My Little Devil

My Little Devil
Jangan gegabah


__ADS_3

Maxwell sudah sampai di area Perusahaan. Suasana sudah menjelang sore dan semua Karyawan juga sudah mulai bersiap untuk pulang. Pemandangan biasa bagi mereka adalah saat melihat Evelyne dan Presdir yang selalu ada di Perusahaan.


Mereka hanya sekedar menyapa tanpa berani mengulurkan kamera atau sekedar saling menggunjing akan keberadaan Evelyne yang misterius. Peraturan baru di Perusahaan sudah keluar sejak Wanita cantik bermata abu itu menetap di Perusahaan ini.


"Max!" panggil Evelyne lugas.


Maxwell yang melangkah di hadapannya sampai terhenti lantai dasar Perusahaan dengan wajah masih bergurat datar. Evelyne mendekat tak perduli dengan orang-orang di sekitarnya.


"Ada apa?" tanya Maxwell menatap lekat wajah cantik Evelyne yang sudah di perban di bagian keningnya.


"Kapan kau akan bercerai dengan Violet?"


Dahi Maxwell seketika berkerut. Evelyne terlihat serius sampai mengikis jarak dengannya.


"Maksudmu?"


"Apa kalian sudah resmi bercerai?" tanya Evelyne lagi memperjelas status Maxwell.


Nyonya Meeiner belum tahu masalah Maxwell dan Violet. Bisa saja hubungan Maxwell dan Violet akan kembali terikat karna Wanita itu.


"Kenapa bertanya soal itu?"


"Jawab saja!" tegas Evelyne serius. Untuk sejenak Maxwell diam mencoba menyelam di antara sifat ambigu Evelyne.


"Dia di lindungi Ayahnya. Akan sulit meminta cerai tanpa alasan di depan hukum Negara ini!"


"Bukankah kau punya uang?" tanya Evelyne menganggap jika Uang bisa membeli segalanya. Itu memang benar tapi posisinya berbeda.


"Dia juga punya Uang!"


"Max! Kenapa kau hanya diam? Apa kau tak ingin bercerai dengannya?" sambar Evelyne lugas dan sedikit menunjukan ketidaksukaanya.


"Ingin. Tapi tak semudah itu," tegas Maxwell serius.


"Apa yang bisa ku lakukan untuk mempercepat itu?"


Seketika Maxwell menghela nafas dalam. Scandal yang tersebar pada saat itulah yang memberatkannya untuk menggugat Violet ke pengadilan. Apalagi Tuan Fernandez bukanlah orang sembarangan.


"Kau bisa membantuku."


"Aku akan melakukannya. Coba katakan padaku!" pinta Evelyne sangat ingin menyelesaikan ini.


Maxwell tak langsung menjawab. Ia tahu, setiap jawaban yang keluar di mulutnya akan diartikan agak berbeda oleh Evelyne.


"Kau diam itu sangat membantu!"


"Menurutmu aku berisik?" ketus Evelyne mulai naik darah.


"Hm. Bisa dianggap begitu," santai Maxwell berjalan melewati Evelyne menuju ke arah Lift. Ia juga tengah mengurus Violet yang pasti akan mendesak Tuan Fernandez untuk memusuhinya.


Apalagi Dawson juga tengah mencari sekutu untuk menghancurkannya.


Bicara tentang Pria gondrong itu tiba-tiba saja membuat Maxwell malas. Wajahnya berubah mengeras masuk ke dalam Lift yang membendung hawa tak bersahabat itu.


Dari sela baja ini Maxwell bersitatap dalam dengan netra abu Evelyne. Marah, kesal dan kecewa tergambar jelas di galaksi indah itu.

__ADS_1


"Aku akan menemuinya!"


"Siapa?" tanya Maxwell dengan suara rendah.


"Kaki empat!!"


"Kemari!" pinta Maxwell mengeluarkan satu tangannya dari dalam saku celana memanggil Evelyne untuk masuk ke dalam Lift.


Evelyne menghentakkan kakinya berjalan masuk ke dalam Kotak baja berkilap ini sampai ia berdiri di depan Maxwell.


"Ceraikan Kaki Empat!" gumam Evelyne mengadah. Ia menatap netra elang dingin Maxwell yang sekali lagi menyentil kening yang tak terluka itu.


"Kauuu..." sontak Evelyne marah bukan main.


"Jangan gegabah!"


"Kau selalu mengatakan itu. Diam bukan berarti bisa menyelesaikan masalahmu. Idiot!" maki Evelyne mengusap kening mulus bagian kananya.


Bukannya ikut terpancing dan seakan sudah terbiasa, Maxwell segera mengusap kepala Evelyne untuk menundukan ego wanita ini.


"Kau hanya perlu menonton saja!"


"Tidak bisa, aku harus jadi peran utama," tukas Evelyne menoyor bahu kokoh Maxwell yang menurunkan tangan dari kepalanya.


"Kau ingin membantuku?"


Evelyne mengangguk serius. Maxwell juga sudah tahu jika Evelyne pergi ke Rumah Sakit untuk mengecek DNA Tuan Marcello dan Violet. Berarti saat pergi malam itu, Evelyne mencari tahu sesuatu di Penginapan Tua Bangka itu.


"Katakan! Kau mau aku melakukan apa?"


"Jangan bilang kau ingin kembali padanya!!! Jika itu terjadi aku akan mengoyakmu hidup-hidup dan.."


"Tidak. Bukan itu maksudku," sela Maxwell membuat Evelyne mendengus.


"Lalu apa??"


"Surat itu belum pernah ku cari di Kediaman Violet! Sedangkan Tua Bangka itu selalu berkunjung ke sana, bisa saja Violet terlibat," papar Maxwell menduga seperti itu. Apalagi, ia juga curiga dengan perhatian Tuan Marcello pada Violet yang tak wajar, bisa saja keduanya bekerja sama atau mungkin ada hal lain.


"Jadi, menurutmu Tua Bangka itu memanfaatkan Violet?"


"Banyak kemungkinan. Aku harus lebih bersikap tenang dengannya," jawab Maxwell yang sudah mengatur rencana.


Mata Evelyne mulai menyipit tajam. Ia memindai wajah tampan Maxwell penuh ancaman.


"Kau ingin pulang ke sana?"


"Mereka mengadakan Makan besar malam ini. Aku akan datang untuk melihat situasinya, dan kau harus menuruti rencanaku kali ini. Jangan bergerak TANPA PERINTAH. Paham?" tegas Maxwell menekankan itu pada Evelyne.


"Aku bisa bekerja sendiri!"


"Dengan mencuri Jam tanganku?" desis Maxwell seketika langsung merubah raut wajah Evelyne menjadi pucat. Dia mulai mengusap tengkuk yang dingin dan bibir berusaha berkomat-kamit tak bersuara.


"A.. Aku.. Itu.."


"Jangan bertindak sendirian! Kau tak tahu Fernandez seperti apa?! Dia punya banyak cara untuk menghancurkan orang lain," tegas Maxwell tak mau Evelyne ikut campur apalagi tadi ia bertemu dengan Nyonya Meeiner Mommy-nya Violet. Keluarga orang itu sangat berbahaya.

__ADS_1


"Mommy-nya baik!"


"Jangan bertemu dengannya lagi. Paham?" tanya Maxwell bak memperingatkan anaknya. Ia tak pernah percaya dengan Keluarga Fernandez yang masih dalam lingkup dunia Gelap.


"Dia baik. Max! Dia juga membantuku untuk.."


"Bukan masalah dia baik atau tidak, tapi dia Istri Fernandez. Orang yang ingin menghancurkan ku apalagi jika dia tahu aku dekat denganmu," jelas Maxwell berusaha memberi penjelasan untuk Evelyne yang terlihat sangat rapuh dengan lebel Mamanya.


Evelyne akhirnya mengangguk hingga suara Ponsel Maxwell menyita perhatian keduanya. Di sana tertera nama Jirome yang tadi ada di luar.


"Tuan! Tua Bangka itu sudah ada disini, dia ingin menemui anda bersama Nyonya Meeiner!"


"Tahan sebentar. Aku akan bersiap!" tegas Maxwell lalu mematikan sambungan. Ia sudah menduga ini dan dari situlah rencananya akan di mulai.


"Ada apa?"


"Kau jangan menunjukan diri pada Nyonya Meeiner! Tugasmu mengulik informasi dari Tua Bangka itu, tempelkan ini di pakaiannya!"


Maxwell menyerahkan penyadap suara sekecil kancing kemeja berwarna hitam ke tangan Evelyne yang terdiam menelisik benda ini.


"Masukan ke kantong atau ke sakunya. Ingat, jangan sampai dia mencurigai mu. Kau bisa menggunakan taktik berkelahi."


"Serahkan padaku!" sanggup Evelyne menyeringai tapi Maxwell tak suka dengan kecerobohannya.


"Jangan sampai menambah masalah lagi. mengerti?"


"Iya. Cerewet!" umpat Evelyne menggenggam benda itu tapi ia terkejut saat Maxwell mengecup bibirnya kilas hingga wajah Evelyne kembali mengadah.


"Kau menginginkan aku?"


Maxwell menggeleng kecil mendengar itu.


"Pil penyemangatmu!"


"Sekali lagi. Tenaga cadangan," asal Evelyne berjinjit memanyunkan bibirnya. Agak malu-malu Maxwell menghadiahkan kecupan lama dan segera keluar dari Lift.


"Jika aku berhasil kau harus melakukan itu padaku!!"


"Cih," gumam Maxwell berbalik meninggalkan Evelyne yang bicara terlalu fulgar. Tapi, ia juga merasa demikian.


Exspresi wajah Maxwell berubah kala Tuan Marcello dan Nyonya Meeiner sudah masuk ke dalam Perusahaan dengan Lift yang juga tertutup. Awalnya Tuan Marcello menduga Evelyne bersama Maxwell tapi nyatanya tidak.


"Dimana Wanita itu?? Biasanya kau selalu bersamanya??"


Maxwell tak menjawab. Lebih fokus pada Nyonya Meeiner yang terlihat sudah tahu masalahnya dengan Violet. Terbukti dengan pandangannya yang nanar dan kecewa.


"Nak! Bisa kita bicara?"


"Hm. Bisa!" lugas Maxwell mengiring Nyonya Meeiner ke tempat santai di lantai ini. Ia meninggalkan Tuan Marcello yang memanfaatkan itu untuk mencari Evelyne agar dendamnya malam itu terbalas.


Maxwell melirik dari ekor matanya. Ia menoleh pada Jirome di dekat Pintu depan yang mengangguk segera menghubungi Jack untuk melakukan hal lain.


....


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2