
Malam hanya membisu dengan remang-remang bulan menyatu dengan lampu-lampu kota yang menyala terang membuat keadaan disekitar Club tadi semakin mendingin.
Maxwell terlihat kelut menyeret Evelyne ke dekat Mobil yang tak jauh dari jalanan khusus yang menjorok masuk jauh dari jalanan utama.
Untung saja disini sepi hingga keributan tadi tak di ketahui siapapun.
"M..Maax... Sakiit!!" desis Evelyne berusaha melepas cengkraman Maxwell ke lengannya yang seakan mau patah.
Wajah cantik Evelyne pucat kala Maxwell mendorongnya ke dekat mobil hingga jantungnya berpacu cepat merasakan bara emosi Maxwell yang membeludak.
"Apa ucapanku selama ini tak pernah masuk ke kepalamu?" geram Maxwell menggertakan giginya menahan amarah.
"A..aku.. aku hanya ingin mendapatkan surat itu. Dan..."
"DENGAN MEMBERIKAN TUBUHMU PADANYA!!" bentak Maxwell keras sampai Evelyne terkejut. Tangannya yang masih di cengkram Maxwell mulai gemetar tapi Evelyne masih ingin menjelaskan niat baiknya.
"M..Max! B..bukan seperti itu. Aku hanya ingin mendekatinya dengan caraku sendiri. Aku tak mungkin menyerahkan diriku padanya dan.."
"Dan ini apa?" desis Maxwell beralih menarik kerah kemeja Evelyne yang koyak hingga memperlihatkan Bra dan Boxernya.
Cengkraman Maxwell ke lengan lembut itu tak mengendur dan ia juga menekan Evelyne sampai pucat.
"Ini tak sengaja. Lagi pula dia tak sempat menciumku dan aku juga berusaha melepaskan pelukannya. Max!" jelas Evelyne mencoba memberi penjelasan atas apa yang terjadi.
Maxwell juga tahu itu tapi ia sangat khawatir dengan sikap ceroboh Evelyne yang tak pernah menuruti apa yang ia katakan, bahkan ia lebih menganggap itu sebagai angin kosong.
"Dan lagi aku yakin surat itu ada padanya! Kemaren aku mendengar Kaki empat menelpon dengan Tua Bangka itu dan dia bilang jika surat itu akan di berikan pada musuh-mu jika dia tak mendapatkan tanda tangan Fernandez, itu karnanya aku datang kesini dan ini semua terjadi," papar Evelyne panjang lebar tapi wajah Maxwell tak berubah. Bahkan semakin beku hingga Evelyne tak tahu lagi harus bicara apa.
"Max! Aku baik-baik saja. Tak ada yang terluka dan lagi.."
"Kau pikir aku ini hanya bisa berlindung di belakangmu begitu?" tanya Maxwell menatap kecewa Evelyne yang menggeleng cepat.
Sumpah demi apapun ia tak pernah berpikir seperti itu dan hanya ingin melakukan apa yang dianggap itu berguna.
"Max! Aku.."
"Apa aku begitu menyedihkan. hm?" gumam Maxwell dengan mata masih menahan emosinya. Jelas terlihat jika ia merasa kecil dan tak berguna dengan sikap Evelyne yang seakan mengatakan jika ia tak bisa melakukan apapun.
"Apa aku begitu lemah dan tak berdaya sampai kau harus bertindak nekat setiap waktu hanya UNTUKKU?" imbuh Maxwell dan jawab gelengan keras oleh Evelyne yang membantahnya.
"M..Max!"
"Aku hidup sebelum bertemu denganmu. Yah, walau sangat menyedihkan tapi aku masih bisa bernafas. Kau tak perlu terlalu mengasihani-ku, sangat tak perlu!" desis Maxwell tapi itu sangat menyakiti Evelyne.
A..aku sama sekali tak pernah ingin mengasihani-mu. Max! Tak pernah.
Sayatan batin Evelyne menatap nanar Maxwell yang pastinya merasa tak berguna padahal caranya bekerja dengan Evelyne yang sembarangan bergerak itu berbeda.
"Aku sangat berterimakasih padamu. Evelyne! Kau sangat baik sampai mengasihani-ku sejauh ini. Terimakasih!"
__ADS_1
"B..bukan.." lirih Evelyne dengan mata mulai mengembun. Nafasnya tersendat dan sampai suara yang ia keluarkan mulai bergetar.
Maxwell yang melihat itu segera melepas cengkramannya lalu membuang pandangan ke arah lain. Hatinya sakit dalam keadaan ini tapi lebih terasa sesak saat melihat mata abu yang biasanya tak pernah mengembun itu sekarang mulai kabur.
"Apa hanya karna Janjimu kau mau bersamaku?" tanya Maxwell datar. Evelyne diam tak melepas pandangannya ke wajah tampan dingin Maxwell yang kali ini pasti kacau.
Saat Evelyne tak bicara senyum remeh Maxwell muncul. Tangannya terulur merapatkan kemeja Evelyne yang masih diam membisu.
"Atau .. Kau punya niat lain?" imbuhnya memberanikan diri untuk menatap manik abu Evelyne yang lagi-lagi membuat dadanya terasa sesak.
"Atau.. aku ingat. Kau ingin aku membantumu untuk menyelesaikan urusan keluargamu hingga kau melakukan hal seperti ini, begitu?" cecernya lagi sampai air mata Evelyne turun dan kali ini ia gak berkedip sama sekali membuat Maxwell frustasi tak bisa menahan pertanyaan itu lagi.
"KENAPAA?? KAU BISA KATAKAN PADAKU DAN AKU TAK PERLU SAMPAI BERHARAP LEBIH PADAMU!!! KAU HANYA AKAN MENAMBAH TEKANAN DALAM HIDUPKU. EVELYNEE!!" keras Maxwell dengan kedua tangan terkepal tapi tak berani terangkat karna akan hilang kendali nantinya.
Bukannya menjawab Evelyne tetap diam. Mulutnya terkunci seakan menjadi manekin yang tak bisa bicara.
"Kenapa? Apa kau memang senang mempermainkan perasaan orang lain? Kau senang. Ha??" imbuh Maxwell bersuara parau dan rendah.
Melihat Maxwell yang terus mempertanyakan perasaanya Evelyne mulai mengumpulkan tenaga untuk bicara.
"A..aku.. " lirih Evelyne dengan tatapan beralih pada kemeja Maxwell yang membekas darah kering. Ia jadi teralihkan kesana sampai tak melanjutkan jawabannya.
"Ini kenapa? Apa yang terjadi sampai kau berdarah?" tanya Evelyne meraba jejak darah di bagian dada Maxwell yang seketika geram langsung menepis tangan Evelyne yang kembali memeggangnya.
"Tetap saja seperti ini! Kau tak akan pernah mau mengatakan apapun padaku!" sarkas Maxwell lalu ingin pergi tapi Evelyne menahan lengan kekarnya.
"Maax! Katakan apa yang terjadi? Siapa yang melakukan ini padamu. Ha? dan.."
Tatapan keduanya beradu sampai Evelyne melihat pandangan kecewa Maxwell padanya.
"A..aku tak ingin kau terluka! Hanya itu saja!"
"Berapa lama lagi kau akan mengasihaniku? Katakan, hingga aku akan mempersiapkan diri," ucap Maxwell sampai lidah Evelyne keluh. Ia tak tahu harus bicara apa karna Maxwell juga tak menghiraukan ucapannya.
"A..aku tak mengasihanimu. Dan aku hanya ingin kau baik-baik saja seperti janjiku pada Leen yang.."
"Jadi hanya karna janji?" potong Maxwell dan Evelyne mengangguk dengan polosnya. Hal itu membuat senyum remeh Maxwell tercipta memandang rendah Evelyne seperti saat mereka bertemu pertama kali.
"Iya. Tapi aku.."
"Seharusnya kau tak ada disini!"
Deggg...
Seketika Evelyne terkejut dengan ucapan Maxwell barusan. Jantungnya seakan ingin keluar dengan tangan yang tadi memeggang kemeja Maxwell seketika jatuh begitu saja.
"M..Max!"
Ingatan Evelyne seketika berputar kembali pada makian setiap orang terutama manusia yang ada di Pura.
__ADS_1
"Kau tak layak hadir di dunia ini!!!
Kau yang membunuh Putrakuu!!!
Aku mengutukmuu. Sialaan!! Jangan ganggu kami lagii!!
Dasar ibliiss!!
Makian itu terasa jelas terdengar seakan terucap detik ini juga. Hatinya begitu sakit sampai menatap Maxwell saja Evelyne mulai redup dan beralih menunduk.
A..apa aku seburuk itu? Apa yang mereka katakan itu memang benar?
Batin Evelyne dengan air mata lolos begitu saja. Ntah kenapa saat Maxwell yang mengatakannya jadi beribu kali lebih sakit dari pada mendengar langsung dari semua korbannya dulu.
Sadar akan apa yang di katakan tadi Maxwell juga sampai diam karna ia hanya terbawa emosi tak berniat mengatakan itu.
"Maksudku.."
"Kau menyesal?" tanya Evelyne masih menunduk dengan kedua tangan terkepal erat. Matanya sampai merah berair membuktikan jika hatinya benar-benar terasa sangat sakit.
"Bukan itu maksudku!" gumam Maxwell rendah ingin memeggang bahu Evelyne yang mundur selangkah menjahuinya.
"Evelyne!"
Lirih Maxwell tapi tak ada suara lagi. Hanya kebisuan yang Evelyne berikan bahkan ini lebih membuat Maxwell jantungan.
Jirome yang tadi baru selesai mengurus keadaan di dalam Club sampai menatap para anggota disini dengan heran seakan bertanya apa yang baru saja terjadi?!
Tapi, para anggota hanya diam tak berani bersuara hingga Jirome berjalan ke arah mobil Maxwell dimana dua manusia itu tengah berhadapan.
"Tuan! Sebaiknya kita kembali sekarang karna kau belum istirahat!"
Maxwell yang mendengar itu segera membuka pintu mobil dengan pelan memeggang lengan Evelyne yang terasa dingin.
"Kita bicarakan ini nanti. Ayo pulang!" ajak Maxwell tapi Evelyne hanya diam.
Jirome jadi bingung tapi ia mulai mengerti kala melihat Evelyne terus menunduk tanpa mau memperlihatkan wajahnya yang sedang terluka.
Jika sudah emosi kau tak akan sadar apa yang kau lakukan Tuan! Pasti kau mengatakan sesuatu padanya sampai seperti itu.
Batin Jirome merasa cemas dengan kebisuan Evelyne. Lagi pula, Maxwell marah karna Evelyne bertindak ceroboh dan selalu main sendiri.
Padahal surat itu sudah Maxwell dapatkan lebih dulu sebelum beralih ke tangan Dawson yang tadi mabuk-mabukan karna hal itu. Rencananya setelah mengurus Fernandez barulah Maxwell bicara dengan Evelyne tapi wanita ini sudah lebih dulu menghadang bahaya.
Mungkin Evelyne lupa jika saat di Perusahaan kala itu Maxwell menyuruhnya menempelkan penyadap ke Jas Marcello hingga apa yang akan di lakukan pria itu pasti akan terdengar olehnya.
Cara bekerja Evelyne terlalu brutal dan nekat sedangkan Maxwell harus penuh perhitungan dan halus. Ia bekerja dalam diam karna tak ingin para musuhnya tahu ia sedang bergerak akan membuat tindakan lebih besar lagi.
...
__ADS_1
Vote and Like Sayang..