
Denyutan Monitor terdengar sangat jelas di Ruang rawat khusus yang tengah mengurung sesosok Pria dengan perban hampir menutupi seluruh leher dan kepalanya. Tabung oksigen itu terpasang rapi dengan Dokter yang memeriksa kembali Tubuh pria ini karena mengalami patah tulang di beberapa area dan nyaris putus tapi untung saja masih bisa di perbaiki.
Keadaan ini di pandang datar oleh mata tajam Dawson yang tadi mendapat kabar jika Kaylo masuk Rumah sakit dalam keadaan kritis dan separuh anggotanya di tahan oleh Maxwell.
"Tuan! Kemungkinan dia tak akan sadar dalam beberapa minggu ini. Ada benturan yang sangat keras di bagian kepala dan tengkuknya patah. Kami akan melakukan tindakan Operasi besar jika ini tak efektif," jelas Dokter yang menangani Kaylo secara khusus.
Dawson hanya diam tapi jelas matanya berkobar penuh dendam. Pria dengan rambut gondrong dan kulit eksotis itu terlihat menahan amarah didalam dirinya.
"Dia harus hidup karna belum waktunya tiada," gumam Dawson melontarkan perkataan pedas dan kejam lalu melangkah pergi.
Anggotanya sudah ada di luar dengan raut cemas karna Dawson mungkin akan menyalahkan mereka akan kejadian ini.
"Tuan!"
"Apa perlu ku ajari cara menyetir?" desis Dawson membuat mereka gemetar. Dawson dan Maxwell hanya beda tipis dalam segi emosi, keduanya punya hal yang bisa membuat diri tak berkutik sama sekali.
"HANYA MENGAMBIL BUKTI SAJA KALIAN TAK BISAA!!!" bentaknya hebat dan itu sangat menggelegar.
"Tuan! Anggota mereka sangat cepat dan teliti, mereka sudah memperkirakan tentang.."
"Aku tak menerima alasan!" geram Dawson mengeluarkan Pistol di balik Jasnya lalu menembak habis kepala Pria yang tadi berani bicara di hadapannya.
Hal itu sontak membuat mereka pucat bahkan berkeringat karna ini pasti akan terjadi.
"Siapa yang ingin menyusul?"
"T..Tuan.."
"JANGAN TUNJUKAN WAJAH BUSUK KALIAN DI HADAPANKUU!!" maki Dawson menembaki mereka semua dengan seringaian tak lekang oleh teriakan para anggotanya.
Lantai ini sudah bermandian darah begitu juga tubuhnya membuat Dokter yang ada di dalam ruangan Kaylo seketika berkeringat dingin.
"Tak bergunaaa!!!"
Suara makian Dawson yang keras dan terkesan sangat egois. Pria itu suka berubah-ubah dan selalu memilih jalan cepat untuk melampiaskan amarahnya.
Ditengah ketidak-terimaan ini Dawson mendapat Notifikasi di Ponselnya. Lagi-lagi wajah Pria itu mengeras dengan bibir tipis melengkung sinis.
"Kau memang luar biasa. Max! Kau bajingan hebat," geramnya meremas Ponsel itu sampai retak kala mendapati Berita tentang dirinya sudah naik ke meja Publik.
Ia melempar benda itu ke dinding di depannya lalu memejamkan matanya sejenak dengan tawa kecil yang tiba-tiba muncul mengerikan.
"Kau pikir aku akan mundur. Hm?" gumamnya mengusap rambut panjang itu ke belakang hingga rahang tegas seperti Deamon itu tampak jelas.
"Kau akan membayarnya!! Tunggu saja saatnya," imbuh Dawson benar-benar seperti kesetanan kala mendengar kejayaan Maxwell. Ia membenci Pria itu sampai mendarah daging dan tak akan pernah bisa melupakan kejadian di masa lalu.
"Kau memang pemain yang handal. Memanfaatkan wajah Tampan sialan-mu itu," ketus Dawson yang menyeringai iblis.
..............
Malam ini terasa sangat menyenangkan. Senyuman di wajah cantiknya sedari tadi tak pudar bak taburan bintang di atas sana dengan kemilau cahaya Kota yang menggambarkan rona tak biasa.
Evelyne tengah ada di dalam Mobil Blackbird yang di kendarai oleh Maxwell. Bagian atas Mobil terbuka hingga Evelyne bisa mengangkat kedua tangannya menikmati semilir angin malam ditengah pemandangan Kota yang indah.
"Ini baru namanya hiduup!!" teriak Evelyne bersorak senang tak sadar jika Maxwell sedari tadi hanya mengulum senyum samar melirik bagaimana hebohnya Evelyne setelah di ajak berkeliling dan keinginannya di penuhi.
"Kenapa jalanannya sepi?"
"Hm?" gumam Maxwell menatap jalanan yang sepi dan hanya Mobil mereka yang ada disini.
"Sepi. Biasanya banyak Mobil dan orang lain disini!" jawab Evelyne mencari-cari keberadaan Mahluk lain selain mereka.
Maxwell tak menjawab. Ia hanya diam tetap berkendara stabil membawa Evelyne ke tempat yang sudah ia Setting lebih dulu.
"Dan itu..." menunjuk area Mall yang besar.
"Kenapa ada Mobil tapi orangnya tak ada?" imbuhnya heran.
"Mereka sibuk!" jawab Maxwell asal tapi Evelyne tak sadar jika demi membawanya berkeliling Malam ini, Maxwell sampai membuat perintah khusus untuk mengosongkan jalanan utama di jam yang sudah ia tentukan.
Tentu uang yang harus berbicara. Ia rela mengeluarkan banyak Pundi-pundi berlian hanya untuk menyenangkan Wanita di sampingnya ini.
"Kenapa kita lewat disini? Seharusnya lewat di jalur yang ada.."
__ADS_1
"Kau ingin belajar membawa ini?" tanya Maxwell mengalihkan perhatian Evelyne yang seketika langsung mengangguk.
"Aku mau! Aku mau, Max!"
Jawabnya terdengar sangat bersemangat. Baru kali ini Maxwell mendengar namanya di panggil dengan benar oleh Evelyne yang terlihat menatap kemudi ini penuh hasrat.
"Kau panggil apa?"
"Aku mau!" jawabnya tak sabaran sampai memeggang lengan Maxwell yang menghentikan Mobil di pertengahan jalan dekat sebuah Taman mini Kota.
Ia beralih memandangi wajah cantik Evelyne dengan mata abu berbinar memindai Mobil ini.
"Ayo bergantian!"
"Kau panggil apa?" tanya Maxwell belum puas dan ingin mendengarnya lagi.
Evelyne yang tak tahu hanya bicara apa adanya tanpa menatap wajah datar tapi penuh arti Maxwell.
"Aku mau. Aku mau menyetir!"
"Bukan yang itu."
"Lalu?" tanya Evelyne menaikan satu alisnya saling pandang dengan Maxwell yang terlihat berubah mood. Ia membuang nafas kasar lalu kembali menghidupkan mesin Mobil.
"Lupakan!"
"Apa? Aku mana bisa menebak isi kepalamu," ketus Evelyne tapi Maxwell tak menjawab lagi. Ia membelokan Mobil untuk pergi kembali ke area Perusahaan dan itu membuat Evelyne syok.
"Kenapa kembali ke belakang? Bukannya kita mau belajar menyetir?"
"Lupakan saja!" jawab Maxwell tanpa intonasi. Evelyne seketika merenggut masam dengan bibir manyun melirik kesal Maxwell dari ekor matanya.
"Kau sangat menyebalkan!"
Umpat Evelyne melipat kedua lengannya di depan dada dengan Jas Maxwell masih ada di Tubuhnya. Pria itu sekarang terlihat lebih santai bahkan terkesan menggoda dengan 3 kancing kemeja terbuka menunjukan dada bidang berotot dengan kedua lengan kemeja di naikan menambah rona seksi dan Tampan.
Sebenarnya Evelyne agak risih karna bisa saja ada Wanita yang melihat Mode panas Maxwell yang jarang-jarang begini saat keluar apalagi seraya berkendara.
"Kau ini tuli atau bagaimana? Haa??"
"Pelan-kan suaramu!" tegas Maxwell tak suka dengan suara meninggi Evelyne.
"Salahmu sendiri. Kenapa tak menjawab?! Cih."
"Jika ingin di jawab. pelan-kan suaramu," tukas Maxwell membuat Evelyne memiringkan bibirnya seperti mengejek.
Tapi hal itu terkesan sangat menggemaskan karna mata besarnya seperti Barbie jadi terkesan judes dan pedas.
Setelah beberapa lama Evelyne mengambil nafas dalam lalu membuang wajahnya ke arah kiri.
"Kancing kemeja-mu terbuka!" gumamnya dengan suara rendah nyaris tak terdengar.
"Kau bicara?"
"K..kancing!" imbuh Evelyne agak kaku menyentuh dadanya sendiri. Maxwell melihat area dadanya dan seperti biasa exspresi wajah datarnya tak berubah.
"Lalu?"
"Anginnya cukup dingin. Kau bisa sakit perut, mungkin," gumam Evelyne mengusap tengkuknya sendiri pertanda dalam mode canggung.
"Kedua tanganku menyetir!"
"Jadi?" tanya Evelyne menatapnya heran.
"Aku tak bisa mengancingnya!" jawab Maxwell tak memandang sama sekali. Mendengar itu Evelyne diam sejenak. Kalau di pikir-pikir memang susah karna Maxwell tengah menyetir, benak Evelyne seperti itu.
"Hentikan dulu Mobilnya dan kau bisa.."
"Kau pikir aku punya waktu berkeliaran disini?!" ketus Maxwell hingga Evelyne tak lagi punya alasan menolak. Ia sebenarnya selalu gugup jika menyentuh Maxwell tapi ia tak punya cara lain lagi.
"Pejamkan matamu!"
"Kau ingin mati?" tanya Maxwell dengan intonasi serius.
__ADS_1
Alhasil Evelyne mengambil nafas dalam lalu sedikit membungkukkan tubuhnya kesamping dengan kedua tangan terulur untuk memeggang Kemeja Maxwell yang hanya santai menyetir.
Ntahlah. ini seperti bukan Maxwell yang dulu sangat muak didekati Evelyne.
"Dekatkan sedikit!"
Maxwell menggeser tubuhnya hingga Evelyne bisa menggapai kancing Kemeja-Nya yang terbuka. Ia menelan ludah kala otot dada Pria ini terlihat istimewa dan sangat sempurna.
"Kau tak sedang mengancing Kemeja."
"A.. Ha?" tanya Evelyne tapi segera sadar jika ia malah membuka kancing Kemeja Maxwell yang lain. Wajahnya seketika memerah buru-buru menyelesaikan tugasnya lalu kembali duduk dengan benar.
"Kenapa udaranya jadi panas begini?" gumam Evelyne mengibas wajahnya sendiri.
Maxwell hanya diam tapi tak di pungkiri wajahnya lebih berona dari pada sebelumnya. Ia terlihat menikmati tingkah konyol Evelyne yang terkadang begitu agresif dan tiba-tiba jadi pemalu. Apa ini memang kolaborasi jiwa?
Setelah beberapa lama keduanya diam tanpa bicara sepatah-katapun. Maxwell asik melirik Evelyne secara diam-diam sedangkan Evelyne seperti kebingungan akan perubahan sikapnya akhir-akhir ini.
Kebisuan mereka seketika tersita oleh Mobil yang tiba-tiba melaju ke arah berlawanan dengan cepat berhenti di depan Mobil Maxwell yang seketika ikut terhenti.
"Itu..."
Exspresi wajah Evelyne seketika berubah kala melihat Violet keluar dari Mobil bersama Tuan Marcello yang berjalan kesini.
"Ada hubungan apa kau dengannya? Max!" tanya Violet dengan mata sembab seperti baru menangis.
Maxwell hanya diam kala Tuan Marcello ikut mendampingi Violet dengan wajah keras menajam padanya dan juga Evelyne yang hanya diam.
"Aku tahu berita di Media itu bohong! Tapi, dengan kau bersamanya malam-malam begini maka itu.."
"Memangnya kau siapa?" sambar Evelyne keluar dari Mobil membuat Maxwell langsung ikut karna akan kacau jika Evelyne lepas kendali.
"Kau yang siapa? Dia ini suamiku dan kami belum berceraiii!!"
"Dasar pengemiss!!" maki Evelyne menarik rambut Violet sampai wanita itu memberontak dan Tuan Marcello sontak mendorong Evelyne kasar sampai nyaris terbentur Mobil.
Tapi, untung saja Maxwell dengan cepat menahan bahu Evelyne yang tengah mengepal.
"Jaga sikapmuuu!!!"
"Jaga INTONASI suaramu!" desis Maxwell dengan intonasi emosi dan terlihat jelas ia tak menyukainya.
Evelyne hanya diam menatap sinis Violet yang terbakar api cemburu melihat Maxwell sedekat itu dengan wanita lain.
"MAXWELL! KEMANA PERGI AKAL SEHATMU. HA?? APA WANITA INI YANG SUDAH MENCUCI OTAKMU??"
"Pergi!" geram Maxwell tak ingin berkelahi disini. Tapi, Tuan Marcello tampak cemas kala Violet berkaca-kaca melihat Maxwell yang sama sekali tak perduli padanya.
"Hentikan semua ini. Berikan kesempatan pada Violet untuk bersamamu. Max!"
"Apa kau tak punya malu?" desis Evelyne beralih bicara dengan intonasi meninggi.
"Kau yang tak punya harga diri!!! Kau merebut suamikuu!!!" bentak Violet keras
"Nikahi saja Ayah Mertuamu. Idiot," balas Evelyne tak kalah pedas dan hal itu membuat Tuan Marcello mengangkat tangannya pada Evelyne tapi tangan lentik nan lembut itu langsung menarik rambut Tuan Marcello lebih dulu membuat Violet terkejut.
"Daddy!!!"
Pekiknya histeris dan Maxwell juga terdiam melihat Tuan Marcello terjerumus karna cengkraman Evelyne.
"Pergi saja kalian ke nerakaa!!" geramnya melepas cengkraman itu lalu berjalan santai kembali masuk ke Mobil.
Tapi, kedua tangan Evelyne yang tadi terkepal sudah mendapatkan helaian rambut Violet dan Tuan Marcello yang sudah ia selidiki sebelumnya, ada cara untuk mengetahui apa mereka ayah dan anak atau bukan.
Sementara Violet. Ia ingin meminta bantuan pada Maxwell yang hanya acuh kembali ke Mobilnya. Maxwell memang diam tapi ia tahu apa yang terjadi barusan bukan cara bertarung seorang Evelyne.
"Apa yang dia rencanakan sebenarnya?!"
Batin Maxwell hanya tetap tenang menyalakan mesin Mobil meninggalkan area tempat ini.
....
Vote and Like Sayang..
__ADS_1