My Little Devil

My Little Devil
Ada kemajuan


__ADS_3

Siang ini Maxwell harus pergi ke Perusahaan. Jelas ia juga malas untuk berlama-lama di Kediamannya apalagi Violet selalu menawarkan sesuatu yang sama sekali tak ada niat untuk membicarakannya.


Hal itu membuat Violet sangat tertekan. Apalagi Evelyne merengek tak mau di tinggal sendiri dan ingin ikut dengan Maxwell yang rencananya tak ingin membawa Evelyne karna bocah itu masih dalam masa penyembuhan.


"Dad! Leen ikut!"


"Aku tak ada waktu," tegas Maxwell memasang Jas biru bermerek di tubuhnya dengan tampilan sudah begitu Perfect dengan Dasi terbelit rapi di leher kokohnya.


Evelyne yang sudah memakai Piyama anak-anak seusianya itu terus menatap kemana kaki Maxwell melangkah dengan rengekan yang sangat memusingkan.


"D..Dad! Leen ikut. Leen janji tak akan mengganggu Daddy bekerja."


"Jiorme!!" panggil Maxwell mengabaikan Evelyne yang tampak ingin duduk tapi bahunya masih sakit.


Jirome yang berdiri di depan Pintu segera mendekat karna panggilan tegas Tuannya.


"Iya. Tuan!"


"Tunda Jadwalku nanti malam."


"Jadwal pertemuan dengan F Crops?" tanya Jirome mengulang karna merasa tak percaya itu. Saat Maxwell diam dan tak menjawab pertanyaannya, Jirome langsung sadar jika Tuannya memang menunda pertemuan penting dengan Perusahaan F Crops yang termasuk Klien penting mereka.


Tak biasanya Maxwell menunda pekerjaan dan ini baru seumur-umur Jirome melihatnya.


"Kau.. Yakin? Tuan!" agak ragu dan berpikir.


"Menurutmu?"


"A.. Baiklah," jawab Jirome kala Maxwell sudah menatapnya dengan pandangan belati dan tusukan pedang itu.


Ia pergi ke luar kamar seraya melempar pandangan kasihannya pada Evelyne yang terus menatap Maxwell. Ia menyibak selimut itu lalu berusaha duduk dengan kondisi tubuh masih lemah.


Maxwell yang sudah siap dengan Stelan kerja dan Ponsel barunya itu langsung berjalan pergi ke arah pintu kamar.


Tapi. Lirikan mata tajamnya menangkap jika Evelyne ingin jatuh dari atas ranjang hingga dengan cepat kedua tangan Maxwell menangkap tubuh kecil itu dengan satu kaki ditekuk menahan bobotnya.


"D..Dad!"


"KAUU.."


Geram Maxwell menuai hawa membunuh pada Evelyne yang masih berani dan sangat keras kepala.


"Ajak Leen! Leen mau ikut!"


"Kau pikir dengan tubuhmu yang seperti ini kau tak akan menyusahkanku. Ha??" Tukas Maxwell kembali mendudukan Evelyne di atas ranjang.


Ia ingin pergi tapi Evelyne langsung memeluk lengannya erat bahkan langkahnya sampai terhenti.


"D..Dad! Leen janji tak akan menyusahkanmu," suara bergetar yang terdengar begitu pilu.

__ADS_1


Maxwell diam memejamkan matanya untuk tak emosi atau melepas bentakan dan sejenisnya.


"Leen tak akan membuat masalah. Leen akan patuh."


"Kau ingin patuh?" tanya Maxwell seraya berbalik memandang Evelyne yang mengangguk cepat.


"Iya. Leen janji akan patuh pada Daddy!"


"Baik. Buktikan janjimu," tegas Maxwell membuat Evelyne berpikir. Ia diam dengan pandangan polos begitu menghanyutkan.


"Dad! Leen.."


"Tetaplah disini! Saat pulang nanti aku akan membawakan apa yang kau mau!" sela Maxwell dengan intonasi suara datarnya.


"Leen hanya ingin ikut Daddy! Leen tak bisa jauh dari Daddy!"


"Kau berjanji akan patuh, bukan?" tanya Maxwell memperjelas kalimatnya.


Evelyne diam dengan tatapan serba salah dan tak rela. Ia selalu merasa dimana Maxwell maka disitu tempatnya. Tapi, jika Pria ini tak ada maka disini bukan Kediamannya.


"D..Daddy akan pulang-kan?"


"Hm."


"Daddy pulang-kan? Daddy berjanjilah pada Leen!" paksa Evelyne dengan pelukan mengerat ke lengan kekar Maxwell.


Tersirat rona sendu dan luka di manik abu bening ini dan Maxwell juga paham jika Evelyne takut kehilangan orang-orang yang ia sayangi.


"D..Daddy akan pulang-kan?"


Padahal Maxwell sendiri juga memandang telapak tangannya yang ingin menyentuh kepala Evelyne berbeda dari sebelumnya. Tapi, Maxwell tak melakukan itu hingga ia kembali menurunkan tangannya dengan kaku.


"Tidurlah! Katakan saja apa yang kau mau."


"Ice Cream rasa Coklat dan Strowberry." jawab Evelyne bersemangat.


Maxwell mengangguk ingin pergi tapi Evelyne menahan tangannya. Sontak wajah Maxwell langsung mengeras ingin murka tapi Evelyne segera turun dari ranjang berpeggangan dengan lengannya.


"Leen antar sampai ke Pintu depan!"


Ucapan diselingi cengiran kuda Evelyne yang menarik lengan Maxwell keluar dari kamar. Langkahnya memang tampak lemah tapi hawa bahagia itu tak bisa di tutupi.


Daddy sudah mau bicara banyak! Semalam Daddy juga mengobati luka di bahu Leen. Daddy pasti juga menyayangi. Leen!


Pikir Evelyne begitu merasa gembira. Langkahnya sedikit berjinjit membuat Maxwell hanya bisa menghela nafas berjalan dibelakang di samping Evelyne.


Saat tiba di dekat lift benda itu terbuka dan lagi-lagi memperlihatkan Violet bersama Kepala Pelayan Reamy yang masih setia menjadi kaki Nonanya.


Tatapan mata sipit Violet bergulir pada Evelyne yang hanya diam menatap lugu Kursi Roda Violet.

__ADS_1


"Bibik kenapa pakai Kursi itu?"


Semuanya hening. Maxwell tak berniat menjelaskan bahkan menatap saja tidak. Tentu Violet tak ingin Evelyne menjauh darinya.


"Sayang! Mommy memakai ini karna.."


"Kau bukan Mama Leen!" tukas Evelyne tak suka itu. Ia masih saja membangkang dengan keras membuat Violet diam beralih memandang Maxwell.


"Sayang! Kenapa kau tak bilang jika Evelyne tinggal disini?"


"Dimana ada Daddy disitu ada Leen! Memangnya kenapa jika Leen disini?" ketus Evelyne tak mau Maxwell di tatap penuh cinta seperti itu.


Ia menggenggam tangan kekar Maxwell yang membiarkan jemari kecil itu masuk di sela jari tangan besarnya.


Hal itu tak luput dari pengamatan Violet yang sungguh tak percaya jika Evelyne bisa sedekat ini dengan Maxwell. Padahal sebelumnya jelas Maxwell begitu kasar dan tak menerima kehadirannya.


"Kau hanya butuh waktu dan Mommy tahu."


"Dad! Ayo cepat pergi. Nanti jalan lupa pesanan Leen. Ya?!" ucap Evelyne tak mau meladeni Violet.


Kepala Pelayan Reamy mendorong kursi roda keluar karna tak tahan dengan aura intimidasi yang di sebar Tuannya.


Saat Violet sudah keluar dari Lift barulah Evelyne menarik tangan Maxwell masuk hingga tatapan tajamnya memantau Violet sampai Pintu Lift tertutup.


"Dad!"


"Hm."


"Dia itu siapa?"


"Aku tak tahu." jawab Maxwell asal dan seperti tak ingin membahasnya.


Evelyne diam lalu beralih memeluk kaki Maxwell yang hanya membiarkannya. Di larang-pun Evelyne akan tetap keras kepala.


"Dad!"


"Hm."


"Jangan pulang terlalu larut. Ya! Leen takut sendirian," gumam Evelyne yang selalu takut jika ia tertidur. Ia merasakan sakit yang begitu kuat dan kepalanya sangat pusing.


Maxwell diam sesaat lalu melihat jam di pergelangan tangannya. Ia tak akan sempat pulang cepat dan bagaimana jika Evelyne sudah berubah saat ia belum kembali?! Bisa-bisa satu Kediaman ini akan tewas karnanya.


"Kau ingin bermain!"


"Main apa?" polos Evelyne mengadah.


"Saat Tubuhmu mulai terasa panas dan aneh. Pergilah ke kamar mandi dan kunci Pintu itu rapat. Aku akan pulang membukanya."


Evelyne mengangguk tanpa tahu apa yang di maksud Maxwell. Yang jelas itu adalah Permainan yang mengasikan untuknya

__ADS_1


Vote and Like Sayang.


__ADS_2