My Little Devil

My Little Devil
Kakak?


__ADS_3

Dahinya berkerut kala merasakan sakit di area perutnya. Hawa dingin menjalar tapi seperti belaian angin yang mengusap kaki jenjangnya yang terbujur nyaman di atas ranjang king size yang begitu empuk sampai tubuhnya terbenam cukup lama di sana.


Tangan lentik itu beralih meraba tempat di sampingnya. Mata itu semakin mengkerut hingga terbuka perlahan menatap langit-langit kamar yang bercorak putih bersih bak awan di pagi hari.


"Ini..."


Ia bergumam sendiri mengedarkan pandangannya ke tempat peraduan empuk yang terasa asing baginya.


Namun, beberapa saat kemudian ia sadar jika ini bukanlah kamar Maxwell yang semalam ia tinggalkan dengan perasaan berat.


"Dimana?? Ini dimana?" bingung Evelyne segera duduk melihat sekeliling tempat ini.


Ada meja rias yang besar di samping ranjang dan tirai putih balkon berkibar karna hembusan angin dari luar. Jadi itu yang membuatnya merasa dingin, pikir Evelyne yang meningkatkan kewaspadaan.


Pasti pria itu melakukan sesuatu padaku hingga bisa membawa ke tempat ini. Yah! Apa dia salah satu musuh Maxwell?!


Batin Evelyne memindai tubuhnya yang sudah berganti dengan Piyama tidur berwarna merah maron yang manis di tubuhnya.


Tapi, jika dia musuh Maxwell kenapa membawaku ke tempat mewah ini? Biasanya mereka akan membuang atau menyekap-ku di tempat gelap.


Benak Evelyne menerka-nerka siapa yang melakukan ini padanya. Ia berharap saat ia tak sadarkan diri semalam pria itu tak berbuat macam-macam padanya.


"Sebaiknya aku pergi dari sini! Bisa saja mereka menggunakan-ku untuk mengancam Maxwell!" gumam Evelyne lalu menyibak selimut tebal ini lalu menginjakan kakinya ke lantai yang bermar-mar mahal.


Ia mendekati pintu besar kayu berwarna coklat yang tampak mengkilap dan wangi. Evelyne menempelkan telinganya di sana untuk mendengar apa ada orang di luar atau tidak.


"Kenapa sangat sunyi?! Aku pikir ada yang berjaga di luar," gumam Evelyne memejamkan matanya untuk mendengar lebih intens hingga ia terkejut kala pintu ini di tarik hingga tubuhnya nyaris tumbang ke depan.


Sayangnya lengan kekar seseorang segera menahan bahu Evelyne yang menaikan pandangannya ke atas. Terlihatlah seorang pria dengan rambut ikal hitam dan ada jambang tipis di rahangnya tengah menatap tenang Evelyne dengan netra hitam tajam miliknya.


"Hati-hati!"


"A.. Lepaass!!" ketus Evelyne manarik diri dari peggangan pria ini. Ia mundur memberi jarak seraya mempertahankan wajah datarnya dan terlihat kesal.


"Aku ingin pergi! Jika kau mau mengurungku setidaknya pilih tempat yang tepat," imbuh Evelyne melirik sinis sosok ini dari ekor mata abunya.


Bukannya marah pria itu justru mengambil nafas dalam. Bekas tato di dagunya terasa begitu familiar di mata Evelyne yang seakan-akan pernah bertemu dengan pria ini.


"Dia siapa?! Aku seperti pernah melihatnya," batin Evelyne mencoba mengingat ulang. Pria bertubuh tinggi sama dengan Maxwell ini terus mengamati Evelyne yang diam dan tampak sibuk dengan dugaannya sendiri.


"Aku Leonard!"


"Hm?" gumam Evelyne menaikan satu alisnya menatap pria yang mengaku Leonard ini. Ia menelisik penampilan sosok itu dari sepatu Flatshoes mahal berwarna moka yang ia pakai sampai ke celana jogger santai dengan tampilan simpel jaket dan kaos berwarna senada.


Jika di lihat-lihat pria ini memang santai dan tak seformal keseharian Maxwell, haiss.. Kenapa ia jadi merindukan pria itu sekarang?!


"Namaku Leonard! Kau ingat?"


"Kau jangan mengada-ngada," umpat Evelyne tak mau percaya begitu saja. Ia juga tak perduli, siapa itu Leonard atau sejenisnya karna yang ia tahu hanya Maxwell sekarang ini.


Melihat Evelyne yang sama sekali tak mengenalnya menarik rasa sendu di mata tajam itu. Ia menghela nafas dalam karna paham jika Evelyne memang tak akan bisa mengingat hal berpuluh tahun lalu.

__ADS_1


"Akan-ku jelaskan nanti! Bersihkan tubuhmu dan segera turun untuk makan!"


"Kau kenapa membawaku kesini? Dan semalam kau memaksaku masuk ke mobilmu tanpa alasan. Kau pikir aku mudah percaya pada orang sepertimu. Ha??" ketus Evelyne benar-benar tak habis pikir.


Mendengar itu Leonard terdiam sesaat. Tak ada raut marah dari wajahnya padahal ucapan Evelyne barusan cukup pedas dan menusuk.


"Kau akan tahu nanti!"


"Cih, jika kau musuh Maxwell aku tak akan mengampunimu," geram Evelyne dan barulah menciptakan raut dingin di wajah datar Leonard.


Tatapan begitu mengintimidasi hingga Evelyne sampai diam menelan ludahnya berat. Kenapa tiba-tiba dia seakan ingin mengulitiku?!


"K..kau.."


"Jangan membahas orang lain disini!" tegasnya berbalik ingin pergi tapi Evelyne sangat berani memancing bahaya.


"Dia bukan orang lain! Aku nyaman dengannya dan dia lebih baik darimuu. Pria mata hitaam!!"


"Lalu kenapa kau pergi?"


Degg..


Pertanyaan itu membuat Evelyne kaku dan bungkam. Ia tak punya jawaban karna jujur sekarang ia sangat merindukan Maxwell.


Mendapati kebisuan Evelyne menarik helaan nafas ringan Leonard yang kembali berbalik menatapnya.


"Urusanmu dengannya sudah selesai! Lupakan dia!"


Leonard tak langsung menjawab. Ia tahu bagaimana sifat Evelyne bahkan lebih dari yang Maxwell pahami selama ini.


"Aku tahu semuanya bahkan lebih dari yang kau pikirkan!" tegas Leonard membuat Evelyne ekstra berpikir keras.


"Kau.."


"Jangan coba melarikan diri dari sini. Aku tak akan menyakitimu!" imbuh Leonard tapi Evelyne tak percaya. Ia yakin sekarang Maxwell pasti mencarinya karna walau bagaimanapun Evelyne tahu bagaimana sikap keras pria itu.


"Jika sampai Maxwell menemukanmu. Kau akan habis di tangannya!" geram Evelyne tapi Leonard hanya menunjukan seringaian liciknya akan ucapan Evelyne barusan.


"Jangan terlalu percaya diri. Dia tak pernah mencarimu!"


Evelyne diam. Benarkah Maxwell tak mencarinya? Tapi, baguslah setidaknya pria itu akan baik-baik saja.


Pikir Evelyne tersenyum simpul tapi ia tak bisa membohongi perasaannya. Ia sangat merindukan pria itu sekarang bahkan antara siap dan tidak jika tak bertemu dalam jangka panjang.


"B..baguslah. Dia memang harus fokus pada dirinya sendiri!"


"Begitu juga kau. Fokus pada tujuan awalmu!" tegas Leonard dan Evelyne menatap rumit padanya. Pandangan yang begitu kacau sampai ia tak bersuara lagi.


"Kau .. Apa yang kau maksud. Ha?? Tujuanku.."


"Kau ingin membalas dendam akan kebakaran itu-kan?"

__ADS_1


Degg..


Evelyne langsung terperanjat. Wajahnya menunjukan jika perkataan Leonard itu benar bahkan pria ini seperti ingin membantunya.


"K..kau.. Kau siapa? Dan.."


"Aku Kakakmu!"


"Apaaa???" pekik Evelyne keras dengan mata melebar dan mulut terbuka kecil. Leonard hanya diam lalu berbalik melangkah pergi meninggalkan Evelyne dalam keterkejutan.


"Kau tak bisa berhubungan dengan pria keturunan Keluarga yang serakah itu!" gumam Leonard mengeraskan wajahnya.


.........


Di tempat yang berbeda. Sesosok pria yang Leonard katakan tak berbuat apapun untuk mencari Evelyne tadi tampak marah besar pada para anggotanya yang melaporkan jika tak bisa menemukan mobil itu.


Begitu juga Jack yang kehilangan jejak karna tiba-tiba saja jalur yang di lalui mobil itu seperti sudah di rencanakan dan tak bisa di lacak keberadaanya.


Dengan nafas memburu Maxwell mencengkram leher Hoodie Jack yang gemetar karna tadi Tuannya langsung bergegas ke Markas.


"Kau tak bisa. Haa??" geramnya dengan wajah kelap tapi untung saja Jirome yang tadi melihat dari pintu masuk segera mendekat.


"Tuan! Tenanglah. Kita pasti bisa menemukannya!"


"KAPAAN?? KALIAN SEMUA KU PERINTAHKAN UNTUK MENGAWASINYA TAPI TETAP SAJA LALAI!!" bentak Maxwell melepaskan cengkramannya pada Jack yang terduduk kasar di kursinya.


Nafas Maxwell memburu karna ia benar-benar khawatir. Bagaimana jika itu musuh gelapnya? Bagaimana kalau besok mayat Evelyne di kirim padanya? Bagaimana kalau dia tak kembali lagi padaku?!


Pertanyaan yang hampir meledakan kepala Maxwell. Ia sudah mencari ke semua tempat bahkan ia pergi ke Pura tempat Evelyne tapi mereka semua tak melihat keberadaan wanita itu.


"T..tuan!"


"Aku tak ingin tahu apapun. Hari ini juga dia harus ada di hadapanku! BAGAIMANAPUN CARANYA ATAU KALIAN AKAN MENYESAL!" geram Maxwell menekan beberapa kalimatnya lalu kembali keluar dari ruangan ini.


Para anggota yang tadi habis ia pukuli di luar langsung pucat menunduk terutama Yello yang hampir di bunuh Maxwell karna tugasnya mengikuti Evelyne gagal.


"Ini salahku. Seharusnya Tuan memang harus membunuhku!" gumam Yello penuh rasa bersalah berdiri direngkuhan Gregor. Ia sudah tak bisa berjalan karna kakinya terkena tembakan dari Maxwell tadi.


"Sudahlah. Tuan hanya belum tenang, ayo obati lukamu dan yang lain juga!" ucap Gregor mengiring mereka untuk pergi ke ruangan media.


Markas dengan pembangunan canggih di perut bukit ini terasa sangat dingin karna sedari tadi Maxwell menyebarkan hawa kemarahannya.


"Aku tak akan melepaskan mu!" gumam Maxwell seraya berjalan keluar dari lantai pertama markas lalu ia masuk ke dalam lift baja yang kembali menenggelamkannya dalam ingatan Evelyne.


Pintu lift tertutup dan saat itulah Maxwell langsung bersandar ke dinding baja ini mencoba tenang dan tak berpikiran negatif.


"Kau akan baik-baik saja. Aku akan segera menemukanmu!" lirih Maxwell merasa sangat sesak. Tak bisa ia bayangkan jika sampai Evelyne benar-benar pergi dan tak akan kembali, pastinya Maxwell akan menyalahkan dirinya sendiri karna saat itu ia bertindak gegabah menyakiti hati wanita itu.


....


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2