
Saat ini Evelyne sudah ada di Rumah Sakit. Rencananya ia ingin menemui Dokter Karren seorang diri tetapi tanpa sengaja bertemu dengan Nyonya Meeiren yang kebetulan tengah berbicara dengan Dokter Karren masalah Violet.
Wanita paruh baya dengan wajah cantik dan tatapan hangat itu menyambutnya dengan lembut. Tapi, Nyonya Meeiner tersentak kala melihat wajah Evelyne yang tak lagi memakai Masker.
Sungguh ini ciptaan Tuhan yang sempurna. Decah kagumnya tak berhenti menatap manik abu tajam Evelyne yang hanya memandangnya datar.
"Kau Evelyne?"
"Hm. Apa hasilnya sudah keluar?" tanya Evelyne To The Poin dan tak mau basa-basi.
Nyonya Meeiner beralih pada Dokter Karren yang mengangguk membuka laci Mejanya hingga Amplop putih dengan logo Rumah Sakit itu ia sodorkan pada Evelyne.
"Ini hasilnya! Nyonya menyuruh kami bekerja lebih cepat dan hasilnya juga jelas dan benar!"
"Terimakasih. Dokter!" ucap Nyonya Meeiner membiarkan Evelyne mengambil Amplop medis itu. Awalnya Evelyne terlihat kebingungan bagaimana cara membukanya? Ia ingin mengoyak benda itu tapi untung saja Nyonya Meeiner segera merampasnya cepat.
"Kau bisa saja merobeknya. Nak!"
"Bagaimana cara membukanya?" tanya Evelyne dengan wajah tanpa exspresi tapi matanya benar-benar polos.
Senyum tipis Nyonya Meeiner tertuai ringan segera membuka Amplop medis itu mengeluarkan secarik kertas dan memberikannya pada Evelyne.
"Ini hasilnya!"
Evelyne meraih kertas itu dan menatap deretan angka dan huruf yang membuat dahinya mengernyit. Aku tak mengerti apa maksudnya dengan tanda-tanda ini?
"Kau bisa membaca?" tanya Nyonya Meeiner kala Evelyne terlihat kebingungan.
"Bisa. Tapi, apa maksud dari angka-angka ini dan kenapa banyak sekali?"
"Itu hasil pencocokan DNA dari kedua Pasien. Keduanya memiliki DNA yang sama bahkan bisa di katakan Positif ayah dan anak!"
Mendengar itu Evelyne terdiam. Ia menatap nanar kertas ini dengan pikiran sudah melayang jauh. Berarti benar, Tuan Marcello adalah Ayah dari Violet. Lalu kenapa bisa dia terdampar di Keluarga Fernandez? Apakah Maxwell juga anak kandungnya atau bukan?
"Nak! Kau baik-baik saja?" tanya Nyonya Meeiner menyentuh bahu Evelyne yang melipat kembali kertas itu dan memasukannya ke dalam Kemeja.
Dokter Karren mengalihkan pandangan kala Evelyne dengan lantang menyimpan kertas itu di Bra-nya. Begitu juga dengan Nyonya Meeiner yang juga terkejut antara geli dan gemas melihat tingkah polos Evelyne.
"Kau menguji DNA siapa? Apa mereka Ayahmu?"
"Bukan!" tegas Evelyne tapi ia menatap wajah Nyonya Meeiner lama. Mata wanita ini coklat dengan porsi wajah pas. Kalau di lihat-lihat dia agak mirip dengan Ibunya Maxwell.
"Ada apa? Kau bisa menceritakan masalahmu padaku dan siapa tahu aku bisa membantumu. Nak!"
"Apa kau punya adik?" tanya Evelyne dan Nyonya Meeiner langsung bersitatap dengan Dokter Karren. Alhasil Pria itu pamit keluar membiarkan Nyonya Meeiner mengiring Evelyne ke Sofa panjang santai di Ruangan ini.
"Kenapa bertanya seperti itu. hm?"
"Aku pernah melihat orang yang agak mirip denganmu," jawab Evelyne tak berhenti mengamati wajah wanita ini.
"Benarkah? Dimana dia?"
"Sudah tiada!" lugasnya sontak mengejutkan Nyonya Meeiner yang hanya tersenyum teduh mengusap kepala Evelyne untuk kesekian kalinya.
"Aku memang punya Adik tak beberapa jauh di bawahku. Tapi, dia sudah menghilang beberapa tahun lalu bahkan bisa di katakan kami berpisah pada saat masih remaja."
"Kenapa bisa hilang?" tanya Evelyne melemahkan pandangannya. Ia menikmati belaian tangan Nyonya Meeiner ke kepalanya sampai ego Evelyne turun perlahan.
"Saat itu dia ingin di jodohkan. Tapi, nyatanya dia sudah punya kekasih dan mereka berdua melarikan diri. Mungkin sekarang mereka sudah bahagia," jawab Nyonya Meeiner sendu. Terlihat jelas ia sangat terpukul akan hal itu.
"Bisa aku lihat Fotonya?"
"Foto?"
Evelyne mengangguk dengan pandangan yang hangat. Nyonya Meeiner sangat lemah di tatap lembut oleh Evelyne karna ia memang begitu menyukai anak Perempuan.
"Aku punya. Tapi hanya saat remaja. Tunggu sebentar, Nak!"
"Hm."
Evelyne menunggu Nyonya Meeiner mencari Foto adiknya di Galery Ponsel mahal itu. Ia sangat tak sabar untuk melihat apa benar itu Mommynya Maxwell atau orang lain?!
__ADS_1
"Ini.. Tapi tak begitu jelas," ucapnya menyodorkan Ponsel itu ke arah Evelyne yang menatapnya lekat.
Terlihat seorang Gadis belia dengan rambut sebahu dan tubuh semampai lebih tinggi dari Gadis di sampingnya. Kedua wanita ini memakai Piyama dengan satu Warna Pink dan satu lagi Warna coklat.
"Dia yang memakai Piyama Coklat. Fotonya agak buram karna kami sedang tak serius."
"Apa tak ada Foto lain?" tanya Evelyne mempertajam penglihatannya.
"Sayangnya tidak. Itu Foto yang tersisa karna Kedua Orang tuaku marah besar atas kepergiannya yang mempermalukan Keluarga kami Jadi semua barang-barangnya di musnahkan dari Kediaman."
Penjelasan itu membuat Evelyne gusar. Ia yakin agak Familiar dengan senyum dan postur Tubuh Wanita ini.
"Emm.. Bagaimana kalau nanti kita bertemu lagi? Aku ingin menunjukan sesuatu padamu!"
"Bisa. Kau bisa menemuiku kapanpun, Cantik!" puji Nyonya Meeiner mencubit gemas pipi putih lembut Evelyne yang merasa senang dengan sentuhan Wanita ini.
"Besok aku ke sini. Kau menunggu-kan?"
"Iya. Apa kau punya Ponsel?" tanya Nyonya Meeiner kesulitan menghubungi Evelyne.
"Tidak punya?"
"Kalau begitu. Ayo kita beli!" ajak Nyonya Meeiner menggandeng lengan Evelyne lalu berdiri. Ia mengiring Evelyne keluar dari ruangan ini hingga dua Pengawal Nyonya Meeiner menghampiri mereka.
"Nyonya!"
"Carikan aku satu Ponsel baru dan sudah bisa langsung di gunakan!" titahnya mutlak dan salah satu dari mereka langsung pergi.
Evelyne merasa jika Nyonya Meeiner terlalu baik padanya. Padahal jelas jika apa yang ia lakukan tak ada untuknya bagi Wanita ini.
"Kau ingin mengajakku kemana?"
"Belanja! Aku lihat pakaianmu selalu kebesaran dan terlalu Laki," kelakar Nyonya Meeiner membawa Evelyne keluar dari Rumah Sakit.
Mereka selalu berhasil menjadi pusat perhatian bahkan tak segan ada yang memotret dalam diam. Apalagi Nyonya Meeiner bukanlah orang yang sembarangan dan mereka juga kenal dengan Evelyne yang merupakan Wanita selingkuhan Presdir Maxwell di berita itu.
Nyonya Meeiner juga bukan orang yang bodoh. Ia tahu Evelyne dekat dengan Maxwell dan bisa saja ada sesuatu di balik kedatangan wanita ini ke Rumah Sakit.
"MEC?" tanya Evelyne yang mendapat anggukan dari Nyonya Meeiner.
Mereka berjalan santai ke arah Mall yang tak jauh dari Rumah Sakit ini di tengah keramaian yang tak sempit sama sekali.
"Yah. Apa hubunganmu dengannya?"
"Apa dia berniat mencari informasi padaku?"
Batin Evelyne sadar akan hal itu. Niat baik Nyonya Meeiner mulai ia ragukan tapi sedetik kemudian Evelyne tersentak kala Nyonya Meeiner menghentikan langkahnya tepat di dekat Bangku Taman di pinggiran jalan santai ini.
"Nak! Jangan berpikir aku hanya memanfaatkan-mu. Itu tak benar, aku hanya ingin tahu apa Scandal itu benar atau tidak," segan Nyonya Meeiner tak mau Evelyne berburuk sangka padanya. Ia benar-benar ingin tahu apa Evelyne yang menyebabkan Rumah Tangga Putrinya hancur atau tidak.
"Jika aku memberitahumu apa kau akan membantuku?"
"Yah. Jika kau tak menjawab-pun aku akan tetap membantumu," jawabnya tulus menggenggam satu tangan lentik Evelyne yang berusaha mencari kebohongan di netra coklat hangat ini tapi tak jua menemukannya.
Melihat Evelyne yang diam. Nyonya Meeiner segera mendudukan Evelyne ke Bangku di sampingnya. Ia mengisyaratkan pada satu Pengawal di belakangnya untuk mengamankan situasi agar tak ada yang mendengar mereka.
"Ceritakan padaku! Aku berjanji tak akan menyalahkanmu!"
"Kau tahu Jam tangan yang ku jual kemaren?" Tanya Evelyne dan mendapat anggukan dari Nyonya Meeiner.
"Itu milik Maxwell!"
"Berarti kalian tinggal sekamar dan.."
"Iya. Tapi, dia Pria yang baik!" sela Evelyne tak ingin Nyonya Meeiner menyalahkan Maxwell.
"Maksudmu?"
"Aku dan dia hanya terjebak perjanjian! Aku bersamanya karna harus menepati janjiku pada Leen kecil yang merupakan anak angkatnya dulu. Bisa di katakan kami punya tujuan masing-masing," jelas Evelyne memang sulit di pahami oleh Nyonya Meeiner.
Tapi yang jelas. Posisi Maxwell adalah yang utama di mata Evelyne yang terlihat begitu mengistimewakan Pria itu.
__ADS_1
"Lalu?"
"Aku tak tahu apapun tentang Dunia ini karna aku tak pernah keluar dari kamarku. Saat bersamanya aku selalu mencoba mencari tahu berbagai hal dan termasuk menggodanya!" ujarnya tanpa segan seraya menyelipkan senyum gelinya.
"Apa kalian saling mencintai?"
"Emm.. Ntahlah. Yang jelas aku selalu ingin dia baik-baik saja," jawab Evelyne tersenyum hangat saat membayangkan wajah kesal Maxwell saat ia mengganggunya. Itu kebahagiaan tersendiri yang ia rasakan.
"Apa dia pernah menyentuhmu?" rasa penasaran Nyonya Meeiner membawa ke pertanyaan itu.
"Em.. Iya."
Degg..
Nyonya Meeiner tersentak bahkan ia sampai tak percaya akan hubungan Maxwell dan Evelyne sejauh ini.
"Tapi, itu hanya karna aku menggodanya. Dia selalu menolak bahkan melarikan diri tapi aku memaksanya, sangat menyenangkan melihat wajahnya merah dan frustasi melihatku!" kelakar Evelyne sampai senyam-senyum sendiri.
Nyonya Meeiner sudah berkeringat. Evelyne sangat lantang membuka aibnya sendiri dan tak ada rasa malu sama sekali.
"Kau tahu?"
"A.. Iya?" tanya Nyonya Meeiner kembali menatap wajah bahagia Evelyne.
"Dia itu sangat susah tersenyum apalagi banyak bicara. Tapi, saat bersamaku aku terus memancingnya untuk marah agar hidupnya lebih ramai. Pernah aku mengacaukan satu Kota dan mengaku jika aku dekat dengannya. Padahal saat itu dia mengusirku dari Perusahaan," papar Evelyne terkikik sendiri sampai Nyonya Meeiner ikut tersenyum melihat raut senang Evelyne menceritakan tentang dirinya.
Jujur ia tak melihat ada niat buruk Evelyne pada Maxwell ataupun Violet. Yang di lakukan wanita ini murni karna hati dan tanggung jawabnya sendiri.
"Setelah tujuanmu tercapai kau ingin kemana?"
Satu pertanyaan itu membuat wajah Evelyne yang tadi senang seketika berubah nanar. Ia seperti bimbang dan tak tahu harus apa.
"Apa kau masih ingin bersama Maxwell?"
"Hm. Tapi, aku tak ingin menambah masalahnya!" jawab Evelyne yang sadar betul jika kehidupannya terlalu rumit dan tak aman.
"Jadi? Setelah memastikan dia mana kau akan pergi?"
"Iya. Aku harus memastikan jika masalahnya sudah selesai dan dia akan baik-baik saja. Setelah itu barulah aku pergi," gumam Evelyne menatap jauh ke depan.
Apa ia siap? Tapi, Maxwell selalu terganggu dengan keberadaanya. Ia harus cepat menyelesaikan semua ini.
"Kau yakin ingin pergi?"
"Untuk sekarang tidak, aku harus mencari Surat Rumah mendiang Ibunya. Maxwell!" jawab Evelyne menatap wajah hangat Nyonya Meeiner yang tertarik untuk menyelesaikan tujuan Evelyne.
"Apa yang harus aku bantu?"
"Katakan pada Suamimu agar jangan ikut campur urusannya dengan Dawson!" tegas Evelyne dan itu mengejutkan Nyonya Meeiner yang tak tahu apa-apa soal permusuhan Maxwell dan suaminya.
"M..maksudmu?"
"Dia menyebar berita palsu tentang Mobil keluaran MEC. Padahal, Mobil Maxwell justru lebih baik dari Perusahaan mereka dan penyebaran itu di bantu oleh Suamimu Fernandez!"
"Kenapa Suamiku melakukan itu? Dia.." Nyonya Meeiner benar-benar tak menyangka akan hal itu.
Kemaren Tuan Marcello dan sekarang Suaminya? Apa mereka memang sudah hilang akal sampai gelap mata seperti ini?!
"Aku mengatakan padamu karna tak ingin semuanya terlambat. Maxwell pasti tak akan diam apalagi aku juga akan selalu membantunya!" tegas Evelyne tak main-main dengan ucapannya barusan.
"Apa yang harus aku lakukan? Suamiku orang yang keras kepala. Dia tak akan mendengarkan siapapun jika sedang marah," gumam Nyonya Meeiner gusar.
"Kau cukup memberi tahuku apa saja yang dia lakukan. Saat berhubungan dengan Maxwell kau langsung mengabariku dan aku akan mengantisipasinya!"
"Aku takut dia akan melukaimu. Nak! Dia orang yang nekat!" cemas Nyonya Meeiner mengkhawatirkan Evelyne yang tak takut sama sekali.
"Prioritasku itu Maxwell! Jika aku mati tak akan ada yang menangisi, tapi jika dia tiada. Semua Karyawan Perusahaan dan semua anggotanya bergantung di lehernya!" ucap Evelyne benar-benar membuat Nyonya Meeiner kagum.
Jika di bandingkan dengan Violet. Evelyne jauh lebih pantas bersanding dengan Pria seperti Maxwell.
Vote and Like Sayang..
__ADS_1