My Little Devil

My Little Devil
Menghilang!


__ADS_3

Malam yang tadi semakin larut sekarang berganti dengan mentari yang sudah terlihat naik ke permukaan langit. Cahayanya seperti biasa menebar kehangatan sampai lolos ke sela jendela kamar yang semalaman terbuka.


Sinar kekuningan yang tak begitu menyengat itu menyorot ke arah ranjang yang terdapat seorang pria dengan tubuh kekar separuh di tutupi selimut.


Wajah tampannya yang tadi lelap sekarang mulai terganggu hingga kelopak matanya mengkerut. Tangannya terangkat ringan menutupi cahaya yang menyilaukan matanya hingga perlahan ia mulai terbawa ke alam sadar sesungguhnya.


Awalnya kabur dan masih belum berniat penuh untuk bangun. Perlahan-lahan tapi pasti ia mengumpulkan kesadarannya itu-pun belum sepenuhnya.


"Ehmm!" gumam Maxwell menghela nafas dalam. Matanya sudah sepenuhnya terbuka hingga wajah bantal seksi itu terlihat menoleh ke arah samping.


Kemana dia?


Satu pertanyaan di benak Maxwell kala tak melihat ada sosok cantik itu disana. Ia segera beringsut duduk bersandar di kepala ranjang seraya memijat pelipisnya karna masih terasa berat tapi lebih segar dari semalam.


"Evelynee!!" serak Maxaell khas bangun tidur memanggil wanita itu.


Ia kira Evelyne ada di kamar mandi karna biasanya wanita itu sangat lama di dalam sana. Setelah beberapa saat menunggu tak ada sahutan apapun bahkan suara di dalam kamar mandi sana seakan tak ada aktifitas apa-apa membawa ketidaksabaran.


Maxwell dengan ringan menyibak selimut lalu turun dari ranjang. Ia berdiri di depan kamar mandi yang masih tertutup.


"Keluarlah! Jangan berendam terlalu lama!!" ujar Maxwell mengusap wajah bantalnya. Tak ada jawaban apapun akhirnya Maxwell menekan gagang pintu melihat ke dalam.


Dahinya mengernyit kala tak ada siapapun disini bahkan tetesan air dan Bathub-pun kosong.


"Kemana dia?!" gumam Maxwell belum berpikir hal yang macam-macam. Ia kembali melihat ke belakang dimana ada nampan makanan di atas meja dekat sofa.


Maxwell menghela nafas lega karna mungkin Evelyne keluar sebentar karna wanita itu selalu ingin berjalan-jalan kapanpun, pikir Maxwell begitu.


Tak ingin membuang waktu lama lagi Maxwell segera mandi. Ia merasa kurang nyaman dengan tubuh pegal dan terasa berbeda pagi ini.


Yang biasanya ia akan merasa segar tapi tiba-tiba saja Maxwell begitu mengantuk padahal ia sudah tidur semalaman.


Di tengah guyuran shower dan busa-busa sabun yang memijat tubuhnya Maxwell merasa tak enak di area perutnya.


"Apa pola hidupku sudah terlalu buruk?!" gumam Maxwell seraya membasahi tubuhnya dengan air. Ia berusaha tetap melakukan hal seperti biasanya, mulai dari menggosok gigi dan mandi sebersih mungkin.


Bahkan, Maxwell tiba-tiba saja menjadi sangat peduli bahkan terasa melenceng dari kepribadian biasa.


Ia terus mandi hampir 1 jam bahkan kulitnya-pun terasa dingin barulah Maxwell berhenti. Setelah itu ia memastikan tak ada satupun hal yang janggal di wajahnya termasuk satu tatanan rambut yang menurutnya tak bagus dan mulai terlalu panjang.


"Rambutku mulai tak teratur!" gumam Maxwell melihat pantulan wajah tampannya di cermin seraya memasang handuk ke pinggang kekarnya.


Padahal, tak ada yang berubah dari penampilannya bahkan begitu seksi dengan rambut basah dan wajah segar sehabis mandi ini. Aroma shampo dan sabunnya yang fresh begitu maskulin dan cocok di tubuh Maxwell.


"Tuaan!!"

__ADS_1


Suara Jirome di luar mulai terdengar. Maxwell menyudahi penelitiannya walau sesekali ia harus menoleh ke belakang menatap cermin yang masih memperlihatkan kadar ketampananya.


Ntahlah, dia yang dulu tak pernah ingin berlama-lama di depan cermin karna tahu jika sudah begitu sempurna sekarang mulai merasa kurang percaya diri.


"Tuaan!"


"Tunggu sebentar!" datar Maxwell berbelok ke kamar ganti. Ia bersiap seperti biasa dengan stelan kemeja dan celana formalnya yang sudah melekat ke tubuh kekar Maxwell.


Hanya saja Maxwell belum mengancing kemejanya karna masih mengurus rambut yang masih agak basah hingga perut berotot dan dada bidang itu memanjakan mata.


Awalnya Maxwell ingin memilih parfum yang akan ia pakai tapi teringat wajah Evelyne yang semalam menangis di pelukannya hingga timbul keinginan Maxwell untuk mengajak wanita itu jalan-jalan pagi ini.


"Sudah lama aku tak memanjakanmu!" gumam Maxwell merasa bersalah karna semalam ia membentak dan bersikap kasar pada Evelyne.


Sementara di luar kamar sana. Jirome seperti biasa selalu stand-by menunggu Tuannya dengan Paper-bag berisi makanan ditangannya. Ia sudah beberapa kali bolak-balik kesini mengecek, apa Maxwell sudah bangun dan sahutan tadi membuatnya lega.


Bukan itu saja tujuan Jirome menunggu. Ia baru saja mendapat panggilan dari anggotanya yang mengawasi di rumah sakit Nyonya Meeiner. Mereka mengatakan jika Tuan Fernandez memanggil Maxwell untuk datang ke sana.


"Aku harap Tuan mengambil keputusan yang tepat," gumam Jirome hingga pintu kamar terbuka.


Ia menundukan kepalanya melihat Maxwell yang keluar dengan stelan kerja rapi dan masih saja membuatnya iri akan pesona pria ini. Tatapan tajam yang tegas dan wajah tampan berkharisma itu membuatnya bangga.


"Selamat pagi menjelang siang. Tuan!"


"Hm. Dimana Evelyne?" tanya Maxwell yang melihat jam di pergelangan tangannya. Ia tadi baru sadar jika ini sudah mau siang dan ia tertidur cukup lama.


"Hm. Dimana dia?" tanya Maxwell lagi dengan intonasi datarnya menatap wajah bingung Jirome yang semalam melihat jelas wanita itu ada di kamar ini.


"Tuan! Bukannya semalam dia ada di kamarmu!"


"Saat aku bangun dia tak ada di sampingku," gumam Maxwell masih berpikir positif. Ia menghubungi ponsel Evelyne hingga suara benda itu ada di dalam kamar.


Maxwell bergegas masuk mendekati sumber suara hingga ia melihat ponsel Evelyne ada di bawah selimut.


Jantung Maxwell mulai terasa tak aman dengan pikiran yang mulai melayang kemana-mana.


Ponsel? Kau meninggalkan ponselmu. Tak biasanya kau seperti ini.


Ia melihat kemeja Evelyne semalam masih ada di lantai hingga suara Jirome menarik perhatian Maxwell.


"Ini makanan yang semalam ku bawa kesini. Ku pikir Tuan sudah memakannya!" menunjuk ke arah makanan yang masih utuh bahkan posisinya tak berubah sama sekali seraya meletakan paper-bag yang tadi ia peggang ke atas sofa.


Maxwell diam menatap tegas benda itu sampai Jirome ingat jika semalam Evelyne sempat aneh.


"Tuan! Saat aku datang kesini semalam Evelyne seperti baru saja menangis. Hidungnya merah dan matanya masih sembab dan berair. Aku pikir tuan memukulnya," lirih Jirome berbalik menatap Maxwell yang mulai tak tenang.

__ADS_1


"Kumpulkan anggota untuk mengelilingi Perusahaan!"


"Baik!" jawab Jirome mengikuti Maxwell yang keluar dari kamar. Pria tampan ini terlihat kelut menghubungi Jack untuk melihat CCTV di perusahaan.


"Tuan kau.."


"Cari di mana Evelyne berada dan berikan lokasinya padaku!" titah Maxwell berjalan cepat masuk ke lift diikuti Jirome yang sudah memberi pesan pada Gregor untuk memandu anggota berpencar.


"Tuan! Kau tenang saja. Evelyne memang selalu berkeliaran sesuka hatinya. Dia akan baik-baik saja!" ucap Jirome mencoba menenangkan Maxwell yang saat ini tak bisa mengendalikan perasaanya.


Tidak. Kali ini berbeda. Aku tak merasakan kehadirannya di sekitar tempat ini.


Panik batin Maxwell yang terus menunggu kabar dari Jack yang beberapa detik kemudian mengirimkan satu vidio padanya.


Maxwell yang tengah gelisah-pun segera membuka kiriman vidio itu hingga mata Maxwell terpaku pada rekaman CCTV yang memperlihatkan Evelyne yang berjalan sendirian di daerah sunyi dini hari tadi hingga ada mobil hitam yang berhenti di dekatnya.


Melihat wajah Maxwell yang mengeras Jirome mulai melihat layar ponsel Maxwell hingga matanya melebar menyaksikan Evelyne bertengkar dengan sesosok pria misterius yang terlihat memaksa Evelyne masuk ke dalam mobilnya sampai tiba-tiba saja Evelyne pingsan dan vidio itu tiba-tiba eror.


"Tuan! Evelyne pergi sedari dini hari tadi!"


"DAN KALIAN TAK MENYADARINYA!!" geram Maxwell dengan wajah beku yang tak lagi terhitung dinginnya. Saat pintu lift terbuka Maxwell segera berlari menuju pintu utama perusahaan tak lagi perduli dengan sapaan dan tatapan bingung karyawan yang keheranan.


"Kenapa Presdir terlihat pucat?"


"Dia seperti takut dan panik. Baru kali ini aku melihat Presdir seperti itu selama aku bekerja disini."


Desas-desus mereka heran dan juga syok kala banyak para pria berpakaian serba hitam yang tampak mencari seseorang tapi segera bergegas keluar melaporkan hasil ini pada Maxwell.


"Tuan! Kami tak menemukan Nona di.."


"KEPUNG SELURUH KOTA INI DAN JANGAN LEPASKAN PEMILIK MOBIL ITU!!" titah Maxwell yang sudah tak sadar dengan dunianya. Ia masuk ke mobil yang tanpa aba-aba di kemudikan dengan cara yang sangat dramatis tapi itu patut di acungi jempol.


Gregor yang melihat Maxwell memacu mobil cepat keluar dari perusahaan langusung mendekati Jirome yang tengah menginsturpsi pada anggota lain.


"Jack akan melacak mobil ini dan kalian harus bersiap mengejar. Kirim anggota baru di Markas untuk mengawasi Bandara dan Pelabuhan!"


"Baik!" jawab mereka segera bekerja. Keadaan ini bahkan lebih berbahaya dari pada menghadapi ribuan musuh karna Tuannya pasti dalam keadaan yang sangat kacau dan penuh kekhawatiran.


Jirome-pun tak habis pikir. Ia mencemaskan Evelyne tapi lebih memikirkan Maxwell yang tak akan diam saja. Bisa-bisa dia akan terus memburu sosok misterius itu.


"Bukankah Nona biasanya memang suka keluar sendirian?! Dia pasti akan kembali," gumam Gregor tapi Jirome mengusap wajahnya frustasi.


"Ini berbeda. Tuan tak akan secemas itu jika tak terjadi sesuatu pada Evelyne-Nya!" jawab Jirome yang segera masuk ke mobil yang ada di dalam Lobby untuk segera mengikuti Maxwell.


Dalam keadaan seperti ini Tuannya tak akan bisa tenang karna objek utama yang hilang adalah jantung dan nyawanya.

__ADS_1


.....


Vote and Like Sayang..


__ADS_2