My Little Devil

My Little Devil
Kedatangan masa lalu


__ADS_3

Waktu terus berputar. Tak terasa sudah 8 bulan berlalu dan semuanya sangat-sangat berubah drastis. Nyonya Meeiner meminta agar Maxwell tinggal di Villa untuk sementara waktu selama periode kehamilan Evelyne agar ia bisa menjaganya.


Evelyne yang tengah hamil tua dengan perubahan fisik yang ia rasakan membuat kepanikan di dalam dirinya. Setiap perutnya membesar maka ia akan heboh sampai mengguncang Villa.


"Maaaax!!!"


Teriakan bumil satu itu membuat para pelayan yang bekerja di bawah dan Nyonya Meeiner yang tadi tengah memasak langsung berlari ke kamar atas begitu juga Maxwell yang tadi ada di ruang kerja Tuan Fernandez.


Pintu kamar itu di dobrak keras oleh Maxwell yang seketika berwajah pucat melihat Evelyne dengan perut besar dan pipi cubby itu tengah terduduk di tepi ranjang.


"Sayaang!"


"Maax hiks!" isak Evelyne membuat Maxwell jantungan. Ia segera berdiri di hadapan Evelyne yang tengah memakai baju hamil Minimouse yang tampak lucu di tubuh seksinya.


Semua pelayan di luar dan Nyonya Meeiner yang baru masuk dengan wajah panik itu mendekati Maxwell.


"Ada apa? Apa yang terjadi?"


"Perutmu sakit. Hm?" tanya Maxwell memeggang perut Evelyne yang memang sudah begitu besar sampai bernafas saja terkadang Evelyne susah.


"Max! Aku.. Aku merasakan ada yang menendang perutku!"


"A.. Apa?" tanya Maxwell tapi Evelyne sudah begitu panik dan tak bisa membendung rasa takutnya.


"Perutku semakin besar dan ada sesuatu yang bergerak-gerak di dalam sana. Apa mungkin dia sudah berubah menjadi monster dan ..."


"Hey!" sangga Maxwell menangkup kedua pipi Evelyne dengan tangannya. Setiap hari Evelyne pasti akan bertanya karna perubahan di tubuhnya cukup signifikan.


"Max! Apa aku akan mati?"


"Jangan bicara sembarangan. Perutmu semakin besar dan dia bergerak di dalam sana karna anak kita sudah tak sabar keluar," jelas Maxwell harus ekstra siaga dan bersabar.


Evelyne diam dengan wajah masih belum tenang. Ia merasakan perbedaan yang luar biasa dari tubuhnya dan ini sangat tak terbiasa bagi Evelyne.


"Apa tak bisa keluar sekarang?" keluh Evelyne dan itu mendapat helaan nafas dari keduanya.


Nyonya Meeiner tahu kekhawatiran Evelyne karna wanita ini termasuk aneh dan tak seperti orang lain.


"Nak! Sebentar lagi kau akan melahirkan. Perutmu akan mengecil dan monster yang kau katakan itu akan keluar bergabung dengan keluarga kita."


"Tapi, dia terus bergerak di dalam sana," gumam Evelyne geli sendiri meraba perutnya. Selama ini hanya Maxwell yang selalu bicara pada mahluk di dalam sana tapi saat Maxwell sudah pergi ia akan bertingkah membuat Evelyne panik setengah mati.


"Itu tandanya Baby sangat menyukaimu. Hm?" bisik Maxwell tapi Evelyne menggeleng. Ia merasakan hawa mendominasi dan permusuhan dari dalam perutnya seakan-akan Maxwell tak di bolehkan pergi dan harus terus mengajaknya bicara.


"Max! Dia sepertinya ingin mengambil mu dariku," hardik Evelyne tak suka.


"Sayang! Bukan seperti itu, Baby hanya ingin berkomunikasi denganmu. Sesekali ajak dia bicara dan.."


"Sudah. Bahkan aku menjelaskan aturan jika dia ingin bergabung dengan kita," jawab Evelyne membuat Nyonya Meeiner mengulum senyum.

__ADS_1


Ia menepuk bahu Maxwell agar lebih sabar lagi dan tak ikut marah karna Evelyne memang termasuk parnoan.


"Mommy akan ambilkan makanan kalian! Tunggu saja di kamar ini. Nak!"


"Mom! Apa kau memang tak bisa mengeluarkannya?"


Mendengar itu sontak Maxwell membekap mulut Evelyne dengan gemas dan bercampur kesal karna selalu ingin mengeluarkan anaknya.


Nyonya Meeiner hanya menggeleng meninggalkan kamar bersama para pelayan yang tadi sangat cemas jika terjadi sesuatu yang buruk.


"Kau ini selalu saja membuatku ingin mengigit mu!" geram Maxwell mencubit lemak di pipi Evelyne yang memang bertambah berisi tapi tak begitu terlihat. Tubuhnya tetap seksi hanya saja pipinya membuat gigi Maxwell selalu tertancap ringan di sana.


"Jangan di cubit!! Kau ini suka sekali melakukannya!!" pekik Evelyne memukul lengan Maxwell.


Bukannya berhenti Maxwell justru mengapit pipi Evelyne dengan kedua tangannya hingga bibir wanita ini manyun dengan mata tenggelam seperti boneka.


"Maaxmmm!!!"


"Genduut!" gemas Maxwell mengecup bertubi-tubi bibir Evelyne yang segera mendorong wajahnya agar menjauh.


"Aku tak gendut. Ya!!" sangkal Evelyne tak suka.


Maxwell yang tersenyum geli selalu gencar menggoda Evelyne yang tak suka jika Maxwell terus mencubit lemak di tubuhnya.


"Gendut! Lihat pipimu itu sudah seperti bantal."


"Kau itu semakin seksi. Sayang! Aku suka."


"Seksi apanya?! Kau selalu saja menertawakan aku," umpat Evelyne dengan wajah kesal bukan main. Ia melihat pantulan wajahnya di cermin meja rias dan seketika Evelyne langsung ingin mencabik wajah gemas Maxwell yang sudah membuat pipinya merah.


"Kau lihat saja! Setelah monster ini keluar aku akan menguras lemakku."


"Kau tak akan pernah bisa," ejek Maxwell mencubit paha Evelyne yang seketika naik pitam sekaligus merasa emosi.


"Mommyy!!!"


"Lemak-mu akan semakin bertambah sampai tak bisa bergerak di atas ranjang. Aku menantikan saat itu, Sayang!" pancing Maxwell kembali mencubit pipi Evelyne yang tak lagi bisa menahan kejengkelan.


"Kesini kau!!"


"Gendut-ku!" ledek Maxwell lagi dan kali ini mata Evelyne langsung berkaca-kaca hingga membuat Maxwell gelagapan.


"S..Sayang! Aku hanya bercanda. Hm?"


"Kau jahat!" gumam Evelyne dengan susah payah berdiri dengan jalannya yang sedikit hengkang karna memang tak terbiasa.


Maxwell hanya bisa menahan kegelian segera memeluk Evelyne dari belakang membuat bumil ini segera menyerangnya.


"Aku akan mencabikmu!!"

__ADS_1


"Hm? Aku pasrah," gumam Maxwell membiarkan Evelyne menarik rambutnya tapi tak begitu lama. Ia akhirnya hanya merutuk seraya bersandar ke dada Maxwell karna ia kesusahan berjalan.


"Max!"


"Hm? Apa dia bergerak lagi?" tanya Maxwell mengusap perut besar Evelyne yang selalu membuatnya tak sabaran. Jujur yang ada di kepalanya sekarang hanya istri dan anaknya.


"Kemana Dawson?"


Seketika wajah Maxwell langsung mendingin. Memang beberapa bulam ini hubungannya dan Dawson membaik apalagi Tuan Fernandez terikat kerja sama dengannya.


Alhasil Dawson selalu datang ke Villa. Tapi, yang membuat Maxwell tak suka adalah, Evelyne tertarik dengan pria itu dan seakan-akan kedatangan Dawson membuat Mood nya membaik.


"Dimana dia?"


"Sudah mati," acuh Maxwell memeluk erat Evelyne yang tahu jika Maxwell dalam mode cemburu.


"Max! Aku suka jambang tipis di dagunya. Emm.. Aku ingin sekali merabanya."


"Evelyne!!" decah Maxwell melepas pelukannya. Evelyne hanya menaikan bahu acuh bersedekap dada.


"Aku tak mau tahu. Dawson harus datang ke sini!"


"Dia tak ada di negara ini," ketus Maxwell tapi Evelyne tak mau mendengarnya.


"Aku tak ingin tahu alasannya. Dawson harus ada disini. TITIK!"


"Apa aku saja tak cukup? Sayang!" lemah Maxwell tapi Evelyne menggeleng membuat Nyonya Meeiner yang tadi membawa nampan langsung menghela nafas.


"Ada apa? Max!"


"Dia ingin menduakan-ku," umpat Maxwell lalu pergi begitu saja. Evelyne tersenyum kecil segera mendekati Nyonya Meeiner yang sudah biasa dengan pertengkaran dua insan manusia ini.


"Kau suka sekali melihatnya marah. Hm?"


"Biarkan saja. Toh dia juga selalu menyebalkan," gumam Evelyne yang memeluk lengan Nyonya Meeiner.


Tapi, tiba-tiba saja ada salah satu pelayan yang berdiri di depan pintu dengan sopan.


"Nyonya, Nona!"


"Ada apa?" tanya Nyonya Meeiner hangat.


"Nona Violet menunggu di bawah!"


Seketika Evelyne diam dengan raut wajah tak sukanya. Violet beberapa hari ini selalu datang dengan alasan ingin menjenguk Nyonya Meeiner yang sudah ia anggap ibunya sendiri.


....


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2