My Little Devil

My Little Devil
Membalasnya


__ADS_3

Hawa dingin ini sudah sedari tadi menyebar ke seluruh permukaan kamar yang terasa sangat beku dan tak nyaman. Mereka membatasi diri untuk melihat ke dalam ruangan Pribadi ini membiarkan Dokter Ken untuk memeriksa keadaan bocah kecil yang terbaring di atas Ranjang sana dengan keadaan kepala di perban dan begitu juga lengan kananya.


Tak ada yang berani bicara bahkan bernafas saja mereka kesusahan akibat wajah dingin Maxwell yang berdiri di samping Ranjang.


Di tatapnya pahatan pucat Evelyne dengan api amarah seakan ia tahu kenapa Evelyne bisa seperti ini?!


"Beruntung luka di kepalanya tak begitu serius. Hanya saja saat bangun nanti dia akan merasa pusing dan mual tapi hanya untuk beberapa saat," jelas Dokter Ken disertai helaan nafas ringannya.


"Tangannya!"


"Untung lengan kanan Nona kecil masih di butuhkan hasil CT Scan di Rumah Sakit. Untuk sekarang lebih baik seperti itu."


Seketika Maxwell langsung memejamkan matanya. Wajah Evelyne begitu pucat dan ia sudah jantungan kala Yello dan Gregor melarikan tubuh Evelyne ke ruangannya.


"Sebenarnya. Kenapa Nona bisa jatuh?" tanya Dokter Ken pada Yello yang tadi menunggu di dekat pintu bersama Jirome yang juga bingung.


"Saat kami mencari Nona kecil ke semua sudut Perusahaan tiba-tiba kami mendengar suara tangisan di lantai darurat tak jauh dari lantai ruangan Presdir. Saat kami datang ke sana ternyata Nona Evelyne menangis tapi tiba-tiba dia berteriak dan tubuhnya jatuh ke tangga. Tuan!"


"Apa ada orang lain di sana?" tanya Jirome berpikir keras.


Yello menggeleng mencoba memastikan jawabannya. Ia dan seluruh anggota di Perusahaan sudah mengepung semuanya dan tak menemukan apapun.


"Dari rekaman CCTV juga telah di telisik. Nona seperti berteriak sendiri dan ketakutan lalu jatuh. Tak ada siapapun di sana bahkan lantai itu sama sekali tak licin."


"Apa dia punya gangguan mental?" gumam Dokter Ken menatap lekat wajah cantik Evelyne dalam.


Mendengar hal itu Maxwell langsung menatap Jiromr yang mengangguk tahu jika Tuannya tengah ingin sendirian.


"Kita keluar. Biarkan Nona istirahat."


"Baik," jawab Yello mengerti dan pergi keluar bersama Jirome yang menutup pintu kamar.


Sekarang hanya ada Maxwell dan Dokter Ken yang ditelan oleh keheningan kamar pribadi miliknya yang di dominasi warna hitam.


"Apa kepribadian ganda itu nyata?"


Pertanyaan Maxwell membuat Dokter Ken terdiam sejenak lalu mengangguk kecil.


"Itu seperti gangguan pada Psikis seseorang dan alam bawah sadarnya. Secara tak langsung dia memiliki emosi yang tak stabil dan tak terduga. Tuan!"


"Apa itu nyata?" tanya Maxwell masih mencari-cari.


"Bisa dikatakan itu benar adanya. Kami lebih menyebutnya dengan Gangguan Emosional," gumam Dokter Ken tapi sedetik kemudian ia berdiri menatap Maxwell yang tak berpaling dari wajah pucat Evelyne.


"Memangnya kenapa? Tuan!"

__ADS_1


"Apa mungkin satu tubuh bisa memiliki dua jiwa?" tanya Maxwell membuat dahi Dokter Ken berlipat.


Satu tubuh dua jiwa? Ini agak ambigu tapi ia merasa kurang memahami istilah yang di katakan Tuannya barusan.


"Mungkin lebih ke gangguan otak dan.."


"Dia bisa berubah bentuk dan karakter. Apa itu ada?" sambar Maxwell memastikan semua keanehan yang ia alami ini.


Dokter Ken diam merapikan kerah kemejanya. Ntah apa yang tengah di maksud Maxwell ia sendiri merasa sangat penasaran?


"Selama aku menjadi seorang Dokter aku tak pernah melihat Perubahan bentuk manusia yang berulang beserta karakternya. Tuan!"


"Jika begitu. Berarti dia siapa? Bukan penyakit atau sebuah gangguan emosional."


Batin Maxwell memijat pelipisnya yang pusing. ia melonggarkan belitan dasi di lehernya lalu membuka Jas di tubuhnya.


"Tuan! Kau tenang saja. Nona kecil akan segera sadar dan dia bisa menceritakan segalanya nanti."


"Hm."


Gumam Maxwell membiarkan Dokter Ken pergi meninggalkannya. Ia menghela nafas lalu duduk di samping ranjang menatap wajah pucat belia ini.


Tarikan nafas Evelyne begitu stabil tapi kita tak tahu apa yang terjadi saat sudah naik mendaki tengah malam nanti.


"Sebenarnya mana yang asli dari kalian?!" gumam Maxwell tak tahu apakah Tubuh kecil Evelyne ini yang nyata atau Tubuh Dewasanya yang sebenarnya memiliki Dunia ini.


Kejadian itu sudah bertahun-tahun terjadi bahkan Pura Tua itu sudah tak lagi di gunakan atau di renovasi. Jika Evelyne memang Putrinya berarti usia Evelyne saat ini bukanlah bocah 4 Tahunan. Seharusnya ia sudah besar dan dewasa seperti wujudnya saat malam hari.


"Bagaimana bisa dia yang seharusnya sudah dewasa masih sekecil ini?" gumam Maxwell mencoba menalar semuanya.


Masuk akal jika Evelyne memang berasal dari Pura itu karna awal pertemuan mereka memang di sekitar tempat itu. Tapi, kenapa bisa Evelyne berubah-ubah seperti ini?


"Jadi bisa saja kau.."


"D.. Dad!"


Maxwell segera sadar kala lirihan Evelyne terdengar serak dan rendah. Bocah kecil ini membuka mata sayunya dengan bibir kering dengan keadaan yang sangat lemah.


"D..Dad!"


"Hm. Jangan terlalu banyak bergerak," tegas Maxwell menahan bahu kiri Evelyne yang ingin bangkit.


Evelyne memejamkan matanya yang terasa kabur dan berkunang lalu membukanya kembali untuk melihat wajah Tampan datar Maxwell.


"D..Dad!"

__ADS_1


"Hm."


"Daddy sudah makan?" tanya Evelyne masih menanyakannya. Maxwell menghela nafas halus mencoba untuk tak gegabah.


"Jangan perdulikan aku. Pikirkan tentang dirimu sendiri. Paham?"


"L..Leen tak bisa," gumam Evelyne masih nekat tersenyum. Alhasil Maxwell mengusap wajahnya kasar lalu berdiri dari duduknya.


"Sekali lagi kau keluar sendirian. Aku akan meninggalkanmu di JALANAN," geram Maxwell menatap tajam Evelyne yang terdiam melihat wajah keras Maxwell.


"Jika sudah begini siapa yang susah. Ha? Kau hanya perlu diam dan jangan membuat masalah. Tak perlu sampai pergi ke Tangga darurat, apa yang mau kau cari di sana??" tekan Maxwell baru kali ini marah dengan kata-kata sepanjang itu.


Biasanya ia selalu bertindak secara fisik tapi untuk sekarang ia terlihat memarahi anaknya dalam gayanya sendiri.


Evelyne yang awalnya diam sekarang menipiskan bibir pucatnya. Ia mengangkat tangan sebelah kiri itu untuk meraih jemari Maxwell yang ia genggam erat.


"Daddy cemas?"


"Tidak. Aku hanya tak ingin waktuku terbuang karna mengurusmu," ketus Maxwell tapi tak menepis tangan Evelyne.


Ia kembali duduk dengan guratan angkuh dan arogan yang memang sangat khas darinya. Tangan mungil Evelyne ia genggam hangat tapi wajahnya masih seperti Singa hutan yang memperebutkan wilayah kekuasaannya.


"Dad! Boleh Leen bercerita?"


Maxwell diam menatap dalam manik abu Evelyne yang seperti juga merasa bingung dengan dirinya. Ia tak tahu harus mengatakan ini pada siapa lagi selain Maxwell.


"Katakan!"


"Tadi ada yang berbicara di telinga Leen!" gumam Evelyne dengan genggaman mengerat ke tangan Maxwell pertanda ia masih gugup dan gemetar.


"Suaranya terkesan sangat marah dan mengerikan. Dia ingin Leen membunuh semua yang menyakiti Leen dan terus berbisik di sini," menunjuk telinga kananya.


Wajah Maxwell sudah mengeras kala tahu siapa yang telah membuat nyawa Evelyne dalam bahaya besar.


"Dia yang mendorongmu?"


"Leen tak tahu. Tiba-tiba saja dia berteriak lalu tubuh Leen seperti di dorong dari belakang. Setelah itu Leen sudah tak ingat apapun. Dad!" jelas Evelyne masih mengingat jelas kejadian itu.


Kepalan tangan Maxwell menguat dengan tatapan membunuh mengakar di netra elangnya.


"Aku tak akan melepaskanmu."


Batin Maxwell mempunyai dendam kusumat pada Wanita itu. Ia akan membalas berkalilipat dengan caranya sendiri nantinya.


....

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2