
Sesuai dengan rencana yang sudah di tentukan. Hari ini prosesi pernikahan Maxwell dan Evelyne di langsungkan di pantai Phanamma yang begitu luas dengan penginapan elit di sekitarnya.
Berbagai bentuk hiasan sudah di pasang bahkan banyak sekali orang yang berdatangan memenuhi area yang telah di siapkan oleh staf dan anggota Maxwell yang berjaga.
"Tak ku sangka presdir Maxwell akan menikah lagi. Berarti dia benar-benar sudah bercerai dengan Nona Violet!"
"Yah. Dan aku sangat penasaran dengan siapa ia menikah?! Soalnya nama wanita itu sangat tak asing."
Desas-desus para tamu undangan yang telah digiring masuk ke area tenda mewah yang terpampang megah tak jauh dari pesisir pantai yang sudah dihiasi banyak bunga. Disini juga digantung berbagai pernik mengkilap hingga saat cahaya mentari datang dari arah timur maka mereka akan berkilau bak berlian di sepanjang langit.
Para media juga sudah datang tepat di area karpet merah yang sudah di bentang dengan para anak-anak yang berdiri di kiri kanan karpet memeggang buket bunga yang sangat indah belum lagi angin pantai yang segar membuat suasana begitu hangat dan meriah.
"Dimana Tuan? Ini sudah hampir 1 jam," gumam Gregor berdiri di samping Yello dengan stelan jas rapi begitu juga semua anggota yang tengah berkeliling.
"Acaranya akan di mulai dan pendeta juga sudah ada siap. Aku cemas ada masalah di gedung persiapan," timpal Yello sesekali mengarahkan para tamu untuk pergi ke tenda di depan altar dimana Tuan Fernandez berbicara dengan para kliennya.
Media yang tengah meliput detik-detik prosesi sakral ini tampak leluasa memperkenalkan semuanya. Decah kagum dekorasi dan kemewahan ini tak bisa dielakkan lagi dan yang jadi pertanyaan besar adalah, kenapa saat pernikahan pertamanya anak tunggal dari pengusaha ternama Fernandez itu tak semegah dan semeriah ini?!
"Apa kau melihat rombongan mempelai wanitanya?"
"Mungkin sebentar lagi datang."
Beberapa tamu yang sudah tak sabaran menunggu saling membicarakan soal konsep mewah acara ini. Mereka sangat mengusik Yello dan Gregor yang saling mengisyaratkan pada anggotanya untuk memperketat keamanan.
"Aku akan menghubungi, Tuan! Kau cari Hunter di tenda sana!"
"Aku mengerti," jawab Yello segera berpencar. Mereka tak terlihat seperti dalam masalah karna akan mengundang pikiran negatif semua orang disini.
Dawson dan Kaylo yang tadi baru datang di depan media sana menatap kagum tempat ini. Mereka tak sabar untuk melihat meriahnya acara ini.
"Tuan! Apa presdir sendiri yang mengundang anda?"
"Yah. Bukankah kalian terlibat konflik beberapa bulan lalu?"
Tanya mereka pada Dawson yang memang cukup aneh. Tak pernah rasanya pria tampan berkulit sawo matang ini mau menghadiri acara dari MCC karna keduanya cukup memanas.
"Apa tuan tahu siapa calon istri presdir Maxwell?"
"Sepertinya kalian cukup dekat."
Dawson yang mendengar itu tampak sangat tenang. Ia memberikan kartu undangannya pada staf penjaga yang memeriksa itu dan barulah mereka membuka jalan masuk ke dalam.
"Hubunganku dengannya memang cukup baik. Aku harap kalian tak mengacaukan suasana hatinya," jawab Dawson lalu meninggalkan media yang saling pandang. Mungkin akan terjadi tsunami sebentar lagi hingga pria itu bicara sangat manis.
Kaylo yang melihat kebingungan para media hanya acuh. Ia mengikuti Dawson menyapa beberapa klien bisnis mereka yang tampak masih saja terhipnotis akan kemewahan tempat ini.
Tak selang beberapa lama kemudian tiba-tiba saja datang segerombolan mobil mewah yang seketika menarik perhatian semua orang.
"Apa itu mereka?"
"Wowww!! Pengawalannya sangat ketat. Seberapa cantik wanita itu?!"
Decah para wanita dan gadis-gadis sosialita yang merapat ke area karpet merah yang ada di gerbang masuk ke pantai. Mereka berkerumun menantikan dua mempelai itu karna rasa penasarannya sudah begitu tinggi.
Saat para pengawal menjemput ke area mobil yang berhenti di dekat gerbang itu media langsung sigap memfokuskan kamera.
Mata mereka tak mau berkedip menunggu siapa yang keluar dari mobil itu. Jirome keluar lebih dulu diikuti Leonard yang berdiri di depan pintu mobil. Keduanya sudah rapi dan tampan menatap kamera yang seketika hening.
Namun, saat Jirome membuka pintu mobil dan sepatu Loafer pantofel mahal mengkilap itu menapaki karpet di bawahnya kehebohan-pun langsung terjadi.
"Wowww!!!"
"Presdiiir!!"
Decah dan teriakan para gadis yang tak bisa mengendalikan diri saat Maxwell sudah keluar dari dalam mobil dibaluti Toxedo berwarna hitam gelap dengan kemeja putih diberi model sangat cool dibagian dada bidangnya dan di tambah pemanis dasi kupu-kupu di area leher.
Model rambutnya yang maskulin dengan hawa keberadaan yang kuat itu menarik semua mata tertuju padanya bahkan Jirome merasa bangga berdiri di samping tubuh tegap Maxwell yang memiliki wajah tampan diatas rata-rata.
"Presdir! Kau sangat tampan seperti biasanya!"
"Yah. Bisa ceritakan bagaimana perasaanmu di hari penting ini?"
Tanya mereka pada Maxwell bahkan kilapan kamera itu sudah biasa tersorot padanya.
"Lebih dari yang kalian pikirkan!" jawab Maxwell datar dan ambigu tapi bagi yang sudah tahu tentang kisah cintanya pasti mereka akan melayang membayangkan makna kalimat itu.
"Apa anda bahagia dan.."
"Pertanyaan macam apa itu?" decah Jirome membuat mereka semua mulai gugup. Pasalnya kalimat Dawson tadi masih terngiang-ngiang di benak masing-masing.
"Ini acara pernikahan tuanku dan dia pasti sangat senang bahkan melebihi apapun."
"Senang tapi dia tak tersenyum sedikit-pun," gumam beberapa media yang ciut kala Jirome menyahut sangat tegas.
Karna tak ingin merusak suasana hatinya, Maxwell memilih untuk segera masuk ke dalam area pernikahan dimana banyak yang sudah menantinya di sana.
Ada Mis Oliver yang tampak berdiri di samping karpet bersama teman dan sekretarisnya. Wanita itu menyapa Maxwell dengan senyum ramah tapi Maxwell hanya menatap datar sekilas lalu pergi ke area altar dimana Yello sudah menunggu bersama Hunter.
"Cih, Selalu saja seperti itu," umpat para wanita di belakang Mis Oliver yang merasa kecewa. Nyonya Calibrey yang merupakan ibunya Oliver hanya bisa saling tatap dengan putrinya.
"Dia yang sudah memenjarakan Daddymu."
"Mom! Jangan mencari masalah lagi," gumam Mis Oliver karna tak berani untuk berbuat kotor lagi. Mr Plank sudah mendekam di dalam penjara karna kasus penyebaran dokumen perusahaan yang dulu ia lakukan.
Tapi, Nyonya Calibrey tampaknya belum bisa menerima itu. Ia sudah menyebarkan beberapa rumor tentang mempelai wanitanya Maxwell adalah selingkuhannya beberapa bulan lalu.
"Nyonya! Apa yang kau katakan tadi itu benar?"
"Yah. Dia adalah wanita yang sudah menghancurkan rumah tangga nona Violet. Parasnya sangat jauh berbeda tapi masih saja mau merusak rumah tangga orang lain," gunjing Nyonya Calibrey pada sosialita di dekatnya lalu melempar senyum puas pada Mis Oliver yang hanya bisa diam.
Tunggu saja. Akan ku hancurkan acara pernikahan ini sama seperti kau menghancurkan hidup kami.
Batinnya semakin puas menghasut setiap orang di dekatnya. Bahkan mereka mulai berbisik sesekali tampak terkejut.
"Wanita itu sangat buruk dalam segi apapun. Dia pernah menjadi simpanan para pria hidung belang di luaran sana!"
"Benarkah?? Aku sangat tak percaya itu!"
__ADS_1
Decahnya syok. Mis Oliver langsung menarik lengan Mommy-nya untuk menjahui kerumunan karna ini akan jadi masalah besar.
"Mom! Hentikan itu!"
"Kenapa? Kita akan berhasil membuatnya menyesal. Oliver," geram Nyonya Calibrey memeggang tas puluhan juta dolar di tangannya.
"Mom! Dia tak buruk dan kau akan sangat terkejut melihatnya."
"Oliver! Kau sendiri yang mengatakan jika wanita yang kau temui saat di perusahaan itu sangat urakan dan tak bisa berhias," decah Nyonya Calibrey membuat Mis Oliver pusing.
"Bukan berarti dia jelek. Mom! Aku.."
"Itu dia!!"
"Mempelai wanitanya sudah tiba!"
Suara desas-desus semua orang mengacaukan perdebatan ibu dan anak itu. Mata mereka terfokus ke arah mobil yang baru saja datang di kawal pasukan penjaga yang sama seperti tadi.
Maxwell yang melihat kedatangan mobil Evelyne segera menunggu di atas altar dengan jantung serasa mau lepas. Ini bukan yang pertama untuknya tapi ntah kenapa rasanya begitu gugup.
"Tuan! Kau gugup?" bisik Jirome berdiri di samping Maxwell yang hanya diam. Tapi, tuan Fernandez yang ada di belakangnya segera menepuk bahu Maxwell.
"Kau akan lebih gugup saat melihatnya!"
"Diamlah!" gumam Maxwell jengkel akan para pria yang sekarang menemaninya. Pendeta sudah berdiri di tempat yang tak jauh dari Maxwell menunggu wanita idaman itu datang.
"Siapa yang paling tampan disini?" tanya Maxwell tanpa menatap Jirome yang langsung paham.
"Kau. Tuan! Aku jamin Evelyne tak akan mengalihkan pandangan padamu. Jamin!"
"Cih, itu sudah pasti," angkuh Maxwell membuat Leonard ingin muntah. Walau itu benar tapi sulit baginya untuk mengakui.
Tak lama setelahnya suara-suara berisik tadi seketika hening. Begitu hening hanya terdengar suara ombak dan riak air di pantai tepat di belakang mereka.
Bagaimana mana tidak? Evelyne sudah berjalan anggun digandeng oleh Nyonya Meeiner dan seorang wanita paruh baya yang dulu menjadi Bubu bagi Leen dan sudah berdamai dengan masa lalu.
Gaun pernikahan ini begitu sempurna di tubuh jenjang Evelyne. Untaian ekornya panjang di pegang oleh anak-anak yang tadi menunggu kedatangannya sedangkan bagian wajah di tutupi oleh kain seperti jaring ringan yang di hiasi berlian murni.
"Mom!" lirih Evelyne yang berjalan agak kesusahan karna area intinya tengah masa darurat pagi ini.
"Sust! Berjalan dengan tenang karna ini kesalahan kalian juga," bisik Nyonya Meeiner terdengar kesal seraya memberi senyum pada para tamu yang menatap penasaran wajah di balik tubuh yang indah ini.
"Kenapa Gaunnya harus di ganti? Ini rumit!" rutuk Evelyne merasa jengkel.
Gaun tersebut memiliki lengan panjang dengan bordiran bunga. Tak hanya itu saja, desainernya juga menambahkan wedding veil pendek sederhana yang membuat pesonanya makin menawan.
Yang menjadi masalah adalah, gaun ini begitu tertutup bahkan bahunya di beri model mantel mengurai menyatu dengan ekor di belakangnya. Padahal Evelyne suka gaun yang kemaren.
"Dari bentuk tubuh dan hawanya dia begitu cantik. Apa benar wajahnya di tutupi itu karna rusak?!"
"Bisa jadi."
Bisik mereka penasaran sekaligus mengagumi gaun pernikahan Evelyne yang sangat anggun dan mewah. Para pria disini sudah membayangkan betapa indahnya pahatan dibalik kain yang menutupi wajah wanita itu sekarang.
"Mom! Bisa di percepat jalannya?"
"Kau bukan sedang lomba lari. Nak! Tetap tenang. Hm?" jawab Nyonya Meeiner sangat sabar mengiring Evelyne mendekati altar.
"Serahkan padaku!" ucap Maxwell mengambil alih tangan Evelyne dari genggaman Nyonya Meeiner yang tersenyum menyerahkannya.
Hal itu terlihat sangat manis di mata mereka semua. Maxwell mengaitkan lengan Evelyne ke lengannya hingga mereka berjalan berdua menuju altar yang sudah menanti.
"Sayang! Kenapa cara berjalan mu sedikit berbeda. Hm?" goda Maxwell memantik kemarahan Evelyne yang segera meremas lengannya kuat.
"Aku sudah menyerah tadi pagi tapi kau masih melanjutkannya."
"Aku sudah katakan sebelumnya. Kau yang terlalu keras kepala," jawab Maxwell tanpa dosa menaiki altar bersama Evelyne yang ia bantu berjalan dan sesekali memeggangi pinggir gaun ini agar tak terinjak saat berjalan.
"Silahkan. Tuan, Nona!" ucap pendeta yang sudah siap di hadapan mereka.
Keduanya di arahkan untung saling berhadapan dengan anak-anak yang tadi memeggangi ekor gaun Evelyne berdiri di dekat altar masih memeggang buket yang sama.
"Kenapa aku jadi iri?"
"Lihat wajah. Presdir! Dia terlihat tak berhenti memperhatikan calon istrinya."
"Apa memang secantik itu?"
Bisik mereka semua membuat Nyonya Calibrey memanas. Ia hanya menantikan wajah buruk wanita itu terlihat oleh semua orang.
"Baiklah. Acaranya ini akan kami mulai!" ucap MC yang membuat suasana hening dan sangat sakral.
Hembusan angin ini terasa begitu segar dan hangat seakan merestui janji kedua mahluk tuhan ini.
"Maxwell Zean Fernandez. Bersediakah anda menikahi Nona Evelyne dan menerima setiap keadaan baik dalam susah, senang, kaya atau miskin dan sakit atau sehat di hadapan yang kuasa?" suara pendeta lantang dan Maxwell menatap tegas dan yakin Evelyne yang juga samar-samar melihat wajah tampan Maxwell dari balik kain di wajahnya.
"Saya bersedia!" tegas Maxwell dan menimbulkan getaran di hati keduanya. Evelyne juga merasa khidmat dan gugup karna ia baru pertama kali melakukan ini.
"Nona Evelyne! Bersediakah anda menerima Tuan Maxwell Zean Fernandez untuk menemanimu baik susah, senang dalam keadaan apapun bahkan menyerahkan dirimu secara fisik dan batin padanya?"
Evelyne diam. Jantungnya berdebar hebat bahkan tangannya mulai berkeringat dingin. Ia merasa senang karna hari ini ia bisa menduduki tahta tertinggi di hati Maxwell.
Melihat Evelyne yang diam mereka semua jadi saling pandang. Nyonya Meeiner menggenggam tangan Tuan Fernandez di sampingnya meredam kegugupan.
Bagaimana kalau Evelyne tak tahu maksud pendeta itu? Maklum saja dia sangat misterius dan sedikit idiot.
"Lihat! Dia diam karna pati malu," bisik Nyonya Calibrey pada wanita di sampingnya dan sontak mereka mulai saling menduga.
"Nona Evelyne!" panggil pendeta pada Evelyne yang tersentak dari lamunannya. Ia tak sadar karna terlalu asik berimajinasi.
"M..Max!" lirih Evelyne merasa suasana mulai berisik. Maxwell mengambil nafas dalam segera menggenggam kedua tangan lentik itu dan sontak semuanya kembali membisu.
"Nona Evelyne! Bersediakah anda menerima Tuan Maxwell Zean Fernandez untuk menemanimu baik susah, senang dalam keadaan apapun bahkan menyerahkan dirimu secara fisik dan batin padanya?"
"Aku bersedia! Sangat bersedia!" jawab Evelyne buru-buru disertai anggukan cepatnya. Sontak hal itu terlihat menggemaskan membuat Nyonya Meeiner dan para anggota Maxwell tersenyum.
"Baiklah. Karna janji yang kalian buat sudah saling menerima satu sama lain maka mulai detik ini kalian sudah resmi MENJADI SUAMI ISTRI!"
__ADS_1
Prokkk...Prokkk...
Tepukan meriah dari mereka semua khusunya Jirome yang menjadi orang pertama menyuruh semua orang bertepuk tangan lebih keras.
"Selamat Tuaan!!!"
"Selamat untuk pernikahannya!!" teriak Gregor dan para anggota yang lain sampai ikut merasakan kebahagiaan ini.
Mereka seakan sudah menjadi satu keluarga utuh. Terbukti saat keduanya saling bertukar cincin maka semua anggota langsung bersorak melempar jas mereka ke atas membuat keriuhan tapi juga tawa bahagia para tamu yang jadi lupa akan gosip tadi.
"Cium!!!"
"Ciumm!!!"
Sorak mereka heboh bahkan Jirome sampai memimpin paduan suara di depan altar. Hal itu terlihat konyol tapi ia sudah begitu bahagia sampai tak peduli pandangan orang lain padanya.
"Cium Evelyne!!"
"Jangan malu-malu!!" teriak Jirome membuat Maxwell segera meraih pinggang ramping itu merapat ke arahnya.
"Kau ingin berciuman disini?" tanya Maxwell menggoda Evelyne yang hanya diam saja. Ia bingung kenapa semua orang menyuruh mereka berciuman padahal kemaren-kemaren pada malu-malu.
"Haiss.. Cepatlah buka kain itu. Aku ingin melihat wajahnya," gumam mereka semua jadi semakin penasaran.
Mata mereka tak berkedip saat Maxwell mulai menaikan ujung kain itu ke atas dan perlahan-lahan bagian bahu Evelyne terlihat.
Leher jenjang yang putih bersih dan bibir yang merah dengan bentuk yang seksi dan menggoda. Bahkan para pria disini langsung menelan ludah kala satu persatu bagian wajah Evelyne terlihat hingga..
Degg...
Mata mereka hampir saja jatuh melihat wajah yang tadi katanya buruk dan menyedihkan nyatanya seperti seorang dewi. Bulu mata lentik dengan netra abu indah itu bak galaksi duniawi yang tengah menenggelamkan semua orang dalam pesona tajamnya.
Maxwell-pun sama. Ia sampai tak berkedip menatap wajah cantik Evelyne yang biasanya tampil polos sekarang sudah diberi riasan yang sangat mempertajam karakter matanya.
"Cantik!"
"Itu sempurna!"
Decah mereka tanpa sadar mematung. Nyonya Calibrey jangan di tanya, ia sudah terkena serangan jantung mendadak melihat Evelyne yang berbeda dari dugaannya.
"I..itu.."
"Mom! Aku sudah mengatakannya, bukan?!" umpat Mis Oliver tak tahan lagi hingga ia pergi dari sini. Suasana yang penuh pergunjingan tadi berganti dengan kekaguman dan terhipnotis akan sepasang mahluk di atas altar sana.
Cup..
Mata Maxwell melebar saat Evelyne duluan menciumnya. Hal itu membuat wajah tampannya merah dan begitu juga semua orang yang menyaksikannya.
"S...Sayang!" lirih Maxwell meraba dadanya yang berdebar hebat mendapat kecupan manis dari bibir seksi ini.
Evelyne menatap geli rona merah di pipi Maxwell yang membuat semua orang disini salah tingkah.
"Jangan pasang wajah seperti itu," decah Evelyne menutup kedua pipi Maxwell karna tampak semakin tampan.
Shitt. Maxwell tak bisa menahan gejolak perasaan di dalam dirinya lagi hingga memeluk erat Evelyne yang hari ini sangat menyihir mata semua orang.
"Ouhh.. Presdir terlihat berjuta kali lebih bahagia dari pernikahan sebelumnya."
"Keduanya begitu serasi."
Kagum mereka semua bertepuk tangan mulai masuk dalam rona kebahagiaan pasutri itu. Saat media meliput acara ini ingin mendekat tiba-tiba saja terdengar suara tangisan bayi di area mobil.
"Astaga!" pekik Nyonya Meeiner mengejutkan mereka semua. Maxwell langsung menatap Evelyne yang langsung sadar jika ia meninggalkan Baby Leen di dalam mobil tadi.
"Baby tadi ketiduran. Aku lupa membawanya!"
"Kau.." kesal Maxwell tak dapat bicara lagi. Ia berlari turun dari altar menuju area mobil membuat semua tamu bingung tapi untung saja tiba-tiba Jack datang dengan sumber tangisan tadi ada dalam gendongannya.
"Tadi aku melihat Nona kecil di atas kursi mobil. Tuan!"
Sontak Maxwell dengan cepat mengambil alih Baby Leen yang sudah menangis lantang sampai wajahnya merah.
"Susst!! Tenanglah, Baby!" bujuk Maxwell fasih menggendong si kecil itu sampai tangisnya reda dan hanya tersisa sesenggukan yang menggemaskan.
Maxwell membawa Baby Leen ke arah Evelyne yang merasa bersalah setelah meninggalkan bocah itu tadi.
"Dia tak apa-apa-kan?" tanya Evelyne menatap wajah sembab putrinya yang di bawa Maxwell naik ke atas altar.
Wajah imut cantik menggemaskan itu mampu menghipnotis mereka tapi sayangnya Baby Leen hanya ingin memandang wajah tampan Daddnya.
"Max! Tadi dia tidur, aku lupa membawanya keluar!"
"Untung saja Jack datang tepat waktu. Jika tidak, aku akan mengurung mu!" geram Maxwell pada Evelyne yang hanya memberi senyum tanpa dosanya.
"M..Maaf Presdir. Tapi itu.."
"Dia putriku dan Evelyne!" tegas Maxwell santai membuat semuanya langsung memekik tak percaya. Evelyne tersenyum menganggukinya bangga karna dengan itu semua orang tak akan mengganggu suaminya lagi.
"Dia putri kebanggaan Maxwell dan Aku istri kesayangannya. Benarkan, Max?" sombong Evelyne tanpa malu atau segan.
Maxwell mengangguk menatap mereka dengan tegas dan serius.
"Namanya Aleena Zean Fernandez!!" Bangga Maxwell menunjukan putrinya pada semua orang. Ia tak akan main-main dalam urusan komitmen dan akan terus membuat keluarga kecilnya jauh dari topik miring.
"Aku sangat mencintai istri dan anakku dan kelak jika ada yang berani mengusiknya jangan salahkan takdir buruk untuk itu!!!"
"Yaah!!! Dia nona kecil kamii!!" sorak para anggota tak kalah mengakui hal itu. Mereka serius dengan ucapannya membuat mereka jadi memucat.
Sementara Dawson, ia menatap Maxwell dalam. Selama ini kesalah-pahamannya hanya buta dan tak berdasar. Bertemu Evelyne di club saat itu membuatnya sadar jika Maxwell memang bukan pemain wanita.
Kau pantas mendapatkan kebahagiaan seperti ini karna kau tak pernah merusak kebahagiaan siapapun. Max!
Kau pria yang tulus dan bertanggung jawab. Hanya saja tak semua pria bisa menerima keberhasilan mu dalam memeggang prinsip.
Kau tak pernah bermain api di dalam rumah tanggamu sendiri walau aku sering memancing mu dengan wanita murahan di luar sana.
Vote and Like Sayang..
__ADS_1
TAMAT...
Besok kalau nggak ada halangan kita launching novel baru ya say 🥰 sinopsis malam ini