My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 42 Sowan Kedua Kalinya


__ADS_3

Lapangan sekolah sudah dipenuhi siswa-siswi yang akan mengikuti doa bersama.


Andrea melihat Fany berdiri di depan pintu perpustakaan. Dia menggamit tangan Ren untuk menemui Fany dulu.


Fany terkejut melihat kedatangan dua teman sekelasnya itu.


“Kenapa masih di sini? Lu takut kepanasan?” tanya Andrea. “Atau, teman Lu kabur ketakutan?” lanjutnya.


Ren juga menatap Fany penuh selidik. Fany melangkah menjauh.


“Lebih baik kamu tobat, Fan. Tidak baik berteman dengan makhluk jahat seperti itu,” kata Ren.


Fany menghentikan langkahnya, lalu berbalik dengan gemulai. “Terus apa bedanya, sama dia?” Fany menunjuk Andrea.


“Eh, aku beda ya, penjagaku baik, tidak seperti pengawalmu,” tukas Andrea.


Fany tersenyum sinis. “Mana ada jin baik. Semuanya juga punya misi, dan misinya sama, jahat.” Dia berbalik lagi dan meneruskan langkahnya yang kaku diseret-seret.


Andrea semakin geram.


Ren diam saja, bingung harus bagaimana, karena dia sendiri tidak bisa melihat siapa yang Fany dan Andrea bicarakan.


“Dasar muka lesu!” geram Andrea.


“Si Fany pakai riasan ala byojaku ya?” tanya Ren.


Andrea mengangkat bahu. “Memang itu namanya byojaku?”


“Menurut yang aku baca sih iya, riasan Jepang yang menyerupai orang sakit, lima L.”


“Mau byojaku, mau Mbok jamu, bodo amat,” kata Andrea, dia berjalan menuju lapangan.


Pengeras suara kembali seperti memekik di udara. Para anggota OSIS membagi-bagikan buku doa.


“Ngga sekalian snack, Kak?” tanya Akri.


“Kamu kira ini arisan emak-emak? Harus ada konsumsi,” jawab petugas OSIS.


Joni menyikut Akri yang cengar-cengir.


“Lapar,” bisik Akri.


Selama hampir satu jam sekolah menggema oleh siswa-siswi yang mengaji dan doa bersama.


*


“Setelah ini temani aku menghadap Bu Raisa ya, Ndre.” Ren menggandeng tangan Andrea memasuki kelas.


“Mau apa?” tanya Andrea.


“Ck, kamu mau kita tidak belajar matematika terus? Aku akan serahkan surat pernyataan kemarin, sudah aku revisi di rumah.”


“Bukannya anak-anak pada belum sempat tanda tangan?”


“Tidak usah kali, biar aku saja yang bertanggung jawab.”


“Kamu yakin? Anak-anak susah diatur begitu. Nanti malah menyulitkan diri sendiri.”


“Terus bagaimana? Masa aku harus diam saja ada guru yang mogok mengajar seperti itu. Kalau perlu, aku beri kompensasi deh buat anak-anak, biar diam dulu waktu belajar.” Ren berjalan menuju tempat duduknya.


“Kasih kompensasi apa? Gayanya kayak anak konglomerat saja.” Andrea menyusul.


“Permen kaki,” sahut Ren.


“Kamu anggap teman-teman kita yang unik itu anak TK? Bisa diam sama permen kaki.”


“Pokoknya aku harus berbuat sesuatu, Ndre, enggak diam saja.”

__ADS_1


“Duduk dulu deh, kita diskusi dulu.” Andrea menyuruh Ren duduk di sebelahnya.


“Aku tadi sudah memikirkan sesuatu. Bagaimana kalau kita kembali membujuk Bu Anis.”


“Ck ....” Ren memalingkan muka sambil berdecap. Dia mengambil surat pernyataan di dalam tasnya.


“Dengar dulu!” seru Andrea. “Kali ini kita libatkan Pak Iwan.”


“Jangan macam-macam deh, Ndre!”


“Ngga, hanya satu macam. Pak Iwan jatuh hati pada Bu Anis, dan Bu Anis harus tahu itu.”


“Kalau sudah tahu?”


“Bu Anis kan penasaran, dia akan datang lagi deh ke sekolah ini.”


“Kalau enggak penasaran?”


“Kita usaha saja belum sudah putus asa. Ya usahakan penasaran.” Andrea menatap Ren.


Ren terdiam. Sahabatnya itu memang sering punya ide konyol, dan tidak masuk akal. Dia akhirnya mencoba untuk setuju.


"Baiklah, tetapi jangan libatkan yang lain, cukup kita berdua saja.”


“Memang itu mauku, biar saja anak-anak tidak usah tahu, nanti malah ribet. Mumpung enggak ada Zellina juga, sekarang kita berangkat ke rumah Bu Anis.”


“Ini bagaimana?” Ren mengacungkan kertas surat pernyataan untuk Bu Raisa.


“Simpan saja dulu.” Andrea berdiri. “Ayo, Ren! Mumpung Pak Bayu juga absen, setelah ini kan pelajaran matematika, Bu Raisa tidak akan datang.”


Ren mengikuti Andrea. Mereka menitipkan kelas kepada Salsa dan Rani.


Di meja piket keduanya diinterogasi dulu oleh guru piket, lalu akhirnya diberi surat izin keluar setelah salah satu guru menghubungi Bu Anis untuk meminta izin siswanya berkunjung ke rumahnya.


“Setelah dari rumah Bu Anis langsung kembali ke sekolah!” kata guru piket.


Ren dan Andrea langsung menuju gerbang sekolah dan menyetop angkot.


“Tidak ada si Pecel, kita merana ya,” keluh Ren.


“Manja ... Naik angkot saja merana, aku hampir tiap hari asyik-asyik saja.”


“Kenapa kita enggak ajak Kak Yadi saja tadi,” kata Ren lagi.


“Sudah deh, Ren. Jangan cari penyakit. Persahabatan kita bertiga hancur gara-gara dia.”


“Iya sih, padahal kan Kak Yadi bukan milik siapa-siapa, si Pecelnya saja yang rumit.”


Andrea terdiam, dia yakin Ren belum tahu kalau Yadi berusaha mendekatinya.


Andrea tidak akan memberi tahu Ren soal itu, demi menjaga keutuhan persahabatan mereka. Dari nada bicaranya, dia yakin Ren masih berharap kepada cowok itu.


Tadinya Andrea akan usaha mendekatkan Ren dengan Gigit, supaya bisa melupakan Yadi. Tetapi entah kenapa hatinya tidak rela.


Ada sesuatu yang menjalar di dadanya ketika mengingat Gigit, membuat jantungnya berdebar-debar tidak karuan.


Sementara itu, di rumah Zellina sedang terjadi diskusi antara Zellina dan pegawai di rumahnya.


“Pokoknya Mbak Nuri harus bisa melakukannya.” Zellina menatap pengurus rumah tangga kepercayaan orang tuanya. Nuri yang lumayan **** mengangguk.


"Baik, Non. Memang mereka kenapa?" tanya Nuri.


"Mbak Nuri tidak usah banyak bertanya, pokoknya aku ingin mereka dapat masalah di sekolah. Titik." Zellina mengentakkan kakinya.


“Non Zel jangan begitu, mereka kan sahabat Non sejak masuk SMU.” Pak Supri ikut bicara.


“Pak Supri masih mau bekerja di sini?”

__ADS_1


“Masih, Non.” Pak Supri menunduk.


“Jangan mengatur saya!”


“Baik, Non!” jawab Pak Supri lagi.


Nuri memberi isyarat kepada Pak Supri untuk berlalu dari ruangan itu.


Zellina menatap kolam renang dari balik kaca sambil memegang softdrink kesukaannya. Diliriknya gawai di atas nakas.


“Tidak ada yang bisa mengalahkan Zellina Widya Wijaya. Termasuk kalian yang bermuka dua,” gumamnya dengan wajah masam.


**


Ren dan Andrea langsung disambut Bu Anis yang sudah mengetahui akan kedatangan mereka.


Andrea kecewa tidak menemukan tusuk konde Bu Anis, karena rambut Bu Anis diurai tanpa ikatan. Kalau ada, dia akan dadah-dadah pada Lyla, gebetan Dale.


“Kalian mau minum apa?” Bu Anis mempersilakan duduk mantan anak-anak didiknya.


“Terima kasih, Bu, kami hanya sebentar,” jawab Ren dan Andrea serempak.


“Tidak apa-apa, kalau begitu air putih saja ya, biar tidak lama.”


Bu Anis memanggil asisten rumah tangganya untuk membawakan minum, lalu duduk sambil menggendong kucingnya.


“Ada apa lagi?” tanya Bu Anis, menatap Ren dan Andrea bergantian.


Ren menyimpan surat keterangan keluar dari guru piket di atas meja. “ Ini surat izin kami ke sini, Bu.”


“Iya, saya sudah tahu. Yang saya ingin tahu kalian ada apa kesini lagi? Guru pengganti belum ada?”


“Sudah, Bu, namanya Bu Raisa. Tetapi beliau tidak mau mengajar di kelas kita,” tutur Ren.


“Kenapa?” tanya Bu Anis.


“Beliau tidak sabar dengan kelakuan teman-teman,” lirih Ren. Dia menunduk, diikuti Andrea.


“Maka dari itu, kami meminta Ibu untuk mengajar kami lagi. Kami butuh sekali sosok Ibu yang disegani.” Andrea ikut bicara.


Bu Anis menarik nafas panjang, lalu membuangnya pelan-pelan. “Kalian ini, memang tidak bisa berubah. Saya sebenarnya sayang dengan kalian semua. Kalian adalah prioritas saya untuk menjadikan anak-anak yang berilmu. Makanya saya selalu bersikap tegas. Tetapi, maaf, saya tidak bisa memenuhi keinginan kalian, saya sudah memutuskan berhenti, dan minggu ini harus pulang ke Jawa.”


Ren dan Andrea berpandangan. “Kenapa, Bu?” tanya Ren. Mereka melihat Bu Anis baik-baik saja.


“Saya akan berobat di sana, di sini tidak menghasilkan apa-apa. Penyakit aneh saya hanya bisa sembuh kalau saya bertemu buyut saya di Jawa.”


“Bu Anis masih punya buyut?” tanya Andrea.


Bu Anis mengangguk. “Ada, beliau sudah sepuh sekali. Tidak bisa kalau harus datang ke sini, jadi saya yang harus pulang ke sana.”


“Berapa lama, Bu?”


“Mungkin selamanya.”


Andrea dan Ren terenyak.


“Jadi ....” Ren menghentikan ucapannya.


“Jadi, saya tidak bisa kembali mengajar.”


Andrea menekur, dia mengumpulkan keberanian untuk bicara. "Kami turut prihatin dengan sakit Ibu. Tetapi kami ingin Ibu kembali lagi ke sini, jika Ibu tidak bisa kembali demi kami, setidaknya Ibu bisa memikirkannya lagi demi ... Pak Iwan.” Akhirnya Andrea melancarkan aksinya.


Bu Anis mengernyitkan dahi. “Pak Iwan?”


bersambung


Terima kasih yang sudah terus membaca, jangan lupa tinggalkan jejak yaa ...

__ADS_1


__ADS_2