
"Kamu pelihara Jin?” teriak Ren.
Andrea menutup mulut Ren, tapi terlambat. Kelas mendadak sepi, semua melihat ke arahnya. Dia cengar-cengir sendiri, lalu melepaskan tangannya dari mulut Ren.
“Bukan ... Maksudku, aku bawa jeans dari rumah. Jeans, Ren, jeans. Kita kan mau langsung ke Mall.”
“Kalian mau ngemol ... Aku ikut ya, Ndre,” rajuk Zellina, merangkul pundak Andrea. Andrea mengangguk-angguk, Ren memandangnya heran.
“Kapan?” tanya Ren.
“Euhh ... besok kan."
“Kok aku ngga inget?” Ren berpikir keras.
“Mungkin lupa,” jawab Andrea.
“Ndree, kalau ngga inget itu namanya lupa.” Zellina mendadak pintar.
Ren baru ingat akan Zainal, dia segera mengangkat tangan Zainal yang masih terduduk di lantai.
“Sori sori, Zain. Siapa sih yang ikut PMR, bantuin dong!” Ren berteriak kepada teman-temannya.
“Alahh, manja, tinggal jalan sendiri, minta balsem.” Akri mendekat. Dia menarik tangan Zainal, lalu menyeretnya agar cepat jalan.
“Akri, pelan-pelan!” rengek Zainal.
“Mau aku carikan keong?” tanya Akri.
Zainal menggeleng kencang. “Jangan!”
“Kalau gitu, nurut!” Akri dan Ren menemaninya ke UKS. Andrea menjauih kelasnya diam-diam.
Dia melihat Dalle memeluk tiang di luar kelas, memandangi kantor guru.
Dia benar-benar sedang jatuh cinta, bagaimana ini? Masa naksir Bu Anis, aneh-aneh saja si Dale. Andrea membatin. Dia berjalan menghampiri.
“Sekarang kamu pulang aja, belajar Matematikanya ngga jadi,” bisik Andrea.
“Siap, Neng.”
“Harus!”
Dale melangkah gontai, lalu raib.
“Ndre, udah hubungi Kak Yadi?” Zellina menghampiri.
“Belum, lupa bawa ponsel.”
“Pake punyaku, sekalian save nomornya.” Zellina menyodorkan ponselnya.
“Lupa atuh, Zel, nomornya.”
“Kalau gitu kita samperin ke kelasnya.”
“Males, nanti aku hubungi dia dari rumah.”
Zellina merengut, kecewa. Andrea sedang tidak ingin mengurus yang lain, pikirannya sedang penuh oleh kekacauan yang dibuat Dale.
**
Selesai salat maghrib Andrea menemani ibunya menonton televisi sambil makan keripik talas.
__ADS_1
“Seru di sana, Bu?”
“Apa sih, Ndre, Ibu kan di sana kerja, bukan piknik.”
“Mana tau, kerja sambil piknik.”
“Kamu gimana sekolahnya?” Yuli balik bertanya.
“Gak seru.”
“Kalau ingin seru, nonton konser.”
Yuli beranjak, ambil sesuatu di kamarnya. “Tadi Bi Cicih menemukan ini, gembok apa sih?”
“Hahh? Ini aku cari-cari, nemu di mana?”
“Bilangnya di kamar.”
“Ouuggh ... makasih, Bu, makasihh.” Andrea memeluk ibunya. Dia merasakan pelukannya. “Ibu kurusan ya?” tanyanya.
Yuli melepaskan tangan Andrea. “Diet,” jawabnya.
“Diet? Sejak kapan Ibu diet? Apa Ibu sakit?”
“Kamu ini, apa Ibu terlihat sakit?”
Andrea memegang kening ibunya, lalu tangannya. “Ngga sih, tapi sepertinya Ibu kurusan dan terlihat lelah. Capek ya, Bu?”
Yuli tersenyum, lalu seperti biasa membereskan rambut Andrea. “Ibu ngga apa-apa, namanya juga kerja, capek sedikit wajar.”
“Jangan kerja terus dong, Bu, harus pikirkan kesehatan juga.”
“Iya, sejak kapan kamu jadi bawel?”
Klek! Besi gembok terbuka.
“Neng, jangan dong, Neng!” sebuah suara mengagetkannya. "Tolooooong, Neng!" Tiba-tiba Dale terdengar meronta.
Dale tersedot masuk ke lubang gembok.
“Ya ampun, Dale!” Andrea memekik. Sesaat dia terkesima sambil menutup mulutnya. Walaupun tidak melihatnya, tetapi dia yakin, itu tadi suara Dale
Klekk! Gembok kembali mengunci.
Andrea memandanginya lama. Merasa iba mendengar Dale minta tolong. Dia bermaksud memutar lagi anak kuncinya, tetapi teringat akan kelakuan Dale di sekolah tadi siang.
“Mungkin ini lebih baik, setidaknya sampai kamu melupakan Bu Anis,” kata Andrea pada dirinya sendiri.
Dia tersenyum, punya cara baru untuk kendalikan peliharaannya. Anak kuncinya dia ambil, lalu menggantungkannya pada kalung tali hitam miliknya. Andrea memakainya di leher.
“Aman,” katanya lagi, sambil senyum-senyum. "Sori, Dal. Kamu baik-baik saja dulu di gembok ya."
**
Sejak kejadian jawil misterius, Bu Anis jadi trauma. Tidak mau lagi mengajar di kelas Andrea.
Bahkan, ada selentingan beliau akan mengundurkan diri, karena kejadiannya tidak hanya di kelas Andrea tetapi sampai di kantor juga dia kerap digoda makhluk halus.
Sebagian teman-teman sekelas Andrea merasa ikut merinding, sebagian lagi menikmati.
“Baguslah, mengurangi kehororan Matematika,” kata Akri enteng.
__ADS_1
“Kalau bisa digantinya sama guru yang lebih cantik dan sexy.” Joni menimpali.
“Uh, dasar omes.” Andrea yang mendengar percakapan mereka melemparkan kertas bungkus bakwan ke kerumunan geng itu.
“Sekalian sama bakwannya, Neng!" Joni cengar cengir.
“Kasian bakwannya kalau mendarat di orang tidak bertanggungjawab kayak kalian,” kata Andrea.
“Emang kenapa, Ndre?” tanya Zellina, tidak mengerti maksud ucapan Andrea.
“Takut hamil,” jawab Andrea. Zellina berpikir keras, membayangkan bakwan hamil, nanti melahirkan udang.
“Nah, ngomong-ngomong bertanggung jawab, sebenarnya lu yang harus tanggung jawab.” Akri berdiri, menghampiri Andrea.
“Eh, ada apa ini?” Ren segera menghadang Akri.
“Nih, lu sendiri denger kan kemarin, si Andrea bawa jin ke sekolah. Jinnya tuh yang menggoda Bu Anis.” Akri menunjuk-nunjuk muka Andrea.
“Bos, sebenarnya kamu teh seneng ngga Bu Anis keluar?” Joni bingung ketika ketuanya mempersalahkan keluarnya Bu Anis.
Akri melengos, dia juga tidak tahu harus bersikap bagaimana, meskipun resignnya Bu Anis cukup membuatnya bebas dari guru killer, tapi hatinya sangat menyayangi Bu Anis. Dari kelas satu Bu Anis selalu menjadi wali kelas mereka, karena hanya beliau yang bersedia menjadi wali kelas, mengingat kelas mereka yang susah diatur.
Andrea terdiam.
“Kenapa lu diem aja?” tanya Akri.
“Lu kenapa sih, kan Andrea udah bilang, dia bukan membawa jin, tapi jeans. Tahu ngga jeans? Taunya kolor doang si, lu.” Ren menjegal Akri yang berdiri di hadapan Andrea.
“Iya nih, kayak aki-aki, taunya sarungan mulu.” Zellina ikut-ikutan.
Andrea mundur, lalu pergi duduk di mejanya. Dia merasa omongan Akri ada benarnya, semua kekacauan itu disebabkan dirinya yang membawa Dale ke sekolah.
"Lu berdua kenapa? gue ngomong sama cewek setengah cowok itu kok." Akri berang, tetapi tidak melanjutkan koar-koarnya, karena Ren sudah bertolak pinggang.
Untuk memberinya pelajaran, Andrea membiarkan Dale diam di dalam gembok sudah dua hari ini. Dia sedang menjadi tuan yang disiplin, tidak mengenal kasihan, biar nyaho. Hukuman untuk biang onar.
**
Siang ini Andrea melihat Bu Anis menuju ruang kepala sekolah. Dia menggamit tangan Ren yang sedang membuat kapal-kapalan dari kertas bungkus gorengan.
“Eeh, mau kemana?”
“Ikut aja!” kata Andrea
“Eh kaliaaan, aku ikut dong ....” Zellina menubruk Andrea dari belakang. Tangannya memegang bagian bawah rok dengan adegan menahan pipis.
“Kebiasaan,” sindir Ren. Wajahnya masih jutek sama Zellina.
Dari lubang kunci.
“Sudah dipikirkan matang-matang, Bu Anis?” tanya Bu Kania. Kepala sekolah merangkap ketua yayasan.
“Matang sekali, Bu. Mungkin kalau daging sudah empuk.” Bu Anis berkelakar, disambut senyum bijak Bu Kania.
“Ini surat pengunduran diri saya. Saya tidak nyaman lagi mengajar di sini."
"Sebenarnya kejadian persisnya seperti apa, Bu?" tanya Bu Kania.
Bu Anis menarik nafas panjang, lalu mengeluarkannya sekaligus.
"Sebenarnya sejak dulu saya sering merasakan sedang diperhatikan, bahkan ketika sedang bersama orang banyak. Saya sangat tidak enak. Akhir-akhir ini sudah melampaui batas, berani mengelus dan menjawil dagu saya, tanpa penampakan wujud. Daripada saya sakit, lebih baik saya mengundurkan diri. Saya tidak nyaman di sekolah ini,” lanjutnya.
__ADS_1
Apakah Bu Anis jadi mengundurkan diri? jawabannya ada di episode selanjutnya yaa ... terima kasih sudah membaca