
Pandangan tak percaya itu masih terpaku pada sosok bocah dengan mata abu yang sama sekali tak mau turun dari pangkuan Pria tampan yang nyaman-nyaman saja. Ia tak perduli jika harus menjadi bawahan tontonan atau membendung pertanyaan di benak Miss Oliver dan Mr Plank yang sampai sekarang tak membuka suaranya.
Untuk sejenak Miss Oliver diam lalu bertatapan dengan Mr Plank yang kemudian menarik lengan Putrinya masuk.
"Presdir! Perkenalkan dia Putri Saya," ucapan penuh kebanggaan itu terlontar.
Evelyne melempar tatapan tak bersahabat pada Miss Oliver yang masih merasa belum bisa mencerna semua yang ada di sini.
Di pandangnya lekat wajah belia itu seakan mencari cela kebenaran di dalamnya.
"Saya hanya menyampaikan jika untuk kedepannya dia akan menggantikan saya untuk mengurus Bisnis dan Perusahaan. Presdir!"
"Hm. Aku mengerti," jawab Maxwell tak terlalu menganggap Miss Oliver. Ia memilih memainkan Bolpoin di tangannya dengan sangat angkuh.
Melihat itu Miss Oliver mengambil nafas dalam mencoba mengumpulkan keberanian untuk bertanya.
"Presdir! Maaf sebelumnya tapi apakah gadis cantik ini adalah Putrimu?"
Maxwell tak langsung menjawab. Ia menatap wajah polos Evelyne yang mengadah lugu dengan mata besar abu jernih itu menantikan jawabannya.
"Saya tak berniat mencampuri urusan Pribadi anda. Tapi, saya hanya merasa jika Presdir terlalu cepat untuk.."
"Jika tak ada urusan lain. Silahkan keluar!" sela Jirome tahu jika ini sudah terlalu jauh. Ia mengambil alih keadaan untuk mengantisipasi masalah baru untuk Tuannya.
Sementara Evelyne. Mata yang tadi berbinar dan wajah belia yang menanti itu seketika tertunduk meremas pinggiran Jas Maxwell yang tiba-tiba merasa sesak di dadanya.
"Presdir! Kami pamit dan terimakasih atas waktu anda."
"Hm."
Maxwell hanya menjawab seadaanya membiarkan Jirome mengurus Ayah dan anak itu. Saat pintu sudah tertutup dan ruangan ini sepenuhnya kosong hanya menyisakan mereka berdua barulah Evelyne berbalik menoleh kebelakang.
Ia tak langsung bicara tapi lebih dulu turun dari pangkuan Maxwell yang hanya memandang tatapan sendu tersembunyi itu.
Kenapa aku jadi gelisah?
Maxwell bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Kebisuan sesaat Evelyne membuat dunia ini seakan menghakimi dirinya.
"Kau mau kemana?" tanya Maxwell kala Evelyne melangkah ke Pintu keluar.
Evelyne tak langsung menjawab. Ia diam sesaat lalu berbalik membuat Maxwell terhenyak akan senyuman lebar menunjukan gigi kecil putih dan mata tenggelam karna pipi gembul yang tertarik ke atas.
__ADS_1
"Ini waktunya Daddy makan siang. Leen mencari makanan dulu. Dad!"
"Kau.."
"Sampai jumpa!!"
Pekik Evelyne melambaikan tangannya pada Maxwell lalu menyelipkan jarinya diantara Pintu yang tadi renggang dan berlari keluar.
Setibanya di sana wajah ceria Evelyne yang tadi ia tunjukan di dalam sana seketika berubah padam. Raut murung dan matanya berkaca-kaca menoleh kebelakang seakan sangat merindukan seseorang.
"Kenapa Daddy tak mengakui Leen?!" gumam Evelyne mengusap air matanya yang jatuh.
Ia berlari kecil ke arah lorong Lantai ini berjalan tak tentu arah yang penting ia tak menangis sembarangan. Kaki mungilnya memilih turun ke arah tangga darurat yang sunyi dan tak ada siapapun yang akan melihatnya disini.
"B..Bubu bilang dia Daddy Leen? Tapi.. Tapi kenapa dia tak mengakui Leen?" gumam Evelyne menahan isakan yang ia tahan sampai ke beberapa anak tangga di bawah.
Gema tangisannya tertahan rapat oleh dinding-dingin yang menyatu mengurung dirinya dalam keheningan. Saat di tangga ke 20 kakinya terhenti tepat di sebuah Besi yang menjadi peggangan untuk ke Tangga bawah.
Tubuhnya di jatuhkan ke sana dengan kedua kaki di tekuk dan wajah sembab di benamkan ke lutut kecilnya.
Kenapa Mama sampai sekarang belum datang menjemput Leen? Padahal dia berjanji akan datang secepatnya.
"M..Mama hiks. Mama!"
Evelyne seketika terkejut kala ada suara wanita yang menyahut panggilannya barusan. Mata Evelyne sudah berair merah menatap di sekelilingnya mencari sumber suara barusan.
"S..Siapa?"
Tanya Evelyne berpeggangan ke besi di sampingnya. Tempat ini mulai terasa dingin dengan suara-suara aneh yang membuat Evelyne merinding.
"L..Leen hanya duduk disini. Le..Leen tak ada niat mengganggumu!"
"Sampai kapan kau akan berbuat baik?"
Bisikan itu berhembus di telinganya hingga Evelyne kecil terperanjat kuat. Ia hampir ingin jatuh tapi untung saja tangannya berpeggangan ke Besi ini.
"K..Kau siapa?? Kau siapaa??"
"Aku adalah K-A-U."
Jawabnya diiringi tawa yang begitu arogan dan sangat angkuh. Evelyne sampai berkeringat dingin mendengar suara Wanita itu seakan ia membawa rasa sakit, luka, dendam dan kebencian yang sangat besar.
__ADS_1
Wajahnya mulai pucat kala merasakan panas mulai menjalar di sekujur tubuhnya. Rasa ini sama seperti yang ia alami setiap di malam hari dan membuat nafasnya tak lancar.
"Kau selalu di kucilkan, tak di anggap dan di musuhi. Kau tak punya teman atau saudara. Kau masih mau bertahan dengan mereka. Hm?"
"L..Leen punya Daddy!!" sambar Evelyne merapat ke Besi ini sampai tubuhnya benar-benar kaku seakan ada yang ingin mengambil alih jiwanya.
Jantung Evelyne berpacu cepat dan pandangannya terasa berkunang. Tanpa ia sadari kakinya bergerak tak bisa di kontrol untuk melangkah ke bawah sana.
"Lepaskan semua kebencian itu. Kau benci sendirian dan terus menunggu, bukan?"
"D..Dad!" gumam Evelyne tak bisa mengontrol tubuhnya. Baru kali ini ia merasa ada yang ingin mengendalikannya dengan hasrat yang di bangkitkan untuk berbuat di luar kepribadiannya.
"Lihat mereka!"
Evelyne menoleh ke arah samping tepat di dinding yang tadi masih di cat Putih seketika berubah memperlihatkan apa yang ia alami di Taman Pura waktu itu.
Mata Evelyne sama sekali tak mau di pejamkan seakan di paksa untuk mengingat kejadian dimana Ia selalu di musuhi oleh anak-anak Pura yang tak ingin berteman dengannya.
"Mereka mendorongmu dan melepas semua Kupu-kupu yang susah payah kau tangkap. Mereka juga mengatakan jika kau tak punya KELUARGA dan Anak pembawa sial. Itu sangat menyedihkan. Leen!"
Mata Evelyne berkaca-kaca dengan kedua tangan terkepal. Rasa sakit, luka dan benci itu mulai menyeruk di sela hatinya membuat mata Evelyne yang semula polos dan berbinar hangat seketika berangsur berubah menajam.
"Mereka terus menindasmu dan Bubu-mu. Tak ada kata maaf bagi Manusia-manusia kotor di dunia ini dan kau harus membalasnya. Jangan lepaskan mereka."
"Membunuhnya," gumam Evelyne merapatkan rahangnya tapi seketika ia tersentak langsung menggeleng cepat dengan tatapan terkejut.
"T..tidak. Tidak boleh, jangan lakukan itu!"
"Sampai kapan kau akan menjadi Lulucon. Haa???"
Bentakan suara itu membuat Evelyne sampai mengigil. Ia menggeleng memukul kepalanya sendiri agar segera sadar akan apa yang baru saja membayang di kepalanya.
"Bunuh mereka! Balaskan rasa sakit mu. Leen! Jangan diam saja!!"
"L..Leen tak jahat. Leen tak mau jadi orang jahat!!" tukas Evelyne meneriakkan itu sejadi-jadinya hingga tiba-tiba tubuhnya seperti di dorong keras hingga terpental jatuh ke bawah sana.
"Nonaa!!!"
Teriakan Yello yang tadi mencari Evelyne seketika terkejut melihat Evelyne jatuh dari tangga setinggi ini.
Gregor berlari cepat dari arah bawah menangkap Tubuh mungil itu agar tak terluka lebih parah lagi.
__ADS_1
.....
Vote and Like Sayang.