
Pagi ini Maxwell harus pergi ke Pabrik Industri Mobilnya yang pertama mengalami masalah. Perusahaan Pengembang sudah memberikan beberapa data penting dan hari ini ia akan melakukan peninjauan atau bisa di katakan merubah beberapa proses Produksi pasar.
Banyaknya komplain tentang Mobil yang di Keluarga Perusahaan terutama BlcakBird membuat Maxwell harus benar-benar jeli karna semuanya masih belum bisa di katakan murni kesalahan mereka.
Ia yang sudah rapi dan mempesona dengan balutan Jas hitam dan Kemeja green tua gelap yang tampak menambah ketampanan dan hawa maskulin dari Tubuh kekarnya.
Ia berdiri di depan cermin di dalam ruang ganti merapikan Jas dan Dasinya sampai ada sosok yang lewat di belakang tubuh kekar itu.
"Ayo pergi!"
Ajak Evelyne juga sudah berganti pakaian yang sama dengan Maxwell. Bedanya ia memakai Kemeja putih kebesaran, jas dan begitu juga sepatu di bawah sana terlihat sulit di bawa berjalan.
Wajahnya terlihat santai memakai pakaian Maxwell yang menaikan satu alisnya antara heran dan juga agak aneh.
"Kau mau kemana?"
"Aku akan menemanimu," jawab Evelyne lugas tanpa beban. Alhasil Maxwell sedikit merasa geli kembali membalikan wajahnya ke arah cermin.
Nyatanya Cermin sama sekali tak berbohong. Terlihat Maxwell mengulum senyum menatap penampilan Evelyne yang seperti ditelan oleh Pakaian itu.
Evelyne yang menyadari itu langsung melayangkan pandangan membunuhnya ke arah cermin hingga Maxwell segera mengganti raut wajahnya kembali datar.
"Kau menertawakan ku?"
"Tidak," tegas Maxwell memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana. Untuk sesaat mereka saling tatap sengit sampai akhirnya Evelyne sadar jika Resleting celana ini belum di pasang.
"Kenapa pakaianmu bisa sebesar ini? Dan ini juga sangat menyebalkan," umpatnya menarik resleting itu kasar.
Ia gerah dan kepanasan terbukti bulir keringat yang keluar beberapa kali Evelyne hapus. Maxwell tahu Evelyne memang tak bisa memakai pakaian yang tebal atau padat seperti ini.
"Ayo pergi!"
"Kau tetap disini!" tegas Maxwell berbalik pergi keluar ruang ganti seraya melihat jam di pergelangan tangannya.
"Tapi, aku mau ikut! Aku ikuut!!" desaknya mengikuti Maxwell dengan susah payah.
"Tak ada wanita di sana."
"Tak apa. Bukan masalah besar," jawab Evelyne kekeh bahkan kemana Maxwell bergerak ia akan ada di balik punggung lebar Maxwell yang menghentikan langkahnya kala ingin keluar kamar.
Di tatapnya datar wajah keras Evelyne lalu tangannya terulur seperti ingin membelai pipi polos mulus ini. Tanpa di sangka, Maxwell menjentik keningnya hingga Evelyne terpekik.
"Kauu..."
"Kau tetap disini, hm?"
Mendengar itu wajah Evelyne berubah kesal. Bibirnya manyun sama persis seperti yang di lakukan Leen ketika dia tengah merajuk padanya. Apalagi cara Evelyne merengek itu hampir sama bahkan Maxwell merasa jika ini perpaduan antara dua jiwa seseorang.
"Pergilah!"
"Hm," gumam Maxwell lalu ingin pergi tapi mendengar langkah cepat seseorang menyalipnya keluar ruangan sampai Sepatunya tinggal di dalam.
"Kauu ..."
"Aku bisa pergi sendiri," jawab Evelyne santai keluar dari ruangan kerja Maxwell menerobos Jirome yang tadi ingin mengetuk Pintu.
"Jangan biarkan dia masuk ke Lift!"
__ADS_1
"A.. Baik!" gagap Jirome segera mengejar Evelyne yang melihat itu bergegas masuk ke Lift dengan cepat memencet tombol di dekat dinding.
"Cepat!! cepatlah!!"
"Berhentii!!" cegat Jirome menahan Pintu Lift membuat Evelyne menggeram langsung menarik rambutnya ke belakang.
"Kauu.."
"Jangan membuatku ingin menelan mu hidup-hidup!!" racau Evelyne merusak penampilan rapi Jirome yang pasrah sampai Maxwell mendekat segera menarik lengan Evelyne keluar dari Lift.
Jemari lentiknya masih ada di kepala Jirome yang ikut menyodorkan kepalanya.
"T..Tuan!"
"Lepaskan!" tegas Maxwell menatap tajam Evelyne yang tak menghiraukannya.
"Tuan! Rambutku ..."
"Evelyne!!"
"Aku mau ikut!! Ikuut!!!! Titik!" teriak Evelyne tak mau kalah hingga akhirnya Maxwell mengambil nafas dalam untuk menambah kesabarannya.
"Baiklah!"
"Boleh?" tanya Evelyne dengan mata jernihnya yang berbinar.
Saat Maxwell mengangguk datar cengkramannya ke rambut Jirome langsung terlepas dan berhambur memeluk Maxwell yang terkejut dengan kedua tangan masih kaku di sisi tubuhnya.
"Kau yang terbaik. Lain kali aku akan memandikan mu. Hm?"
Jika bukan begitu, maka kamar mandinya akan direnovasi setiap hari.
"Kenapa wajahmu merah? Kau sakit?" dengan polosnya menangkup rahang tegas Maxwell yang berusaha melepas pelukan Evelyne.
"Jangan bicara omong kosong!"
"Apanya? Aku tak bohong. Kau yang selalu meman.."
"Panggil beberapa wanita untuk membawakannya Pakaian!" sela Maxwell membawa ke topik lain.
Jirome hanya mengangguk masuk ke dalam Lift pura-pura tak melihat Maxwell yang begitu tertekan setiap Evelyne berbicara gamblang tak tahu tempat.
"Kau jangan bicara sembarangan di depan orang lain!"
"Siapa? Jirome?" gumam Evelyne menoleh ke arah Lift yang sudah tertutup lalu kembali menatap wajah tampan Maxwell.
"Kau malu?"
"Kau.."
"Kau malu memandikan aku? Ha?" ketus Evelyne memelototi Maxwell yang seketika langsung memijat pelipisnya yang terasa pusing.
"Baiklah! kau tak perlu melakukan apapun untukku. Hm? Aku rasa Jirome tak buruk untuk melakukannya!"
Sontak Maxwell langsung mencengkram pipi Evelyne yang bicara asal dan terkesan membiarkan semua orang melihat Tubuh indahnya.
"Jangan menguji kesabaranku."
__ADS_1
"Tidak. Aku hanya ingin membebaskan mu dari masalah itu. Hm?" jawab Evelyne menaikan satu alisnya hingga Maxwell melepas cengkramannya dan berjalan tegas kembali ke dalam ruang kerjanya.
Seringaian Evelyne muncul meraba pipinya yang terasa nyeri. Ntahlah tapi ia memang suka menyusahkan Maxwell dalam hal membenahi Tubuhnya.
"Aku akan minta Jirome menuangkan Shampo ke rambutku! Membiarkan dia menggosok leher dan ..."
"DIAMLAAAH!!" bentak Maxwell dari dalam sana melempar sepatu yang Evelyne pakai tadi keluar.
Bukannya berhenti, Evelyne semakin menjadi-jadi membahas semakin intens membuat darah Maxwel mendidih di dalam sana.
"Dia akan melihat kesempurnaan yang tak akan bisa di dapatkan dari orang lain! Aku penasaran apa Jirome akan tahan atau.."
"BERHENTI BICARA SEPERTI ITUU!!!" geram Maxwell keluar dari ruangan itu seraya melepas Jasnya dan berjalan bak kesetanan mendekati Evelyne yang bukannya takut ia malah terkikik berlari ke area jendela lantai ini.
"Jangan marah-marah! Kau terlihat seperti Dinosaurus," ejeknya ingin melompat dari jendela tapi Maxwell sudah menarik pinggangnya cepat hingga keduanya terlibat perkelahian sengit.
Evelyne berusaha lepas dari cengkalan Maxwell yang dengan mudah menekan bahu Evelyne sampai tergeletak di lantai dingin ini tanpa daya upaya.
"Kau.."
Kalimatnya tercekat kala Maxwell mengungkungnya dengan deru nafas memburu terlibat peperangan amarah. Netra elang ini begitu mendidih seperti ingin memakannya hidup-hidup.
K..kenapa dia semarah ini?
Batin Evelyne merasakan jika jantungnya tengah tak baik-baik saja. Baru kali ini ia sulit mengendalikan degupan hebat di dalam sana.
"Katakan sekali lagi!" geram Maxwell membuat Evelyne menelan ludah.
"A..aku.."
Nafasnya langsung tercekat kala Maxwell untuk pertama kalinya menyambar bibirnya dengan kasar. Mata Evelyne melebar dengan tubuh menegang merasakan sensasi yang tak pernah ia tahu akan segila ini.
K..kenapa?
Antara tegang dan cemas Evelyne ingin lepas dengan berusaha mendorong bahu Maxwell yang segera mengunci kedua lengannya di atas kepala.
Ia menikmati kehangatan nafas dan lembutnya bibir Evelyne yang terasa begitu manis dan sangat membuatnya tak tahan.
Ternyata ini rasanya berciuman.
Itu pemikiran Maxwell yang dulu hanya bisa melihat tapi sekarang ia bisa menikmatinya. Perasaan hangat menyeruk di sela dada keduanya sampai Evelyne yang tadi memberontak perlahan hanya bisa pasrah membiarkan Maxwell mencumbu halus hal yang selalu menggoda jiwa kelelakiannya itu.
Dia sangat lihai melakukannya. Bibirnya juga lembut seperti bayi, kenapa aku tak bisa menolaknya?
Evelyne mewanti-wanti dirinya agar jangan terbuai tapi sayangnya Pesona Maxwell tak bisa dibantah. Ia akhirnya ikut membalas pangutan mesra ini walau masih kaku tapi sangat membuat jiwa Maxwell membeludak histeris.
Decapan erotis itu tak bisa di redam. Dinding dan lantai ini membisu tatkala suara lenguhan hangat Evelyne kian lolos dengan jemari lentiknya meremas rambut Maxwell yang semakin memperdalam ciuman penuh dengan api cemburu itu.
Tanpa keduanya sadari Lift sudah terbuka memperlihatkan Jirome yang terkejut dengan pemandangan di ujung sana. Ia dengan cepat membalikan tubuh dua Wanita perias yang ia bawa tadi seraya mengajak mereka berbicara agar suara di seberang tak menembus baja ini.
"Siaall!! Apa mereka memang sudah tak waras?"
Batin Jirome merasa dunia ini sudah tak lama lagi akan berakhir. Iblis jantan dan iblis betina itu sudah mulai berbuat tak senonoh di Perusahaan sesuci ini.
....
Vote and Like Sayang
__ADS_1