My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 56 Dia yang Selalu Ada


__ADS_3

Di Kampung.


Jam sembilan pagi Dodo masih berada kamarnya. Membolak-balik gawai miliknya.


"Kenapa lagi sih? Perasaan, semalam baik-baik saja. Sekarang malah koit," gumamnya.


Dia menguap, lalu berjalan menuju kamar mandi. Udara sejuk membuatnya malas bertemu air dingin, tetapi dia butuh kesegaran, dan kewarasan. Diraupnya beberapa kali air untuk menyegarkan wajahnya.


"Setor wajah lagi saja, dari pada tidak sama sekali," gumamnya, sambil mengambil sikat gigi.


Selesai cuci muka dia melihat dapurnya, hanya ada Bi Ecin, pembantu ibunya. Rumahnya sepi sekali, meja makan juga masih lengang. Biasanya dari sejak pagi ibunya sudah nyerocos bicara dengan Bi Ecin, membahas makanan yang kurang inilah, kurang itulah.


Dodo menuju kamar ibunya. "Mbu!" panggilnya. Tidak ada jawaban.


Dia membuka pintu kamar ibunya.


“Mbu kenapa?” Dodo terkejut melihat ibunya sedang terbaring berselimut.


“Uhukk!” Bu Nisma terbatuk. Dodo menghampirinya.


“Mbu sakit?” Dodo meraba kening ibunya. Tidak panas, tetapi ibunya terlihat lemah dan menggigil. “Kita ke dokter ya?”


Bu Nisma menggeleng. “Mbu ngga apa-apa, mau istirahat saja."


Dodo menatap ibunya dengan cemas.


"Benar Mbu tidak mau ke dokter? Atau mau diurut? Biar aku panggil Mak Eroh."


"Ngga usah, Do. Mbu istirahat saja. Tadi sudah dipijit Bi Ecin."


Dodo lama tidak beranjak dari ranjang ibunya.


"Do, ibu tidak apa-apa." Bu Nisma seolah tahu anak kesayangannya itu sangat mengkhawatirkannya.


“Ya sudah, Mbu istirahat saja kalau begitu."


“Iya, Do. Kamu tidak usah khawatir."


"Nanti biar aku suruh Bi Ecin menemani Mbu di sini."


Bu Nisma mengangguk lemah.


“Do,” panggil Bu Nisma dengan suara lemah.


Dodo berbalik. "Iya, Mbu."


“Semalam Andrea menelefon.”


Dodo mengernyitkan dahi. “Ada apa lagi dia?” ketus Dodo.


“Bibi Yuli sakit ... Uhukk! Uhukk!!" Bu Nisma terbatuk-batuk.


“Mbu, sudah jangan pikirkan dulu itu, Mbu juga sakit kan.” Dodo mengusap-usap punggung ibunya dengan wajah cemas. Dia mengambil minum dari atas nakas, dan membantu ibunya minum.


“Tapi, Mbu sudah janji ... Uhukk! Uhukk!!” Bu Nisma berkali-kali batuk lagi, sambil memegangi dadanya.


Dodo kembali membantu mengusap-usap punggung ibunya. “Mbu, sepertinya parah, kita ke dokter saja ya!”


Bu Nisma menggeleng. “Mbu berjanji kepada Andrea untuk ke sana.”


“Mbu, stop menuruti anak manja itu!” ketus Dodo lagi. “Mbu pikirkan juga kondisi Mbu sendiri atuh.”


“Do, Bibi kamu sakit.” Bu Nisma memasang wajah memelas.


“Pokoknya, aku enggak izinkan Mbu berangkat ke sana, titik. Biarkan saja anak manja itu urus ibunya sendiri,” kata Dodo, giginya gemeletuk menahan emosi.


Bu Nisma menarik nafas panjang, dia kembali terbatuk-batuk.


“Sudahlah, Mbu. Mbu harus ikut kata-kata aku, kalau Mbu masih mau mengakui aku sebagai anak."


Bu Nisma membelai rambut Dodo.


“Kamu jangan bicara seperti itu, Do. Kamu anak Mbu satu-satunya. Mbu sayang sama kamu."


“Kalau begitu, Mbu jangan ke mana-mana!"


Bu Nisma mengangguk lemah, dia kembali membaringkan tubuhnya di ranjang. Dodo menyelimutinya, lalu pergi ke luar. Tidak lama terdengat raungan motor Dodo di halman.


Bu Nisma bangun dari berbaringnya. Dia mengambil gawai yang dimatikannya sejak kemarin, lalu menyimpannya di dalam laci.


"Ecin!" teriaknya. "Eciiiiiinn!!" teriaknya lagi.


Bi Ecin yang sedang mengelap piring terperanjat.


"Iya, Juragan, aya naon?" Bi Ecin tergopoh menghampiri.


"Masak bubur yang banyak!"


"Baik, Juragan. Juragan sakit?" Bi Ecin menatap heran.


"Sudah jangan banyak tanya, sana cepat kerjakan!"


"Baik, Juragan." Bi Ecin ngesot ke luar kamar.


"Lagi sakit juga masih saja judes," rutuknya.


"Jangan lupa bikin sambelnya juga yang banyak!" seru Bu Nisma.


"Iya, Juragan." Bi Ecin garuk-garuk kuping, keheranan, orang sakit doyan sambel.


**


“Kunaon, Sep?” Dodo bertanya kepada Usep, temannya, pemilik service HP.


Usep meneliti bongkaran perangkat keras di depannya. “Sepertinya basah, ini ke cemplung apa bagaimana? Kok sampai basah ke dalam-dalam begini."


“Ah, perasaan enggak kena air,” sahut Dodo.


“Kebocoran kali?”


“Bocor dari Puncak? Hujan juga enggak.”


“Bisa saja kebocoran ompol kamu.” Usep tertawa.


“Euuhh, kamu mah teu baleg!" Dodo menepuk poni Usep. “Sudah, betulkan atuh! Jangan pakai lama!”

__ADS_1


“Ya sudah, paling besok sore bisa diambilnya.”


“Lama pisan, euy. Tidak bisa ditunggu sekarang?”


Usep garuk-garuk kepala. “Ngga bisa buru-buru, Do, Sangkuriang juga butuh waktu semalam untuk bikin perahu.”


Sekarang giliran Dodo garuk-garuk dagu. “Ya sudah, besok aku ke sini lagi.” Dia berdiri.


“Terus sekarang mau ke mana? Ngopi dulu di sini, bos."


“Cari Dayang Sumbi!” seru Dodo.


“Euuhh, dasar Si Tumang!” Usep juga berseru, lalu tertawa, melihat Dodo melotot.


Tidak lama suara motor racing Dodo menguar, memekakkan telinga orang-orang yang lalu lalang di kota Kecamatan kecil itu.


**


Kembali ke rumah sakit.


Akhirnya Ren dan rombongan menemukan ruang ICU. Mereka tidak langsung masuk, tetapi mengintip dulu apa benar Andrea di sana.


Di tempat duduk panjang mereka melihat seorang ibu-ibu sedang duduk memainkan gawainya. Terlihat seperti seorang sosialita masa kini. Badan langsing, sepatu hak tinggi, denga tas kecil bermerk. Lalu di depan pintu, berdiri ibu-ibu berperawakan gemuk, menggepit tas besar dan membawa keresek. Meskipun sama ibu-ibu, penampilan mereka jauh berbeda.


Dewi mencari sudut yang tepat dengan kamera stanby.


“Apa benar ini tempatnya?” bisik Salsa.


Akri mendorong mereka untuk segera masuk.


“Apa an sih?” Ren meradang, karena didorong Akri sampai mau tersungkur.


Tante Dina melihat mereka. “Kalian siapa?” tanyanya


“Euuuhh, kami mau bertemu Andrea," kata Ren.


“Ooh, pasti teman sekolah si Neng.” Bi Cicih menebak.


“Iya, Bu, kami teman-teman sekelasnya,” sahut Rani.


“Ooh, sini masuk! Andrea ada di dalam, bersama ibunya." Tante Dina menunjukkan Andrea dari pintu.


Ren dan teman-temannya berdesakan melihat dari kaca pintu yang kecil.


Andrea terlihat sedang memeluk tangan ibunya sambil duduk di pinggir ranjang. Dua orang perawat sedang bekerja, memeriksa.


Mereka tidak ada yang bicara, semuanya hanya bisa memandang pilu ibunya Andrea yang terbaring tidak sadarkan diri dengan alat-alat medis terpasang di tubuhnya.


Perawat selesai bekerja, mereka keluar diikuti Andrea.


“Ndreee ....” Ren menyambut dengan bentangan tangannya.


Andrea terkejut, lalu meraih tangan Ren dan memeluknya. Tangisnya pecah lagi. Salsa, Dewi dan Rani juga ikut memeluknya. Mereka berpelukan seperti sebuah perkumpulan tim gobak sodor kalah pertandingan.


Akri dan Jono ingin ikut berpelukan, tetapi tidak jadi, mereka rikuh dilihat Bi Cicih dan Tante Dina.


“Maaf aku baru datang.” Setelah acara peluk memeluk usai Ren mengusap basah di pipi Andrea.


Andrea merundukkan matanya, dia juga tidak mengerti kenapa setiap ada orang yang datang menemuinya, sedihnya kambuh. Padahal, dia sangat ingin tegar, apalagi di depan teman-temannya.


“Kalian naik apa?” Tante Dina bertanya, mengingat jarak sekolah dan rumah sakit cukup jauh. Dipisahkan juga oleh bentangan toang yang panjang.


“Kami bawa mobil, Bu,” jawab Akri, dia menoleh kanan kiri lalu menyikut Joni sambil berbisik, “Si Keong ke mana?”


Joni juga celingukan. “Meneketehe ....”


Ren melihat ke arah mereka. “Apa, Kri?”


“Si Zay, hilang.”


“Hah?” Salsa terkejut. Mereka baru menyadari, Zainal tidak ada. “Kalian cari dong, Kri, takut nyasar-nyasar," lanjutnya.


Akri garuk-garuk kepala, “Ngga di mana-mana menyusahkan saja,” rutuknya.


“Kalian cari dulu, kita masih butuh dia, trek-trekkan di toang.” Dewi menyikut Rani sambil cekikikan.


Ren mendelik ke arah mereka, lalu memberi isyarat agar diam, untuk menghargai kesedihan Andrea.


Akri dan Joni segera keluar, mencari Zainal.


Tante Dina dan Bi Cicih melihat mereka dengan pandangan yang sulit diartikan, bingung.


Ren mengajak Andrea duduk. “Aku bertemu Gigit di depan, kamu semalam ditemani dia?”


Andrea mengangguk. “Iya. Semalam aku jalan sama dia, ketika sampai rumah, kita mendengar Ibu jatuh, dia yang bantu aku bersama tetangga yang lain. Aku enggak tahu kalau tidak ada dia, Ren.”


Ren mengusap-usap punggung Andrea. “Sudah memberi tahu saudara di kampung?”


“Sudah, tetapi sampai sekarang Ua belum datang juga. Padahal, semalam bilangnya mau langsung berangkat.” Andrea memeriksa gawainya.


“Apa mungkin Ua istri langsung ke rumah, Neng?” Bi Cicih nimbrung.


“Aku sudah bilang langsung saja ke sini, Bi.”


Ren membereskan rambut di bahu Andrea. Salsa memeluk bahunya.


“Kalau si itu?” Ren bertanya dengan ragu.


Andrea menatapnya sebentar, lalu menggeleng. Ren meraih tangan Andrea. “Kita bicara dulu sebentar.”


Mereka pergi berjalan ke luar ruang ICU. Yang lainnya hanya bisa melongo.


“Si Lele? Dia tidak menemanimu?” tanya Ren, setelah menjauh.


Andrea menyandarkan punggungnya ke tembok. Dipermainkannya ujung jarinya. “Aku mengusirnya.”


“Kenapa?” Ren mengernyitkan dahi.


“Tidak bisa diandalkan.”


“Maksudnya?"


“Dia tidak menjaga ibuku, sampai tidak tahu ibuku sakit. Ibuku mengidap tumor otak sudah lama ternyata, Ren."


"Astagfirullah, kamu juga baru tahu?"

__ADS_1


"Iya, aku baru tahu semalam, kata dokter."


Ren ikut menyandarkan punggungnya. “Aku tahu kamu sedih, Ndre. Tetapi tidak baik menyalahkan orang begitu saja.”


“Dia bukan orang.”


“Maksudku, ini bukan saatnya untuk saling menyalahkan. Kamu sendiri kan yang bilang, dia bekerja dalam perintahmu.”


“Kamu membela dia, Ren?” Andrea menatap tajam Ren. Bola matanya melebar.


Ren terkejut melihat Andrea marah. “Aku tidak membela dia, Ndre. Maksudku, sekarang kamu sedang dalam kesulitan, kenapa malah mengusir dia yang selalu ada buat kamu?”


“Dia mungkin ada buat aku, tetapi tidak buat ibuku. Ibuku, Ren! Dia mengatakan kalau ibuku itu orang lain.” Suara Andrea meninggi, dengan wajah menegang.


Ren melihat sekeliling, dia tersenyum kepada seorang perawat yang lewat.


"Ibuku adalah nyawa aku, Ren.” Suara Andrea melemah.


“Aku tahu, Ndre. Tetapi kamu juga harus ingat, walau bagaimana pun dia tidak sama dengan kita. Dimensi dia mungkin lebih flat, jadi tidak bisa bebas berekspresi, berinisiatif, atau kreatif.” Andrea terdiam.


Ren melanjutkan ucapannya. “Sekali lagi, aku bukan ingin membela dia, tetapi aku yakin, dia baik. Aku yang sudah merasakannya sendiri, Ndre. Dia menolong mamaku.” Sekarang Ren yang memainkan ujung jilbab.


Andrea berjalan, memeluk tiang pilar. "Entah lah, pokoknya aku kecewa. Malas melihat wajahnya."


“Kalian di sini?” Salsa berlari menghampiri. “Kita harus segera kembali ke sekolah kan, Ren.”


Ren melihat jam di gawainya. “Astaga, tinggal setengah jam lagi.”


“Nah, kan? Anak-anak belum kembali lagi, mencari si Zay.” Salsa tengak-tengok mencari Akri.


“Aduh!” Ren bertolak pinggang sebelah sambil kebingungan.


"Bukan aduh, kita harus cepat ini," sahut Salsa.


“Ndre, kita hanya diberi waktu dua jam oleh Bu Anis. Kalau telat, bisa fatal. Aku kan sudah dapat surat peringatan waktu itu. Kita harus segera kembali ke sekolah.” Ren memegang tangan Andrea yang kebingungan. “Kamu jangan khawatir, aku nanti ke sini lagi.”


Ren menatap Salsa. “Yang lainnya mana?”


“Masih di dalam. Aku hubungi saja dulu.” Salsa mengambil gawainya dari dalam saku.


“Sebentar, tadi kamu bilang Bu Anis?” Andrea menautkan kedua alisnya.


“Oh iya, Ndre, aku lupa memberi kabar. Bu Anis kembali, dia kembali, Ndre,” seru Ren dengan ekspresi gembira. Andrea bengong.


“Ah, ini semua berkat kamu, Ndre. Ide kamu berhasil.” Ren kembali meyakinkan Andrea.


Salsa ikut tersenyum, dia menunda menelefon Rani dan Dewi. “Ren benar, Ndre, Bu Anis sudah kembali mengajar di kelas kita.”


“Alhamdulillah." Akhirnya Andrea tersenyum, walau dalam keadaan getir, dia masih menerima berita baik. Kehadiran Bu Anis diharapkan bisa membawa kedamaian di kelasnya. Tinggal mengurus Fany dan membuatnya sadar, bahwa di telah dihasut jin jahat.


Ren dan Salsa ikut tersenyum, melihat Andrea senang.


Setelah di telefon Salsa, Rani dan Dewi datang. Mereka mulai gelisah melihat waktu yang semakin melaju.


Gawai Ren berbunyi, ternyata dari Akri.


"Kenapa, Kri?" tanya Ren.


"Kita tidak menemukan si Keong, kamu ada kontaknya?" tanya Akri dari seberang telefon.


"Ngga, kamu di mana?"


"Di tempat parkir. Kata Satpam dia masuk ke dalam, mencari IGD."


"IGD? Ya salam, kenapa IGD, kan harusnya ICU." Ren menepuk keningnya.


"Makanya itu, tetapi sudah dicari ke sana juga tidak ada. Kalian di mana?"


"Masih di dekat ruang ICU."


"Ya sudah kita cari lagi sama-sama." Akri menutup gawainya.


Ren menatap Salsa. "Si Zay belum ketemu, dia malah mencari IGD."


"Kita sudah dengar, Ren." Dewi mematikan kameranya. "Ya sudah kita segera cari dia, kalau tidak ada dia, yang setir mobil siapa?"


"Kita jangan panik, rumah sakit ini bukan lautan, Zay pasti ketemu. Atau minta bantuan ke bagian informasi," kata Salsa.


"Memang ada?" tanya Ren.


"Ini rumah sakit, Sa, bukan mol yang sering ada anak hilang." Dewi mencolek bahu Salsa. Salsa cengengesan.


"Jangan-jangan dia kesasar ke ruang jenazah," seru Rani.


"Ck, kita kapan pulangnya, waktu sudah makin mepet ini?" Ren melihat lagi waktu di gawainya. “Ndre, positif tentang ibumu, dan yang lainnya. Aku dan anak-anak pergi dulu.” Ren memeluk Andrea, diikuti Salsa, lalu Dewi, dan Rani.


"Maaf ya, kita buru-buru sehingga tidak bawa apa-apa." Rani merengut.


"Tidak apa-apa, aku senang kalian datang." Andrea menatap satu per satu teman-temannya.


Andrea terharu dengan perhatian mereka, waktu yang sempit tidak menyurutkan niat mereka untuk memberinya semangat.


“Terima kasih yaaa,” seru Andrea, sambil melambai kepada teman-temannya yang lari menjauh.


Akri dan Joni terlihat bergabung di ujung lorong.


"Andre, baik-baik yaa!” seru Akri, dia dan Joni melambaikan tangan ke arah Andrea.


"Nanti gue datang lagi, bawa cilok," teriak Joni, Akri menutup mulutnya.


Andrea juga melambaikan tangan dan menatap mereka sampai menghilang berbelok ke lorong lain. Ternyata teman seliar Akri juga sangat peduli. Dalam hati dia berdoa, agar kelasnya bisa menjadi kelaa yang lebih baik lagi.


Hatinya yang sempat hangat, kini dingin kembali, setelah teman-temannya pergi. Dia kembali menyandarkan punggungnya di tembok, galau.


Sekarang kamu sedang dalam kesulitan, kenapa malah mengusir dia yang selalu ada buat kamu?


Positif tentang ibumu, dan yang lainnya ...


Kata-kata Ren terngiang di telinganya.


Andrea menutup wajah dengan kedua tangannya. Dia sadar, Dale tidak bersalah, dia terlalu sedih, sehingga melampiaskan semuanya kepada Dale.


“Dulale Dulale westin wergan wesma werma,” lirihnya. Lalu menyentil hidungnya.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2