My Little Devil

My Little Devil
Kepergian Evelyne!


__ADS_3

Setelah bertolak dari Club dan sekarang sudah sampai ke perusahaan dengan suasana yang berbeda. Sedari tadi Evelyne diam tak mengeluarkan satu patah katapun bahkan saat Maxwell bertanya apa dia sudah makan atau belum-pun tak ada jawaban dari Evelyne..


Tentu hati Maxwell semakin tak enak dan gelisah. Ia berusaha untuk mengajak Evelyne berkomunikasi tapi wanita itu hanya diam dengan tatapan kosongnya.


"Kau atau aku mandi lebih dulu?" tanya Maxwell yang sekarang ada di dekat ranjang. Ia menatap Evelyne yang berdiri di dekat jendela kamar menatap ke luar sana.


Jujur Maxwell merasa cemas karna ia ingat dengan apa yang baru saja terjadi. Ia takut Evelyne menyalah artikan ucapannya barusan.


"Baiklah. Aku akan mandi lebih dulu!" gumam Maxwell melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Di dalam sana Maxwell mematung di depan wastafel.


Ia segera membasuh wajahnya dengan air dingin untuk menenangkan gejolak batin yang membuncah.


Aku hanya mengkhawatirkan-mu. Evelyne! Aku tak berniat mengatakan apapun yang melukaimu.


Batin Maxwell kelut. Ia sejenak menenagkan dirinya lalu segera melakukan ritual mandi yang harus di lakukan karna tubuhnya sudah lengket apalagi bekas darah Nyonya Meeiner tadi masih ada di kemejanya.


Setelah beberapa menit kemudian Maxwell baru keluar dari kamar mandi dengan handuk melingkar ke pinggang kekarnya dengan satu tangan mengusap rambutnya yang basah dengan handuk kecil seperti biasa.


Pesonanya tak berkurang sama sekali bahkan semakin menggila. Helaan nafas lega Maxwell muncul kala melihat Evelyne sudah berbaring di atas ranjang memunggunginya.


Tak ingin berlarut-larut dalam suasana seperti ini, Maxwell segera pergi ke ruang ganti dengan lirikan ekor mata Evelyne yang mengamatinya.


Mata Evelyne memanas kala beberapa saat kemudian Maxwell keluar dengan membawa pakaian untuknya sedangkan tubuh kekar sempurna itu hanya memakai celana pendek selutut tanpa atasan hingga dada bidangnya di pertontonkan.


"Ganti pakaianmu!" suara datar Maxwell tapi sangat perhatian. Ia duduk di tepi ranjang tepat di dekat paha Evelyne yang menutupi wajahnya dengan rambutnya sendiri.


Melihat Evelyne yang masih diam memancing Maxwell untuk melakukannya sendiri. Ia dengan pelan melepas kemeja Evelyne yang tak memberontak sama sekali.


Justru Maxwell tahu Evelyne tengah menahan tangisan sampai tak mau menunjukan wajah sembabnya.


"Maaf!" gumam Maxwell beralih mengusap lengan Evelyne yang merah karna ia cengkram tadi. Usapan hangat itu Maxwell berikan dan sesekali menciumnya membuat bibir Evelyne semakin bergetar.


"Maafkan aku. Hm?" imbuh Maxwell mengusap kepala Evelyne yang tak lagi bisa menahannya. Ia langsung bangkit berhambur memeluk Maxwell dengan tangisan yang untuk pertama kalinya terdengar.


"M..Maax hiks!"


"Maafkan aku. Aku hanya cemas jika sampai kau terluka di sana. Hanya itu saja!" bisik Maxwell mengusap kepala Evelyne yang menangis di dadanya.


Evelyne memeluk erat punggung kekar Maxwell yang merasakan betul tubuh Evelyne bergetar karna isakan berat itu.


"M..Maax hiks. M..maaf!"


"Suust. Sudah! Jangan menangis lagi!" gumam Maxwell mengusap punggung Evelyne yang justru semakin mengencangkan isakannya. Ia sampai membasahi dada bidang Maxwell yang hanya membiarkan itu semua.


Tapi, pelukan Evelyne terasa begitu lekat dan kuat. Maxwell yang seharusnya istirahat setelah melakukan donor darah tadi sekarang mulai merasakan pusing dan mual.

__ADS_1


Bukan tanpa sebab itu terjadi. Ia menyumbangkan tiga kantong darah sedangkan ia tak menjaga pola makannya sehabis melakukan itu, alhasil pandangannya sampai berkunang dan di sadari oleh Evelyne.


"M..Max!"


"Ayo tidur!" ajak Maxwell tenang tapi tiba-tiba saja pandangannya berputar hingga nafas Maxwell sedikit berat.


Sontak Evelyne panik sampai ingin turun dari ranjang tapi Maxwell menahan pinggangnya. Untuk pertama kalinya Evelyne melihat wajah tampan ini pucat karna memang ia sudah melampaui batas tubuhnya.


"K..kau belum makan?" tanya Evelyne menangkup rahang tegas Maxwell yang tak bernafsu makan karna Evelyne juga tak ingin bicara dengannya tadi.


"Aku tak apa!"


"K..kita ke rumah sakit. Ya?" bujuk Evelyne tapi Maxwell hanya tidur disini. Ia perlahan membaringkan tubuhnya di samping kanan Evelyne lalu menarik tubuh wanita itu dalam pelukannya.


"Max! Kau sakit?"


"Tetap seperti ini!" gumam Maxwell memejamkan matanya seraya memeluk hangat Evelyne yang diam dengan wajah terbenam ke dada bidang kokoh ini.


Ia sangat cemas dan khawatir karna tak bisanya Maxwell sakit walau dia manusia normal pada umumnya.


Setelah beberapa lama nafas Maxwell mulai stabil menandakan pria ini telah tidur. Evelyne yang masih sadar perlahan menarik diri dari pelukan lengan kekar ini hingga wajah lelah Maxwell membuatnya teriris.


"Apa aku sangat menyusahkan-mu?" tanya Evelyne merasa bersalah. Niatnya ingin mengurangi beban Maxwell justru menambah tekanan di hidup pria ini.


Tangan Evelyne perlahan mengusap rahang tegas mulus Maxwell yang tadi pasti sangat marah padanya. Tapi, dengan besar hati Maxwell kembali merendahkan egonya menyapanya lebih dulu.


Seandainya kau tak bertemu denganku maka kau tak akan seperti ini. Kau benar dan aku yang salah.


Aku terlalu egois dan selalu menyusahkanmu.


Sesal Evelyne memandangi wajah tampan Maxwell penuh kesedihan. Pandangannya bergulir ke arah lengan Maxwell hingga Evelyne baru sadar jika ada bekas jarum si sana bahkan seperti masih baru.


"K..kau.."


"Tuaan!!!"


Suara Jirome terdengar di luar sana. Ketukan pintu juga muncul hingga perlahan Evelyne turun dari ranjang lalu membuka pintu kamar.


Jirome yang tadi membawa makanan dan vitamin seketika terkejut melihat Evelyne seperti baru saja menangis. Matanya sembab dan hidungnya juga merah.


"Apa Tuan memukulmu?" syok Jirome tapi Evelyne menggeleng masih dengan nafas sendatnya.


Tapi, sedetik kemudian Jirome membuang pandangan kala Evelyne hanya memakai Bra dan Boxer saja.


"Ini makanan dan vitamin untuk Tuan! Kau berikan ini padanya karna Tuan pasti tak akan mau mengurus dirinya sendiri!"

__ADS_1


"Dia sakit apa?" tanya Evelyne dengan suara parau sampai Jirome menghela nafas dalam menatap netra abu ini.


"Tuan baru saja mendonorkan darah dalam jumlah besar pada Nyonya Meeiner yang tadi terkena tembakan!"


"A..apa?" syok Evelyne terkejut tapi Jirome paham karna wanita ini dekat dengan Nyonya Meeiner.


"Keadaanya sudah membaik. Hanya saja Tuan yang harus di perhatikan. Dia terlalu sibuk mengurus orang lain tapi tak memperdulikan dirinya sendiri," jelas Jirome tak berniat untuk menyinggung Evelyne yang justru merasa semua itu terjadi karnanya.


"Dimana Tuan? Aku ingin.."


"Dia tadi merasa pusing dan t..tidur!" lirih Evelyne melihat ke arah ranjang dimana Maxwell masih lelap dengan mimpinya sendiri.


Jirome segera masuk dan meletakan nampan di atas meja dekat sofa. Ia beralih mendekati Maxwell yang pasti drop karna terlalu banyak masalah.


"Dia jarang istirahat. Sudah berapa kali aku memintanya untuk tak begadang karna penyakit insomni-Nya selalu buruk. Tapi, yang ada di kepalanya hanya rencana dan rencana!" gumam Jirome menyelimuti Maxwell dengan selimut di bawah kaki jenjang itu.


Evelyne hanya diam sampai Jirome berdiri membelakanginya tapi mata keduanya menatap Maxwell yang masih bisa tidur itupun sudah untung.


"Evelyne!" lirih Jirome dengan suara yang rendah.


"Jika kau tak serius dengannya maka jangan kasihani dia!" imbuh Jirome langsung membuat Evelyne tercekat.


Air matanya lagi-lagi lolos saat sadar jika ia adalah sumber masalah disini. Seandainya hari itu ia tak menyuruh Leen pergi pasti Maxwell akan lebih bahagia.


"Kau juga harus istirahat. Aku pergi dulu!" gumam Jirome ingin berlalu di hadapan Evelyne yang tiba-tiba mencengkal lengannya.


Jirome memandang wajah kosong Evelyne yang terasa seperti tengah hancur tapi juga penuh penyesalan.


"Kau.."


"Jaga dia untukku!" gumam Evelyne mendapat tatapan bingung dari Jirome.


"Maksudmu.."


Evelyne tak menjawab. Ia berjalan mendekati ranjang membiarkan Jirome terus terkurung dalam kebingungannya.


"Katakan padanya! Saat bertemu Dawson jangan selalu bertengkar. Pria itu hanya salah paham dengan ketampanan Idiot ini," ucap Evelyne mengulum senyum dengan mata berkaca-kaca dengan pelan melabuhkan kecupan ke bibir Maxwell agak lama.


Air matanya jatuh ke pipi Maxwell yang masih belum sadar jika malam ini mungkin akan menjadi malam terakhir mereka berciuman.


"Aku pergi! J..jaga dirimu baik-baik. Hm?" lirih Evelyne tak dapat di dengar oleh Jirome yang membalikan tubuhnya keluar dari kamar.


"Tugasku selesai. Leen pasti senang karna satu persatu kebenaran akan terungkap. A..aku sangat mencintaimu. Max! Kau pria terbaik yang pernah ku kenal!" bisik Evelyne lalu turun dari ranjang. Ia meraih kemeja yang tadi ingin Maxwell pakaian padanya lalu menatap semua sudut kamar ini.


Kau benar. Aku tak pantas ada disini karna aku di penuhi dendam dan ambisi. Aku harus menyelesaikan masalahku sendiri, Max!

__ADS_1


Terimakasih untuk kebaikanmu padaku.


Vote and Like Sayang..


__ADS_2