
Keterkejutan Jirome tadi tak kunjung terhenti bahkan ia sampai menatap Maxwell yang naik turun ranjang hanya untuk pergi ke kamar mandi. Alhasil wajah tampan pria itu benar-benar pucat pasih dan tak ada daya untuk melakukan hal lain.
Ia duduk di atas wastafel bersandar ke kaca jernih itu dengan mata terpejam memegangi perutnya. Baru kali ini ia merasakan mual begitu hebat dan tak reda padahal sudah di beri obat oleh Dokter Ken.
"Apa yang terjadi padaku?" tanya Maxwell sadar akan pandangan rumit Jirome padanya.
"Tuan! Apa kau menyadari sesuatu?" tanya Jirome mendekat ke depan pintu kamar mandi.
Maxwell membuka mata tajam lelah itu tapi masih bisa membuat Jirome was-was.
"Hm."
"Maaf sebelumnya bukan maksud menyinggung Tuan tapi.. " Jirome agak canggung sampai menggaruk tengkuknya sendiri.
"A.. Apa tuan pernah melakukan hubungan dengan Evelyne?" imbuhnya memberanikan diri.
"Lalu?" dingin Maxwell masih belum ngeh.
"Apa menggunakan pengaman?"
Sontak Maxwell langsung sadar. Ia mulai paham kemana arah pertanyaan Jirome barusan dan benar jika saat menggempur Evelyne ia tak menggunakan pengaman sama sekali.
"A.. Aku.. Aku tak menggunakan apapun!" lirih Maxwell tapi Jirome yang mendengarnya langsung meremang.
"Iya, Tuan! Kemungkinan Evelyne hamil dan tuan mengalami gejala simpatiknya!"
"HAMIIL???" keras Maxwell syok langsung turun dari wastafel dan segera mendekati Dokter Ken yang segera berdiri.
"Benarkah? Apa dia hamil? Yang ku alami ini bagian dari fase kehamilannya, begitu?" cecer Maxwell terlihat tak menyangka sampai raut senang diantara wajah pucatnya terlihat.
"Tuan! Maksudku itu..."
"Berapa minggu atau mungkin bulan? Dia tak merasakan ini-kan?" tanya Maxwell lagi karna cemas Evelyne menderita di tempatnya sana.
"Tuan! Menurutku memang iya tapi, kita tak bisa terlalu berharap karna Nona tak ada disini. Aku belum bisa memastikan berapa usia kandungannya dan apa dia merasakan hal yang sama atau bukan, yang jelas kita harus menemukannya dulu!"
"Kau benar! Aku harus menemukannya. Dia tak tahu apa-apa soal kehamilan," gumam Maxwell mengusap wajahnya yang tadi berkeringat.
Energinya yang tadi sempat terkuras sekarang bak diisi ulang dengan full. Bahkan, wajahnya seperti tak sabaran dan masih membayang tentang kehamilan Evelyne.
Berarti aku akan jadi Ayah, usahaku tak akan sia-sia. Ada anakku di dalam perutmu, Sayang!
Jeritan batin Maxwell yang rasanya ingin sekali berteriak. Sumpah demi apapun dadanya yang tadi sesak perlahan sedikit ringan karna Evelyne tak akan bisa pergi jauh karna anak itu akan menghubungkan mereka berdua.
"Tuan! Sebaiknya kau istirahat dulu!"
"Tak ada waktu untuk itu," gumamnya acuh.
Maxwell segera meraih ponselnya yang ada wallpaper Leen kecil di sana. Tapi, di layar utama ada foto Evelyne yang tertidur.
"Tuan!"
"Dia sedang hamil dan harus pulang secepatnya!" gumam Maxwell terburu-buru menghubungi Jack yang pasti tengah bekerja malam-malam begini.
"Hello Tu.."
"Kau cari data setiap musuh-musuhku dan berikan malam ini juga!"
"Baik, Tuan!"
__ADS_1
Jawab Jack patuh dan Maxwell segera mengambil Laptopnya seraya duduk di tepi ranjang. Ia tengah menyelidiki tentang kasus kebakaran yang ada di Pura Evelyne.
Kemungkinannya hanya dua. Yang menculik Evelyne itu musuhnya atau mungkin orang yang berhubungan dengan Evelyne langsung.
"Rekaman penculikan itu memperlihatkan jika pria ini tak menyakiti Evelyne! Dia hanya berusaha menjelaskan sesuatu tapi Evelyne tak mau menurutinya. Besar kemungkinan jika dia mengenal dekat istriku ini!"
"Istri?"
Jirome dan Dokter Ken saling pandang. Antara kagum dan geli sekaligus karna mereka berdua sama-sama tahu jika Maxwell dan Evelyne belum memiliki status di negara ini.
"Ada masalah dengan itu?" dingin Maxwell menatap tajam dua manusia di hadapannya ini.
Jirome dan Dokter Ken menggeleng segera menormalkan raut wajahnya tadi.
"Tidak, Tuan!"
"Dia hamil anakku dan jelas wanita yang mengandung itu pasti harus ada laki-laki yang membuatnya begitu-kan?" tegas Maxwell dan keduanya lagi-lagi mengangguk.
"Iya, Tuan! Kau benar!" jawab Jirome mencari aman. Alhasil Maxwell kembali mengabaikan mereka untuk menganalisis rekaman penculikan itu hingga mata tajam Maxwell melihat jika ada tanah di ban mobil itu.
Jirome dan Dokter Ken sampai bingung untuk apa tuannya terus melihat rekaman itu padahal tak ada informasi apapun di sana.
"Tuan! Apa kau.."
"Kau lihat ini!" Maxwell memperlihatkan layar laptopnya ke arah mereka berdua. Jirome memfokuskan mata dan begitu juga Dokter Ken tapi nihil, mereka tak mengerti maksud Maxwell bagaimana.
"Tuan! Layarnya memang segelap ini?!" tanya Dokter Ken bingung karna ia kurang paham soal analisis keadaan.
"Bukan layarnya. Tuan pasti menemukan sesuatu!" gumam Jirome tapi hanya di jawab wajah dingin Maxwell yang merasa jika disini hanya matanya yang paling jernih.
"Ada tanah di sela Bannya. Walau tak jelas tapi aku yakin itu tanah lembab!"
"Lalu?" tanya Dokter Ken tak mengerti.
"Dia tak membawa istriku ke wilayah perkotaan!" ucap Maxwell dengan sorot mata berubah membunuh. Dokter Ken hanya diam merasa otak tuannya terlalu sulit di pahami karna hanya melihat ban saja ia sudah mengerti.
"Berarti .."
"Pergerakannya sangat mulus nyaris tak ada cela. Dia bukan musuh sembarangan!" gumam Maxwell mencerna semuanya.
Untuk apa pria itu menculik Evelyne?! Apa ini ada hubungannya dengan kebakaran Pura waktu itu?!
"Tuaaan!!!"
Fokus mereka buyar kala terdengar panggilan dari Gregor di luar sana. Jirome segera melangkah pergi membuka pintu sementara Maxwell tak memperdulikannya.
"Ada apa?" tanya Jirome menatap wajah pucat Gregor yang seperti baru melihat monster berekor sembilan.
"Seseorang mengirim mayat wanita ke perusahaan! Wajahnya hancur tapi pakaian yang dia kenakan sama dengan milik Nona Evelyne!"
Mendengar itu Maxwell terkejut dengan jantung nyaris keluar. Ia meninggalkan laptopnya lalu berlari keluar kamar.
"KAU JANGAN BERCANDAA!!" bentak Maxwell naik pitam tapi Gregor sudah berkeringat dingin.
"Aku tak tahu, Tuan! Tapi semuanya mengarah pada Nona!"
Tanpa membuang waktu lagi Maxwell bergegas pergi keluar dari ruangan kerja itu lalu masuk ke dalam lift di ikuti Jirome yang juga jantungan.
Ia tak berani menatap wajah keras Maxwell yang mendidih hebat mendinginkan baja besi ini.
__ADS_1
"Beraninya mereka!" geram Maxwell menggertakan giginya hingga urat kemarahan itu tampak menakutkan.
Saat pintu lift terbuka Maxwell segera melangkah cepat ke depan area perusahaan dimana para anggotanya yang tadi berkumpul segera mengurai.
"Tuan!"
Maxwell tak menggubris mereka. Ia berjongkok melihat ada bungkusan kain putih yang sudah berlumuran darah.
Jantung Maxwell terasa ingin lepas kala melihat tinggi badan wanita ini sama dengan Evelyne, kulitnya juga putih pucat dan rambutnya sudah dipenuhi darah.
Perlahan tangan gemetar Maxwell menarik kain putih berdarah itu dari wajah wanita ini hingga..
"Astagaa!!"
Mereka kembali dibuat terkejut melihat wajah mayat ini hancur bahkan tulang hidung dan bibirnya terlihat.
"T..tidak. Ini... E..Evelyne..." lirih Maxwell terduduk di lantai ini. Matanya terlihat sangat takut dan syok sampai Jirome yang melihat itu juga seketika cemas.
Tangan Maxwell memeggang lengan pucat dingin itu dengan tatapan mata sangat terkejut.
"E..Evelyne!"
"Bukan!! Ini bukan diaa!! Dia tak mungkin pergi secepat inii!!!" teriak Maxwell menjahui mayat itu begitu juga Jirome yang merasa kasihan pada tuannya.
Baru saja kau bahagia karna mendengar kabar kehamilan itu tapi sekarang harapanmu sia-sia. Tuan!
Batin Jirome hanya bisa menunduk begitu juga anggota yang lain.
Wajah Maxwell yang tadi pucat semakin terlihat kacau. Ia berdiri segera mencengkram kerah jaket salah satu anggota di sampingnya.
"Katakan!! Katakan jika ini bukan dia!!" geram Maxwell sampai mereka gemetar dengan kepala masih di tundukkan.
"KATAKAN BRENGSEEK!!!"
"Tuan! Sudah!" lirih Jirome memeggang bahu Maxwell yang tampak sangat marah dan juga frustasi.
"T..tidak mungkin!" gumam Maxwell meratapi mayat itu. Ia sampai kesulitan bernafas dengan lemas melangkah kembali masuk ke dalam gedung besar ini.
Ia berjalan nanar sampai berpeggangan ke pintu untuk segera menenagkan diri di dalam sana. Saat melihat itu Jirome segera mengikuti Maxwell dengan perasaan sesaknya.
"Tuan! Kau jangan seperti ini. Kesehatanmu semakin memburuk jika.."
"Ikuti mobil yang ada di arah jam 9!" sela Maxwell dengan intonasi dinginnya. Jirome langsung terkejut melihat tuannya berubah begitu cepat padahal tadi ia terlihat menggila di depan sana.
"T..tuan kau.."
"Jika kau kehilangan jejaknya ku pastikan kau tak akan menghirup udara lagi!" geram Maxwell menatap tajam Jirome yang segera sadar.
Ia akhirnya paham dan segera mengangguki Maxwell yang menjalankan rencananya.
Namun, rasa takut dan cemasnya tadi perlahan hilang karna ia tahu itu bukan Evelyne. Bahkan, saat ia meratap di depan tadi mata tajam Maxwell menangkap kejanggalan di area depan perusahaan. Mereka seperti tengah di awasi.
Senyum remeh Maxwell muncul merasa penculik sialan itu sangat bodoh memahami seberapa tahu ia dengan tubuh Evelyne.
"Kau pikir Istriku memiliki dada rata seperti itu?!" gumam Maxwell masuk ke dalam lift. Beban di dadanya terasa lebih ringan karna akhirnya ia bisa mencari cela lebih dalam.
"Tunggu aku! Aku akan menjemputmu!"
.....
__ADS_1
Vote and Like Sayang..