
Setelah puas dengan rencana malam ini akhirnya Maxwell kembali bertolak ke Perusahaanya. Yah, bisa dikatakan ia masih nyaman tinggal di kamar yang memang tak seluas kamar di Kediaman tapi tak kalah mewah juga.
Pria dengan tubuh semampai dan kekar itu tengah menelpon di dekat Jendela kamar tetapi lirikannya justru memindai Evelyne yang sejak kembali dari Kediaman tadi terlihat aneh.
Dia selalu menjauh dari Maxwell dan seperti menghindarinya. Belum lagi Maxwell sadar dan sangat jelas melihat bagian perut Evelyne membesar dan ia yakin ada barang yang di sembunyikan Wanita nakal ini di sana tadi.
"Kau urus saja. Jalankan semua rencanaku yang telah tersusun rapi!"
"Aku mengerti. Tuan!"
Suara Jirome menyanggupi perkataan tegas Maxwell yang mematikan sambungan dan beralih menatap Evelyne secara lantang di Sofa sana.
Evelyne yang merasa di tatap lekat oleh Pria berjuta pesona ini hanya bisa diam pura-pura tak tahu dengan Jaring laba-laba yang tadi ia bawa sudah di sembunyikan di dalam lemari Leen kecil, cerdas bukan?!
"Kenapa kau menatapku begitu?" tanya Evelyne membuka Topi di kepalanya hingga rambut pertengahan punggung itu terurai indah.
"Apa yang kau dapatkan?"
"Banyak!" spontan Evelyne langsung menepuk bibirnya karna salah bicara. Hal itu semakin membuat mata Maxwell menajam berjalan mendekat ke arah Evelyne yang hanya santai walau jantungnya akan lepas di dalam sana.
"Maksudku ada, hanya satu Foto! Aku sudah mencari ke kamar tamu Tua Bangka itu dan ke kamar Kaki Empat tapi tak menemukan hal lain."
"Tunjukan Foto itu!" pinta Maxwell duduk di samping Evelyne dengan berjarak 10 senti. Maxwell selalu menjaga agar tak terlalu dekat karna Wanita ini sangat membahayakan.
"Kenapa kau jauh-jauh dariku?" ketus Evelyne menyipitkan matanya penuh intimidasi.
"Cepatlah!" desak Maxwell jengah.
"Kau tak suka dekat denganku? kau lebih suka memakan masakan Kaki Empat. Hm?" sarkas Evelyne yang mendengar percakapan itu dari lantai atas apalagi suara perdebatan mereka sangat keras dan menembus dinding.
Maxwell hanya menghela nafas dalam dengan ekspresi wajah datar tak lekang dari wajah tampannya.
"Aku hanya makan sedikit, sekedar pelengkap!"
"Cih, tapi kau suka-kan?" desis Evelyne menaikan satu alisnya menukik hingga Maxwell segera menjentik keningnya.
Pekikan Evelyne meruak langsung mengusap keningnya yang nyeri. Ntah kenapa Pria ini suka sekali menjentik dahinya padahal ada bagian lain yang harus di jentik, haiss.. Bukan itu maksudku.
"Kau.. Kau ini memang menyebalkaan!!"
Maxwell hanga diam tapi ada senyum tipis yang tertera di bibir seksi kesukaan Evelyne itu. Rona menahan gemas ia sembunyikan dengan membuang muka ke arah samping.
"Lukaku belum sembuh dan sekarang kau menambah luka baru!"
"Sudahi drama-mu," jengah Maxwell menatap Evelyne yang menggerutu seraya mengusap keningnya. Perban kecil di keningnya terlihat sudah tak rapi karna Topi tadi.
"Coba saja aku menjentik kening-mu. Matamu akan melebar siap menelanku hidup-hidup," rutuk Evelyne tapi terkesan lucu di mata Maxwell yang akhirnya menarik diri dekat sampai paha mereka bersentuhan.
"Kau mau apa?" ketusnya kala Maxwell merapikan helaian rambut lurusnya ke belakang telinga.
Jari besar kekar itu beralih mengusap bekas jentikannya tadi di kening Evelyne yang nyatanya tak berbekas. Tentu tidak karna Maxwell hanya menjentik gemas bukan marah atau geram.
Ia juga membuka perban kecil itu melihat luka lecet di kepala Evelyne sudah kering dan tak lagi berdarah.
"Ini masih sakit?" lembutnya membuat jiwa Evelyne meleleh. Jika kaum wanita di luar sana melihat ini pasti sudah ingin memanjat dinding, apa itu berlebihan?
__ADS_1
Tentu saja tidak. Buktinya sekarang wajah Evelyne memerah menatap lekat pahatan Tampan Maxwell yang sangat hangat dan semakin memenjarakan hatinya. Ia tak kuasa menahan gejolak hingga melesatkan satu kecupan singkat ke bibir Maxwell.
Cupp..
Wajah Pria itu terpaku kosong bersitatap dalam dengan manik abu Evelyne yang tak canggung untuk melakukannya.
"Jangan berikan ini pada orang lain. Awas jika kau sembarangan membiarkan mereka menciummu," tegas Evelyne menepuk halus dada bidang Maxwell yang merasa ia akan meledak-ledak dengan ucapan Wanita ini.
Ya Tuhan. Kenapa aku tak bisa menolaknya? Aku ingin menciumnya lebih dari itu.
Batin Maxwell bergejolak. Jakunnya sudah naik turun menatap bibir merah manis Evelyne yang pernah ia cicipi dan rasanya tak tanggung-tanggung membuat akal sehat Maxwell kacau.
"Emm.. Apa kau ingin melakukan itu denganku?"
"Uhuuk!!"
Maxwell langsung terbatuk hebat mendengar ucapan tak tahu malu Evelyne. Ia membuang muka ke sembarang arah menghindari wajah cantik Evelyne yang tengah mengguncang jiwanya.
"Aku sudah bekerja keras malam ini, kau bilang akan memberiku hadiah. Ayo lakukan sekarang!"
"K..kau.. bicara apa?! Jangan melantur," decah Maxwell menepis halus tangan Evelyne yang sudah meraba dadanya. Nafas Maxwell sampai tak lancar membayangkan makna ajakan gila itu di kepalanya.
"Aku tak melantur. Kita sudah membicarakan itu di dalam Mobil. Kau masih ingat-kan?"
"E..Evelyne! Tanganmu.."
Siaall!! Apa dia sudah gila?? Jika aku hilang kendali semuanya akan kacau.
Jerit Maxwell menepis tangan Evelyne yang mengusap dadanya nakal dengan tatapan penuh rencana dan ke ingin tahuan.
"Aku tak pernah b..berjanji!! jangan dekat-dekat!" elak Maxwell mencoba memberi jarak dan menghindar tapi Evelyne sudah seperti cacing kepanasan menggerayanginya sesuka hati.
Tak di pungkiri tubuh Maxwell merespon bahkan ia sesekali mengejang karna tangan Evelyne masuk ke dalam sela kemejanya.
"Ayo tunjukan padaku! Apa yang kau sembunyikan itu. Hm?"
"Kau.. Kau gila. Haa??" desis Maxwell berdiri ingin pergi tapi Evelyne segera menariknya kembali duduk di atas sofa bahkan wanita ini dengan lancang naik ke atas pahanya.
"Ayolah. Jangan malu-malu!"
"Evelynee!!! Kau ini.. ini tak benar!!" tolak Maxwell karna ia semakin sulit mengendalikan dirinya.
Pemberontakan Maxwell tak bisa mencegah hasrat penasaran Evelyne yang semakin menjadi-jadi. Ia mengoyak paksa kemeja yang di pakai Maxwell hingga kancing benda itu berserakan di lantai.
"Evelynee!!" jerit Maxwell frustasi diperkosa seperti ini. Wajahnya merah padam dan nafas memburu kala kedua tangan Evelyne sudah mencengkram dadanya.
Mata abu itu berbinar dapat melihat tonjolan otot seksi dan menggoda Maxwell dengan porsi tubuh kekar yang pas.
"Kau sangat luar biasa. Aku suka ini!" desisnya meraba dada Maxwell sampai menyentuh perut berkotak yang tak bisa ia hindarkan.
Saat mata Evelyne tertuju pada bagian Resletingnya yang sudah membengkak, tangan Maxwell segera menutupi bagian intinya.
"Jangan di tutup!" tekan Evelyne mengancam tapi Maxwell menggeleng lemah dengan tubuh sudah panas dingin.
"Jangan. Kau.. Kau akan menyesal. Evelyne!"
__ADS_1
"Buka!! Atau aku akan memaksamu!" tukasnya lagi berusaha menyingkirkan kedua tangan kekar Maxwell yang sumpah demi apapun merasa di Perkosa.
"Buka!!"
"Sudahlah! Aku bisa mati berdiri karnamu!!" geram Maxwell tapi segera meringis kala Evelyne mencubit tompel yang ada di dadanya hingga kedua tangan Maxwell refleks terlepas.
Tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini Evelyne langsung mencengkram bagian menonjol itu hingga Maxwell menggeram hebat dengan tangan mere**mas pinggiran Sofa.
Shiiiit!!!
"Keras! Kenapa bisa?" gumam Evelyne tanpa dosa. Ia menatap wajah tampan Maxwell yang sudah meradang merah dengan keringat mengalir di kening dan lehernya.
Bibirnya tertutup rapat dengan kepala mengadah menahan gejolak hebat yang tengah mengaduk batinnya.
"E..Evelyne.."
"Kau membuatku semakin ingin melihatnya!" desis Evelyne segera menarik resleting celana Maxwell yang dengan cepat mendorong Evelyne hingga jatuh ke lantai.
"Maxweeell!!" teriaknya kala Pria bertubuh atletis ini berjalan cepat ke arah Pintu keluar kamar dengan penampilan sudah tak bisa di katakan baik-baik saja.
Tak ingin disia-siakan lagi, Evelyne bangkit mengejar Maxwell yang jantungan langsung keluar kamar menutup pintu itu rapat dan cepat.
Baammm.. Suara pintu di banting hebat.
"Bukaaa!!! Buka Pintunyaa!!"
Suara keras Evelyne diiringi suara tendangan mautnya. Maxwell bersandar lemah ke dinding di sebelahnya perlahan luruh terduduk ke lantai dengan kedua kaki terbujur kaku.
Hasratnya melambung tinggi membuat tubuhnya panas dan mengigil. Menahan sakit di kepalanya karna Miliknya harus segera muntah menarik jiwa frustasi Maxwell.
"Shitt! Dia.."
Erang Maxwell memperbaiki Resleting celananya yang begah dan tak bisa lagi tertutup karna Miliknya sudah menyesakan Bokser yang terasa ketat.
Alhasil Maxwell hanya bisa melepas Kemeja urakan di tubuhnya untuk menutupi bagian itu. Saat Maxwell berusaha menahan sakit di kepalanya tiba-tiba saja Pintu ruangan kerja ini terbuka.
Nyatanya Jirome yang terkejut melihat Tuannya sudah kacau dan terlihat sangat tersiksa. Ia berjalan mendekat sesekali melihat Pintu kamar yang dipukul dari dalam.
"Tuan! Apa yang terjadi? Kenapa kau seperti ini?"
Maxwell tak langsung menjawab. Ia menyangga keringat di leher kokohnya lalu menatap tegas Jirome walau nafasnya agak mengigil.
"Apa ruangan sebelah kosong?" tanya Maxwell ingin bermain solo karna sudah akan mati disini.
"Iya. Tuan! Aku akan menyiapkannya!" jawab Jirome karna tahu Maxwell tengah menahan hasratnya.
Ia tak mencari wanita karna Maxwell tak suka tubuhnya di sentuh dan apalagi ini aset berharga yang masih perjaka dari liang kewanitaan.
Batin Jirome bergidik ngeri karna mulai paham apa yang memperkosa Tuannya sampai sekacau ini. Gilanya itu adalah seorang wanita Purbakala yang selalu ingin tahu dan memaksa.
....
Vote and Like Sayang..
Pelan-pelan dulu say.. Ntar batal puasanya lau di gas sekarang😜
__ADS_1