My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 29 Princes Lapangan


__ADS_3

“Jadi lemburnya, Bu?” tanya Andrea. Mereka sudah ada di jalan raya. Semalam ibunya sudah memberi tahu kalau hari ini akan pulang malam, dan Andrea curiga.


“Iya, kenapa? Ibu masih bisa jemput kamu dulu kok.”


“Kalau gitu, nggak usah jemput aku deh, kasihan, nanti ibu kecapaian.”


“Nggak, kok, Ndre.”


“Aku juga ada janji, sore ini mau jalan dulu,” kata Andrea. Suaranya lamat-lamat tertelan angin.


“Sama siapa?” Yuli bicara agak kencang sambil menyalip sebuah motor di depannya.


“Teman,” jawab Andrea, tidak kalah kencang.


“Punya nama kan?”


“Punya atuh, Bu. Lengkap, hanya belum punya gelar saja.”


“Maksud Ibu, siapa namanya?”


“Kepoo ....” Andrea meneleng, melihat wajah ibunya dari samping. Helm yang mereka pakai beradu.


“Ya sudah, pulangnya jangan malam-malam!”


“Oke, Bos.” Andrea memeluk pinggang ibunya. Dalam hatinya Andrea meminta maaf, karena dia mencurigai ibunya dan sore nanti rencananya mau mengikuti ibunya, ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Belum sampai kelas, Andrea sudah dihadang Zellina.


“Ndre, nanti ada pertandingan tim basket aku sama tim basket senior putri. Kamu bawa ini ya!”


“Apa ini?”


“Buat penyemangat kita.” Zellina memberikan sebuah poster kepada Andrea. Gambar Zellina berkostum cheerleaders terpampang di sana.


“Bukannya kamu main basket, Zel?”


“Merangkap pemandu sorak, Ndre.”


“Gimana caranya?”


“Bawel, bawa aja! Pokoknya nanti harus nonton!” Zellina berlalu untuk membagi-bagikan posternya kepada yang lain.


“Aiihh, kesambet nggak sembuh-sembuh nih anak. Mau main basket apa mau kontes nyengnyong?”


“Andrea, tunggu!” seseorang memanggil. Ternyata Salsa. “Sudah dengar kabar Bu Anis?”


“Nggak, kenapa?”


“Aku dengar dia mau dibawa keluarganya ke Jawa.”


“Dapat info dari mana?”


“Dari kelas lain, kebetulan ada tetangga Bu Anis. Dia melihat keluarganya dari Jawa sedang berkumpul di rumah Bu Anis.”


“Belum tentu, mungkin mereka menengok. Bu Anis bilang kemarin mau menjalani terapi."


Salsa mengangkat bahu. “Apa itu?” Dia melihat poster di tangan Andrea.


“Biasa Princes kw lagi kumat.”


Salsa tersenyum geli melihat gambar Zellina dalam poster.


“Yuk, masuk. Sekarang ada ulangan Biologi kan?”


“Oh iya, aku belum belajar.” Salsa belingsatan masuk kelas.

__ADS_1


**


Andrea dan Ren duduk di bawah pohon beringin dekat lapangan basket, sambil menyusun rencana menjenguk Bu Anis lagi.


Zellina sedang nyerocos memberi pengarahan kepada timnya. Entah apa yang dia omongkan, teman-teman timnya juga tidak memerhatikan, kebanyakan malah asyik memeriksa penampilan. Touch up, dandanin rambut, dan selfie-selfie.


Penonton lumayan banyak, kepala sekolah sengaja membebaskan jam pelajaran lebih awal agar para siswa melihat pertandingan itu dan termotivasi. Mereka rata-rata penasaran dengan permainan tim junior yang baru seumur jagung melawan senior yang sudah lama vacum.


Zainal menari-nari dengan poster Zellina, ditemani Rani dan Dewi. Geng Akri menonton dari kantin, sambil makan kacang dan kuaci. Perasaannya mereka penonton eksklusif.


“Kapan kita ke rumahnya Bu Anis? Jangan kelamaan, takutnya beneran berangkat ke Jawa,” kata Andrea.


Ren tidak menyahut, pandangannya tertuju pada kelakuan Zellina dan timnya.


“Aku nggak yakin,” kata Ren.


“Nggak yakin Bu Anis ada?”


“Bukan, itu, aku nggak yakin Si Pecel bisa main basket.”


“Gimana sih, Ren. Kita kan lagi bicarakan Bu Anis.”


“Iya. Sori.”


“Hai, kalian nonton juga?” Yadi datang, duduk di sebelah Andrea. Ren terlihat grogi. Dia membenahi jilbabnya.


“Iya, Kak. Bukannya Kakak official?” tanya Andrea.


“Nggak boleh duduk di sini?”


“Eh, boleh, kok.” Andrea senyum-senyum sambil menyenggol Ren. Ren tidak bisa menahan sergapan debaran jantungnya.


Pertandingan di mulai, penonton bersorak. Yang punya poster Zellina mulai mengangkat poster untuk menyemangati. Andrea juga ikut berdiri dengan posternya.


“Onde-ondekuuu ....” tiba-tiba Zellina berteriak sambil mengejar Bola basket ketika peluit berbunyi.


Yadi geleng-geleng kepala melihat kelakuan tim Zellina.


Penonton semakin riuh tertawa, poster yang dibawa teman sekelas Zellina raib dari udara. Semua turun, bak baliho kalah pemilu.


Permainan yang didominasi jeritan dan loncatan di tempat itu berlangsung seru, wasit sampai kewalahan, pemainnya tidak tahu aturan.


Tiba-tiba sebuah benda bulat besar melesat, kencang dan berat menghampiri Ren yang sedang mencuri pandang kepada Yadi.


Andrea melihatnya, dan berusaha berteriak mengingatkan, tetapi Ren tidak mendengarkan, sampai akhirnya bola itu mendarat di kepalanya.


Bukk!!


Bola basket memental, kembali ke lapangan, jatuh ke dekat tiang ring, Ren pingsan. Zellina memekik, lalu berlari ke luar lapangan.


Andrea dan Yadi segera menolong Ren, membopongnya ke UKS. Zellina mengikuti setelah menyalahkan salah seorang timnya yang ceroboh.


“Ren, kamu baik-baik saja kan?” tanya Zellina khawatir. Dia mulai menangis. Pak Haris berusaha menyadarkannya dengan minyak angin.


“Ren … Ren,” ujar Andrea sambil menaruh kepala Ren di pangkuannya. Dia juga sangat khawatir dengan Ren.


“Kamu baik-baik saja?” tanya Pak Haris setelah melihat Ren siuman.


Ren bangun sambil memegang kepalanya.


“Ren, ingat kita kan, Ren? Demi apa pun, jangan sampai amnesia ya, Ren,” kata Zellina.


“Ren ....” Yadi ikut menyadarkan Ren dari bengongnya.


“Euuhh, iya … ini ada apa ya? Kepalaku sakit sekali.”

__ADS_1


“Kamu tadi terkena bola, dan pingsan.” Yadi menjelaskan.


Ren memijit-mijit kepalanya, dia kelihatan rikuh dipandangi Yadi seperti itu. Andrea memberinya minum.


Pak Haris segera menyuruh beberapa orang untuk keluar agar Ren tidak kepanasan, sebelum ada tim medis yang memeriksanya.


“Tidak usah, Pak, saya nggak apa-apa. Kalau boleh mau pulang saja.” Ren tidak mau menunggu dokter.


“Beneran? Kamu tidak apa-apa?”


Ren mengangguk. “Saya tidak apa-apa.”


“Ya sudah kalau begitu. Kamu boleh pulang, biar Bapak suruh Yadi antar kamu.” Pak Haris ke luar.


Lalu masuk lagi bersama Yadi. Zellina terlihat kurang senang.


“Mau pulang, Ren?” tanya Yadi.


Ren mengangguk. Zellina semakin terlihat kurang senang, alisnya mulai berdekatan.


“Ingat tikungan, Ren!” bisik Andrea.


Ren melihatnya heran.


“Tikungan apa, Ndre?” tanya Ren. Andrea segera terbatuk-batuk.


“Maksud aku, hati-hati di jalannya.”


“Menurut Bapak, kamu juga ikut, Andrea. Takut ada apa-apa di jalan, Yadi nyetir mobil,” kata Pak Haris.


"Tapi, Pak."


“Saya setuju, Pak,” sambar Yadi.


Zellina benar-benar tidak senang, sekarang kedua alisnya benar-benar bersentuhan.


“Aku juga ikut!” teriaknya.


“Ikut ke mana? bagaimana pertandingannya?” tanya Pak Haris.


“Oh, iya, Zel. Kamu teruskan pertandingannya yang tertunda. Semangat ya, demi basket!” Yadi mengacungkan tangannya.


Andrea memapah Ren turun dari ranjang dibantu Yadi.


Ren deg-degan ketika Yadi menyentuh tangannya, dia ingin Andrea menjauh, ke mana saja, luar negeri juga boleh, dan membiarkan Yadi saja yang memeluk pinggangnya.


“Ayo teruskan pertandingannya, Lina, kejar onde-ondenya sampai dapat!” ledek Pak Haris.


Pak Haris berlalu sambil terkekeh, tinggal Zellina yang mematung, kali ini dia merasakan sesuatu yang panas di dadanya, seperti ada yang menyalakan api unggun dekat hatinya, ketika melihat Yadi melirik terus kepada Andrea.


Zellina berbalik, mau kembali ke lapangan, tetapi jantungnya langsung melonjak ketika di depannya ada Fany dengan dandanan byojaku-nya.


“Ngagetin aja,” ketus Zellina. “Minum vitamin kek, Fan, biar segar hidupmu,” saran Zellina.


“Kasihan amat, teman lu mulai main di belakang?” tanya Fany dengan suara lemahnya, membuat Zellina mengernyitkan dahi.


“Kok kamu ngomong gitu? Emang lagi main petak umpet?” Zellina memajukan wajahnya ke dekat wajah Fany, lalu berjalan.


“Masih pura-pura blo’on aja.” Fany juga berjalan.


“Hehh, maksud kamu apa?” Zellina berbalik, menghadang langkah Fany.


“Tanya aja sama diri sendiri, lu blo’on apa pura-pura? Biar banyak yang perhatian,” sinis Fany. “Oh, iya. Kalau lu terus-terusan begini, teman lu dua-duanya akan nikam lu dari belakang.”


Zellina terkejut mendengar kata-kata Fany. Dia tidak menyangka, Fany bisa mengetahui, kalau selama ini dia hanya berakting jadi cewek manja yang tulalit, biar banyak yang perhatian dan menganggapnya ada.

__ADS_1


“Sok tau,” teriak Zellina. Fany tidak menggubris, dia terus berjalan menuju perpustakaan.


terima kasih yang sudah setia membaca, jangan lupa like, komen, rate, dan vote


__ADS_2