My Little Devil

My Little Devil
Apa Salahku?


__ADS_3

Siang ini ntah kenapa Maxwell begitu aneh. Setelah keluar dari ruangan Meeting pagi ini Pria tampan itu tiba-tiba saja tak mau bicara dengan Evelyne bahkan seperti menghindar.


Ia tak bicara kasar atau melakukan sesuatu yang menyakiti Evelyne tapi kebisuannya membuat wanita itu jadi serba salah dan bertanya-tanya.


Seperti sekarang ini. Ia mendekati Jirome yang tengah berdiri tak jauh dari Maxwell yang masih sibuk di meja kerjanya.


"Sutt!!" kode Evelyne menyenggol lengan Jirome yang tadi sibuk melihat Tablet di tangannya segera memandang jenuh.


"Ada apa?"


"Dia kenapa?" bisik Evelyne sesekali menatap Maxwell yang masih setia dengan kebisuan dan wajah datarnya.


Jirome-pun merasakan perubahan pada sikap dan mimik wajah Tuannya pada Evelyne saat keluar dari ruangan tadi. Tapi, ia tak berani menyapa atau berkomentar seperti yang tengah Evelyne lakukan sekarang.


"Apa dia marah padaku?"


"Mungkin kau membuat masalah dengan. Tuan!" jawab Jirome dengan suara tak kalah pelan.


Evelyne berpikir sejenak mencoba mencari-cari kesalahan apa yang ia lakukan sampai Maxwell tak mau bicara atau berdekatan dengannya.


"Tapi, aku tak melakukan apapun. Biasanya jika aku membuat kesalahan dia tak akan seperti itu, kau tahu sendiri apa yang aku lakukan selalu menjadi masalah untuknya-kan?"


"Benar juga, Tuan tak pernah mendiami-mu seperti itu," timpal Jirome mengerti.


"Lalu apa? raut wajahnya seperti tak melihatku di ruangan ini," umpat Evelyne mengusap wajahnya frustasi.


Jirome hanya menaikan bahu acuh lalu kembali fokus pada pekerjaannya. Tentu saat ini Evelyne tak tenang.


Ia mulai memberanikan diri berjalan pelan ke arah Meja kerja Maxwell lalu dengan cepat memeluk leher kokoh itu dari belakang.


"Pria Idioot!!" sapa Evelyne menyandarkan dagunya ke bahu Maxwell yang tak menjawab sama sekali. Ia bahkan melepaskan lengan Evelyne yang merengkuh lehernya.


"Perintahkan Gregor untuk mengawasi Mr Plank! Jika dia bertemu dengan suruhan atau Fernandez secara langsung, rekam kejadian itu!"


"Baik. Tuan!" jawab Jirome beralih keluar dari ruangan ini. Maxwell kembali fokus pada layar Laptopnya dan sesekali melihat Ponsel dimana banyak File yang di kirim Jack padanya.


Cih. Kenapa dia sangat menyebalkan?!


Umpatan yang ingin sekali Evelyne teriakan di telinga Maxwell si angkuh dan arogan ini. Ia diam berdiri di belakang kursi seraya melipat tangan di dada.


"Hey!!" ketus Evelyne menendang kecil kaki Kursi Maxwell yang hanya acuh.


"Kau tuli atau bisu. Ha??"


Maxwell tak memperdulikan suara pedas Evelyne yang segera membuang nafas kasar menarik rambutnya frustasi. Berbagai cara sudah ia lakukan untuk menarik perhatian Pria ini dan nyatanya dia masih seperti batu.


"Baiklah! Katakan apa salahku?"


Ia duduk di meja Maxwell tepat di samping lengan kekar itu. Evelyne menunggu respon dari Maxwell yang lagi-lagi mengabaikannya.


"Max! Ayolaah!!"


"Aku sibuk!" jawab Maxwell dingin tanpa menatap Evelyne yang kehilangan kesabarannya. Dengan cepat ia berhambur menduduki paha Maxwell seraya menghadap ke arah Laptop yang menyala.


"Kau.."

__ADS_1


"Benda ini yang merebut perhatianmu. Hm?" geram Evelyne melempar Laptop itu ke lantai lalu ia beralih naik ke atas Meja menghadap Maxwell dengan kedua kaki mengungkung paha kekar ini.


Ia tak perduli dengan kerusakan yang ia ciptakan karna sekarang tak ada lagi kesabaran di sela dadanya.


"Katakan!! Apa salahku?" hardik Evelyne menatap wajah datar Maxwell yang menatap dingin ke arah Laptop yang tergeletak di lantai.


Antara marah, kesal dan juga kacau itu ia rasakan sedari di ruangan Meeting tadi dan sekarang sumpah demi apapun ia sangat emosi.


"Keluar!"


"Jawab dulu pertanyaan ku!"


"KELUAAR!!!" bentak Maxwell dengan mata menajam membuat Evelyne diam. Nafas Pria ini sudah mulai tak stabil dengan amarah yang jelas menjalar di matanya.


"Kau kenapa?"


Tanya Evelyne lagi dan kali ini suaranya lebih tenang. Ia mengangkat tangannya ingin menyentuh Pipi Maxwell tapi dengan cepat di tepis kasar oleh Pria itu.


"Keluar!"


"Ada apa? Apa aku melakukan kesalahan fatal? Jika kau tak mau aku ikut campur dalam masalah itu maka tak masalah. Kau jangan membuat semuanya menjadi rumit begini," jelas Evelyne juga kebingungan.


Justru Maxwell tak memikirkan itu. Ada perasaan kacau dan tak rela di hatinya dengan kalimat Evelyne yang secara gamblang mengatakan hal itu padanya.


"Kau disini hanya untuk mengasihani-ku?" tanya Maxwell geram.


"Maksudmu apa?"


"Aku tak butuh!" sarkas Maxwell lalu berdiri dan menepis kaki Evelyne hingga ia berjalan ke arah Pintu keluar.


Maxwell tak menjawab. Ia sudah lebih dulu pergi membuat Evelyne dihantui kebingungan.


Mengasihani apanya? Aku disini untuk menepati janjiku pada Leen dan kenapa dia jadi marah? Aku tak mengkhianati siapapun.


Begitulah pikiran Evelyne yang berkecamuk hebat. Ia segera turun dari Meja lalu mengejar Maxwell yang nyatanya sudah turun ke lantai bawah.


Alhasil Evelyne menaiki Lift yang segera tertutup mengurungnya dalam keheningan juga. Didalam baja besi ini Evelyne mencoba mengingat-ngingat apa yang ia lakukan pagi ini sampai Maxwell marah seperti itu.


Benak Evelyne tertuju pada sikapnya yang semalam memaksa Maxwell dan apa karna itu dia marah sekarang?!


"Tapi, jika karna itu dia juga menikmatinya. Bahkan sekarang-pun Milikku masih sakit," gumam Evelyne yang menahan nyeri di bawah sana.


Walau-pun susah berjalan dan perih ketika bergesekan dengan ********** Evelyne tetap terlihat seperti biasa karna luka itu tak akan menghambat pergerakan lincahnya.


"Mungkin saja dia tak suka di paksa. Cih, untuk kali ini aku akan minta maaf!" gumam Evelyne merendahkan egonya.


Saat Lift terbuka Evelyne segera ingin keluar tapi kedua matanya di hadapkan dengan Maxwell yang tengah di hadang oleh Violet yang tampak sangat lemah-lembut memeggang amplop di tangannya.


Kepalan tangan Evelyne menguat berjalan cepat tanpa memperdulikan beberapa Staf Perusahaan yang tengah keluar karna ini Jam makan siang.


"Max! Aku tak akan mengganggumu. Aku hanya ingin bicara hal yang penting padamu!" ucap Violet dengan tatapan hangatnya pada Maxwell yang selalu sama setiap bertemu dengannya.


"Aku janji, setelah itu aku akan menandatangani surat cerai kita!"


"Awaaas!!"

__ADS_1


Evelyne menyela diantara Violet dan Maxwell yang hanya diam mundur kala Tubuh seksi ini melebarkan jarak diantaranya dan Kaki empat ini.


"Kau.."


"Hm? Kau tak di terima disini!" ketus Evelyne penuh intimidasi. Violet benar-benar kesal dengan Evelyne yang seenaknya menyela diantaranya dan Maxwell.


"Aku hanya ingin bicara dengan Maxwell!!"


"Dia tak mau bicara denganmu," ketus Evelyne tapi Violet segera menatap Maxwell hanya sedia dengan wajah dinginnya.


"Max! Aku tak akan berbuat macam-macam. Lagi pula aku sudah lelah terus mengejarmu," ucapnya sendu.


"Kalau begitu pergi saja. Maxwell juga tak perduli padamu. Iyakan, Max?" tanya Evelyne menatap Maxwell santai tapi hanya kebisuan yang ia dapat.


"Max! Kau.."


"Ikuti aku!" titah Maxwell pada Violet yang sumpah demi apapun terkejut sekaligus senang bukan main. Ia sampai melamun beberapa saat san sadar ketika Maxwell memandangnya tajam.


"A.. Iya. Terimakasih!"


"Kau apa-apaan. Ha??" geram Evelyne mencengkal lengan Maxwell dengan tatapan penuh penghakiman.


Ia tak terima Maxwell menuruti Violet dan itu terlihat sangat memuakkan di matanya.


"Dia mungkin saja ingin merayumu untuk .."


"Jangan samakan dia dengamu!" tegas Maxwell dan itu langsung mengena di hati Evelyne yang mematung kosong menatap wajah Maxwell yang berjalan melaluinya.


Nafas Evelyne tercekat dengan ucapan Maxwell barusan. Jadi, maksudnya akulah yang lebih menjijikan?


"Maaf sebelumnya, tapi Maxwell benar!" ucap Violet dengan anggun melewati Evelyne yang sudah mendidih. Ia mengepalkan kedua tangannya berbalik menatap Maxwell dan Violet yang sudah masuk ke dalam Lift.


Untuk sesaat pandangan kecewa Evelyne beradu dengan manik dingin Maxwell yang tetap menjaga jaraknya dengan Violet yang sudah memerah malu.


Marah, sesak, panas dan tak terima itu membuat Evelyne ingin berteriak memaki Violet tapi Lift itu sudah lebih dulu tertutup.


"Jadi, kau tak suka dengan sikapku?" gumam Evelyne tersenyum meledek dirinya sendiri.


Jujur dadanya sakit sekarang tapi ia tak pernah terlihat lemah dengan meraung dan menangisi kesesakan yang tak menentu ini.


"Baiklah! Seharusnya jika kau tak suka kau tak usah meladeniku!! Sialaaan!!" maki Evelyne sampai orang-orang di sekitar sini memandang aneh dirinya.


Tak tahan berdiri disini lebih lama akhirnya Evelyne memilih untuk keluar dari Perusahaan. Ia muak dengan sikap Maxwell tadi dan tak akan pernah bisa tenang.


"Aku akan membunuhnya jika kau berani menyentuhnya. Idiot!" maki Evelyne berjalan dengan Sendal kamar mandi keluar dari Gerbang ini.


Namun, di tengah amarahnya Evelyne ingat jika ia harus ke Rumah Sakit untuk memeriksa hasil dari Tes DNA itu dan tiba-tiba saja Evelyne berniat untuk mendekati Nyonya Meeiner dan mencari cela untuk menghancurkan mereka.


"Aku masih berbaik hati padamu. Max!" gumam Evelyne tak bisa menghindari janjinya. Ia harus bekerja cepat karna Maxwell juga harus mengurus masalah Perusahaan.


....


Vote and Like Sayang..


SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI SAYANGKU SEMUAA😍😍🥰

__ADS_1


MOHON MAAF LAHIR BATIN YAK


__ADS_2