
Keadaan Rumah Sakit besar ini masih dalam mode baik-baik saja. Mereka tak menyadari keributan besar yang terjadi di lantai dimana Ruang Rawat Violet tengah di hadang hawa panas.
Disini tak ada yang berani bergerak termasuk bawahan Tuan Marcello kala Maxwell sudah datang langsung mendobrak habis Pintu Ruang Rawat Violet tapi untung saja Tuan Marcello langsung mengambil tindakan dengan menghadang Pria gila ini membawa Senjata api ke dalam sana.
"Kau gila. Ha??" geram Tuan Marcello kala Maxwell terlihat benar-benar di luar batas manusiawinya.
Apalagi Violet yang sudah ketakutan di atas Ranjang rawatnya hanya bisa memeluk Pelayan Reamy yang juga gemetar melihat kedatangan Tuan muda mereka.
"Untuk apa kau datang jika ingin membunuhnya??"
"Kau yang menginginkan semua ini, bukan?" desis Maxwell sudah sangat berapi-api menggenggam Pistol kesayangannya yang dipastikan akan menembus kepala Violet jika sepersekian detik Tuan Marcello tak bergerak.
Dokter Karren dan Pengawal Owen yang ada di belakang Tuan Marcello hanya diam walau jantung mereka tengah berpacu cepat di dalam sana.
"Aku ingin kau bersikap baik padanya selayaknya Suami pada Istrinya. Apa kau memang tak bisa. Ha??"
"AKU TAK BISA!!!"
Jawab Maxwell meninggikan suaranya dan hal itu membungkam Violet yang sudah berkaca-kaca.
Emosi Maxwell meluap dan terlihat sangat tak perduli akan keadaanya saat ini.
"Sudah berapa kali aku katakan jika aku sama sekali tak ingin melakukan itu dan kau yang selalu memaksaku. kau saja yang menikahinya!!"
"MAXWEELL!!"
Seru Tuan Marcello keras hampir ingin mengangkat tangannya ke wajah keras Maxwell yang menatap tegas mata mengigil ayahnya.
Dendam, kebencian itu menggelora bahkan Maxwell bisa saja membunuh semua orang disini hanya untuk melepaskan amarahnya.
"Kenapa? Aku benar. Nikahi dia dan jadikan istri ketiga mu, bukankah kau menyukai pergantian itu. Ha?"
Desis Maxwell dengan mata mengigil dan kedua tangan terkepal. Bayangan dimana hari itu Mommynya terluka karna mengetahui pengkhianatan Pria ini sampai tak bisa hidup walau untuknya membuat Maxwell sangat menderita.
"Dari pada kau terus memaksaku lebih baik kau yang melakukannya. Jangan memasang wajah malaikat di depan semua orang. Kau terlalu menjijikan TUAN MARCELLO!"
Penekanan Maxwell barusan membuat mereka membisu. Ada sebuah penyesalan di batin Tuan Marcello kala memahami betapa bencinya Maxwell padanya tapi di paksa untuk bersikap baik karna hanya sebuah permintaan terakhir Ibunya.
"Jangan tunjukan kebencianmu padanya. Kau bisa membunuhku sekarang."
Jawaban Tuan Marcello barusan membuat sudut bibir Maxwell terangkat seakan sangat tak percaya Tua bangka ini mengatakan hal itu.
"Lakukanlah! Lepaskan semua kebencianmu dan.."
__ADS_1
Bughh..
"Daddy!!!" pekik Violet kala Maxwell melayangkan tinjuan panasnya ke wajah Tuan Marcello yang langsung tersungkur ke lantai dingin ini.
Darah di hidung dan bibir Pria itu keluar pertanda pukulan Maxwell sangat meremukkan rahangnya.
"Membunuhmu. Hm?"
"Tuan! Jangan membuat keributan disini," sangga Pengawal Owen ingin menghadang Maxwell yang dengan agresif juga meninju rahangnya hingga terbentur ke dinding sana.
Dokter Karren sampai mundur kala Maxwell menarik kerah kemeja Tuan Marcello dan menekan Pria malang itu ke dinding tepat di samping Pengawal Owen yang merasa rahangnya bergeser.
"M..Maxwell!"
"Kau tahu betapa aku ingin MEMBUNUHMU. HM?" geram Maxwell mencekik leher Tuan Marcello dengan kerah yang ia tarik kuat.
Violet sudah menangis histeris melihat semua ini apalagi Maxwell yang tak lagi menahan hasrat membunuhnya.
"Setiap bertemu denganmu ada darah yang harus kau bayar!!"
"Maxwell!!" teriak Violet kala Maxwell langsung memukuli Tuan Marcello dengan brutal.
Ia menendang Tubuh tua itu tapi jelas matanya langsung merah di setiap pukulan yang ia berikan. Ada tekanan batin yang kuat kala tangan itu menjari kulit Ayahnya dan ada tangisan hebat kala darah itu keluar karna tendangan darinya.
"ENYALAH KAU KE NERAKAA!!"
Pengawal Owen ingin membantu tapi Tuan Marcello mengangkat tangannya yang sudah memar agar jangan ikut campur.
"L..Lakukan!"
Lirihnya dengan mata yang sudah berair. Begitu juga Maxwell yang menahan gejolak batin yang sangat menyiksanya ini dengan jari yang ingin menarik pelatuk di tangannya.
"Berjanjilah padaku!"
Suara itu kembali berkeliaran di telinganya. Bayangan wajah pucat wanita itu dengan mata penuh harap dan kasih sayang mencoba mengatakan sesuatu.
"Berjanjilah untuk tak membencinya."
Tangan Maxwell gemetar dengan tubuh terasa begitu kaku. Ia memandang penuh dendam Tuan Marcello yang menatapnya lembut penuh penyesalan.
"Lepaskan kebencianmu. Aku akan menerimanya!"
Mendengar itu Maxwell langsung menurunkan senjatanya. Ia diam untuk beberapa saat memandangi tangannya yang sudah berlumuran darah Pria tua ini.
__ADS_1
Aku siap menanggung kebencian seluruh dunia ini tapi tidak dengan Kekecewaan Ibuku.
Kalimat yang selalu membuat egonya tertahan dan tak bisa melakukan hal ini.
"Maxwell lakukan!!! Aku memang harus mati di tanganmu. Bukan?? Lakukan!!"
Maxwell diam membuat air mata Tuan Marcello luruh. Betapa besar dosanya sampai-sampai Putranya sendiri ingin menghabisi hidupnya.
"M..Maxwell! L..Lakukan," pintanya dengan suara bergetar ingin mendekati Maxwell yang mundur satu langkah.
"A..aku bersalah padamu dan Ibumu! M..Maafkan aku," imbuhnya dengan suara bergetar menahan penyesalan yang mendalam.
"Aku bersumpah hanya ingin kau bahagia. Violet wanita yang baik, dia bisa membuatmu merasakan kasih sayang karna dia punya sifat keibuan yang baik."
"D..Daddy," gumam Violet sangat terharu mendengar ucapan tulus Tuan Marcello yang selalu ada menopang dirinya.
"Aku mohon. Terimalah dia, Nak!"
Maxwell tak bergeming. Ia tak mengiyakan atau menolak tapi jelas dari sini hanya ada pandangan penuh dengan kemirisan.
"Terserah kau tak menerimaku tapi aku mohon biarkan Violet mencobanya. Biarkan dia.."
"Kau bukan siapa-siapa bagiku."
Degg...
Seketika Tuan Marcello terkejut bak di sambar petir mendengar penuturan dingin Maxwell barusan. Di tatapnya wajah beku sang Putra seakan meyakinkan jika itu tak benar.
"M..Maxwell kau.."
"Kau dan aku tak memiliki hubungan apapun," tegas Maxwell lalu menatap Violet datar terkesan sangat dingin.
"Sampai kapanpun tak ada wanita selain Ibuku."
"M..Maxwell! Kau.."
"Aku meceraikanmu!" tegas Maxwell lalu melangkah pergi meninggalkan Violet dalam kesengsaraan dan Tuan Marcello dalam kebisuan.
"T..tidak. Hiks! Aku.. Maxwelll!!"
"Nona!" gumam Pelayan Reamy kala Violet histeris akan ucapan Maxwell barusan. Ia menggeleng menuai penolakan keras dan tangisan histeris tak mau berpisah sama sekali.
"D..Dad! Daddy aku..aku mohon. Jangan biarkan Maxwell melakukan itu aku mohon. Dad hiks!"
__ADS_1
Tuan Marcello hanya diam. Ia sendiri tak bisa lagi berkata-kata karna ucapan Maxwell barusan lebih menusuk jantungnya dari pada hunusan belati.
Vote and Like Sayang..