
Masih dengan kemalut yang sama suasana ruangan rawat Evelyne seketika sunyi. Tak ada yang berani bicara satu patah-katapun selain membisu berdiri di depan ruangan memandangi Maxwell yang sudah melampiaskan amarah dan keputusasaannya dengan menghancurkan alat-alat medis di dalam sini.
Ia memaki Satuan Team Medis dan para anggotanya tapi mereka paham jika Maxwell hanya meluapkan rasa sesak dan tak terima yang membuatnya tak lagi bisa berkata-kata.
Tubuh lunglai itu terduduk di dekat Tubuh mungil Evelyne yang sudah benar-benar mendingin. Ia terbujur kaku tanpa helaan nafas hangat dan tatapan netra bening ceria yang sudah terbenam senja.
Maxwell hanya bisa menggenggam tangan mungil itu dengan mata berair dan sesekali ia mengusap matanya yang terus mengabur tak juga bisa menahan semua ini.
"K..kau ingin Ice Cream. Hm?" gumam Maxwell mengusap punggung tangan mungil Eveline yang biasa mengusap kepalanya.
"Bangunlah! Aku.."
Maxwell memejamkan matanya dengan suara mulai parau. Mereka baru kali ini melihat sosok Pria yang bisa membuat satu Rumah Sakit ini ketakutan sekarang terlihat sangat rapuh didekat anaknya.
"Aku akan menuruti semua keinginanmu. Kau.. Kau ingin bermain-kan? A..atau kau.."
Lagi-lagi ia tercekat. Tanpa melanjutkan ucapannya lagi Maxwell melepas selang-selang di Tubuh Evelyne lalu mengangkat tubuh kecil itu ke dalam pelukannya.
Jirome juga sudah tak mampu membendung air mata dan hanya bisa terpaku kosong duduk bersandar ke dinding Pintu memandang wajah Pucat Evelyne dari sini.
Apa kau akan pergi secepat ini? Aku belum menepati janjiku untuk bermain denganmu. Leen!
Jirom yang sangat terpukul. Baginya Evelyne adalah keponakan sekaligus anak karna selalu menemani hari-hari mereka dengan tawa kecil dan tingkah konyolnya
"Tuan!"
Sangga Dokter Ken yang tadi ada disini melihat Maxwell ingin membawa Evelyne pergi. Tubuh polos bocah itu ia balut dengan selimut karna terlalu dingin.
"Tuan! Sebaiknya kita segera mengurus pemakaman Nona kecil!"
"Dia ingin bermain!" jawab Maxwell membawa Evelyne keluar ruangan. Jirome yang tak ingin anak itu hilang dari pandangannya juga dengan cepat berdiri lalu menyusul Maxwell yang dengan lantang membawa Evelyne untuk keluar dari Lorong ini.
Tatapannya bertambah dingin dengan wajah sangat beku berjalan tegas melewati para anggota yang nyatanya sudah mengamankan suasana Rumah Sakit.
Mereka membungkukkan separuh tubuhnya sebagai salam penghormatan karna mereka tahu jika Nonanya sudah tiada.
Namun, berbeda dengan Yello dan Gregor yang terlihat meneteskan air mata. Mereka sungguh tak menyangka ini akan terjadi padahal baru siang tadi ia menemani Bocah itu bermain.
"N..Nona!"
Gumam Gregor memandangi kepergian Maxwell yang membawa Evelyne keluar diikuti Jirome di belakangnya.
Di luar sana keadaan sekitar Rumah Sakit cukup terang karena lampu-lampu menyala dibeberapa tempat termasuk bagian Taman Rumah Sakit.
Maxwell berjalan ke sana seraya melihat langit yang berbintang malam ini. Ia terhenti di bangku taman dan mendudukan dirinya disana.
__ADS_1
"Lihat! Kau suka kupu-kupu-kan?" bisik Maxwell mendudukan Evelyne di pahanya dengan kepala bocah itu tersandar ke dadanya.
Maxwell memangku posesif dengan satu tangan mengusap pipi Evelyne yang membuat ingin berteriak jangan meninggalkannya.
"Leen! Daddy ingin kau membuka matamu dan Daddy janji akan menemanimu bermain. Hm? Janji!"
Ia menautkan jari kelingkingnya dengan Evelyne yang tak jua bergerak. Hal itu membuat Maxwell mengigit bibir bawahnya segera memberi kecupan lamanya ke puncak kepala Evelyne yang pasti sangat menderita bersamanya.
"Maafkan aku! Maaf!" bisik Maxwell parau. Pelukannya mengerat bahkan sangat erat. Ia tak bisa membayangkan bagaimana menjalani paginya tanpa tawa dan kecupan selamat pagi Anaknya lagi.
Jika aku tahu kau tertekan akan keadaanku, sumpah demi apapun aku akan membawamu pergi tanpa melihat hal itu. Maafkan aku. Leen! Maaf!
"T..Tuan!"
Suara Jirome berdiri di belakang Maxwell yang tahu Jirome juga tak menerima hal ini. Kasih mereka untuk Leen kecil terlalu misterius untuk di pahami.
"T..Tuan! Aku mohon biarkan aku menggendongnya!"
Maxwell hanya diam pertanda ia membolehkan hal itu. Keduanya sama-sama meluapkan perasaannya sampai-sampai citra garang dan kejamnya harus tersingkir dulu akan jiwa Kebapakan itu.
"Leen! Jangan tidur terlalu lama, ayo kita bermain!" bisik Jirome kala mengambil alih Evelyne dari gendongan Maxwell yang masih menggenggam tangan mungil bocah itu.
Ia membiarkan Jirome menciumi wajah pucat itu dengan mata selalu berair padahal ia berusaha tak menangis. Ini terlalu menyedihkan bagi mereka berdua.
Ucap Jirome tapi Maxwell sudah tak bisa kosong terlalu lama hingga ia kembali mengambil alih Evelyne.
"T..Tuan.."
"Dia hanya ingin denganku," gumam Maxwell mengusap punggung Evelyne di balik selimut. Ia berjalan-jalan kecil di sekitar Taman berbicara sendirian menunjukan jika ia benar-benar tak menerima jika Evelyne akan pergi.
"Besok kita makan Ice Cream! Kau bebas memilih apapun tapi ingat, Gigimu harus terus di periksa Dokter dan jangan lupa gosok gigi, paham?"
Ujar Maxwell menepuk-nepuk bokong Evelyne yang biasa tidur dengannya seperti ini. Ia memperlakukan Evelyne seperti apa yang dulu bocah itu impikan.
Malam ini Maxwell menyadari hal itu dan tak ingin kehilangan momen berharga walau sedetik-pun. Karna Maxwell sudah asik dengan dunianya sendiri, Jirome segera bertolak pergi karna tak bisa melihat itu.
Ia yang tak tahu tentang rahasia tubuh Evelyne berharap menyiapkan pemakaman yang layak untuk Anak itu.
"Leen! Kau lihat bintang di sana?"
Maxwell mengadah ke atas meratapi taburan gemerlap Bintang yang malam ini ntah kenapa begitu banyak. Ia berharap Evelyne bisa segera sadar dan kembali bersamanya.
Tapi, sesaat kemudian tanda di tengkuk Evelyne mulai memancarkan kilauan kecil.
Maxwell beralih melihat tanda itu berangsur memudar pertanda jika Segel ini sudah lepas.
__ADS_1
"L..Leen! Leen kau.."
Tubuh Evelyne perlahan mulai ringan. Maxwell memeluknya sangat erat tapi perlahan-lahan kupu-kupu itu berangsur keluar dari sela Selimut membuat Maxwell terkejut.
"J..jangan! Leen aku mohon!"
Sayangnya itu tak berhasil. Selimut ini semakin ringan hingga perlahan tapi pasti tubuh Evelyne memancarkan cahaya yang cukup menyilaukan hingga Maxwell harus memejamkan matanya.
Hembusan angin dingin ini menerpa area di sekitar Maxwell termasuk dirinya yang tak bisa melihat di kilauan setajam ini.
"L..Leen.."
Lirih Maxwell karna tak lagi merasa Evelyne di gendongannya. Suara ceria itu sayu-sayup terdengar membuat Maxwell berada dalam Zona ilusi.
"Daddy!!!"
"Leen pulang, ya?"
"T..tidak kau.. Kau dimana??" tanya Maxwell berusaha membuka matanya tapi tak bisa. Cahaya ini seakan menghambat penglihatan yang mencari asal suara itu.
"Daddy jangan sedih, Leen sayang Daddy!!"
"Kau.. Kau jangan bicara omong kosong!! Jangan seperti ini!!" teriak Maxwell kembali berkecamuk. Cahaya ini perlahan memudar membuat Maxwell segera membuka mata menatap ke hadapannya.
"K..kau.."
Ia hanya memeggang Selimut yang tadi membungkus tubuh kecil itu. Matanya mencari-cari Evelyne tapi hanya hamparan remang dan rerumputan Taman yang terlihat.
"Kau .. Kau dimanaa?? kau dimanaa??? Jangan seperti ini. Ini tak lucu!!" geram Maxwell mencari di balik-balik rimbunnya Bunga-bunga ini tapi tak bisa menemukannya.
Maxwell segera meremas rambutnya menatap ke semua penjuru yang terasa semakin menenggelamkannya.
"T..tidak. kau.."
"Aku sudah memperingatkan-mu, bukan?" suara dingin itu muncul di belakang Maxwell yang segera berbalik dengan tatapan mata berubah menajam.
Wajah cantik angkuh dan tatapan dingin arogan itu membuat kedua tangan Maxwell mengepal.
"Kembalikan dia PADAKU!!" tekan Maxwell mengeraskan rahangnya terlihat sangat menakutkan. Bukannya gentar wanita itu menunjukan seringaian remehnya.
"Jangan harap dia akan kembali!" desis Evelyne dewasa lagi-lagi tak segan berpolos diri. Ia menghirup udara kebebasan dan tak perduli dengan perasaan orang-orang yang dia tinggal.
....
Vote and Like Sayang
__ADS_1