
Minggu pagi, Dale sudah nangkring di pintu pagar, menunggu Andrea yang sedang memakai sepatu.
Rencananya mereka mau balapan lari. Siapa yang terlebih dahulu sampai di gerbang perumahan, dapat duren montong.
“Ayo atuh, Neng. Saya sudah tidak kuat pengen makan duren montong.”
“Lagunya, kayak bisa lari saja,” ledek Andrea.
“Jangan meremahkan remah-remah, Neng. Begini-begini, saya pernah jadi juara lari di negeri saya.”
“Lari apa? Lari dari kenyataan?”
“Lari dari kejaran tentara, hehe ... yang terakhir diselamatkan kakeknya Neng.”
“Hahaha, bandel sih?”
“Saya tidak mau dimasukkan ke kelompok penghasut, saya mah maunya menjadi penolong.”
“Weiiss, mantap, punya prinsip."
“Sekalian mau uji kekuatan, kemarin baru makan jengkol banyak lagi.” Dale memperlihatkan lengannya.
“Assalamualaikum.” Salam Bi Cicih dari luar pagar, mengagetkan Dale yang masih memijit-mijit bisepnya. “Neng mau joging?”
“Iya, Bi, masuk! Bawa apa itu, Bi?” Andrea juga kaget melihat Bi Cicih seperti membawa sekumpulan ular hijau.
“Taraaaa ...” Bi Cicih mengacungkan ular hijau yang dibawanya.
Dale melompat, menclok di pohon mangga, lalu melesat pergi.
“Hmmmpph ....” Andrea menahan tawa melihat Dale terbirit-birit ketika Bi Cicih mengacungkan beberapa papan petai ke arahnya.
“Ini bibi bawa pete, kebetulan pohon yang dekat rumah sedang berbuah banyak, Neng.”
“Wahh, tapi aku tidak suka petai, Bi.”
Andrea celingukan ke arah Dale lari.
“Masa? Ibu suka enggak?”
“Ngga tahu, Bibi bawa saja ke dalam.”
“Oke, Neng. Ibu sudah berangkat?”
“Sudah, tadi pagi sekali. Aku joging dulu ya, Bi.”
“Iya, Neng.” Bi Cicih masuk.
Andrea mulai berlari, melewati blok demi blok perumahan yang masih sepi, sambil mencari Dale.
Di blok depan, pas di depan sebuah rumah tusuk sate Andrea melihat Dale sedang nangkring di pohon kersen.
Sebuah gerobak sayur ada di bawahnya, menghalangi tukang sayur yang terkantuk-kantuk dengan punggung menyender pada pohon. Dia kaget mendapati Andrea di sana.
Andrea pura-pura mengamati buah kersen.
“Cari kersen, Neng?” tanya tukang sayur sambil membersihkan beleknya.
“Iya, Mang. Kenapa tidur di sini?”
“Perum masih sepi, Ibu-ibu belum pada bangun.”
“Hati-hati, Mang, kata orang pohon kersen banyak penunggunya.”
__ADS_1
“Memang betul, Neng, ini penunggunya.” Tukang sayur menunjuk dirinya sendiri sambil terkekeh, menertawakan omongan Andrea.
Dale tersenyum mencibir, dia iseng melempar tukang sayur dengan buah kersen. "Sok berani," gumamnya.
Tukk!
"Aduh!" Tukang sayur mendongak ke atas. “Sudah pada matang kayaknya,” katanya.
Tukk!
Tukk!!
“Aduh!” teriaknya lagi. Kali ini dia sedikit merinding. “Sudah ah, mau ngider saja,” lanjutnya. Dia mendorong gerobaknya dengan cepat.
Andrea senyum-senyum melihat Tukang sayur kena iseng Dale.
“Rasakan, sudah dibilang, tidak percaya.”
Setelah tukang sayur pergi, Andrea melambaikan tangan menyuruh Dale turun.
“Kamu takut petai?”
“Itu musuh saya.” Dale meringis.
“Tapi sama jengkol suka.”
“Bukan suka, itu penambah stamina, Neng. Semacam vitamin ketika kekuatan terkuras. Kalau pete, malah bisa melemahkan kekuatan saya.”
“Ooh, ya sudah, kita jadi balapan kan? Ganti kostum atuh, masa joging pakai seragam sekolah.”
“Oke!” Dale segera berganti pakaian. Mengikuti dandanan Andrea.
“Jangan pakai bandana pink juga kali, kamu kan cowok.”
Mereka mulai berlari. Andrea berlari dengan kecepatan konstan, gerakan rambut buntut kudanya juga berirama sama.
Sedangkan Dale berlari seperti kucing mengejar capung, sebentar-sebentar diam, lalu bergerak lagi. Lututnya mendadak lemas.
Andrea tidak kuat menahan geli melihat Dale ketinggalan. “Katanya juara lari.”
“Ini sepertinya gara-gara pete tadi.”
“Jangan salahkan petai, hanya karena kamu temannya jengkol!” Andrea tertawa lebar.
Dihampirinya Dale, yang lesu. “Kamu benar lemas?”
“Iya, Neng.”
“Ya sudah, istirahat dulu.”
Mereka berjalan mencari tempat yang enak untuk istirahat.
“Hari ini kamu enggak usah ikuti Ibu.”
“Kenapa?” Dale bertanya dengan nafas ngos-ngosan.
“Ngga apa-apa, beberapa hari ini dia tidak apa-apa kan?”
“Iya, beliau baik-baik saja, Neng.”
“Aku sudah mulai menerima kok, jika Ibu mau menikah lagi.” Andrea bicara sambil beberapa kali merentangkan tangan dan membuang nafas.
“Iya atuh, di mana-mana juga anak yang harus menurut kepada orang tua. Memang Neng bisa mencegah Ibu jika pengen menikah lagi? Beliau kan orang tua.” Dale semakin ngos-ngosan, padahal hanya berjalan.
__ADS_1
“Iya, mudah-mudahan saja calon papa tiri aku sebaik Ayah.”
“Neng sudah yakin saja mau punya ayah tiri.”
“Iya juga sih, belum tentu.”
Dale berhenti, dia membungkuk, tangannya memegang lutut yang semakin lemas. “Capek, Neng,” katanya.
Andrea berhenti, menengok Dale yang kepayahan. “Baru lari begitu saja payah, kebiasaan mengilang sih.”
“Neng lupa ya, saya tadi habis ketemu pete.”
“Iya, terus? Mau cari jengkol dulu?"
“Iya, saya harus cari jengkol lagi. Ngga apa-apa kan saya tinggal?"
Di pos satpam, mereka berhenti, meluruskan kaki dan mengelap keringat.
“Ngga apa-apa. Kamu nanti langsung ke klinik saja lagi. Siang ini Ren ke sana. Katanya mamanya yang meminta dia ke sana. Mana tahu Ren membutuhkan bantuan. Kamu hebat, Dal. Mamanya Ren berangsur membaik, sudah mau bicara sama Ren dan papanya. Bagaimana caranya sih?”
“Ah, saya mah hanya bicara dari hati ke hati saja. Selama ini, Bu Aini butuh dukungan. Butuh orang yang mendengarkan curahan hatinya, bukan yang selalu membantahnya."
Andrea mengangguk-angguk. “Bisa jadi sih, Ren dan papanya terlalu memaksa Tante Aini melupakan Marvel.”
“Nah, itu yang membuat Bu Aini seperti tidak didukung, padahal jika dari awal mereka menuruti dan memahami perasaannya, tidak akan seberat itu depresinya. Saya datang tidak sebagai Marvel doang, kok, Neng. Kadang jadi Ren, kadang juga jadi papanya. Dalam sehari bisa jadi berapa kali saya ke sana.”
“Begitu?”
“Iya, biar Bu Aini merasa selalu didukung dan diperhatikan.”
Andrea terharu dengan usaha Dale, dia benar-benar bisa diandalkan.
"Aaaah, Dale, kamu memang the best." Andrea mengacungkan jempolnya.
“Nasi uduk, Neng?” tiba-tiba tukang nasi uduk duduk dan menyimpan dagangannya dekat Andrea. Aroma nasi uduk dan lauk lainnya menyeruak, termasuk semur jengkol.
“Wahh, ada semur jengkol. Kamu mau, Dal?” tanpa sengaja Andrea menawari Dale.
Tukang nasi uduk menatapnya heran.
“Ngga, Neng. Jengkol buat saya bukan jengkol matang, tapi jengkol yang dipetik langsung dari pohonnya. Kalau jengkol matang nanti pipis saya bau.”
Andrea tertawa. “Memang yang mentah kagak bau? Sama saja kali.”
Tukang nasi uduk semakin keheranan melihat Andrea tertawa. Dia menutup kembali dagangannya, lalu pergi dengan tergesa-gesa.
“Eh, Bi! Mau ke mana? Aku mau beli nasi uduknya,” teriak Andrea. Tukang nasi uduk tidak mau mendengar, dia terus berjalan cepat.
“Mungkin dia pikir ada orang gila baru.” Dale tertawa.
Andrea baru sadar, tukang uduk menyangka dia bicara sendiri.
“Padahal enak tuh sarapan nasi uduk panas, sama telur balado dan tempe oreg.” Andrea menelan ludah. Perutnya mulai berbunyi, seperti bunyi kukuruyuk.
“Aku cari sarapan ke jalan besar saja, kamu langsung cari jengkol!” lanjutnya.
Dale mengangguk “Iya, Neng, saya jogingnya ke hutan saja,” katanya sambil melesat.
“Eh, enak saja, itu bukan joging!” Andrea berteriak. "Jangan lupa bawa duren montong! Kamu kalah lari." teriaknya lagi.
*bersambung
Jangan lupa tinggalkan jejak ya, Teman-teman, like, komen, vote, juga rate.
__ADS_1
Terima kasih, sukses untuk kalian semua 😊😊*