
“Sudahlah, Zel. Kamu mau sampai kapan marah sama kita? Kita kan sahabatan.”
Hari ini Andrea memaksa Zellina untuk duduk bareng lagi di kantin. Menyogoknya dengan sekaleng softdrink. Ren mengaduk-aduk es campur.
“Kalian sih, pergi ngga ngajak-ngajak. Aku juga kan pengen jalan sama Kak Yadi.”
“Waktu itu kan kamu baru saja pesta, apa ngga capek?” tanya Andrea.
“Capek apa? Emang aku langsung cuci piring?”
“Oiya, kita lupa kamu itu Princes, kita minta maaf.”
“Kita?” Ren mendelik, Andrea menyimpan telunjuk di bibir, menyuruhnya tetap diam demi persahabatan mereka.
“Kamu ngga mau minta maaf, Ren? Padahal kesalahan kamu sama aku bukan hanya itu saja, kamu juga ngga datang ke pestanya si Kety.” Zellina membuka minumannya.
Ren melebarkan matanya, tidak terima.
Andrea buru-buru memegang pundak sahabatnya itu.
“Kalian ini kenapa sih, bukannya akur udah duduk bareng begini. Lihat tuh, yang lain jadi tahu kalau kita sedang tidak kompak." Andrea menyikut Ren dan Zellina.
Ren melihat ke arah siswa lain yang sedang memerhatikan mereka. Zellina mencibir, tidak peduli.
“Sebenarnya ada sesuatu yang akan aku sampaikan, Zel" lanjut Andrea.
“Apa?”
“Kemarin Yadi sempat nanya, kira-kira kamu mau ngga bergabung di tim basket sekolah? Dia mau bikin grup basket putri.”
Zellina berdiri. “Mau,” serunya, antusias.
“Kalau begitu, nanti aku hubungi dia.”
“Okk ....” Zellina sumringah, senyum manisnya kembali seperti sedia kala.
Ren menghabiskan es campurnya, lalu berdiri. “Aku duluan ya,” katanya. Nadanya masih tidak enak didengar kuping Andrea.
“Eh, antar aku ke toilet dong.” Zellina memegang tangan Ren.
“Pergi aja sendiri! Manja,” ketus Ren.
“Iiihh, Mauren Listiani, awas kamu!” Zellina merengut. “Dia kenapa sih, Ndre?” Zellina bertanya tanpa dosa, sifatnya kembali seratus persen.
Andrea menatap punggung Ren. “Mungkin lagi dapet.”
“Dapet apaan?”
"Dapet arisan." Andrea berdiri, kembali ke kelas. Zellina mengikuti dari belakang.
"Grup tiga dara manis bubar ya? kok jalannya berjauhan?" teriak salah seorang siswa kelas tiga, diiringi gelak tawa yang lainnya.
Siang begitu terik, bel ganti pelajaran berdentang kencang.
“Nahh, pelajaran hari ini selesai. Pelajaran siapa sekarang?” Pak Haris bicara dengan kelegaan tiada tara.
“Matematika, Pak.” Ren yang masih berkepala tegak menjawab.
“Baik, tunggu Bu Anis datang, jangan ribut!” Pak Haris keluar dari kelas setelah mengucapkan salam. Wajahnya terlihat puas karena tugasnya mengajar di kelas itu sudah selesai. Murid-muridnya tidak ada yang berdaya untuk berbuat kacau karena mengantuk.
Andrea melihat sekeliling, teman-temannya pada payah siang ini. Mungkin karena cuaca yang sedikit ekstrem, panasnya membuat cairan di tubuh menguap dan meningkatkan dehidrasi. Mengantuk dan melamun jadi pemandangan biasa kalau jam pelajaran siang.
Akri dan gengnya pada ngelap iler. Pelajaran bahasa yang sangat membuat ngantuk berakhir sudah, tenaganya kembali pulih untuk menghadapi pelajaran dari Bu Anis.
Andrea memanggil Dale dari balik lemari kelas. Dale datang sambil menguap. Virus mengantuk juga ternyata bisa menyerang sebangsa Jin. Dia berjalan keluar.
“Mau kemana?”
“Toilet, cuci muka dulu. Mau ikut, Neng?”
Andrea meggeleng, “Jangan lama-lama!”
“Siap, Neng!”
__ADS_1
Ren memberi tahu teman-temannya, bahwa Bu Anis sudah muncul.
Andrea celingukan, Bu Anis sudah datang tapi Dale malah pergi.
Dia mengangkat bahu. “Tinggal aku panggil,” gumamnya.
Kelas mendadak sepi ketika Bu Anis masuk dengan langkah susul menyusul antara hak sepatunya dengan jidar panjangnya. Seram melanda melebihi sound efek rumah hantu.
Duhh, Dale ke mana sih ... Jangan sampai dia berbuat macam-macam di sekolah ini, batin Andrea. Akhirnya ketar-ketir juga, karena Dale lama tidak muncul.
Ren segera pura-pura batuk melihat Andrea memejamkan mata dengan jempol di hidung.
“Ekhm ... lagi ngapain?” Ren mencolek tangan Andrea.
Andrea terganggu, dia menepis tangan Ren.
Bu Anis melirik ke arah Ren. Ren pura-pura menggaruk-garuk leher.
Entah kenapa hari ini suasana sedikit tegang. Mimik wajah Bu Anis menggarang dari sejak masuk kelas. Mungkin beliau juga sedang tidak mood dengan udara panas siang ini.
Zainal terlihat lemas, wajahnya meringis, setelah menghabiskan semangkok mie ayam pedas dan teh botol dingin waktu istirahat. Tangannya memegang-megang perut, mulas.
Andrea garuk-garuk kepala, menunggu Dale, sementara Bu Anis sudah mulai membuat soal cerita di papan tulis. Tentu saja bukan soal cerita yang dimulai dengan daftar isi, sekapur sirih, terus isi cerita dari bab ke bab, ditutup dengan biografi penulis seperti novel. Nanti semua capek bacanya.
“Hari ini mengerjakan soal dari sub yang dibahas kemarin. Sengaja saya buat dengan soal cerita. Biar kalian tahu bukan hanya tentang Matematika, tetapi sekaligus mengasah kemampuan literasi kalian, mengerti?”
“Mengerti, Buuuu ....”
Oh iya, selain menguasai bidang matematika, Bu Anis juga sangat mencintai literasi. Di rumahnya ada perpustakaan pribadi yang siapa saja bisa bermain ke sana dan membaca. Buku-bukunya sudah banyak terbit, terutama buku-buku novel mistis.
Plakkk!!
Jidar kayu menggelegar.
Zainal mulai pusing, matanya nanar, mulasnya seperti menjalar. Semua terkejut ingin tahu ada apa gerangan?
Ternyata Bu Anis hanya sedang berburu lalat, yang mangganggu kenyamanannya.
Andrea kembali celingukan, menunggu Dale, sedangkan dia susah beraksi membaca mantra.
Deg!
Jantung Andrea melonjak, ujung jidar menunjuk hidung Andrea.
Bu Anis seperti makhluk aneh dalam sebuah film barat yang pernah ditontonnya, tidak bisa melihat orang bergerak langsung disergap.
“I ... Iya, Bu.” Andrea gelagapan.
“Sedang apa celingukan ke luar? kerjakan soal di depan!”
Deg!!
Andrea kena lagi, lalu mendadak kebelet pipis, pengen buang gas, haus, lapar, cegukan, dan sesak nafas.
Cetaaarrr!!
Kali ini suara pecut yang terdengar. Semua kaget, termasuk Bu Anis karena merasa tidak membawa pecut.
Ternyata Pak Iwan yang sedang mengawasi pekerjanya menanam benih padi melecutkan cambuknya ke udara. Mungkin lagi ngetes, nggak tahu cari perhatian, soalnya setelah melecutkan pecutnya Pak Iwan langsung tersenyum ke arah kelas mereka.
Bu Anis segera beranjak untuk menutup gorden jendela yang dari tadi terbuka. Pak Iwan membuka topi dan menundukkan kepalanya, isyarat meminta maaf.
Bu Anis mengangguk sedikit, lalu kembali duduk.
“Ayo, Andrea Indah Sari! Menunggu apa lagi? segera kerjakan! Kemarin kamu bisa mengerjakan dengan benar." Kata-kata Bu Anis seperti sebuah sindiran bagi Andrea, karena kemarin dia mendadak pintar.
Andrea ke depan kelas, diikuti tatapan teman-teman sekelasnya. Mengutuk Dalle yang tiba-tiba menghilang pas dibutuhkan. Tidak sesuai dengan perjanjian, akan membantu dalam setiap kesulitan.
Awas kau, batin Andrea. Penglihatannya mendadak berputar, melihat tulisan Bu Anis yang kekinian, dan perutnya mual mendapati soal di akhir tulisan.
Andrea memejamkan mata lagi, lalu berusaha membaca mantra, berharap Dale segera muncul.
Entah karena mantranya yang salah karena gugup, atau Dale yang budeg, bodyguard rahasianya tidak jua muncul, sedangkan semua yang ada di kelas sedang menatapnya, Menunggu kepintarannya.
__ADS_1
“Kenapa?” Bu Anis memandangnya heran. Teman-temannya cekikikan melihat Andrea menjentik-jentik hidung.
“Si Andre mikirnya pake hidung kali ya?" bisik Akri.
Teman sebangkunya terkekeh, lalu terdiam setelah melihat pandangan tajam Bu Anis ke arah mereka.
Andrea memanggil Dale sekali lagi, tidak peduli dengan tertawaan teman-temannya melihat tingkahnya.
“Punten, Neng. Maaf, tadi kebelet juga. Sinyal panggilan di toilet lemah.” Tiba-tiba seseorang berbicara di dekat telinganya.
Andrea terkejut sekaligus lega, Dale sudah datang dengan alasan sinyal lemah.
Tapi Andrea juga jadi tahu sekarang kalau Jin juga suka boker. Jangan-jangan yang dikeluarin asap kemenyan.
“Jangan kebanyakan alasan, bantu aku, cepat!” gumam Andrea.
“Nyontek punya siapa, Neng?” tanya Dale.
Andrea memberi isyarat untuk melihat buku panduan Bu Anis.
“Eh, kamu cantik banget kalau dari dekat,” kata Dale, sambil nungging menopang dagu di atas meja guru, memerhatikan cepol Bu Anis.
“Dale! Jangan main-main, cepat bantu gue!” Andrea kembali bergumam sambil geregetan lihat tingkah Dale.
Teman-teman Andrea yang ada di barisan depan melihat heran ke arah Andrea.
Tak terduga, Dale kembali menjawil dagu Bu Anis. Sontak Bu Anis berdiri, melotot berkeliling. Harga dirinya seperti sedang dipermainkan.
“Kurang ajar, siapa yang juwal-jawil?”
Andrea terkesiap, dia menggelengkan kepala. “Tidak tahu, Bu.”
Brakkkk!
Jidar kembali mendarat, kali ini di meja Zainal yang berada di barisan paling depan. Zainal geleng-geleng kepala, kupingnya katorekan, sakit di perutnya semakin melilit.
Semua mendadak diam, termasuk Pak Iwan dan kerbaunya. Suara gelegar jidar Bu Anis terdengar sampai ujung sawah Pak Iwan.
Dale membuat Andrea kesal, lalu melemparkan tutup spidol ke arahnya, tetapi Andrea lupa, Dale itu makhluk halus, tutup spidol ngeplos, dan mengenai pundak Bu Anis.
Seperti bangau marah, Bu Anis memandangi Andrea, anting-anting panjangnya sampai bergoyang. Matanya melotot, Bu Anis terlihat seperti mempersiapkan pelatuk mau menyerang. Tangannya diangkat mau mencabut tusuk kondenya. Andrea sudah pasrah, berpikir hidupnya mungkin akan berakhir di kerumitan soal matematika hari ini.
Dia yakin, akan disuruh Bu Anis berlari berkeliling lapangan sambil menggigit tusuk konde, seperti yang sering dilakukannya kepada murid yang melawannya.
Dale segera beraksi, meraih tangan Bu Anis dan menciumnya penuh cinta. Bu Anis terpana, merasakan sesuatu yang seolah didamba lama, lalu gelagapan setelah menyadari yang mencium tangannya bertubi-tubi itu tanpa wujud.
Seketika emosi dan hasratnya melunak, lalu sirna, berganti dengan merinding di setiap jengkal tubuhnya. Segala bulu di tubuhnya bediri tegak.
Bu Anis menjeri-jerit, lari meninggalkan soal, jidar, buku, dan anak-anak di kelas itu. Anak-anak yang terkesima, semenit kemudian bersorak, hari itu bebas dari pelajaran matematika.
Zainal mengerang, dia tidak kuat lagi menahan sakit ketika teman-temannya bertanya.
“Ayo kita bawa ke UKS,” ajak Ren. Zainal berdiri dibantu Andrea.
"Zain kenapa?" tanya Zellina.
"Mules," jawab Andrea.
"Lagi dapet juga, kayak Ren?"
Ren mengerutkan dahi, Andrea menyuruh Zellina untuk diam.
Andrea dan Ren memapah Zainal.
“Bu Anis kenapa ya?” tanya Ren.
“Dia shock, tangannya dicium si Dale,” ujar Andrea.
“Dale siapa?”
“Jin kakek aku." Andrea keceplosan, lalu tersadar. Dia melepaskan tangannya yang memegang Zainal, lalu menutup mulutnya.
Ren juga melepaskan tangannya.
__ADS_1
Zainal yang sedang lemas, meluruh begitu saja ke lantai.
Terima kasih sudah membaca, tunggu kelanjutannya yaa ...