My Little Devil

My Little Devil
Membunuhnya?


__ADS_3

Setelah menenagkan Nyonya Meeiner yang tadi sempat pingsan akhirnya Evelyne kembali untuk mencari keberadaan Maxwell. Ia mempercayakan Wanita itu pada para Pengawal pribadinya dan ia pergi menyusuri daerah di sekitar Resto dan meliarkan pandangannya.


Ini sudah 20 menit sejak kepergian Maxwell. Mobil Pria itu masih ada di Resto dan itu yang membuat Evelyne mencarinya di sekitar sini saja.


"Maaax!!!"


Panggil Evelyne membuat beberapa orang di jalan ini menatap ke arahnya. Mereka hanya mengabaikan Evelyne yang memakai Masker jadi tak ada yang mengenalinya.


"Maaax!!! Kau dimanaa?" teriaknya tanpa malu berkeliaran. Ia sudah hampir memasuki area Taman kolam yang tak jauh dari Resto dan disana sangat sepi.


Bahkan, bisa di katakan tempat ini seperti tak berpenghuni tapi masih sangat terjaga. Ntah angin apa yang mendorong Evelyne ia sampai melangkah ke sana.


Seperti namanya Taman Kolam. Tempat ini banyak menyajikan Kolam-kolam berbagai bentuk dengan bermacam bentuk patung yang sangat indah dan detail.


Penghijauan yang asri dan Labirin kecil Bunga mawar di depan sana menyita perhatian Evelyne.


"Tak mungkin Maxwell ada disini. Dia Pria yang aneh," gumam Evelyne ingin pergi tapi matanya sempat melihat ke area bersantai di dekat Patung Elang yang agak tersembunyi dari rimbunnya bunga-bunga Tulip yang terlihat sangat ramai.


Jadi kau bersembunyi di situ?


Benak Evelyne berjalan mendekati Patung Elang yang membentangkan sayapnya gagah. Dari sini Evelyne lega kala melihat punggung kekar dan bidang itu tengah membelakangi arahnya dan terlihat sangat misterius.


Dengan mengendap-endap Evelyne berjalan mendekat hingga saat sudah naik ke pinggir Mar-mar Kolam Evelyne segera meloncat dengan memeluk leher kokoh Maxwell.


"Ketemuu!!" pekik Evelyne dengan suara lantang dan egois. Ia tak memperdulikan suasana hati Pria yang tengah ia peluk ini.


"Pasti kau terkejut-kan?" bisik Evelyne tapi Maxwell hanya diam. Ia juga sadar akan kehadiran Evelyne tapi Maxwell tak punya niat untuk pergi dari sini.


Melihat Maxwell yang diam tak mau meresponnya Evelyne segera menghela nafas dalam. Ia duduk di samping Maxwell seraya melihat ke arah pandangan tajam Pria itu tepat ke arah Labirin.


"Apa itu lebih menarik dari pada aku!"


Tetap tak bersuara. Maxwell melamun tanpa menghiraukan Evelyne yang tahu jika kenyataan itu memang sangat sulit di terima. Apalagi Nyonya Camillia sudah tiada dan itu semakin membuat Maxwell terpukul.


"Max!"


"Aku ingin sendiri!" gumam Maxwell dengan suara datarnya. Exspresi wajah tampan ini mendingin seakan ia benar-benar tenggelam dengan lukanya sendiri.


Tahu jika Maxwell tengah berusaha stabil Evelyne segera berdiri dan berjalan santai ke arah Labirin yang tadi Maxwell tatap.


Wanita aneh itu berdiri di sana dan membuka Masker di wajahnya agar Maxwell bisa melihat semua Visual indah itu.


Satu alis Maxwell terangkat melihat Evelyne yang tak berubah tempat atau bergerak dan hanya seperti Patung.

__ADS_1


"Tatap aku sajaa!! Aku cemburu pada rumput-rumput itu!!"


Teriak Evelyne terdengar posesif. Ia membiarkan Maxwell memandangnya tanpa berkedip dan begitu juga Evelyne yang tak mau bergerak kemanapun.


"Maax!! Mau dia itu Adik ibumu atau Kakaknya itu tak akan merubah kehidupaan!! Kau masih tetap Maxwell yang samaa!!"


Teriak Evelyne mencoba memberikan pengertian dan dukungan pada Maxwell yang tetap diam mendengarnya.


"Kau harus buat Nyonya Camillia banga padamu!! Berhentilah meratapinya!! Aku lapaaar!!!"


Kalimat terakhir Evelyne sukses membuat bibir Maxwell menipis dengan wajah tak sekusut tadi. Hal itu memantik rasa senang Evelyne yang berlari mendekat ke arahnya.


"Baguslah kau masih sadar!"


"Kau lapar?" tanya Maxwell meraih pinggang seksi Evelyne untuk duduk di pahanya.


"Iya. Kau pergi begitu saja sampai Ice Creamku meleleh. Padahal itu sangat lezat."


"Ayo kembali!" ajak Maxwell tapi Evelyne menahan bahunya untuk bangkit. Walau wajah Maxwell sudah tenang tapi Evelyne tahu Pria ini masih belum berdamai dengan hal tadi.


"Aku tahu pasti berat untukmu saat mengetahuinya. Apalagi kepergian Ibumu sangat memilukan. Max! Tapi, dengarkan dulu bagaimana cerita dari Nyonya Meeiner karna aku yakin ada suatu hal yang membuat Ibumu tak di terima di Keluarga mereka. Hm?"


"Tapi, apa harus sekejam itu?" tanya Maxwell yang merasa itu tak adil. Jika Ibunya melakukan kesalahan tapi apa harus di lupakan sampai kematiannya tak di cari sama sekali?!


"Aku belum bisa menerimanya!"


"Tak apa. Kita fokus untuk makan dulu. hm?" bujuk Evelyne dan itu sukses membuat Maxwell mengangguk.


Keduanya berdiri dan kembali melangkah ke area keluar Taman tapi tiba-tiba saja Yello dan Jirome datang.


"Tuan!"


Keduanya mendekat dengan exspresi wajah serius. Evelyne jadi bingung tapi juga penasaran. Tapi, Maxwell paham dengan situasi ini hingga ia beralih pada Evelyne.


"Pergilah makan dengan Yello! Aku ada urusan sebentar."


"Urusan apa? Kau bilang tadi tak bekerja," menatap penuh selidik pada Maxwell yang menarik ujung Topinya semakin ke bawah hingga wajah Evelyne tertutup.


"Hanya urusan kecil. Kau pergilah makan!"


"Aku ikut!" sambar Evelyne memeluk lengan Maxwell yang mengambil nafas dalam.


"Tidak untuk sekarang!"

__ADS_1


"Tapi.."


"Kau bisa makan Ice Cream sepuasmu!"


"Deall!!" jawab Evelyne tanpa nego dan segera pergi menarik Yello keluar area Taman. Kapan lagi Maxwell membolehkannya makan Ice Cream sebanyak itu?! Kesempatan jangan di sia-siakan, pikir Evelyne begitu.


Maxwell hanya menatapnya datar tapi tak di pungkiri jika Evelyne adalah Mood Booster baginya. Saat bayangan kedua wanita itu hilang wajah Maxwell berubah dingin.


"Katakan!"


"Tuan! Plank sudah mengakui jika dia memang yang menyebarkan privasi Perusahaan karna di ancam oleh Dawson. Dia juga membeberkan Tuan Fernandez tak pernah bertemu dengannya dan ini hanya menyangkut Dawson!" jelas Jirome yang tadi sudah mengancam Plank jika sampai tak bicara maka Putrinya Oliver akan dalam bahaya.


Maxwell tahu betul Tuan Fernandez begitu licik. Ia membantu Dawson tapi jika ini ketahuan maka namanya tak akan terlibat karna Dawson-lah yang bekerja.


"Cih. Dia selalu bisa mengkambing hitamkan orang lain!" geram Maxwell mengepal. Ia tak akan diam saja. Baik Dawson atau Fernandez keduanya akan kena dalam satu arahan peluru.


"Apa yang harus kita lakukan? Tuan!"


"Kau tahu istilah Tameng?" tanya Maxwell menyeringai meremangkan tengkuk Jirome yang tahu Tuannya tengah sangat berhasrat.


"Tuan! Kau.."


"Dia tak bisa mengendalikan Istrinya!" jawab Maxwell dengan raut wajah mengerikan. Ia akan buat Keluarga itu hancur dan sehancur-hancurnya.


Jirome hanya bisa membisu. Ia merasa jika Nyonya Meeiner adalah Pion yang paling bisa untuk membuat Tuan Fernandez mati kutu.


"Aku hanya perlu membuat Bajingan itu membunuh istrinya sendiri!"


Degg..


Jirome terkejut. Ia rasa ini terlalu berlebihan karna Nyonya Meeiner tak tahu apapun. Tentu Jirome belum mengetahui tentang kenyataan yang tadi Maxwell dengar.


"Tuan! Tapi Evelyne.."


"Evelyne tak bisa tahu rencanaku ini! Dia terlalu dekat dengan Wanita itu sampai terus mengagung-agungkan," tekan Maxwell yang punya dendam lama dengan Keluarga Ibunya.


Saat ia kecil dan tak berdaya seharusnya mereka yang menopang. Tapi, sedikitpun empati itu tak pernah terlihat sama sekali.


Niat Maxwell memang terkesan jahat tapi ia tak bisa melepaskan orang-orang yang membuat Mommy-nya menderita selama ini termasuk Tuan Marcello.


Setelah menebarkan rasa gugup di batin Jirome, Maxwell pergi untuk mengurus langkah pertamanya.


....

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2