
Wajah Kepala Pelayan Reamy langsung pucat dengan tubuh mematung syok tak bisa bergerak di dekat Bangku Taman. Beberapa penjaga Kediaman sampai mendekat ke arahnya karna teriakan barusan cukup kencang.
Apalagi. Violet yang tadi ada di dalam kamarnya juga panik langsung turun di bantu salah satu Pelayan yang sedia di depan kamarnya.
Tentu Violet kebingungan kala Wajah pucat Kepala Pelayan Reamy seperti telah di datangi Mahluk halus dan sejenisnya.
"Ada apa? Kenapa berteriak sekeras itu?"
"N..Non!" gumamnya gemetar melangkah kaku di bantu Para penjaga yang memeriksa area sekitar sini.
Violet menunggu seraya melihat di sekelilingnya. Ini area Koridor kecil yang jarang ia datangi tapi lampu-lampu Neon indah di beberapa sudut tempat ini cukup membuatnya meremang.
"Ada apa? Dan kenapa kau kesini?"
"N..Nona! Saya tadi ingin mengecek lampu di taman yang kemaren menyala tak stabil. Tapi.."
"Tapi kenapa?" tanya Violet semakin kebingungan. Pelayan Reamy terlihat mengambil nafas dalam untuk memastikan apa penglihatannya barusan benar atau tidak.
"Ada apa?"
"I..itu. Tadi Saya melihat Wanita berambut pendek pertengahan punggung tengah berdiri seperti ingin melompat dari atas Balkon. Tuan!" ucapnya agak terbata-bata dan menunduk.
"Apaa?? W..wanita?" syok Violet tak percaya itu.
"Iya. Nona! Dia sangat cantik. Separuh tubuhnya juga begitu sempurna tapi Saya.. Saya pikir dia bukan manusia sampai kulitnya sebersih itu," jawab Pelayan Reamy juga tak percaya akan apa yang ia lihat.
Jika seukuran manusia kecantikan yang ia punya cukup membuat mata terpaku lama. Hawa tegas dan begitu kejam itu terasa sampai bulu kuduknya meremang.
"Reamy! Kau mungkin berhalusinasi. Tak masuk akal jika Maxwell menyimpan wanita dewasa di kamarnya," bantah Violet menalar hal tersebut.
"Saya pikir juga begitu. Nona! Tapi, Wanita itu tampak nyata dan wajahnya tak begitu terlihat karna bayangan pagar Balkon. Mungkin Saya salah lihat."
"Pergilah istirahat. Jangan katakan jika Suamiku menyimpan wanita lain lagi. Paham?" tekan Violet selalu sensitif jika membahas soal Maxwell.
Pelayan Reamy mengangguk lalu pamit pergi. Ia terlihat kebingungan dan sesekali mengusap kedua lengannya karna merinding.
Sementara Violet. Ia memandangi area kamar Maxwell di atas sana.
"Tak mungkin Maxwell sampai seperti itu. Dia sangat alergi pada wanita," gumam Violet mengambil nafas dalam seraya menggeleng saja.
"Nona! Disini dingin dan anda harus istirahat."
__ADS_1
"Bawa aku ke kamarku!" pinta Violet bernada santai dan tenang.
Kursi rodanya di dorong kembali ke area dalam Kediaman tapi Violet sesekali menoleh kebelakang untuk memastikan ucapan Reamy tadi.
........
Sementara di dalam kamar ini. Maxwell tengah membekap mulut Evelyne yang tadi nyaris menggemparkan satu Kediaman ini.
Ia mengapit tubuh seksi itu ke Sofa Balkon menghindari kaca yang berserakan di lantai sana. Evelyne memberontak karna Tubuh kekar Maxwell yang dibaluti Bathrobe ini terlalu menekan dan membuatnya sesak.
"Kaumm!!!"
Ia mengigit jemari Maxwell yang langsung melepas bekapannya tapi Tubuh keduanya masih berdempetan erat. Wajah tampan Maxwell sudah merah padam dengan rahang mengeras dan tatapan membunuh.
"Kau memang ingin mati. Ha??"
"Kenapa? Kau takut?" desis Evelyne beradu tatapan mematikan dengan netra elang Maxwell yang sungguh di buat meledak-ledak.
Ia menatap ke arah pagar Balkon dimana tak lagi terdengar suara ramai di bawah sana. Padahal, terlambat satu detik saja Maxwell akan di landa masalah besar.
"Sekali lagi kau berbuat seperti itu. Aku bersumpah akan MENGIKATMU SELAMANYA," tekan Maxwell langsung menarik diri dari Tubuh polos Evelyne.
"Kauu.."
"Tutupi Tubuh kotormu itu!" ketus Maxwell dengan dada naik turun menahan emosi. Ia kembali ke dalam kamar seraya meraih Ponsel di atas ranjang.
Ada panggilan tak terjawab dari Jirome yang tampaknya sangat penting. Maxwell berdiri di samping ranjang seraya menelpon Pria itu.
Evelyne yang mau tak mau akhirnya membalut Tubuhnya dengan Gorden lebar ini. Walau-pun begitu tetap saja kemolekan tubuhnya tak bisa di tutupi dengan mudah.
Ia memperhatikan Maxwell yang tampak berbicara serius di benda yang menurutnya termasuk asing. Ia terlalu lama di tubuh kecil itu sampai tak bisa beradaptasi dengan dunia nyata.
"Dia termasuk orang yang kaya," gumam Evelyne melihat betapa luasnya pekarangan samping Kediaman ini.
Jika ia bisa memanfaatkan Maxwell maka tujuannya akan cepat tercapai dengan mudah dan bisa segera mengakhiri sialan itu.
Maxwell yang tengah berbicara dengan Jirome juga memperhatikan gerak-gerik Evelyne yang melihat kebebasan di arah luar Balkon. Ia tahu otak licik wanita itu pasti tengah memikirkan sesuatu.
"Aku akan datang pagi ini! Kau selesaikan saja apa yang ku minta."
"Tuan! Kau hanya perlu melihat hasil dari Perusahaan Pengembang pagi ini."
__ADS_1
"Hm." gumam Maxwell tapi segera diam kala Evelyne tengah memandangnya seraya bersandar di Pagar Balkon. Pose wanita itu terlihat elegan dan sangat berkelas dengan hawa yang tegas.
"Tuan!"
Panggil Jirome tapi Maxwell belum sadar. Ia masih beradu pandangan dengan Evelyne yang segera membuang wajah ke arah samping menatap datar beberapa Tanam di sampingnya.
"Tuan! Apa kau.."
Maxwell langsung mematikan sambungan. Ia melirik jam sudah menunjukan pukul 6 dengan bayang-bayang mentari sudah samar-samar terlihat dari sela Awan gelap itu.
Apa dia akan kembali menjadi Evelyne kecil?
Pertanyaan yang membuat Maxwell terdiam dengan pikirannya sendiri. Ia beralih memandangi Evelyne yang tampak hanya diam berdiri disana memandangi langit yang berangsur berubah.
"Apa yang dia pikirkan?"
Batin Maxwell sangat sulit menebak kepala cantik itu. Ia memilih duduk di samping ranjang terlihat acuh tapi pergerakan Evelyne tak luput dari pantauannya.
"Kita berjumpa besok malam," gumam Evelyne melirik kecil ke belakang dengan wajah berkeringat. Selimut itu perlahan terlepas dari tubuhnya membuat Maxwell segera mengalihkan pandangan.
Hembusan angin tertui ringan namun sangat tegas menerpa tubuh Polos Evelyne yang terasa begitu panas. Ia hanya bisa memejamkan matanya dengan kulit putih bak Porselen itu tampak merah panas.
"Hmm. Jika kau berubah pikiran. Temui aku!"
"Kau.."
Belum sempat Maxwell bicara dan menoleh ke arahnya. Tiba-tiba saja Evelyne sudah berubah menjadi seperti biasa.
Maxwell melesat cepat menangkap tubuh kecil yang tampak masih berkeringat dengan kedua mata terpejam di gendongannya. Cahaya mentari dari sela langit sana langsung tampan memperlihatkan wajah belia Evelyne kecil yang terlihat mulai merespon posisi mereka.
"D..Dad!"
Mata abu itu sayu-sayu terbuka tampak sangat lelah. Ia tak seperti bangun tidur tapi baru saja selesai beraktifitas seharian.
"D..Dad! L..Leen.."
"Tidurlah lagi!" gumam Maxwell menggendong ringan Evelyne kembali masuk ke Kamar. Tubuh si kecil ini terasa begitu lemas dan tak bertenaga seakan apa yang di alami oleh Evelyne dewasa akan berdampak pada dirinya yang sekarang.
...
Vote and Like Sayang..
__ADS_1