
Pagi ini Maxwell mendapat panggilan penting ke perusahaan. Ada beberapa rapat yang kemaren ia tunda sekarang meminta kehadirannya sebagai Direktur utama sekaligus pimpinan resmi perusahaan itu.
Apalagi Maxwell sudah memutuskan untuk mengubah nama Marcello pada MCC menjadi namanya. Jadi, ia harus mengundang direksi sekaligus melakukan pengubahan nama secara resmi.
"Nak! Kau pergi ke perusahaan-kan?" tanya Nyonya Meeiner yang pagi-pagi sekali sudah datang bersama Jirome. Pria berjambang tipis itu menyiapkan pakaian Maxwell yang sudah bersiap dan sangat rapi tapi ia lebih dulu duduk di pinggir ranjang Evelyne.
"Aku akan menjaga mereka. Lagi pula acara itu penting untukmu."
"Hm. Sebentar lagi!" gumam Maxwell tengah menggendong anaknya. Evelyne yang di paksa menyusui si kecil itu sedari tadi hanya diam bahkan ia terus menatap datar wajah mungil ini.
"Max! Siapa nama anakmu?"
"Aku sudah memikirkannya tapi tergantung apa Evelyne suka atau tidak," jawab Maxwell tapi Evelyne hanya diam.
Ia cukup gelisah karna interaksi anaknya dan Evelyne tak cukup baik. Bahkan, untuk memberi asi saja ia harus memposisikan bayi mungil ini di tangannya dan Evelyne cukup diam membiarkan rasa nyeri itu menjalar di dadanya.
"Max!"
"Hm?"
"Sakit!" gumam Evelyne mengadu dengan sikap manjanya menopang kepala ke bahu Maxwell yang tahu itu.
"Untuk pertama kali memang seperti itu. Nanti tak akan sakit lagi. Hm?"
"Dia seperti menghisap darahku. Memang monster!" desis Evelyne membuat si kecil itu semakin tak mau berhenti.
Dirasa ini sudah begitu lama Evelyne ingin melepaskan bongkahan kenyal yang begitu berisi itu dari emutan bibir merah kecil yang segera merengek.
"Sayang! Baby masih haus."
"Biarkan saja!" ketus Evelyne hingga Maxwell langsung mengambil nafas dalam. Ia saling pandang dengan Nyonya Meeiner yang juga bingung harus melakukan apa.
"Kau tak suka anak kita?"
"Sangat!"
"Kau tak ingin melihatnya?" tanya Maxwell dingin dan Evelyne mengangguk. Ia membiarkan Maxwell menggendong si kecil itu berdiri di samping ranjang rawatnya.
"Mom! Aku akan pergi!"
"Kemana?" tanya Nyonya Meeiner dan Evelyne hanya diam. Ia memperbaiki pakaiannya seakan tak perduli tapi jujur ia mulai gelisah.
"Evelyne tak mau anak ini. Di luar sana banyak wanita yang ingin seorang anak tapi tak bisa, dia sama sekali tak bersyukur dan biarkan ini ku berikan pada mereka!" dingin Maxwell menggendong anak cantik ini seraya menghubungi seseorang dari ponselnya.
"Ada apa? Tuan!"
"Aku ingin menjual anak!"
"Apaa??"
Suara Jack yang terdengar syok bukan main. Maxwell bicara dengan wajah begitu serius membuat Evelyne yang tengah mengancing pakaiannya berusaha tetap acuh.
"Siapkan semuanya! Bagiku istriku lebih penting dan dia tak menginginkan anak ini!"
"T..tapi.."
"Siapkan orangnya. Aku akan pergi sebentar lagi!" tegas Maxwell dengan melirik Nyonya Meeiner yang mengerti dengan isyarat Maxwell.
"Max! Jangan melakukan itu, Nak! Dia putri kalian!"
"Jika Evelyne tak menginginkannya untuk apa aku pertahankan. Lebih baik berikan saja pada orang yang lebih menyayanginya," jawab Maxwell mengemasi barang-barang yang tadi Jirome bawa.
__ADS_1
Mata Evelyne sudah berkaca-kaca dengan tangan beralih meremas selimut di tubuhnya. Posisi duduk dengan bersandar ini membuatnya ingin segera turun dari ranjang.
"Evelyne!"
Evelyne diam tak menyahut sama sekali. Ia bahkan enggan memandang Maxwell yang mendekat menunjukan bayi mungil di tangannya.
"Kau ingin menjadi ibunya atau tidak?"
"A..aku.."
"Jika kau keberatan aku akan menjualnya! Kau pasti akan senang-kan?" sarkas Maxwell berbalik ingin pergi tapi lengannya langsung di raih Evelyne yang menatapnya dengan netra berair dan murka.
"JANGAN BICARA SEMBARANGAN! AKU SUDAH LELAH MENGANDUNGNYA TAPI KAU MAU MENJUALNYA. HAA??"
Bentak Evelyne segera merebut si kecil itu secara paksa walau caranya cukup dramatis. Nyonya Meeiner di buat jantungan kala Evelyne memasukan bayi itu ke dalam pakaiannya sedangkan Maxwell ia bergerak cepat menahan tangan jenjang ini.
"Kau ingin membunuhnya ?"
"Jangan sentuh!" ketus Evelyne menepis tangan Maxwell yang ingin mengambil anak itu. Ia tanpa di arahkan mulai bersikap lebih baik memposisikan bayi mungil itu ke pahanya.
"Kenapa? Bukankah kau tak suka?"
"Tidak suka bukan berarti kau bisa menjualnya!!" pekik Evelyne memukul lengan kekar Maxwell yang mengulum senyum melihat wajah marah sekaligus ingin menangis Evelyne.
"Lalu aku harus apa? Kalian selalu bertengkar bahkan kau tak mau mengurusnya. Lebih baik aku berikan saja pada.."
"Jangan di jual!" lirih Evelyne bergetar dengan mata berkaca-kaca menatap Maxwell yang merasa lega dan juga hangat.
Manik abu si kecil itu juga menatap lekat wajah cantik sedikit pucat Mommynya yang kali ini seperti sangat tak rela.
"A..aku.. Aku janji tak akan begitu lagi tapi.. tapi jangan di jual. Jangan, Max!"
"Kau yakin?" tanya Maxwell penuh intimidasi. Evelyne mengangguk untuk pertama kali ia menatap sendu netra abu itu hingga ego keduanya mulai redup.
"Janji. Tapi, jangan di jual!"
"Hm. Kau urus saja sendiri!" gumam Maxwell segera memakai jasnya. Evelyne diam memandangi itu lalu beralih melihat bayi mungil di pangkuannya.
"Max!"
"Hm?"
"Namanya siapa?" tanya Evelyne dan Maxwell hanya menyembunyikan senyum di balik wajah dinginnya.
"Bukankah kau tak suka?"
"Selipkan nama Leen!" pinta Evelyne tanpa keberatan sama sekali. Maxwell diam merapikan pakaiannya seraya memakai jam tangan yang tadi ada di dalam paper-bag di atas nakas ranjang.
"Kau yakin?"
"Hm. Yakin!" jawab Evelyne kesusahan untuk menggendongnya. Nyonya Meeiner mendekat segera mengatur letak tangan Evelyne yang takut-takut memeggang leher lembek bayi ini sampai Maxwell turun tangan.
"Peggang bokongnya dan letakan kepala baby di lenganmu. Sayang!" .
"Nanti jatuh!" gumam Evelyne karna tubuh kecil ini sangatlah halus. Maxwell mengajarinya dengan penuh kesabaran bahkan sesekali bayi itu tersenyum melihat Maxwell menegur Evelyne yang malah ingin mencekik lehernya.
"Jangan di bagian itu. Peggang area tengkuk!"
"Seperti ini?" tanyanya memeggang tengkuk mungil ini hingga dirasa sudah benar barulah Maxwell menganggukinya.
"Hm. Seperti itu!"
__ADS_1
"Kenapa dia sangat ringan? Aku rasa selama ini aku makan cukup banyak!" gumam Evelyne heran. Padahal bayi itu lahir dengan bobot yang besar dan semangat. Buktinya pipi gembul dan paha merah itu selalu di jadikan objek mainan.
"Ini sudah besar dalam porsi bayi. Sayang!"
" Menurutku kurang," gumam Evelyne menimbang-nimbang dengan tangannya. Maxwell dan Nyonya Meeiner hanya menggeleng karna damai begini saja sudah menjadi kemajuan besar.
"Jika kalian bertengkar lagi aku akan menjualnya. Paham?"
"Bagaimana kalau dia yang mulai duluan?" tanya Evelyne tampaknya masih ada rasa jengkel. Maxwell sedikit memutar otak untuk membuat aturan pada dua bayinya ini.
"Siapapun yang mencari masalah akan dapat hukuman, baik itu Baby atau-pun kau sayang!"
"Emm.. Tapi.."
"Tak ada bantahan. Berbaikan sekarang atau aku akan berubah pikiran?" ancam Maxwell dan seketika Evelyne gelagapan. Ia mengangguk pasrah begitu juga anaknya yang tampak mengerijab beberapa kali dengan mata sendu pada Maxwell tapi tajam pada Evelyne.
"Namanya siapa? Max!" tanya Nyonya Meeiner karna kehebohan dua mahluk ini mereka jadi lupa fakta itu.
"Bagaimana kalau Leen Monster?" Sambar Evelyne bersemangat dan si kecil itu langsung merengek seperti tak suka.
"Jangan salah. Kau itu selalu suka menggangu jadi nama itu sangat tepat. Hm?" bisik Evelyne menyeringai.
Seakan merasa tertindas si kecil itu menatap Maxwell dengan pandangan yang bisa membuat orang menyerahkan jantung mereka apalagi Maxwell yang sudah jatuh cinta untuk kedua kalinya pada benihnya sendiri.
"Aleena Zean Fernandez!"
Sontak bibir bayi itu melengkung mendengarnya seakan ia sangat menyukai nama itu. Evelyne mencerna kata yang di berikan Maxwell dan membandingkannya dengan namanya.
"Namaku hanya Evelyne saja dan kau memberinya pertengahan namamu," sinis Evelyne tak mau kalah.
Nyonya Meeiner hanya bisa menggeleng saja. Ia salut dengan kesabaran Maxwell yang bisa mempersatukan dua kubu yang semalam tak bisa tidur karna selalu bertengkar.
"Karna kau bukan anakku. Sayang!"
"Kalau begitu angkat aku jadi anakmu," asal Evelyne mendapat jentikan sayang Maxwell di keningnya. Senyum Baby Leen mekar melihat wajah kesal Evelyne yang tampaknya akan diam-diam memusuhinya.
"Kau menyebalkan!! Aku ingin keluar dari sini!!" pekik Evelyne tapi Maxwell sudah mengatur semuanya.
"Tunjukan sikap baik kalian dan barulah bisa keluar dari sini!"
"Haa?? Yang benar saja??" decah Evelyne malas begitu juga Baby Leen yang tampak selalu bersikap baik di hadapan Daddynya.
"Aku tak mau tahu apapun alasannya. Jika ingin keluar kalian harus berbaikan dan jangan membuat masalah," tegas Maxwell seraya melihat ponselnya.
Ada pesan masuk dari Jirome yang mengatakan jika dewan direksi telah menunggu dan mereka menanyakan tentang Marcello.
"Mom! Aku pergi dulu. Awasi mereka berdua!" pinta Maxwell beralih mengecup bibir Evelyne kilas bergantian dengan kening Baby Leen yang terus menatap wajah tampan Daddynya.
"Hati-hati di jalan. Nak!"
"Jika mereka menyusahkan kau, katakan saja padaku!" tegas Maxwell yang segera pergi dari sini. Di depan sana sudah ada banyak penjaga termasuk Gregor yang selalu di tugaskan secara khusus.
"Tuan! Persiapan pernikahanmu sudah selesai. Undangannya juga siap di sebarkan!" seru Gregor yang mengikuti langkah Maxwell ke arah lift rumah sakit.
"Tunggu sampai istriku benar-benar sembuh dan hari ini rekaman interogasi Marcello harus kau sebar di media!"
"Semuanya selesai. Tuan!"
Maxwell mengangguk datar. Ia memang akan membuat Marcello tak akan punya tempat bernaung lagi karna kejahatannya sudah terlalu merugikan semua orang.
....
__ADS_1
Vote and Like Sayang..
Kita End minggu ini ya say 😊