memproduksi lahar sekarang.


Sumpah demi apapun aku sangat ingin menguasai mu. Evelyne! Aku ingin membuatmu memekik dan berteriak hebat di bawah kunkungan ku.


Jeritan batin Maxwell tapi ia masih harus menahan karna besok acaranya akan padat. Ia tak mau membuat wanita ini lelah dan kurang istirahat.


"Seberapa rindu kau padaku. Hm?" bisik Maxwell dengan nafas berat ke telinga Evelyne yang semakin gencar meraba dada bidang ini meresapi setiap tonjolan otot seksi Maxwell sampai ke area perut yang sangat ia sukai.


"Aku ingin bermain. Ayo buka pakaianmu!"


"Evelyne!" lirih Maxwell menahan tangan Evelyne yang ingin menarik resletingnya yang sudah membengkak dan begah di bawah sana.


"Kau tak mau main?" tajamnya tapi Maxwell sudah berusaha tenang.


"Sayang! Kita bermain tak sebentar. Kau bisa lelah!"


"Tidak akan. Janji!" sambar Evelyne membentuk jarinya seperti huruf V. Saat Maxwell ingin menyela lagi Evelyne sigap langsung mengoyak kemejanya hingga kancing itu berserakan di lantai.


"S..Sayangmm!!" gumaman Maxwell tak sempat bicara karna Evelyne sudah menciumnya dengan liar dan ganas.


Tangan wanita ini juga tak tinggal diam merayu senjatanya agar terus memberontak keluar dari sarangnya. Ntah dari mana ia mendapatkan ini tapi tentu Maxwell yang mengajari itu dulu, tak di sangka Evelyne terlalu cepat tanggap dalam hal ini.


Shiit. Kau jangan menyalahkan ku jika tak bisa berjalan besok.


Batin Maxwell sudah masa bodoh. Ia meladeni ciuman erotis dan bergairah Evelyne yang sangat mengimbangi hasratnya.


Lidah yang saling bertaut mesra menyapa di dalam sana bahkan Evelyne sampai menggelinjang saat Maxwell meraba pahanya di bawah sana.


"Ehmm!!" erangan panas Evelyne menipiskan suhu atmosfer di ruangan ini. Kedua tangan Maxwell turun mere**mas dua bongkahan kenyal di belakang Evelyne yang seketika beralih mencengkram punggung kekarnya membuat birahi Maxwell memuncak.


Ciuman Maxwell perlahan turun menyusuri garing rahang dan leher jenjang Evelyne mengigit kecil menimbulkan bekas yang kontras.


"Ehmm..Maax!!" lenguh Evelyne mengigit bibir bawahnya kala sentuhan Maxwell kian intens. Pria ini mengaduk-ngaduk darah di dalam tubuhnya bahkan Evelyne sampai hilang akal.


"Kau ingi main?" serak Maxwell dengan nafas begitu berat dan sangat gemetar. Evelyne menunjukan wajah lemah dan pasrah itu membuatnya sudah hilang kendali.


"M..Main!" erang Evelyne menurut kala Maxwell mendorongnya ke arah sofa panjang di belakang sana hingga tubuhnya di kungkung pria tampan ini.


"Katakan!" lirih Maxwell dengan tatapan begitu berkabut.


"M..Main.. Aku mau bermain," jawab Evelyne terdengar merdu di telinga Maxwell.


Ia dengan sensual mengigit resleting di depan area dada Evelyne lalu menariknya turun ke area perut. Mata Evelyne perlahan terpejam menikmati kecupan lembut Maxwell pada perut datar mulusnya sampai naik ke atas dada.


"Asss.. Mmm Maax!" lenguh Evelyne meremas pinggang Maxwell yang melakukan hal yang sama seperti Baby Leen. Hanya saja sensasi ini berbeda dan sangat-sangat luar biasa.


Wajah Maxwell sudah merah padam mencicipi setiap jengkal tubuh nikmat ini sampai Evelyne terlihat sudah sangat panas dan penuh dengan gairah barulah ia melepas hisapannya.


"Buka matamu!" pinta Maxwell dengan nafas gemetar. Evelyne menurutinya hingga kedua mata penuh api birahi itu bertemu saling mendamba.


"M... Max!"


"Lihat aku melakukannya!" pinta Maxwell kembali memanjakan dua squishi kembar itu di dalam mulutnya. Evelyne sampai menggeliat tak karuan menarik remang rambut Maxwell yang tampak sangat menyukai rasa manis dan hambar pada air yang masuk ke kerongkongannya.


"S..Sss aaa.. Maax!" racaunya tak jelas. Maxwell tersenyum puas memberi kecupan terakhir dan barulah ia menegakkan tubuhnya setengah duduk di atas sofa dengan mata masih saling menatap.


"Jika sakit katakan saja padaku. Hm?"


"I..iya," lemah Evelyne begitu manja dan mendayu-dayu di telinga Maxwell yang tak akan bisa menahan gempuran hebatnya.


Kau yang memaksaku tapi aku tak munafik jika tubuhmu memang berjuta lebih nikmat dari yang biasanya. Sayang! Kau semakin membuatku cemas dengan kecantikanmu.


Decah batin Maxwell terlalu jatuh dalam pesona Evelyne yang punya daya pikat kuat sampai tak ada cela untuk wanita lain di hatinya.

__ADS_1


....


Vote and Like Sayang.


__ADS_2