
Mentari yang tadi cukup terik sekarang sudah berganti dengan rembulan berkabut bintang di hamparan awan gelap sana. Udara semakin dingin menyeruk di sela Jendela besar Kamar hingga Evelyne harus menarik sisi Tirai ini untuk menutupi angin yang sudah di hadang kaca otomatis di dalam sini.
Evelyne sudah terlihat rapi dengan balutan Kemeja kebesaran warna hitam yang Maxwell punya dengan celana Boxer yang seperti biasa menjadi Outfit nyaman baginya.
Ia tak ingin Maxwell yang masih tertidur di atas ranjang sana terbangun dan akan mengganggu rencananya malam ini.
"Aku rasa dia tak akan bangun secepat ini?" batin Evelyne karna harus mencari keberadaan Tuan Marcello dan dimana Kediaman lama mereka dulu.
Setelah memastikan keadaan Maxwell di dalam selimut sana sudah begitu nyenyak barulah Evelyne menyusuri Nakas di dekat Ranjang. Ia membuka Buku-buku yang biasa Maxwell baca sampai laci-laci meja dekat dinding.
Hampir tak menemukan apapun. Hanya ada beberapa berkas Perusahaan itupun Evelyne tak tahu betul isinya.
"Kemana dia menyimpannya?" gumam Evelyne berpikir keras. Ia beralih pergi ke Ruang ganti membuka lemari kaca besar yang memperlihatkan deretan Jas mahal bermerk dan juga Pakaian-pakaian lainnya.
Ia hampir menggeledah satu Ruangan ini termasuk Lemari khusus baju Leen kecil yang Maxwell tata rapi sampai Evelyne jadi sedikit menghangat.
"Dia pria yang tulus,"
Batin Evelyne melihat pakaian Leen begitu terurus. Dia juga menggantung beberapa baju yang di pakai Leen sebelum bocah itu meninggalkan Dunia ini.
Tapi, tunggu.. Seharusnya Maxwell punya tempat khusus untuk menyimpan barang-barang istimewanya.
Pikir Evelyne seperti itu. Saat ia berbalik sontak Evelyne langsung membentur dada bidang seseorang yang berdiri tepat di belakangnya.
"Kauu.."
Ia sampai tersandar ke Lemari kaca ini dengan kening sedikit nyeri karna dada Maxwell cukup keras membuatnya terhuyung.
"Apa yang kau cari?"
Pertanyaan yang membuat Evelyne harus berpikir dua kali. Ia yang tengah mengusap keningnya seraya menatap ke sembarang arah mengalihkan pandangan tajam Maxwell.
"B..bukannya kau tadi tidur? Pergilah! Kau susah tidur-kan? Manfaatkan keberuntungan ini dengan baik," jawab Evelyne mencengir kuda mirip dan sangat persis seperti Leen.
Maxwell sampai tertegun sejenak melihat Evelyne yang pasti tengah mencari sesuatu di kamarnya.
"Aku.. Aku pergi dulu. Selamat malam!" gumam Evelyne melangkah menjauhi Maxwell yang mengulurkan tangannya menarik lengan Evelyne kembali ke posisi semula.
Tatapan keduanya bertaut dengan hawa intimidasi Maxwell mencoba menembus pertahanan Evelyne yang menatap netra elang tajam bergradasi kecoklatan ini dalam.
Ntahlah. Walau mata ini selalu memandangnya tajam tapi Evelyne tak risih sama sekali.
__ADS_1
"Apa yang kau cari?"
"Mata!"
Jawab Evelyne spontan tapi hal itu membuat Maxwell mengerutkan dahinya. Alhasil Evelyne sadar segera menyentak lengan dari genggaman tangan kekar ini.
"Maksudku, aku mencari benda yang bisa saja memata-mataimu. Bisa saja Pria tadi kembali mencari masalah denganmu-kan?!" imbuhnya mencari alasan.
Tentu Maxwell tak semudah itu percaya karna yang berdiri di hadapannya sekarang itu bukan Leen yang jujur tapi Evelyne yang penuh tipu muslihat.
"Jangan memandangku seperti itu! Jika kau tak percaya jangan bertanya padaku!!" ketus Evelyne lalu melenggang pergi.
Maxwell hanya melirik dari ekor matanya lalu membuka lemari pakaian Leen. Semuanya masih belum berubah dan tak ada yang kurang sama sekali.
"Apa yang dia rencanakan sekarang?!"
Batin Maxwell memikirkan isi kepala Evelyne. Di tutupnya kembali lemari itu lalu keluar ruangan ganti.
Disini Maxwell tak lagi menemukan Evelyne. Ia membuka pintu kamar mandi tapi, tak ada seorang-pun disana. Bahkan, lantainya masih kering.
Merasa tak tenang Maxwell segera keluar dari kamar. Ia pergi ke ruang kerjanya dan tak ada siapapun disini.
"Apa yang kau lakukan?"
Evelyne tak langsung menjawab. Ia berdiri dengan wajah datar tak bersalah itu lalu melirik kursi kerja Maxwell dan langsung menghempaskan dirinya ke benda empuk itu.
"Aku ingin tidur di Kursi mu," jawab Evelyne bersandar dengan memutar-mutar tempat duduknya seraya menikmati sensasi ini.
"Apa yang kau cari? Jangan berbuat macam-macam disini!"
"Sebenarnya mau-mu apa. Haa??" sambar Evelyne berdiri menggebrak meja. Ia menatap Maxwell penuh kekesalan dan matanya melotot garang.
"Kau tak memperbolehkan aku naik ke atas ranjang mu!! Kau pikir tidur di Sofa itu enak? Kau tak memikirkan punggungku. Dasar egois," ketus Evelyne membuat Maxwell ingin menjawab itu tapi ia sudah lebih dulu membekap mulut Pria ini.
"Aku tak memerlukan jawabanmu," ketus Evelyne lalu melenggang pergi keluar ruangan. Ia sudah tak ada mood untuk melayani pertengkaran Maxwell yang membuatnya sangat kesal.
"Kenapa menyalahkan ku? Sudah jelas dia yang tak mau naik ke sana," gumam Maxwell sampai mengusap kasar wajahnya lalu pergi keluar ruangan.
Saat di depan Pintu sana ia sudah tak menemukan Evelyne dan Jendela kaca lantai atas Perusahaan yang terbuka membuat Maxwell segera melangkah ke sana.
"Dia.."
__ADS_1
Hawa dingin ini berhembus masuk ke dalam. Maxwell melihat jika Gedung ini sangat tinggi dan hanya di lantai inilah ada kaca yang bisa di buka secara manual karna mengingat Maxwell menghabiskan waktunya disini.
Tapi, bagaimana cara Evelyne turun? Apa Wanita ini meloncati beberapa atap Gedung di samping sana.
"Dia memang benar-benar!"
Maxwell segera pergi masuk ke Lift dengan balutan Kaos putih lengan pendek yang menonjolkan otot tubuhnya dan celana panjang longgar menambah kesan jenjang di kaki kokohnya.
Saat Lift ini sudah terbuka. Para anggota yang tengah berjaga langsung menunduk melihat kedatangan Maxwell ke lantai dasar.
"Tuan!"
"Dimana Wanita itu?" tanya Maxwell seraya berjalan keluar Pintu kaca Perusahaan. Ia berdiri di tengah-tengah luasnya pekarangan Perusahaan dengan suasana terang bulan memanfaatkan cahaya itu untuk menatap ke arah atas.
"Tuan! Kami tak melihat siapapun keluar dari Gedung ini."
Maxwell hanya diam. Tapi, sesaat kemudian ia baru sadar jika ini hanya tipuan belaka.
"Siall!"
Maxwell bergegas masuk kembali ke dalam dengan pikiran bisa mencerna apa yang tengah Evelyne rencanakan.
....
Sementara di dalam kamar sana. Evelyne sudah menemukan Bingkai Foto yang malam itu Maxwell peluk. Ia mengingat ada tulisan di belakang Foto ini dan dengan cepat masuk ke kepalanya yang di simpan tepat di bawah Ranjang.
"Jalan Roat Kota Jihain!"
Gumam Evelyne kembali menyimpan Foto itu lalu pergi ke dekat jendela kamar. Ia menyeringai puas karna akhirnya ia bisa membuat Maxwell terkecoh.
"Cih. Kau pikir aku tak bisa menemukannya. Hm?!" desis Evelyne menepuk dadanya karna tempat tinggal Tuan Marcello juga sudah ia temukan saat menggeledah Meja Kerja Maxwell tadi.
Hanya saja gudang persembunyiannya tak akan berani Maxwell geledah.
Merasa sudah cukup dengan ini. Evelyne segera keluar dengan cara meloncat dari jendela besar ini dan memanjat pinggiran tipis Gedung tanpa takut ketinggian di bawah sana.
Ia menyelinap bak bayangan hantu karna itu memang keahliannya.
....
Vote and Like Sayang..
__ADS_1