
Ketika membuka mata, Andrea melihat Ren dan Zellina duduk di pinggir ranjang dengan wajah cemas. Bu Anis berdiri sambil memegang dagu. Pak Haris, pembina PMR di sekolahnya duduk dekat kakinya, memegang minyak kayu putih.
"Sudah sadar, tidak apa-apa, kok." Pak Haris berdiri dari duduknya. "Kamu sudah makan?"
Andrea tidak menyahut, dia memang dari kemarin malam lupa makan.
Gara-gara dia, Andrea membatin, teringat kembali dengan kemunculan Dale. Dia jadi sedih, kenapa hari ini jadi kacau seperti ini.
"Ndre, minum dulu!" Ren membawa segelas teh manis dan menempelkan sedotan ke bibir Andrea yang masih tergolek.
"Bagaimana, Pak?" Bu Anis bertanya kepada Pak Haris.
"Tidak perlu khawatir, Bu Anis, Andrea hanya salatri, perlu makanan masuk ke perutnya."
"Baik, Pak. Sebaiknya istirahat dulu saja, kamu yang jaga ya, Ren! pastikan Andrea makan, nanti saya suruh Ibu kantin bawakan makanan." perintah Bu Anis.
Ren mengangguk.
"Saya juga boleh, Bu?" Zellina bertanya dengan pelan.
"Boleh apa?" Kening Bu Anis mengerut.
"Menemani Andrea di sini."
"Ren saja, kamu kembali ke kelas!"
Zellina menunduk. "Iya, Bu." Dia memutar badan sambil memajukan bibirnya, berlalu menuju kelasnya. Bu Anis juga berjalan keluar diikuti Pak Haris sambil sesekali berbincang.
"Kamu sebenarnya kenapa, Ndre?" tanya Ren. Wajahnya terlihat khawatir.
"Ga tahu, tadi mendadak keringat dingin, mual dan pusing." Andrea mengurut kening.
"Jangan-jangan kamu kesambet."
"Kesambet?"
"Kata orang, kalau tiba-tiba keringat dingin, dan pusing bisa jadi itu kesambet."
"Enggak lah, aku memang lupa makan dari kemarin sore."
"Kok bisa jadi pelupa begitu? kamu lupa makan, lupa kerjakan tugas, juga lupa padahal sudah mengerjakan tugas."
Andrea tersenyum kecut. "Kalau yang itu aku tidak lupa, aku benar kok belum kerjakan tugasnya."
"Terus, yang tadi apa? Yang salah semua itu?" ledek Ren.
Andrea mengangkat bahu, lalu menyingkap selimut di kakinya.
"Kamu jarang makan ya? badanmu ringan banget tadi." Ren memijit-mijit kaki Andrea.
"Masa?" Andrea melihat-lihat tubuhnya sendiri. Tidak ada yang berubah, tetap begitu.
"Iya, tadi kita seperti membopong kapas."
"Halah lebay. Emang kamu bopong aku?"
"Iya lahh, siapa lagi, dibantu Zellina, Dewi, dan Zainal."
"Hahh?? Si Zay ikut bopong, iihh ...." Andrea bergidik.
Ibu kantin mengetuk pintu, lalu masuk sambil membawa nasi goreng.
"Neng Andre, ini makan dulu. Duuhh si Neng, kenapa bisa pingsan seperti itu sih, biasanya kalau belum sarapan suka mampir ke kantin dulu."
"Iya, Bu. Tadi lupa kalau ada kantin." Andrea beralasan tidak masuk akal.
"Lupa lagi?" tanya Ren.
"Jangan-jangan tanda awal penyakit pikun," kata Ibu kantin. Andrea mengetuk besi ranjang tiga kali.
"Kok satu, Bu?" tanya Ren.
"Kan yang sakit juga satu."
__ADS_1
"Tapi aku juga lapar, hehe ...."
"Neng Ren mah makan di kantin saja, kalau dilayani di sini nanti Bu Anis marah."
"Aah, Ibu mah enggak asyik." Ren mencebik. Ibu kantin menyimpan makanan lalu mengeloyor pergi.
"Sudah, kita makan bareng saja!" kata Andrea.
"Siapp, kamu aku suapi ya, Ndre." Ren menyendok nasi goreng panas dan wangi buatan Ibu kantin yang lezat itu. Andrea mendadak terharu oleh kesetiaan Ren.
"Kamu saja dulu, aku masih mual."
"Justru ini obat mual, kamu mual karena asam lambung naik, obatnya ya harus diisi makan." Ren menyuapi Andrea sedikit.
Andrea menurut. Sebenarnya dengan masuknya beberapa sedot teh manis juga sudah merasa sehat, dia hanya menghargai Ren yang tulus merawatnya. Beberapa sendok nasi goreng masuk ke mulutnya.
"Kalau kamu merasa harus pulang, biar aku ijin sama Bu Anis." Ren menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulutnya, Andrea sudah menolak karena kekenyangan.
"Enggak, aku mau istirahat dulu di sini. Nanti balik ke kelas."
"Ya sudah, istirahat ya, aku kembalikan piring ke kantin, sekalian minta air putih." Ren menunjukkan piring kosong.
Andrea mengangguk. "Terima kasih, Ren."
"Iya, tenang saja. Aku tutup atau buka pintunya?"
"Tutup saja!"
Ren berlalu sambil tersenyum. Tidak lupa menutup pintu ruangan UKS.
Andrea yakin sekali tadi dia dibopong Dale, makanya Ren bilang tubuhnya seringan kapas.
Dia kembali gelisah, merasa terganggu dengan kemunculan cowok misterius itu.
Lama Andrea merenung, matanya tidak bisa terpejam meski dipaksa. Dia turun dari ranjang.
Karena sambil melamun, Andrea lupa kalau ranjangnya tinggi. Dia turun seolah terjun.
"Aaahh ...." Andrea terkejut, mau jatuh. Tetapi sebuah matras empuk menahan kakinya.
"Neng," panggil Dale. "Hati-hati, tinggi."
Belum usai gelisahnya, sekarang makhluk itu muncul lagi, memegang ujung matras.
"Mau apa lagi kamu?" teriak Andrea. Tiba-tiba Ren membuka pintu.
"Kenapa, Ndre?" tanya Ren keheranan.
"Eh, enggak apa-apa. Tadi aku kira siapa," jawab Andrea.
Dale masih di sana, malah duduk di lantai, selonjoran.
"Sebaiknya aku ke kelas sekarang, Ren." Andrea bangun dari matras, tubuhnya sedikit limbung ketika berdiri. Ren menahannya.
"Kamu ngapain gelar matras?"
"Bukan aku kok, dari tadi juga udah digelar. Yuk, kita balik ke kelas," ajak Andrea.
"Benar mau ke kelas?"
Andrea mengangguk. "Aku enggak apa-apa kok, daripada di sini, sumpek." Andrea melirik Dale yang sedang menciumi minyak kayu putih.
Ren tidak bisa melarang, karena Andrea juga terlihat lebih segar. Mereka akhirnya keluar dari UKS. Dale mengikuti dari belakang. Andrea pura-pura masa bodo.
"Ndre, perasaan dari tadi ngga ada matras." Ren masih penasaran.
Andrea tidak menjawab, dia berjalan dengan terburu-buru, meskipun masih sempoyongan.
Jam pelajaran terakhir kebetulan tidak ada guru, Andrea pamit kepada Ren untuk ke toilet. Tanpa mau ditemani.
"Kamu baru aja pingsan, Ndre." Ren ngotot ingin menemani.
"Ren, aku ngga apa-apa. Sudah kamu tenang saja." Andrea berjalan ke toilet. Dale masih terus mengikutinya.
__ADS_1
Di belakang sekolah.
“Baiklah, cukup di sana saja!” Andrea menyuruh Dale berdiri jauh darinya. Tangannya menyetop Dale. Dale menghentikan langkahnya dan mematung jauh dari Andrea.
“Terima kasih sudah banyak membantu, tapi maaf, Gue tidak mau menerima keberadaan Lu. Kita, Gue dan Lu sepertinya berbeda alam.” Akhirnya Andrea bisa bicara lantang kepada Dale setelah sebelumnya mengumpulkan keberanian untuk mengajak cowok itu ke belakang sekolahan yang sepi, pinggir sawah. Dia tidak mau dianggap aneh teman-temannya karena bicara dengan makhluk gaib.
Dengan tetap mematung.
Andrea menatapnya dengan rambut berkibar tertiup angin sawah.
“Tidak usah sungkan, Neng. Itu sudah tugas saya, he … he … Tetapi Neng Andrea tidak bisa tidak menerima saya begitu saja, karena saya diprogram untuk menjaga Neng Andrea.”
Andrea terdiam. Dale acap mengatakan akan menjaganya.
Sebenarnya dia mengakui, kalau kehadiran Dale sudah dua kali ini memang untuk membantunya. Tidak ada yang kacau dalam harinya, hanya dia saja yang berpikiran kacau. Semalam dia tidak mengerjakan PR juga bukan salah Dale sebenarnya, dia yang lupa.
Tadi tiba-tiba pingsan juga bukan salahnya, dia sendiri yang tidak makan dari kemarin. Kalau tentang tas sekolahnya yang tiba-tiba ada di jok motor ibunya Andrea anggap bukan kekacauan, setelah diingat-ingat dia sendiri yang menaruhnya ketika keluar rumah lupa belum sarapan, jadinya balik lagi.
“Baiklah, kamu memang tidak mengganggu, tapi membuat Gue bingung, dan takut."
“Tidak usah bingung apalagi takut, Neng. Meskipun saya ini hanya terlihat oleh Neng doang, tetapi saya tidak jahat." Dale menekur.
"Kakek Neng, juragan Karsijan adalah juragan saya yang sudah menyelamatkan saya dari kejaran tentara kerajaan. Beliau berhasil meyakinkan raja saya, kalau saya ini bukan penghianat dan musuh negeri. Juragan Karsijan juga banyak mengajarkan kebaikan kepada saya, makanya saya berjanji akan selalu setia menjaga dan menuruti perintah beliau."
Andrea menyipitkan mata, curiga.
"Salah satunya menjaga kamu, cucu perempuan satu-satunya. Perjanjian kami tertulis di depan raja saya."
“Kakek kan sudah lama meninggal.”
“Tapi perintahnya abadi buat saya, Neng.”
“Kenapa hanya mengikuti saya? Bukannya Aa Dodo, Ua istri, atau siapa saja saudara kakek yang lain ….”
“Karena Neng Andrea yang telah membuka gembok karuhun itu."
“Gembok karuhun?”
Dale mengangguk.
Andrea mengerti sekarang kenapa Dale tiba-tiba ada di kamarnya waktu itu, ternyata dari gembok antik yang nyasar ke ranselnya itu punya kakeknya, pantas saja ketika gemboknya terbuka ada wangi-wangi aneh begitu. Andrea mengendus-endus angin sekitarnya.
“Kenapa, Neng?” tanya Dale, dia menciumi keteknya sendiri.
“Kok enggak wangi apa-apa, kemarin pas aku buka gemboknya ada aroma aneh dari mana itu?”
“Ooh, itu wangi dinding ruangan saya dalam gembok, Neng. Dindingnya terbuat dari kayu khusus." Dale promosi.
"Aneh," gumam Andrea.
"Wanginya aneh? Tentu saja, sudah bercampur dengan kentut saya puluhan tahun, hehehe ....”
Andrea melongo, lalu menelan ludah, jijik.
“Terus, kenapa kamu kadang terlihat kadang enggak? kenapa hanya aku yang melihat? kenapa baju kamu begitu? kapan kamu akan kelihatan?" Banyak sekali pertanyaan Andrea.
Dale garuk-garuk kuping.
“Saya mah datang ketika Neng Andrea membutuhkan pertolongan, atau ketika Neng Andrea memanggil saya. Soal Neng melihat saya, kan Neng yang mengeluarkan saya. Baju saya emang begini, Neng. Sudah paling modis ini." Dale memutar badan, sok artis.
"Euh, pertanyaan terakhir apa tadi?" Dale mikir sebentar.
"Oiya, saya kapan saja akan kelihatan, Neng, apalagi kalau dipanggil." Dale akhirnya beres menjawab semua pertanyaan Andrea.
Andrea ingat ketika kejadian mau tertabrak motor kemarin, tragedi tiang listrik, dan penyelamatan tugas matematika tadi pagi. Dale otomatis membantu kesulitannya.
Andrea terdiam, sisi baik jiwanya tidak mau gegabah dengan makhluk yang tercipta dari api ini. Tapi sisi buruk jiwanya mendapat bisikan ingin memanfaatkannya.
Lumayan Ndre, anggap saja dia bodyguard, kiriman kakeknya dari akhirat untuk menjaga aku dan Ibu. Batinnya bicara melantur.
“Terus, kalau tidak butuh bantuan kamu, tetapi aku ingin memanggil bagaimana?” akhirnya sisi buruk Andrea yang menang, sisi baiknya mencelat ke belakang. Dia melipat tangan di dada, bersiap menjadi bos cantik.
Dale tersenyum menang.
__ADS_1
Ingin tahu kelanjutannya? Terus baca di episode selanjutnya yaa ...