
Pagi ini seperti biasa mentari keluar dari permukaan awan biru yang menghampar luas membiarkan kemilau emas tak terlalu terik itu memancar dimana tempat.
Suasana pagi yang begitu asri dengan udara segar Kota Brusell yang tak pernah tercemar ini membuat nafas lega di Pagi hari.
Inilah yang tengah Jirome nikmati. Di tengah perjalanan menuju Kediaman Tuannya. Ia menyempatkan diri untuk menikmati Tatanan bunga di pinggiran Kota serta nyiur biru yang melingkar di langit-langit sana.
Indah dan tertata rapi.
Itulah kata yang tepat dilabelkan pada Kota Brusell yang sangat mengutamakan keindahan, kebersihan dan kemajuan Kota yang bernama Lain Fantasy City.
Namun. Setelah beberapa lama menikmati kedamaian ini tiba-tiba Ponselnya berdering dan otomatis Jirome melihatnya.
"Kenapa Tuan menelpon sepagi ini?!" gumam Jirome karna tak biasanya Maxwell menghubunginya sepagi ini.
Tak mau menebak-nebak akhirnya Jirome mengangkat panggilan itu seraya menatap ke area jalan.
"Selamat Pagi. Tuan! Kau.."
"Bawa Dokter Ken kesini!" titahan Maxwell yang terdengar masih dengan nada memerintah dan arogan khasnya.
"Baik. Tuan!"
"5 menit."
"A.."
Belum sempat Jirome menjawab sambungan itu langsung mati sepihak. Helaan nafasnya terulur keluar melihat jam di pergelangan tangan kekarnya yang menunjukan pukul 6 pagi.
"Ada apa dengan Tuan? Tak biasanya dia meminta Dokter Ken datang ke Kediaman. Apa dia sakit?!" gumam Jirome bertanya pada dirinya sendiri.
Tapi tunggu. Biasanya jika Tuannya terluka ringan menurut anggapan pria itu maka dia bisa mengurusnya sendiri. Tapi, Sekarang memanggil Dokter Ken untuk datang. Bukankah ini aneh?
Atau.. Atau mungkin semalam ada penyerangan di Kediaman hingga membuat Tuannya luka parah? Shitt.
"Aku harus segera kesana." gumam Jirome memberi pesan lebih dulu pada Dokter Ken agar segera pergi ke Kediaman atas perintah Tuannya.
Ia memacu Mobil cepat bahkan melewati beberapa kendaraan yang tadi malas ia tikung karna ingin menikmati Pagi. Tapi, sayangnya Pagi cerah itu harus ia akhiri untuk kali ini.
.....
Di tempat yang berbeda. Masih dalam suasana kamar mewah nan elegan yang sudah berubah citra menjadi ruangan pengintai maut dengan bukti semua barang-barang yang semula tersusun rapi sekarang telah berantakan di lantai.
Gored-gorden sobek dan pecahan Kaca, Keramik ada dimana-mana. Jika tak memilih langkah maka di pastikan kaki akan terkena serpihan benda tajam ini.
Tapi. Untung saja semuanya sudah berjalan normal. Sesosok wanita yang semalam menghancurkan kamar dan menusuk perutnya itu tengah berubah kembali menjadi Anak kecil menggemaskan yang tengah tak sadarkan diri di atas Sofa.
"Daddy!" gumamnya kala merasakan area bahunya terasa sakit. Ia menggeliat di dalam balutan selimut bulu empuk itu sampai bahunya benar-benar sakit.
"D..Daddy hiks."
"Hm," gumaman datar Maxwell yang tadi duduk termenung di pinggir sofa dengan pikiran melalang buana.
Ia menoleh dengan tatapan dingin yang sama menerobos manik abu bening yang terlihat masih sayu-sayu memandangnya.
"D..Dad!"
Maxwell tetap diam. Ia melihat jika wajah cantik Evelyne kecil begitu pucat dan menahan sakit karna luka semalam.
Ia benar-benar masih tak percaya dan belum bisa mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Saat wanita itu terlihat gelisah Maxwell mengikutinya ke arah kamar mandi tapi setibanya di sana Evelyne kecil sudah bersimbah darah di dekat Shower.
__ADS_1
"D..Dad! S..sakit.." dengan nafas putus-putus menyedihkan.
Maxwell yang sudah berganti pakaian kerjanya terlihat baik-baik saja. Hal itu membuktikan jika ia memang sudah biasa dengan luka seperti ini.
Tapi. Bagaimana dengan Evelyne kecil? Tentu tubuhnya yang semalam dan pagi ini berbeda dalam segi apapun.
"D..Dad! L..Leen sakit."
"Bahu-mu sobek," jawab Maxwell tanpa di rem sedikit-pun.
Ia hanya memandang datar Evelyne yang tersentak meraba bahunya yang lengket di selimut ini. Bocah malang itu hanya bisa diam membisu dengan bibir terus memucat pertanda ia tak kuat menahan denyutan dan perih di lukanya.
Alhasil Maxwell mengambil nafas dalam lalu menyorongkan tubuhnya dengan kedua tangan menarik selimut itu ke bawah hingga ia di perlihatkan dengan bahu bagian bawah Evelyne sudah membiru berair membawa darah yang menggumpal.
"D..Dad!"
"Duduk!"
Evelyne ingin bangun tapi denyutan di area luka itu membuat tangan mungilnya mencengkram lengan Maxwell yang masih ada di pinggiran Selimut.
"D..Dad!"
"Pejamkan matamu!" Titah Maxwell yang di turuti Evelyne.
Jika kalian pikir Maxwell akan bersikap lembut maka kalian salah besar. Dengan kejamnya ia mencengkram tengkuk Evelyne lalu mengangkat bocah itu naik ke atas Pahanya dengan mode koala.
Evelyne merapatkan bibir dengan cengkraman beralih ke dada Maxwell yang tadi tak bisa membersihkan luka ini karna Evelyne belum sepenuhnya bisa ia dekati.
"S..Sakit. D..Dad!"
"Jangan menangis di depanku," Tukas Maxwell mendapat anggukan kecil dari Evelyne. Tubuh polos mungil ini pasrah dengan perlakuan sadis Maxwell yang melihat luka sobekan karna peluru itu tak begitu dalam baginya tapi ini fatal untuk Evelyne kecil.
"D...Dad!"
Ia mengelap sisa darah dan lelehan lendir berair ini tanpa perduli jika sesekali Evelyne meneggang sakit dengan cengkraman menguat ke dadanya.
"Sakit?" remeh Maxwell masih dalam mode iblisnya.
"T..tidak. D..Dad!"
"Cih," umpat Maxwell hanya berdecih malas. Sampai kapan bocah ini akan selalu menguntitnya? Ia sangat risih dengan Dunia yang di bawa Evelyne.
Setelah melihat luka ini cukup dalam. Maxwell terdiam sejenak mempertimbangkan apa ia harus menjahitnya? Tapi, tak mungkin Evelyne akan tahan dengan alat injeksi dan gunting itu.
"Kau pernah terkena pisau?" tanya Maxwell tapi tangannya memprediksi berapa jahitan yang akan ia buat disini.
"P.. Pernah. Dad!"
"Kapan?"
"Saat bantu Bubu memasak!" jawab Evelyne membuka matanya. Ia mengagumi wajah Tampan Maxwell yang terlihat begitu maskulin dan sangat berkharisma.
"Kau ingin di jahit?" tanya Maxwell membuat Evelyne diam.
"J..Jahit?!"
"Hm. Aku bukan seorang Dokter. Tapi, bisa mengatasi lukamu," jawab Maxwell yang mendapat respon baik di mata Evelyne.
Bocah lugu ini tersenyum lalu mengangguk seakan ia beranggapan jika Maxwell ingin mengobati lukanya. Tapi, cara yang Pria ini lakukan masih belum terpikir oleh Evelyne.
__ADS_1
"Benarkah? Dad!"
"Iya atau tidak?" tegas Maxwell tak mau membuang waktunya. Apalagi kedatangan Dokter Ken terlalu lama sedangkan ia ingin bekerja secepatnya.
"D..Daddy yang obati-kan?"
"Hm," gumam Maxwell dan segera mendapat anggukan polos Evelyne. Melihat itu Maxwell segera berdiri dengan satu tangan menggendong Evelyne yang menyandarkan kepalanya ke bahu kokoh kekar ini.
Ia merasa sangat di lindungi padahal jelas Maxwell selalu membuatnya ada di dalam neraka setiap harinya.
"Dad!"
Maxwell tak menjawab. Ia membawa Kotak obat ini kembali ke sofa lalu ia mendudukan Evelyne di sana tanpa bicara banyak sama sekali.
"Dad! itu apa?"
"Besi," lugas Maxwell singkat mengeluarkan alat injeksi dari dalam kotak obat.
Ia mencari botol Anastesi yang masih ada hingga Evelyne menautkan alis melihat Jarum yang Maxwell buka dari tempat khususnya.
"Dad! Itu apa?"
"Ini akan menusuk bahumu."
"A..apa??" pekik Evelyne melebarkan matanya. Ia menatap ngeri jarum yang sudah Maxwell isi dengan Anastesi lalu menyiapkan beberapa Perban serta Antibiotik yang masih tersegel.
"Kau takut?!" tanya Maxwell penuh seringaian.
"A.. Dad! T..tidak Leen berani."
"Baguslah. Ulurkan lenganmu!" ucap Maxwell dengan wajah begitu membawa hawa intimidasi untuk Evelyne yang bertambah pucat. Ia sangat takut pada jarum suntik bahkan selama ini ia selalu menghindarinya.
"D..Dad!"
"Ini akan sakit. Aku tak berbohong." tegas Maxwell begitu tak bisa meredakan rasa gemetar di tubuh Evelyne. Ia terlalu jujur pada bocah ini sampai-sampai Evelyne harus mengigit bibirnya dengan mata terpejam rapat.
"L..Leen siap!"
Saat jarum itu ingin menancap ke bahu mungilnya tiba-tiba saja Maxwell diam menatap wajah pucat namun cantik Evelyne yang begitu patuh padanya.
"Dia dan wanita itu berbeda."
Batin Maxwell beralih melihat luka di bahu Evelyne. Ia merasakan jelas jika lengan kecil ini gemetar dan bahkan sesekali meneggang di cengkramannya.
"S..Sudah?"
"Jawab pertanyaanku!"
"A..Apa? Dad!" jawab Evelyne bergetar. Ia tak berani membuka matanya menunggu benda itu menusuk seperti yang Maxwell katakan.
"Kau ingat sesuatu?"
"A..apanya? Dad!"
Maxwell membisu. Jika begitu berarti Evelyne tak mengingat kejadian semalam. ini benar-benar membutuhkan pengamatan yang sangat jeli.
"Malam ini dia akan berubah lagi. Aku bisa mempersiapkannya sebelum Iblis itu datang."
Batin Maxwell ingin memperdalam penelitiannya. Ia harus lebih bisa menahan diri agar mendapatkan informasi yang cukup akurat dari pada pertengkaran hebat tadi.
__ADS_1
....
Vote and Like Sayang...