
Nyatanya pernyataan dari Pihak Kepolisian tentang keterlibatan Maxwell dalam kasus pelanggaran yang Evelyne lakukan sama sekali tak membuat Publik percaya. Mereka yakin dengan paras Evelyne yang tak seperti Wanita dari Gedung Rehabilitasi itu juga ada sangkut pautnya dengan Maxwell.
Apalagi status Maxwell masih beristri karna Violet belum juga menandatangani surat perpisahan itu dan terus dilindungi oleh Keluarganya.
Alhasil Scandal yang Evelyne ciptakan membuat Statemen Publik mengacu ke PERSELINGKUHAN MAXWELL dengan wanita misterius.
Hal ini tentu membuat semuanya semakin rusuh. Apalagi para Penjilat itu memanas-manasi para Pengguna Media yang ramai berkomentar atas Scandal ini.
"Kau tahu apa yang baru saja kau lakukan?" desis Maxwell yang sudah bersama Evelyne di kamarnya. Ia menunjukan banyak sekali Berita yang melantur bahkan tak lagi dalam Konteks kebenaran.
Sementara sang empu yang membuat masalah hanya duduk santai di Kursi kerja Maxwell dengan Selimut sudah berganti Kemeja kebesaran milik Maxwell.
"Salahmu sendiri! Kenapa mengacuhkan-ku?!
"Aku tak ada urusan lagi denganmu. PAHAM?" tekan Maxwell berdiri di depan Meja dimana kaki Evelyne naik di atasnya.
Tatapan mata Evelyne berubah dingin menekan semua hawa tak bersahabat disini.
"Pergi dari duniaku dan jalani hidupmu sendiri!!!"
"Kau tahu betapa aku ingin pergi dari sini?" desis Evelyne tak kalah frustasi. Maxwell diam masih dengan pandangan tajamnya yang tak bisa merendahkan ego Evelyne.
"Bahkan melihatmu saja aku tak sudi!"
"Benarkah? Lalu untuk apa kau disini. Ha?" geram Maxwell sampai mencengkram ujung Meja kerjanya. Senyum remeh Evelyne menuai tanda tanya di benak Maxwell yang tak pernah mengerti jalan pikiran Wanita ini.
"Aku memang penuh dengan kebencian dan tak waras. Tapi, ingat.."
Evelyne menurunkan kakinya lalu berdiri dengan kedua tangan bertumpu di atas meja membungkukkan separuh tubuhnya.
Wajah mereka saling berhadapan dengan jarak cukup dekat dan Maxwell bisa melihat keseriusan Evelyne.
"Tapi, aku tak lupa diri. Kata-kataku bukan sekedar omong kosong," imbuh Evelyne lalu meniup wajah Maxwell yang segera menjauhkan Tubuhnya.
Melihat itu Evelyne kembali mendudukan diri di Kursi Kerja ini. Kakinya kembali terangkat dengan pandangan terlihat sangat serius.
"Aku akan membantumu!"
Sontak Maxwell menoleh melipat dahi mulusnya.
"Aku tak butuh."
"Hm. Bukan kau, tapi untuk si kecil manis-mu itu," ketus Evelyne juga kesal karna nyatanya berurusan dengan Maxwell terlalu menyebalkan dan menyulut emosi.
Kata-kata Evelyne barusan membuat Maxwell berpikir jika Leen menyerahkan jiwanya karna ingin melindunginya. Pasti anak itu merasa bersalah karna kejadian waktu itu.
Namun. Kedua tangan Maxwell terkepal kala tahu Evelyne pasti merusak pikiran tulus itu.
"Kau yang mendorongnya untuk berpikir seperti itu?!"
"Yah!"
Dengan marah Maxwell langsung mendekat mencekik leher Evelyne. Matanya begitu panas dan tak bisa menahan untuk melakukan hal ini.
"Kenapa tak kau saja yang lenyap. ha??"
Evelyne mencengkram pergelangan tangan Maxwell yang benar-benar tak menahan tekanan jarinya sampai wajah Evelyne sudah pucat dengan telinga yang mendengung panas.
__ADS_1
"L..Lepasss!!!"
"Kau akan menyesal bertemu denganku," geram Maxwell menekan kata-katanya hingga barulah melepas cekikan itu. Evelyne kembali mengisi rongga dadanya yang tadi kekurangan pasokan udara. Nafasnya memburu melayangkan tatapan membunuh pada Maxwell yang sangat kuat mencekiknya.
"Kauu..."
"Pergi dari hadapanku!" geram Maxwell menarik lengan Evelyne kasar bangkit dari Kursi kerjanya.
Evelyne yang mendapat penolakan seperti ini merasa sangat terhina. Ia sudah tak perduli lagi hingga berjalan cepat ingin keluar dari ruangan ini tapi..
"Kau janji akan menjaga Daddy Leen-kan?"
Suara polos itu kembali terbayang di benak Evelyne. Percakapannya dengan Leen saat itu benar-benar membuatnya merasa terbebani.
"Shitt," umpatnya berhenti di dekat Pintu. Ia berbalik melihat Maxwell yang duduk di Kursi sana dengan menyandarkan kepalanya yang terasa berat.
Melihat hidup Pria ini terlalu bermasalah, Evelyne jadi punya tangung jawab sebelum menyelesaikannya ia tak bisa pergi begitu saja.
"Kau tuli?" gumam Maxwell tahu Evelyne masih ada di dekat Pintu tanpa membuka matanya.
"Terserah kau menerimaku atau tidak. Tapi, aku akan tetap ada disini!"
"Kauu.."
"Berikan saja tugas untukku!" sela Evelyne bersandar ke daun Pintu dengan leher yang merah. Maxwell benar-benar terasa ingin berteriak karna Evelyne-lah masalah yang menghancurkan martabatnya.
"Aku tak membutuhkanmu!"
"Kau tak suka dengan keramaian, bukan?" tanya Evelyne tapi Maxwell segera membuka matanya. Jelas maksud Evelyne kali ini cukup membuatnya berpikir dua kali.
"Kau mau apa?"
"Jangan menambah masalahkuu!!"
Evelyne hanya diam masuk ke dalam Lift yang ingin tertutup tapi Maxwell sudah lebih dulu masuk hingga keduanya ada di dalam benda baja ini bersama.
"Kau ingin bergabung?"
"Kau tak akan menyelesaikan tapi menambah masalahku," geram Maxwell tapi Evelyne masih tak bergeming membuat Maxwell sampai harus mendorong bahunya merapat ke dinding baja ini dengan wajah mengeras dan jarak yang tipis.
"Kauu..."
Sayangnya pintu Lift sudah terbuka dan sontak kilatan kamera itu langsung menghujami keduanya dengan sangat cepat dan riuh.
Melihat itu Maxwell menarik diri dari Evelyne merubah wajahnya kembali datar dan gestur tubuh kekar yang berdiri tegap. Ia tak menunduk atau menghindar karna mereka memang sudah tak bisa bersembunyi.
"Presdir! Apa yang kalian lakukan?"
"Siapa wanita ini?"
"Benarkah dia selingkuhan anda?"
Pertanyaan bertubi-tubi di layangkan membuat para anggota yang tadi kebobolan karna Media yang begitu banyak menghadang. Mereka tak menduga Tuannya akan ada di Lift dengan pose mendukung seperti itu.
Berbeda dengan anggota Maxwell yang gelagapan mengusir puluhan Media dan Paparazi ini. Evelyne justru hanya diam tanpa exspresi menatap kamera yang menyorot wajahnya.
Benda yang menyebalkan.
__ADS_1
Kalimat umpatan yang tergambar di wajah Evelyne. Tapi Maxwell, ia justru sudah tak bisa membungkam siapapun lagi karna ini akan jadi sensasi yang hangat.
"Tuan!"
Jirome yang mendekat setelah mengurus Awak Media yang membeludak di Luar. Ia juga diserbu pertanyaan yang membuatnya berpikir dua kali untuk menjawab.
"Tuan! Kau baik- baik saja?"
Maxwell hanya diam. Wajahnya sudah sedingin Es di Kutub Utara dengan kepalan tangan menguat. Memukul Evelyne-pun masalah ini tak akan selesai.
"Dan kau.."
"Serahkan yang ini padaku!" sela Evelyne berdiri di hadapan Maxwell kala melihat Miss Oliver sudah datang ke sini dengan mode elegan yang sudah hafal oleh Evelyne.
Senyum palsu wanita itu membuat Evelyne jijik. Jika Maxwell tak ada, mungkin dia akan melesatkan cakarannya ke wajah mulus itu.
"Presdir!"
Nada sedikit cemas dan terkesan mengkhawatirkan. Ia mendekat bersama Asistennya dengan membawa Paper-bag berwarna abu.
"Presdir! Maaf aku datang di waktu yang tak tepat," sopannya dengan segan berdiri di depan Evelyne yang seperti ingin menelannya hidup-hidup.
Memang hari ini Maxwell punya jadwal kerja yang padat. Ia harus bertemu dengan para Investor yang kemaren sempat ia tunda Meetingnya.
"A.. Nona kau.."
"Urusan bisnismu sudah di serahkan pada Sekertaris Ireein. Silahkan temui dia!" sela Jirome mengamankan suasana.
Miss Oliver sempat terkejut karna seharusnya Maxwell-lah yang menangani ini. Tatapan tak terimanya membuat seringaian licik Evelyne meruak.
"Rapikan dulu bentuk bibirmu. Hm?" sinisnya membuat Miss Oliver tersentak memeggang bibirnya.
Hal itu mendapat helaan nafas Maxwell yang berjalan pergi melewati mereka dengan Jirome mengikuti langkah tegas Tuannya.
Miss Oliver ingin memanggilnya tapi Evelyne sudah lebih dulu menghadang langkah wanita itu.
"Kauu..."
"Ssuttt!! Anjing di larang menggonggong di Perusahaan. Hm?" desis Evelyne lalu melangkah pergi tanpa risih dengan Kemeja yang ia pakai.
Dandanan seperti itu justru sangat digandrungi para Karyawan yang menatap Evelyne dengan kagum. Mereka tak menyangka tampil sederhana tapi masih seseksi itu.
"Dia.. Aaaa!! Dari mana wanita itu datang?!!" decah Miss Oliver menghentakkan kakinya kesal. Ia tak bisa menerima hinaan manis Evelyne yang mengatai bentuk bibirnya.
...........
Di tempat yang berbeda. Seorang Pria dengan Stelan kerja lengkapnya tengah duduk tenang di sebuah Resort yang mengarah ke tepi Pantai. Matanya bergejolak melihat panasnya Media yang memburu Scandal besar dari Pemimpin Perusahaan Besar Marcello lewat Ponselnya.
"Tak hanya dunia Bisnis, dia juga menggemparkan Dunia Maya," desis Dawson menghembuskan sisa asap rokok yang ia sedu sela duduk disini.
"Tuan! hubungan Pria itu dengan Keluarga Fernandez sudah tak baik. Kau bisa memanfaatkan itu," sahut Asisten Kaylo yang menjadi kaki tangan handal baginya.
"Aku ingin bertemu dengannya," gumam Dawson karna cukup tak sabar dengan Rivalnya satu itu.
"Kau yakin, Tuan? Dia masih belum melakukan tindakan apapun. Bisa saja dia..."
"Dia tak punya siapapun," desis Dawson tahi seluk-beluk Maxwell. Pria itu hanya berjuang sendirian dan banyak musuh dalam selimut yang mengincarnya.
__ADS_1
...
Vote and Like Sayang