
Villa yang di datangi Evelyne nyatanya sangat di awasi ketat oleh anggota Tuan Fernandez. Bangunan elegan yang menghadap langsung ke area Pantai biru itu nyatanya sangat indah dan penuh dengan panorama alam yang memukau.
Villa ini memang jauh dari keramaian. Bahkan, untuk sampai kesini Evelyne harus memasuki jalan sepi yang sepertinya memang khusus di kuasai oleh Tuan Fernandez.
Tapi, bukan berarti Evelyne bisa di cegah. Ia sadar jika pasti di jalanan sepi yang banyak pohon gaharu tadi terpantau dari pengawasan Anggota Tuan Fernandez. Alhasil ia memarkirkan mobilnya jauh di jalan utama sedangkan Evelyne berjalan hingga sampai ke sekitar Villa.
"Dia memang benar-benar berkuasa," gumam Evelyne melihat betapa banyaknya kamera pemantau di bagian depan halaman Villa yang di pagar tinggi.
Ia yang mengintip di balik pohon besar yang tak jauh dari pagar itu tengah mencari cara untuk masuk tanpa di ketahui anak buah Fernandez. Tapi, di lihat dari situasi ini tampaknya sangat mustahil.
"Depan belakang semuanya di jaga. Cih, apa kau takut mati. Ha?!" maki Evelyne berpikir cepat.
Saat mendengar suara Mobil mengarah kesini Evelyne segera bersembunyi di balik pohon itu tapi dari sisi lain.
Ia mengamati mobil mewah berwarna merah itu hingga ia ingat jika itu adalah mobil Violet.
Dan benar saja. Selang beberapa lama mobil itu masuk ke area Villa di sambut hangat oleh para Pengawal yang membungkuk pada Violet.
"Cih. Kau itu bukan anaknya. Dasar tak tahu diri!" umpat Evelyne sudah menyiapkan kertas hasil Tes DNA kemaren di dalam bajunya.
Jika aku masuk sekarang maka akan mudah. Mereka sudah fokus menyambut Evelyne.
Pikir Evelyne segera menyusup dibalik pagar yang berjarak sempit. Ia memanfaatkan kerumunan para Pengawal di depan sana lalu gesit masuk ke beberapa bunga di sekitar pagar dan menghilang diantara patung-patung hiasan Villa.
Ia menghindari jangkauan CCTV yang pasti menangkap bayangannya.
"Ada seseorang yang masuk dari area depaan!!" ucap seorang Pria berstelan Jas lengkap segera mengarahkan seluruh Pengawal ke arah dimana Evelyne masuk tadi karna mendapat informasi dari pemantau CCTV.
Mereka gencar mencari bahkan menyebar di seluruh Villa dengan kamera yang siap menerkam. Tapi sayangnya Evelyne terlalu liar dan penuh dengan teka-teki.
Tiba-tiba saja ia sudah ada di dekat mobil Violet yang melindunginya dari pancaran CCTV.
"Cih. Kau pikir bisa mengalahkanku?!" ketus Evelyne bangga. Ia sengaja melakukan itu agar para Pengawal Tuan Fernandez pergi mencarinya dan area depan ini kosong.
Tak mau membuang waktu lagi. Evelyne segera masuk ke dalam Villa dengan para Pelayan yang nyatanya juga tahu kabar penyusup itu datang. Alhasil mereka sampai berbaris di depan sana tak menyadari keberadaan Evelyne yang sudah bersembunyi di balik Porselen besar di sudut ruangan.
Netra abu tajam itu mengamati setiap sudut Villa ini hingga ia tak menemukan satu CCTV-pun.
Jadi dia hanya memasang banyak Kamera di luar dan menduga jika tak ada yang akan bisa masuk ke dalam. Berarti belum pernah ada penyusup selain aku disini.
Pikir Evelyne cukup bangga akan prestasinya. Ia menunggu saat para Pelayan itu mulai menjelajahi Villa dan saat itulah Evelyne membekap mulut salah satunya dan menarik Wanita itu ke tempat yang tertutup.
Evelyne memilih di balik punggung sofa besar yang tak jauh dari tempat ia berdiri. Ia membuat Pelayan itu pingsan lalu segera melepas pakaian pelayan yang termasuk mini jika di tubuhnya.
"Cari dia!!! Jangan sampai masuk ke dalam Villaa!!"
Teriak kepala Pelayan gencar mengarahkan. punggung sofa ini tertutup oleh dinding jadi Evelyne tak akan terlihat kecuali ia menampakan diri.
Setelah beberapa lama akhirnya Evelyne keluar. Ia melihat Rok pendek di atas paha dengan celemek putih yang mirip dengan pakaian pelayan khas-khas Eropa dan campuran Jepang.
Kaki jenjangnya sangat indah dengan dada terlihat berisi seksi. Alhasil Evelyne merapikan penampilannya seraya memakai masker dan membuat rambutnya sesantai mungkin.
"Kau!!!"
Evelyne terkejut saat Kepala pelayan tadi memanggilnya. Ia segera mendorong pelan kaki Pelayan yang tadi bertukaran pakaian dengannya dengan ujung kakinya sendiri yang dibaluti pansus hitam.
"Kau!!"
"Iya?" jawab Evelyne menunduk dengan gestur seperti Pelayan di Kediaman Violet dulu. Ia sadar jika Wanita paruh baya yang memakai pakaian sama walau lebih tertutup itu tengah mengamati penampilannya.
Kaki jenjang mulus dan putih belum lagi bentuk tubuh yang sangat seksi. Dadanya juga begitu sempurna merekahkan kancing baju yang ia pakai. Sungguh ia baru pertama kali melihat Pelayan dengan tubuh sesempurna ini.
"Bajumu terlalu kecil. Cepat ganti pakaianmu! Tuan bisa marah besar!"
"Baik!"
Evelyne segera pergi tapi ia pura-pura menurunkan Roknya dengan berjalan pelan menunggu Wanita itu berhenti memandangnya. Saat ada kesempatan Evelyne segera naik ke atas tangga dengan hati-hati dan menyelinap ke lantai atas.
"Untung dia tak menanyaiku!" gumam Evelyne memperbaiki letak Maskernya.
Sekarang ia harus mencari ruangan Tuan Fernandez. Apa Violet bertemu dengannya? Apa yang sedang Wanita itu lakukan disini?!
Pertanyaan di benak Evelyne sudah menumpuk membuatnya segera berjalan pelan menyusuri beberapa pintu di sampingnya.
Jujur Evelyne sempat oleng karna ada Akuarium di dinding ini memperlihatkan banyak ikan dan binatang laut kecil yang belum pernah ia lihat. Tapi, Evelyne menguatkan imannya agar tetap pada tujuan awal.
"Kau tenang saja. Nanti minta Maxwell membelikannya untukmu. Itu hadiahku hari ini," gumam Evelyne meraba kaca Aquarium besar ini tapi segera tersentak saat mendengar suara isakan seseorang dari kamar di belakangnya.
"Dad! Aku mohon padamu, aku sudah tak kuat melihat mereka begitu bahagia. Hiks! Bantu Violet, Dad!"
__ADS_1
Suara yang tak asing itu menarik Evelyne untuk mendekat. Ia sudah ada di depan Pintu besar dan mahal ini hingga dengan pelan Evelyne memutar gagang yang syukurnya tak di kunci.
Kaki empat sialan ini memang keturunan asli Tua Bangka itu. Dia sangat pandai berdrama.
Umpat Evelyne kala melihat Violet menangis di hadapan Tuan Fernandez yang duduk di samping ranjang dengan exspresi wajah datar tapi begitu emosi.
"Dia sangat bisa mengendalikan Maxwell! Sampai-sampai Maxwell tak memperdulikan aku. Dad! Dia.. tak ingin aku.."
"CUKUUP!!" geram Tuan Fernandez mengangkat tangannya dan wajah Violet langsung pucat.
Jujur ia tak berani datang pada Tuan Fernandez tapi karna desakan Tuan Marcello ia memberanikan diri bahkan melawan ketakutan besarnya.
"Jangan menyebut nama Pria sialan itu di hadapankuu!!!"
"D..Dad!" lirih Violet gemetar mendengar tekanan Tuan Fernandez yang terlihat naik pitam. Kebenciannya pada Maxwell benar-benar mendarah daging dan tak bisa di pungkiri ini mengerikan.
"Pria di dunia ini banyak bahkan lebih dari bajingan itu! Aku bisa mencarinya untukmu dan segera hapuskan dia dari otakmu. Violet!"
"D..Daddy! Aku.. Aku hanya ingin Maxwell dan.."
"Keluaar!!" bentak Tuan Fernandez dan itu membuat Violet terperanjat dengan tubuh mendingin. Ia benar-benar ketakutan sampai bibirnya pucat pasih tak berdarah.
Tapi, ketakutan Violet adalah bunga kesenangan bagi Evelyne. Ia menonton perdebatan ayah dan anak ini bak menyaksikan Bioskop. Tapi, Ayah dan anak perlu di garis bawahi.
"Jika kau hanya membahas tentang dia. Maka jangan temui akuu!!"
"Violet tak akan membahas tentang Maxwell tapi Daddy harus melakukan apa yang Violet minta," tawar Violet takut-takut Tuan Fernandez akan memakannya hidup-hidup. Ia memang tak begitu dekat dengan Pria ini karna sikap tempramen Tuan Fernandez terlalu mengerikan baginya.
"Katakan!"
"Dad! Aku ingin mencari Pria yang lebih dari segi apapun dari Maxwell. Aku pikir jika aku mewarisi semua kekayaan Daddy maka mereka tak akan meremehkan aku. Dad!" jawab Violet ragu-ragu jika Tuan Fernandez akan mengikutinya.
Dan benar saja. Tuan Fernandez tak menjawab sama sekali bahkan ia lebih banyak berekspresi beku.
"Itu pemikiran yang dangkal!"
"D..Dad! Tidak semuanya, aku hanya meminta Perusahaan karna aku ingin bersaing dengan Maxwell. Aku akan buktikan jika Keluarga kita lebih dari pada keangkuhannya," jelas Violet mengikuti ucapan Tuan Marcello yang tadi memberinya saran untuk mengatakan ini.
Mendengar kalimat untuk menyaingi Maxwell raut wajah Tuan Fernandez berubah. Ia terlihat lebih tenang dan mempertimbangkannya.
"Kau yakin akan membalas dendam padanya?"
Lama Tuan Fernandez memandang wajahnya hingga seringaian Pria itu langsung membuat Violet menelan ludah takut.
"Kau akan membunuhnya?"
"I..iya.. Dad!"
"Baiklah!" tegas Tuan Fernandez dan Violet langsung mengeluarkan kertas di dalam Tas mahalnya. Ia menyerahkan pulpen bersamaan dengan benda itu.
"Aku sudah menyiapkannya Dad. Kau bisa langsung tanda tangan!"
Tuan Fernandez mengambilnya. Ia membacanya teliti dan itu membuat Violey gelagapan.
"Hanya Perusahaan saja Dad. Aku berjanji akan membalaskan semuanya!"
"Jika tidak?" tanya Tuan Fernandez kembali memberikan senyum bengisnya dan jika di lihat-lihat Tuan Fernandez menjiplak wajah menakutkan Maxwell ketika marah atau bisa jadi sebaliknya, pikir Evelyne yang mengamati dengan seksama.
"J..jika tidak aku akan bersedia mati di tanganmu!"
"Kau yakin?"
"Y..yakin. Dad!" jawab Violet gemetar.
Saat Tuan Fernandez ingin menanda-tanganinya tiba-tiba saja pintu di dobrak keras hingga Violet kebingungan melihat siapa yang berdiri dengan pakaian pelayan sesempurna itu dan jelas makhluknya sangat cantik.
"Siapa kau dan beraninya mendobrak Pintu itu!!" geram Violet merasa kesal karna Tuan Fernandez menunda goresan penanya.
Evelyne mengabaikan Violet karna tujuannya adalah Tuan Fernandez yang tengah memandang dingin padanya.
"Kau!! Jangan tanda-tangani surat itu karna dia bukanlah anak-muu!!"
"Jaga bicaramu!!" tukas Violet sungguh tak bisa menerima ucapan kasar Evelyne yang berani membentak di depan Tuan Fernandez yang menahan emosi.
"Apa? Kau bukanlah anaknya dan kau tak berhak atas apapun!!"
"Sialaan!!!"
Violet ingin menampar Evelyne tapi justru ia yang terdorong keluar Pintu yang segera di tutup rapat oleh Evelyne. Ia benar-benar tak ada takutnya berhadapan dengan Pria yang sama kejamnya dengan Maxwell.
__ADS_1
"Bukaa!!! Apa yang kau lakukan. Haa??"
"Urusanku hanya sebentar. Sabarlah sedikit!" umpat Evelyne yang segera berbalik tapi ia terperanjat kala ujung pistol yang di peggang Tuan Fernandez sudah membidik kepalanya.
"Ouhh.. Cepat sekali!"
"Jangan menyampah di tempatku," desis Tuan Fernandez dengan gaya bicara dan pembawaan yang hampir sama dengan Maxwell. Aahhh... dua Pria berhati dingin ini terlalu misterius.
"Aku tak menyampah. Hanya saja ingin membuka lebar matamu dan segera musnahkan kebencian-mu pada Maxwell!"
"Dia mengirim tikus ke Kandang Singa. MENJIJIKAN," geram Tuan Fernandez menarik pelatuknya hingga peluru itu melesat ke arah Evelyne yang sigap mengelak hingga timah itu menembus pintu.
"Sabar sebentar. Aku hanya makan Ice Cream tadi, jangan sampai aku memotong tanganmu. Tuan Buta!" maki Evelyne karna perutnya terasa lapar lagi.
Melihat Evelyne sangat terlatih Tuan Fernandez mengambil kesimpulan jika Wanita ini bukanlah Anggota sembarangan. Terbukti dengan keberaniannya sekeras baja.
"Sangat menyenangkan mengirim Mayatmu padanya!"
"Nanti kau kirim. Sekarang dengarkan aku dulu. Hm?!" santai Evelyne mengeluarkan Kertas tadi dari dalam Roknya dan itu terlihat konyol tapi Tuan Fernandez hanya diam masih waspada.
"Ini! Baca dan jangan bertanya lagi. Aku memeriksanya di Rumah Sakit kepercayaan Istrimu."
Melempar Surat itu pada Tuan Fernandez yang dengan jijik mengambilnya. Evelyne melihat-lihat kamar mewah ini sampai ia terkejut kala suara tembakan kembali terdengar dan mengenai pinggir bahunya.
"Kenapa cepat sekali?? Aku belum bersiaap!!" teriak Evelyne karna tembakan itu menghadirkan rasa perih tapi bagi Evelyne ini hanya gigitan Nyamuk bertaring harimau.
Wajah Tuan Fernandez mengeras membaca hasil Tes ini dan jelas ini sangat tak percaya dengan anak buah Maxwell.
"Aku akan membunuhmu!!!"
"Kau tak percaya? Sudah ku duga jika kau dan dia sama saja!! Kalian itu selalu buta jika sudah saling membencii!!" geram Evelyne tak perduli jika bahunya berdarah. Ia ingin menyelesaikan ini secepat mungkin.
Ucapan Evelyne bagi Tuan Fernandez hanya angin lalu. Ia terlalu muak dengan Maxwell hingga matanya gelap dan hanya ingin membunuh Pria itu.
"Kau akan menyesal datang ke sini!"
"Aku lebih menyesal karna melihat Pria buta sepertimu. Seharusnya aku di sana saja memanfaatkan kesempatan makan ICe Cream sepuasku," sarkas Evelyne membuat amarah Tuan Fernandez menggebu.
Ia segera menembak ke arah Evelyne yang dengan cepat menghindar segera membuka Pintu lalu berlari ke bawah tangga.
"Siall! Darahnya banyak juga," gumam Evelyne kala tangannya sudah mengalir cairan amis itu. Suara tembakan di atas tadi mengundang semua Pengawal berlari ke arah sini hingga Evelyne segera berpura-pura panik lari ke bawah.
"Tolong!!! Tolong Tuan!"
"Ada apa? Kenapa kau berdarah?" tanya mereka panik melihat Evelyne ketakutan berlari ke arah mereka.
"Tuan!! Tuan tengah di serang dan aku tertembak," gemetar Evelyne hingga mereka segera pergi ke atas hingga senyum licik di balik Masker itu muncul.
Hm.. Itu memang rencanaku. Idiot!
Batin Evelyne segera berlari pergi keluar. Ia tadi memang sengaja membuat satu Villa ini heboh akan keberadaan penyusup. Jika nanti Tuan Fernandez mengamuk padanya maka ia akan keluar lebih mudah, cerdas bukan.
Saat tiba di depan Villa. Evelyne melihat Violet tengah menelpon di balik Mobilnya dengan suara gemetar dan menangis. Ia jadi penasaran hingga langsung mendekat secara hati-hati.
"Dad! Aku tak berhasil mendapatnya karna ada Wanita gila yang tiba-tiba masuk mengacaukannya. Dadyku jadi teralihkan."
"Kau harus mendapatkannya. Atau tidak kau tak akan ku bantu sama sekali!"
Violet seketika langsung cemas menggeleng dan gelisah.
"Aku.. Aku janji akan mendapatkannya tapi Daddy harus memberikan Surat Rumah itu padaku. Hanya dengan itu aku bisa mengendalikan. Maxwell!"
Degg..
Evelyne seketika terkejut. Jadi dua manusia kotor ini bekerja sama untuk keuntungan masing-masing dan ini sangat menjijikan.
"Jika kau malam ini tak mendapatkannya maka aku akan memberikan Surat itu pada Musuh Maxwell. Mereka lebih menjanjikan dari pada kau."
"D..Dad! Jangan.. Akan.. Akan ku usahakan dan jangan berikan itu pada orang lain," gemetar Violet karna masih takut akan kejadian tadi.
Melihat Violet ingin mengakhiri panggilannya Evelyne seperti pergi dengan amarah sekaligus rencana baru yang akan ia lakukan lagi.
Maxwell. Apapun akan-ku lakukan asal kau bisa hidup aman.
Benak Evelyne yang benar-benar tak perduli dengan hidupnya. Ntah ini karna sumpah darahnya pada Leen atau memang dari hati tulus di lubuk terdalam sana.
....
Vote and Like Sayang..
__ADS_1
Bersiaplah menuju badaii ππ .. Author tertawa jahatπ