
Setelah di kurung di dalam kamar ini Evelyne tak di biarkan keluar walau sedetik-pun. Wanita paruh baya yang bernama Netta itu selalu sedia mengantarkan makanan untuk Evelyne yang tak mau makan apapun.
Ia hanya diam duduk di atas ranjang karna tahu jika ada dua penjaga di depan kamarnya. Jujur Evelyne begitu ingin pergi dari sini karna ia sangat merindukan Maxwell.
"Nona! Ini makanan anda!"
"Buang saja!" ketus Evelyne sudah tak berselera. Ia menatap ketus Netta yang menghela nafas dalam meletakan nampan itu ke atas ranjang lalu ingin pergi.
Tapi, Evelyne merasa jika wanita ini pasti mempunyai ponsel, Ia yakin itu.
"Kau punya ponsel?" tanya Evelyne tapi Netta hanya diam. Ia tahu isi kepala licik Evelyne yang sudah beruntung mendapat perlakuan luar biasa dari tuannya.
"Nona! Sebaiknya kau jangan melanggar aturan, Tuan! Dia hanya ingin kau tetap baik-baik saja!"
"Aku tak butuh nasehatmu," sarkas Evelyne membuat
Netta terhenyak. Ia yang mengelus dada segera beranjak pergi keluar kembali mengunci pintu itu rapat.
Helaan nafas kasar Evelyne meruak. Ia meraba perutnya yang masih datar dengan perasaan sangat kacau dan gunda.
Apa merindukannya? Kalau iya berarti kita sama. Aku sangat ingin melihatnya sekarang.
Batin Evelyne ada rasa sesal kala saat itu ingin pergi. Ia tak tahu semuanya akan jadi rumit seperti ini apalagi Leonard terlihat sangat membenci Fernandez dan jajarannya.
"Aku memang ingin membalas dendam atas kematian Mommy dan Daddyku. Tapi, Maxwell tak tahu apa-apa. Saat aku minta tolong padanya dulu dia-pun mau membantu tanpa tahu asal-usulnya. Tapi.. "
Evelyne menjeda kalimatnya karna ia jadi sangat merindukan Maxwell. Biasanya pria itu yang memanjakan dirinya walau dengan caranya sendiri. Tapi, sekarang ia merasa kosong dan jenuh.
"Leonard itu benar tapi juga salah. Jika ingin menyakiti Fernandez silahkan, kenapa harus membawa-bawa Maxwell?!" umpat Evelyne mulai merasa cemas karna di lihat dari tampangnya Leonard memang sangat teliti.
Setelah beberapa lama bicara dengan calon bayi kecilnya itu, Evelyne segera mendekati area balkon kamar. Hembusan angin dingin dan panorama indah malam ini membuat Evelyne hanyut meratapi langit.
"Kau sedang apa sekarang?!" gumamnya memilih salah satu bintang untuk bicara. Di bawah sana banyak bunga dan lampu yang indah.
Disekitar sini juga ada lampu-lampu jauh seperti dari pemukiman desa atau mungkin lebih ke pedalaman hutan. Ia tak terlalu paham karna ini lebih ke tempat para pemuja bagi umat Budha.
"Leonard itu anak Biksu Ruud! Berarti dia membawaku jauh ke pedalaman agar tak bisa di cari Maxwell. Haiss.. Kenapa dia begitu menyebalkan?!" sarkas Evelyne beralih mengamati dari arah balkon.
Ia meneropong dengan menggunakan kedua tangannya tapi tak bisa menembus gelapnya malam. Hanya suara lonceng dan suara-suara pemujaan di suatu tempat yang kurang Evelyne pahami.
"Kenapa kau harus datang sekarang. Ha?! Di saat Daddymu tak ada dan kita terjebak disini. Keluarlah dan bantu aku mencari jalan!" ucap Evelyne pada janin dalam perutnya yang tak merespon sama sekali.
Bahkan, Evelyne berpikir apa mungkin perutnya akan besar dan ia melahirkan?! Bagaimana rasanya mengeluarkan anak dari terowongan sekecil itu? Haiss.. Jika ku tanyakan pada Maxwell pasti dia tahu.
Umpat batin Evelyne pusing sendiri. Ia kembali mengamati suasana di sekitar dengan teropong manual tangannya sampai Evelyne meneropong Leonard yang tampak bicara dengan seseorang dari balik tiang pembatas di depan.
"Apa yang dia rencanakan?! Kau bisa mendengarnya?!" tanya Evelyne pada jabang bayi yang hanya diam melihat tingkah konyol Mommynya yang ntah terbuat dari carian apa sampai ia malu mengakuinya, kiranya begitu.
Terlihat jika Leonard berbicara serius dengan seseorang di balik tiang itu hingga ia sampai mengeluarkan pistol di balik jaketnya.
"Senjata! Untuk apa?! Jangan-jangan dia ingin membunuh Maxwell!" syok Evelyne tak lagi bisa menahan diri.
Ntah dari mana akal sehatnya sampai memanjat pagar balkon yang termasuk tinggi. Ia yang berani dan hanya berpikir satu garis itu langsung menapaki beberapa bandulan tiang balkon yang memang lurus sampai ke bawah.
Evelyne seakan acuh pada kehamilannya atau lebih tepatnya ia menganggap jika hamil itu bukanlah mengandung anak manusia.
Saat sudah sampai ke rumput bawah. Evelyne mengendap-endap ke arah pot bunga mawar di sampingnya untuk menguping pembicaraan Leonard yang sangat serius.
"Kau cepat habisi dia atau kau bakar kediamannya!"
__ADS_1
"Tuan! Dia selalu mencari keberadaan Nona bahkan anggota yang ada di dalam kota langsung pergi karna anggota gelap pria itu menjelajahi setiap sudut tempat!" jelas sosok itu dan terdengar gelisah.
Leonard mengepal erat sedangkan Evelyne terpaku sendu. Ia juga tak percaya saat Leonard kala itu mengatakan jika Maxwell tak mencarinya, dan sekarang ia merasa cemas karna bisa saja Maxwell mengabaikan dirinya sendiri demi mencarinya.
"Maafkan aku! Aku baik-baik saja, Max! Kau jangan cemas,"
Batin Evelyne menatap ke atas langit di taburi bintang sana. Tangannya terus memeggang area perut karna Evelyne merasa dekat dan sedikit terobati.
"Kirim mayat wanita yang sudah busuk dan hancurkan area wajah tapi postur dan tinggi badannya harus sama dengan Evelyne!"
"Tuan ingin memberinya kabar kematian Nona?"
"Dengan itu dia akan semakin hancur dan Fernandez akan turun tangan. Lakukan sesuai rencana!" tegas Leonard di jawab anggukan oleh suruhannya.
Evelyne tahu niat baik Leonard yang pasti sama sepertinya tapi ia tak bisa memilih antara dendam atau pria itu.
"Aku tahu kau orang baik tapi aku tak mau kehilangan orang yang ku cintai lagi!" gumam Evelyne lalu membiarkan Leonard dan bahannya pergi barulah Evelyne mengendap ke arah kepergian pria tadi.
Evelyne yang pandai menyusup tak dihalangi oleh situasi Villa yang terlihat banyak pengawal. Ia memanfaatkan hijaunya tumbuhan segar di sekitar Villa sampai tapakan kaki tanpa alas itu sudah ada di dekat jalan keluar yang menurutnya pergi dari tempat ini.
"Kenapa hanya ada hutan?" gumam Evelyne saat melihat didepan sana hanya hutan belantara. Apa pemukiman tadi jauh di depan sana atau tempat ini memang sudah di atur oleh Leonard.
Tak ingin terjebak disini terlalu lama Evelyne segera mencari jalan keluar dan hasilnya nihil. Ia seperti ada di tengah-tengah hutan dengan suara-suara lulungan anjing liar yang terdengar jelas.
Bukan takut atau ngeri yang Evelyne rasakan. Ia justru memburu waktu karna bisa saja Leonard tahu jika ia sudah keluar dari kamar.
Saat Evelyne ingin menerobos kegelapan di depannya tiba-tiba bahunya langsung di sentak kebelakang hingga Evelyne bokong Evelyne nyaris membentur tanah tapi kedua tangannya sigap lebih dulu menahan.
"Kau..."
"Kau masih ingin lari?" suara dingin Leonard membuat wajah Evelyne terangkat tajam menatapnya.
"Evelyne! Otakmu benar-benar sudah di cuci oleh pria bajingan itu!" maki Leonard naik pitam karna sangat kecewa. Keluarganya hancur dan Evelyne menganggap itu hanya angin lalu saja.
"Aku ingin pergi menemuinya! Dia pasti tahu, apa yang lebih tepat harus di lakukan dari pada seperti ini. Leon!" gumam Evelyne tapi Leonard tak ingin menyia-nyiakan kesempatan lagi.
"Aku sudah menunggu momen ini bertahun-tahun. Tak masalah jika kau ikut atau tidak tapi jangan merusak rencanaku!" tekannya kuat tapi Evelyne tak ingin tahu apapun alasannya.
"Selama kau melibatkan Maxwell aku tak akan diam. Aku akan tetap pergi dari sini karna dendammu dan aku berbeda. Leon!"
"Aku tak habis pikir dengan perubahanmu," geram Leonard merasa Evelyne jauh dari yang dulu ia kenal.
"Kemana Evelyne yang haus darah dan membunuh ituuu?!! Kemana wanita arogan dan penuh emosi yang ku kenal?" imbuhnya nanar.
Evelyme diam karna ia juga merasakan perbedaan emosinya. Ia merasa hidup saat bersama Maxwell yang bisa merubah hawa jahat dalam dirinya.
"Kemana kau pergi?! Kau yang penuh dendam dan ..."
"Aku tak bisa lagi seperti itu!" lirih Evelyne dengan pandangan turun ke bawah. Ia memandangi tangannya yang dulu tak pernah kering oleh darah tapi saat bertemu dengan Maxwell ia jadi banyak mengetahui manisnya dunia.
"Leon! Ayo bicarakan ini pada dia. Aku yakin dia akan membantu kita!" imbuh Evelyne berusaha membujuk Leonard yang sudah panas mendengar ucapan hangat barusan.
Ia menarik lengan Evelyne kasar lalu menyeret wanita itu kembali ke arah Villa. Walau memberontak kekuatan Evelyne tak sebanding dengan Leonard yang segera mencengkram bahunya.
"Lepaaas!!!"
"Kau pilih. Ingin pertahankan kandunganmu dan tinggal disini atau aku akan berusaha MELENYAPKAN DIA?" tanya Leonard serius. Evelyne tersenyum meledek karna tak semudah itu melenyapkan Maxwell.
"Dia bukan tikus di dalam kandang. Leon!"
__ADS_1
"Benarkah? Lalu bagaimana jika aku mengusik Ibunya?"
Sontak Evelyne langsung menggeram ingin mencakar Leonard yang langsung mencengkram perutnya hingga Evelyne meringis sakit.
"Kauu.. "
"Pilihlah! Turuti aku atau kau tak akan bisa merasakan ini membesar!" tekan Leonard yang tak punya cara lain lagi. Ia harus menekan Evelyne agar tak mengacaukan rencana yang ia susun dari lama.
"Saat ini aku bisa saja pingsan dan dia bisa melakukan sesuatu pada bayi ini,"
Batin Evelyne berkecamuk. Ia berharap jika Leonard menepati ucapannya barusan selagi kandungannya lemah ia akan turuti itu hanya untuk berjaga-jaga.
.........
Di tempat yang berbeda. Tiba-tiba saja keadaan Maxwell menjadi dorp. Ia sering muntah dan merasakan sakit di perutnya.
Tubuh Maxwell juga panas dan ia mulai merasakan gejala demam tinggi dengan nafsu makan menurun drastis.
Dokter Ken yang tengah memeriksa tuannya di atas ranjang kamar pribadi ini sampai cemas karna tak ada yang bisa masuk ke kerongkongan Maxwell yang terus memuntahkan isi perutnya keluar masuk kamar mandi.
"Tuan! letakan Laptopmu dan istirahatlah! Kau sedang tak baik-baik saja dan.."
"Ada kabar dari yang lain?" tanya Maxwell dengan suara parau karna tenggorokannya sakit menatap Jirome yang sedari tadi berdiri di dekat Dokter Ken yang menghela nafas berat.
"Tuan! Jack pasti menemukan petunjuk. Kau istirahatlah dengan benar."
"Ada yang salah dengan ini," gumam Maxwell memeriksa berulang kali rekaman penculikan Evelyne itu.
Mobil ini tak ada plat nomor bahkan seperti sudah di rencanakan dengan matang. Jika di kota ini tak ada bisa jadi mereka pergi ke tempat yang jarang ditemui orang.
"Kau periksa di pinggiran kota! Dan.."
Ucapan Maxwell kembali terhenti kala rasa mual itu semakin menjadi-jadi.
Ia bergegas pergi ke kamar mandi tanpa ingin di bantu sama sekali. Melihat Tuannya yang keras kepala Jirome segera menghakimi Dokter Ken.
"Kau tak bisa mengobatinya?! Sedari tadi tak berkurang dan terus parah. Lepas saja gelarmu itu!" geram Jiorme tapi Dokter Ken sedari tadi tengah berusaha memahami kondisi Maxwell.
"Keadaan tubuh Tuan memang drop karna kurang istirahat dengan pola makan berantakan! Tapi, anehnya dia mual tanpa sebab. Saat mencium aroma obat dia langsung muntah dan aku pikir.."
"Apa Tuan sakit kronis?" tanya Jirome harap-harap cemas tapi Dokter Ken takut salah bicara.
"Tuan seperti merasakan kehamilan simpatik dari seorang wanita!"
"M..maksudmu?" gumam Jirome masih belum paham.
"Apa Tuan pernah menghamili seseorang?"
"Kau jangan bercanda. Bersama wanita saja Tuan.. Shiit!!" umpat Jirome di akhir kalimat. Ia menatap Maxwell yang tengah muntah di wastafel dengan syok.
"Apa Evelyne HAMIIL??"
Duaarrr..
.....
Vote and Like Sayang..
Untuk Visualnya besok cek di IG author ya kek biasa😊🥰 say
__ADS_1
Toonovel yg anime masker yak .. Tak tunggu😃