My Little Devil

My Little Devil
Kekhawatiran Maxwell!


__ADS_3

Semua orang tengah memenuhi ruangan rawat Evelyne yang tengah mengalami kontraksi. Wanita itu sudah di tangani oleh Dokter Karren yang memang khusus kandungan dan termasuk kepercayaan Nyonya Meeiner.


Disana juga ada Dawson yang tadi ada di sini tapi ia segera bergabung karna melihat Evelyne dalam keadaan tak baik- baik saja.


"Sesuai dengan permintaan, Tuan! Nona akan melakukan operasi lebih cepat dari jadwalnya," jelas Dokter Karren bersama Dokter Drew yang tengah memasang infus ke tangan Evelyne.


Keringat di kening mulus wanita ini sudah sebesar biji jagung dan ia selalu mencengkram tangan Maxwell yang serasa ingin menjerit kuat memohon agar jangan menyiksa istrinya.


"Kalian bilang waktunya masih lama tapi apa ini. Ha??" emosi Maxwell tak tahan melihat wajah pucat Evelyne.


"Tuan! Itu hanya perkiraan, sekarang kami harus secepatnya melakukan tindakan!"


"Cepat!!! Aku tak ingin tahu apapun semuanya harus berjalan baik," tekan Maxwell dan diangguki mereka semuanya.


Evelyne yang sebelumnya hanya diam kini mulai merasa cemas karna tiba-tiba saja bagian bawahnya terasa begitu sakit dan pinggangnya seakan ingin patah.


"M..Max!"


"Sayang! Kau tenang. Semuanya akan baik-baik saja. Hm?" bisik Maxwell mengecup pelipis Evelyne yang berkeringat.


Nyonya Meeiner menarik bahu Maxwell agar menepi karna para suster tengah mempersiapkan Evelyne. Bangkar itu di arahkan keluar pintu tapi Evelyne tak mau melepas genggaman tangan eratnya ke lengan kekar Maxwell.


"M..Max!"


"Nona! Semuanya akan baik-baik saja!" bujuk para Suster itu tapi Evelyne enggan. Ntah kenapa ia merasa gugup padahal seharusnya rasa sakit ini sama sekali tak membekas untuknya.


"T..tapi.."


"Nona! Tak akan sakit sama sekali!"


"M..Max!" lirih Evelyne masih menatap Maxwell yang segera mendekat menggenggam tangannya tambah erat.


Ia menyelami manik abu itu menyalurkan hawa keberadaanya pada Evelyne.


"Aku akan menunggumu. Hm? Aku menunggu dan anak kita! Kau bisa, Sayang!" bisik Maxwell mengusap kepala Evelyne yang akhirnya ia menurut.


Interaksi keduanya tak luput dari tatapan semua orang terutama Dawson yang melihat musuh dalam mode berbeda. Yang berjalan di samping bangkar yang di iring ke luar ruangan ini seraya menggenggam tangan lentik itu bukanlah Maxwell yang ia kenal.


Wajah yang penuh kekhawatiran, ketakutan dan harap-harap cemas bercampur gugup. Itulah yang terjabar di wajah tampan Maxwell sampai ia sendiri berkeringat dingin.


"Baru kali ini aku melihat Tuan sampai seperti itu," gumam Jirome memandangi kepergian Maxwell ke arah ruang operasi Evelyne yang tak jauh dari sini.


Semuanya memang sudah di persiapkan sedari lama bahkan Maxwell mendatangkan dokter-dokter profesional dari luar spesialis kandungan.


"Bahkan wajahnya begitu langka!" ledek Dawson dan Tuan Fernandez hanya diam. Ia tak tahu apa yang di rasakan Maxwell karna dulu tak ada sedikit-pun perasaan cinta di hatinya.


"Dia terlalu berlebihan, bukan?" imbuh Dawson pada Tuan Fernandez yang hanya membisu.


"Berlebihan apa katamu. Ha?" sambar Jirome naik pitam. Ia juga ikut merasakan kekhawatiran Maxwell tapi para pria batu ini sangat menyebalkan.


"Hanya melahirkan. Apa yang susah dari itu?"


"Kalian pria hanya bisa bicara!" maki Nyonya Meeiner dengan exspresi marahnya membuat mereka semua diam.


Dawson menaikan bahu acuh dengan Kaylo yang juga tak terlalu paham kenapa Maxwell terlihat begitu mencintai Evelyne sampai sebutir keringat saja terus di hapus pria tampan itu tadi.


"Kau benar. Nyonya! Terkadang mereka harus merasakannya dan baru PAHAM," timpal Jirome pada Dawson yang menaikan alisnya sarkas.


"Aku tak berminat!"


"Cih, tunggu saja bagianmu. Mungkin bisa saja kau melebihi tuanku," umpat Jirome segera pergi menyusul Maxwell begitu juga Nyonya Meeiner yang tak mau menghabiskan waktu berkumpul dengan para manusia batu ini.

__ADS_1


Kepergian keduanya membuat Dawson beralih pada Tuan Fernandez. Sepertinya pria berkulit sawo matang itu terlalu senggang sampai menanyai semua orang.


"Apa menurutmu dia berlebihan?"


"Cobalah sendiri," ringan Tuan Fernandez beralih pergi. Alhasil Dawson merendahkan egonya mengikuti pria itu ke arah ruang operasi yang hanya satu lantai dan belokan lorong saja.


Dalam beberapa menit mereka sudah melihat ruangan operasi Evelyne dengan Maxwell yang berdiri tegap di depan pintu dengan kedua tangannya bertumpu pada kaca bulat yang memperlihatkan samar prosesi dramatis di dalam.


"Mom! Itu tak akan sakit-kan? Pasti selamat-kan?" cecernya pada Nyonya Meeiner yang sudah lebih dulu berpengalaman.


"Nak! Di dalam sana dokter-dokter hebat. Evelyne akan baik-baik saja begitu juga anakmu. Hm?"


"Tapi, tangannya dingin. Wajahnya sepucat itu dan keringat terus keluar. Apa yang harus aku lakukan?" cemas Maxwell tampak ikut pucat dan berkeringat.


Raut gugup, takut dan khawatir itu menyatu sampai duduk saja ia tak akan bisa. Kakinya terus ingin menapak disini dengan mata tak mau berkedip dari objek di dalam sana.


"Tenanglah! Semua yang dirasakannya itu normal dan kau harus berpikiran positif. Evelyne akan cemas jika kau seperti ini. Nak!"


Alhasil Maxwell menarik nafas dalam. Ia dibujuk duduk di kursi tunggu dengan Jirome yang segera pergi mengambil air.


Ruangan ini terasa benar-benar dingin dan menakutkan bagi Maxwell yang tak pernah sekhawatir ini sebelumnya.


Melihat Maxwell yang sangat berubah akhirnya menarik jiwa gelap Dawson yang mendekat dengan suara khas menyapa Pria berkharisma ini.


"Serahkan saja Black Devil padaku!"


Maxwell tak menjawab. Ia hanya setia dengan wajah datar itu membiarkan Dawson duduk berhadapan dengannya.


"Kau urus saja Evelyne dan anak kalian! Aku rasa sang raja bisnis ini tak akan mau melihat dunia luar lagi," imbuhnya mengolok.


Namun, di pikiran Maxwell sekarang hanya tertuju pada Evelyne dan bayinya. Ia tak menanggapi Dawson yang merasa kesal di acuhkan oleh calon bapak masa depan ini.


"Diam atau kau akan mati!" geram Maxwell risih dengan sarkasan Dawson yang mengganggu pikirannya. Ia kembali mendekati pintu itu seraya terus menunggu.


"Cih, jangan sampai aku sepertimu!"


"Mom! Berapa lama lagi?" tanya Maxwell tak sabaran sampai mengacuhkan Dawson yang akhirnya diam.


"Mereka sudah menentukan waktunya. Kau harus tenang dan sabar menunggu. Hm?" menepuk pundak kekar Maxwell yang lagi-lagi mendesah lemah.


Tuan Fernandez hanya melihat tanpa berkomentar. Jujur ia juga menantikan kabar baik itu tapi tak tahu harus melakukan apa.


Setelah beberapa lama Jirome datang dengan gelas kopi di tangannya. Ia membagikan itu pada semua orang disini kecuali Dawson dan Kaylo yang menjadi musuh bebuyutannya.


"Tuan! Minumlah. Evelyne akan baik-baik saja," ucap Jirome memberikan gelas itu pada Maxwell yang mengambil tanpa mengalihkan pandangan pada kaca sedikit buram di depannya.


Ia sama sekali tak meminumnya. Hanya memeggang lalu mondar-mandir dan kembali berdiri di tempat semula.


Sungguh mata Dawson serasa panas melihat Maxwell begitu berlebihan.


"Kau bisa duduk-kan?"


"Kenapa kau kesini?" tanya Jirome membalas itu. Ia tahu tuannya sedang tak bisa di ganggu apalagi keadaannya sangat darurat seperti ini.


"Bos dan anak buah sama saja."


"Oh ya? Pergilah dari sini dan jangan mengganggu lagi!" sarkas Jirome tapi kali ini Kaylo yang melayaninya.


"Tuanku hanya kebetulan melihat kalian!"


"Apa harus berhenti?"

__ADS_1


"Kami.."


Mereka semua seketika bungkam kala melihat tatapan dingin Maxwell semakin membekukan suasana. Raut wajah sangar dan arogan itu seakan menekan agar jangan bicara lagi.


Dawson-pun tak mau membuat ulah hingga hanya diam dan mengusir keramaian yang tadi ia ciptakan.


Setelah 1jam lebih Maxwell menunggu di depan pintu tiba-tiba saja terlihat ada kecemasan di dalam sana.


Maxwell-pun sampai ingin masuk untung saja Nyonya Meeiner menahan lengannya.


"Nak!"


"Mom! Mereka seperti bermasalah," gumam Maxwell menyelidik pada kaca buram ini. Jirome dan Dawson sampai ikut mendekat karna juga sudah cukup lama dibanding operasi penjadwalan sebelumnya.


"Kenapa begitu lama? Ini tak sesuai prosedurnya!" gumam Kaylo menambah kecemasan Maxwell yang sampai mengusap wajahnya dengan kasar.


Dawson yang semula tenang-tenang saja mulai ikut gugup melihat waktu normalnya sudah lama habis dan tak terdengar suara tangisan apapun.


"Evelyne!" gumam Maxwell nyaris tak terdengar. Nyonya Meeiner juga berusaha tenang karna disini semuanya laki-laki, mereka mudah untuk berbuat sembarangan.


Saat suasana mulai tak terkendali tiba-tiba saja pintu ruangan ini terbuka dan sontak Maxwell segera mencecer pertanyaan.


"Bagaimana? Apa yang terjadi?"


Dokter Drew yang masih memakai perlengkapan itu tampak menatap Maxwell dengan pandangan yang misterius menambah ritme degupan jantung pria itu.


"ADA APA?? KENAPA DENGAN ISTRIKU. HAA??"


"Max!" tegur Dawson kala Maxwell terlihat mulai tak bisa menahannya.


"Tuan! Kami juga tak tahu dan.."


"KAUUU..." geram Maxwell ingin mencekik Dokter Drew yang seketika memucat tapi Tuan Fernandez bergerak cepat menahan Maxwell.


"Kendalikan dirimu!"


"JIKA TERJADI SUATU HAL YANG BURUK PADANYA!! AKU BERSUMPAH TAK AKAN MELEPASKAN KALIAAN!!" suara Maxwell menggelegar diiringi lengkingan tangisan bayi yang membuat mereka tertegun.


Dokter Drew yang semula cemas seketika lega karna hal yang ingin ia katakan tadi sudah teratasi.


"M..Mom! Itu.."


"Iya. Dia sudah hadir. Nak!" haru Nyonya Meeiner memeluk Maxwell yang merasa dunianya akan meledak. Tapi, Maxwell belum sepenuhnya lega, masih ada batu besar disetiap tarikan nafasnya.


"Bagaimana dengan istriku? Dia baik-baik saja-kan?"


"Tuan! Sejauh ini masalahnya hanya ada pada nona kecil. Kami sudah berusaha membuat ia menangis tadi tapi saat mendengar suara anda dia langsung mengerti!" jelas Dokter Drew tapi sudah membuat mereka saling pandang.


Antara lega dan juga tak menyangka karna yang hadir itu adalah seorang putri.


"Anakmu perempuan. Nak!"


"Iya. Tuan! Sesuai permintaanmu dulu," timpal Jirome tak kalah senang dari Maxwell yang hanya bisa menatap sendu kaca pintu ini.


Rasanya ia ingin berlari dan berteriak pada dunia jika siang ini putrinya lahir dan itu adalah buah cintanya dan Evelyne!!!


....


Vote and Like Sayang


Tak terasa dah lahir ya say 🥲😙

__ADS_1


__ADS_2