
Zellina dan Dodo menikmati kota yang lumayan ramai. Mereka nongkrong di taman sebuah alun-alun, membeli jagung bakar dan sekoteng, sambil lesehan di rumput jepang yang menghampar di sekeliling taman. Menikmati malam yang berselimut udara dingin pegunungan.
“Aku suka sekoteng,” kata Zellina. “Kalau di Jawa, namanya wedang ronde. Rasanya hampir sama,” lanjutnya. Dia menghirup-hirup aroma sekoteng dari gelas.
“Di kota juga ada sekoteng?” tanya Dodo.
“Kakak tidak tahu ya? Di kota kan segala ada, asal mau saja nyarinya.” Zellina menyeruput sedikit sekotengnya. Hangat menjalar di tenggorokannya.
Dodo manggut-manggut, dia sesekali mencuri pandang pada Zelllina yang semakin cantik saja di matanya. Impiannya tentang seorang Princes dalam kehidupannya seolah sedang menantinya. Tinggal usahanya saja untuk memantaskan diri menjadi seorang Prince Charming.
“Kemarin kita makan di sini kayaknya, aku dibelikan cilok sama Andrea,” kata Zellina lagi, sambil menempelkan gelas ke bibirnya lagi, seolah tubuhnya tidak pernah berhenti kedinginan. Matanya yang bulat cemerlang bergerak ke sana ke mari seperti bola pingpong, melihat lalu lalang orang.
“Oh ya? Memalukan sekali,” sahut Dodo, dia menepuk dahinya.
Zellina tertawa lucu.
“Kenapa memalukan?”
“Kucing hutan itu hanya bisa belikan cilok.” Dodo geleng-geleng kepala.
"Kucing hutan? Kak, dia adikmu lho." Zellina melotot lucu.
"Kamu tidak tahu saja, dia kalau sedang kumat suka mirip kucing hutan, segala digaruk."
“Hahaha ...." Zellina terpingkal, membayangkan Andrea yang menggaruk-garuk pohon.
Dia tentu saja tidak menanggapi serius ucapan Dodo.
"Memang sih, Andrea itu kadang konyol, tetapi kita sayang sama dia. Ehmm, ciloknya enak tahu, di tempat aku juga ada tukang cilok, tapi tidak seenak di sini.”
“Kenapa?” Dodo menggigit jagungnya.
“Di sana pedagangnya terlalu kreatif, sehingga kebanyakan variasi, jadi rasanya kadang suka aneh.” Zellina menggenggam gelas sekoteng untuk menghangatkan tangannya.
“Memang rasa apa saja?”
“Euhmm, cilok saus tiram, cilok saus tartar, cilok pedas tabur keju, cilok original tabur abon, cilok rata-rata air.”
“Cilok rata-rata air?”
“Iya, rasanya biasa saja, datar.” Zellina cengengesan, memperlihatkan giginya yang berderet rapi.
Dodo menatapnya dengan senyum terbaiknya. Mereka jadi saling menatap. Di jantung mereka seperti sedang ada pertandingan moto GP, riuh yang bertalu-talu.
“Kalau ... rasa ingin memiliki, ada?” lirih Dodo, dia ragu tapi ingin keceplosan. Jagung yang dimakannya jadi seperti peluru kendali yang siap meluncur membawa rasa malunya.
Zellina melebarkan mata dan kupingnya.
“Tidak tahu,” sahut Zellina, tidak kalah lirih. Gelas sekoteng kembali ditempelkan di bibirnya, manutupi rasa gugupnya.
Keloneng! Keloneng! Keloneng!
Zellina meloncat dari duduknya, seekor domba dengan berbagai aksesoris di badannya menghampiri. Tanpa sadar dia melemparkan sekotengnya dan memeluk Dodo.
Dodo terkesiap, bukan karena domba, tetapi karena serudukan Zellina yang tiba-tiba. Domba betina yang cantik.
"Tidak apa-apa, itu jinak, ada pemiliknya kok.” Dodo menunjuk pemilik domba rias yang suka dijadikan hiburan untuk anak-anak.
Domba itu menjauh, berjalan lagi, suara lonceng dari lehernya terdengar lagi. Dua anak kecil berlari-lari di belakangnya.
Pemilik domba tersenyum ke arah mereka.
Zellina menarik tubuhnya dari pelukan Dodo, dia tersipu. “Lucu ya, dombanya.”
Dodo juga terlihat kikuk. “Aku kira yang menuntun dombanya.”
Zellina mendelik lucu sambil duduk kembali ke tempatnya.
Lalu keduanya diam, dengan perasaan masing-masing. Jagung rasa peluru kendali dan sekoteng tumpah tidak ada yang menyentuh lagi.
“Ehm, kamu kenapa masih mau diajak jalan?” tanya Dodo, setelah sekian lama mereka terdiam.
“Belum mau tidur saja, lagian besok kita pulang, sayang kalau tidak menikmati dulu suasana malam di udara yang segar begini.” Zellina memasukkan tangannya ke dalam saku jaket.
“Maksudku, kamu tidak membenciku.”
“Benci kenapa?”
“Si Gegel, dan yang lainnya mungkin tidak menyukaiku.” Dodo ikut-ikutan memasukkan tangan je saku jaketnya, udara memang semakin dingin.
Zellina tertawa tertahan ketika Dodo memanggil Gigit dengan si Gegel. Memang sih, gigit dalam bahasa Sunda itu disebutnya gegel.
“Menurut Kak Dodo, aku kelihatan benci ya?”
Dodo memandangi Zellina yang bertanya sambil memandangi bintang di langit.
“Ngga.”
“Kalau begitu kenapa masih bertanya, sudah jelas kan? Sekarang kasih tahu aku, kenapa teman-teman Kakak sampai memukuli Gigit?” Zellina menengok ke arah Dodo yang juga sedang memandangi langit.
Dari samping, wajah Dodo terlihat sangat tampan. Walaupun begitu, mimik wajahnya tidak jauh beda dengan Andrea, lucu-lucu bikin gemes. Terlihat sekali kalau mereka terlahir dari keluarga manja dan berlimpah kasih sayang. Raut wajah mereka kadang kekanakan.
“Mereka hanya salah paham, biasa lah, anak muda.” Dodo menyahut.
“Ngga bisa begitu dong, justru karena kalian anak muda, harusnya bisa lebih bijak dalam menyelesaikan masalah, apalagi masalahnya salah paham.” Zellina semakin memasukkan tangannya, dingin semakin menyergap, dia tidak tahan.
“Kalau memang salah paham, aku yakin Gigit tidak salah. Dia orangnya pengertian, suka mendengarkan pendapat orang. Yah, walaupun aku juga baru mengenalnya. Aku bisa lihat, dari caranya membantu semua permasalahan Andrea."
"Sepertinya begitu. Teman-temanku yang salah paham."
"Mereka tidak mau meminta maaf?” tanya Zellina lagi.
“Mau, mereka mewakilkan sama aku.”
“Hh ... Minta maaf kok diwakilkan, memang kamu wakilnya, Kak?”
__ADS_1
Dodo mengernyitkan dahi. “Bukan lah. Aku ketua mereka.”
“Kenapa mau disuruh mewakili mereka?”
Dodo memainkan bibirnya, berpikir.
“Iya ya, kenapa aku mau jadi wakil mereka? Jadi wakil rakyat saja tidak minat.”
“Ayo hubungi mereka, suruh minta maaf kepada Gigit, kalau mereka memang sudah mengakui salah paham.”
Seperti kerbau dicocok hidung, Dodo mengambil gawainya. Dia menghubungi temannya.
“Sep, Jang, Nceng, kadieu sakeudeung! di alun-alun."
Dodo menutup ponselnya.
“Kok disuruh ke sini, bukan langsung ke rumah.” Zellina menatap Dodo heran.
“Kita ke rumah bareng mereka.”
Dodo tersenyum kepada Zellina. Baru kali ini dia menurut pada kata-kata seorang gadis. Selain memang mengandung kebenaran, Zellina juga sudah mampu menjadikannya seorang bucin pemula. Padahal, selama ini dia paling tidak suka diatur, apalagi diatur cewek.
**
Andrea dan Ren benar-benar lelah, mereka sudah menghentikan obrolan, meskipun belum tertidur. Tiba-tiba ada panggilan dari gawai Ren.
“Papaku,” kata Ren.
“Angkat, Ren. Mana tahu ada yang penting.”
"Iya nih, aku juga kangen Mama."
Andrea tersenyum. Ren segera bangun, mengangkat telefon dari papanya.
Andrea turun dari ranjang, tenggorokannya terasa kering.
"Kamu mau ke mana?" tanya Ren, dengan gawai menempel di kuping.
"Haus," bisik Andrea. Dia keluar, mengambil air di meja makan.
Pandangannya tertuju ke kamar yang ditempati Gigit. Tidak tertutup.
Andrea melangkah mendekati pintu.
Terdengar suara mendengkur.
Gigit mendengkur? Lucu sekali dengkurannya, seperti orang kelelep.
Andrea menutup mulut, merasa geli membayangkan Gigit mendengkur.
Penasaran, dia mengintip dari pintu yang terbuka sedikit. Pelan-pelan kepalanya miring-miring.
“Belum tidur?” sebuah suara mengejutkan aksinya, dari belakang.
“Git! Ngagetin saja!” seru Andrea.
“Itu Pak Supri,” kata Gigit. Dia menyeruput teh panasnya.
Andrea jadi merasa malu.
Gigit berjalan ke ruang tamu, lalu membuka pintu. Dia keluar.
Andrea memandangi punggungnya, dan akhirnya mengikuti cowok itu keluar.
Gigit membawa tehnya ke bawah pohon jambu air, duduk pada bangku kayu, menghadap ke kolam tembok kecil yang diberi hiasan air mancur. Tampak ikan-ikan hias peliharaan Dodo bergerak-gerak, seolah tahu ada yang memerhatikan.
Gigit membungkuk, menyentuh air kolam dengan jarinya. Dingin terasa pada ujung jarinya, tetapi dia tidak menarik tangannya, dibiarkan air dingin membekukan darah di ujung jarinya.
Andrea merasa saat ini waktu yang tepat untuk meluruskan masalah siang tadi di air terjun.
“Kamu masih marah sama aku?” tanya Andrea. Dia duduk di samping Gigit, sederet dengan gelas teh yang dibawa Gigit.
“Kamu tidak lelah? Naik gunung bukan sesuatu yang mudah.” Gigit balik bertanya, suaranya masih datar, kayak jidar.
“Lelah sudah bukan bagianku. Kamu lupa, aku juga pernah mengalami hal yang lebih buruk dari itu.” Andrea juga memasukkan jarinya ke dalam kolam, dijentik-jentikkan jarinya untuk memanggil ikan. Tetapi mereka cuek saja.
Gigit tersenyum kecil.
“Hebat ya, tidak semua orang bisa sekuat kamu, Ndre."
“Kuat itu pilihan, Git. Aku bisa saja memilih menyerah, dan bobo manis di pelukan Ibuku, membiarkan segala sesuatunya terjadi begitu saja. Tetapi aku tidak ingin menyerah, dan aku memilih kuat, meskipun harus mengalami dibius orang, bertemu roh gentayangan, masuk jurang, dan entah apa lagi yang akan terjadi nanti. Ini belum selesai."
Gigit menarik jarinya dari air kolam. Kali ini tangannya benar-benar seperti membeku. Air di sana begitu dingin, khas air pegunungan.
Dia tidak ingin bertanya lagi kepada Andrea. Sudah jelas, gadis di sampingnya itu punya alasan kuat dalam melakukan perjalanan ini.
Dia juga tidak ingin Andrea menganggapnya perhitungan dalam menolongnya, dan harus mengetahui segala yang dia tidak tahu. Apalagi dirinya hanya seorang teman, perkenalan mereka juga belum terlalu lama.
Andrea menolehnya. Gigit terdiam, menatap ikan-ikan yang hilir mudik.
“Lukamu tidak diobati?” tanya Andrea.
“Tidak usah, besok juga sembuh.”
“Git.” Andrea masih menatapnya. “Aku minta maaf, telah merepotkan kamu sampai sejauh ini.”
Gigit mau meraih gelas di sampingnya, bertepatan dengan itu juga tangan Andrea mau menggeser gelas itu. Maka terjadilah pertemuan dua tangan di atas gelas yang air teh di dalamnya sudah dingin, panasnya dibawa angin gunung.
Berganti dengan hangatnya sentuhan tipis tangan mereka, menjalar dibawa sel-sel darah mereka. Hangatnya menjadi panas di dada, menjadikan detak jantung mereka berdebar-debar tidak karuan.
Gigit tidak menggeser tangannya, begitu juga Andrea. Tangan mereka seperti mempunyai magnet, menempel, dan lebih menempel lagi, sampai akhirnya tangan mereka bergerak saling menggenggam.
Gelas teh yang akhirnya harus tersisih, menggeser ke belakang, untung saja tidak tumpah.
Darah mereka tidak berhenti berdesir. Keduanya tidak kuasa menghentikan sesuatu yang bergejolak di tubuh mereka.
__ADS_1
Bagi Gigit, bibir Andrea terlihat begitu lembut. Di pikiran Andrea, nafas Gigit begitu terlihat hangat.
Ya Tuhan, jangan sampai kami jadian diawali dengan ciuman, batin Andrea.
Ayo menjauh, Ndre, kamu jangan sampai membuatku berbuat dosa, batin Gigit.
Keduanya terdiam, kedua tangan mereka semakin erat saling menggenggam. Membiarkan darah dalam tubuh mereka yang bergejolak.
Gigit tidak tahan lagi, dia menyondongkan wajah ke wajah Andrea. Cahaya bulan di langit menerangi wajah cewek di depannya yang lucu, rambut panjangnya bergerak-gerak di telinganya, dimainkan angin.
Andrea menikmati wajah Gigit yang begitu dekat, sehingga lebam pada sudut matanya terlihat jelas.
Andrea memejamkan matanya. Ada kepasrahan di sana. Gigit memiringkan kepalanya. Tangannya yang bebas, menyentuh dagu Andrea dengan lembut. Netranya tidak lepas dari bibir tipis Andrea.
Ya Tuhan, ada apa ini, kami bahkan belum jadian, batin Andrea lagi.
Wajah Gigit semakin dekat, udara dari embusan nafasnya sudah menyentuh pipinya. Hangat.
Brumm!! Brumm!! Bruumm!!!
Motor Dodo meraung, diikuti dua motor lainnya memasuki halaman. Lampunya menyorot ke arah mereka yang sepersekian detik yang lalu menggeser berjauhan dengan mimik wajah sulit digambarkan.
Andrea sibuk menyelip-nyelipkan rambutnya ke telinga. Gigit menggosok-gosok ujung hidungnya yang tidak gatal.
Mereka gagal berbuat dosa.
Zellina turun dari motor. “Belum tidur, Ndre?” tanyanya.
“Kalian dari mana?” Andrea balik bertanya.
“Alun-alun, dong.”
Dodo juga turun, diikuti teman-temannya.
“Ah, iya. Kebetulan Gigit belum tidur, jadi aku tidak usah gedor kamarnya.” Zellina terlihat bahagia.
Gigit tidak mengindahkan mereka. Bukan karena masih kesal kepada mereka. Dia masih jengah dengan dirinya sendiri, yang tidak bisa menahan diri terhadap Andrea.
Dodo memberi kode kepada teman-temannya dengan dagunya.
Ketiga temannya menghampiri Gigit.
Andrea tidak mengerti. Dia menghampiri Zellina. “Ada apa?” tanyanya.
Zellina membawanya ke teras.
“Sebaiknya kita di sini saja, biar cowok-cowok itu menyelesaikan masalahnya.”
“Masalah apa?” tanya Andrea, dia benar-benar tidak mengerti.
Sementara, lima cowok di dekat kolam masih mematung, tidak ada yang bicara. Mereka saling berhadapan dengan wajah serius.
“Ayo, Sep!” Dodo bicara kepada temannya.
Asep menoleh kepada Dodo, lalu dengan ragu mengulurkan tangan kepada Gigit.
“Atas nama teman-teman, saya minta maaf atas kejadian tadi sore.” Asep bicara dengan logat Sunda yang kental.
Gigit tidak menerima uluran tangan Asep, dia malah tersenyum sinis.
“Gampang sekali, dijanjikan apa sama dia?” tanya Gigit. Matanya melirik Dodo.
Dodo terdiam, dia harus bisa menjaga emosi di depan Zellina yang sedang mengawasinya di teras.
“A Dodo tidak tahu apa-apa,” kata Asep lagi.
“Oh, jadi kalian inisiatif? Seperti meminta maaf sekarang juga, inisiatif?”
“Inisiatip itu apa, A?” tanya Ujang, berbisik kepada Dodo.
Gigit semakin tersenyum sinis. Dia merasa tengah berhadapan dengan orang-orang aneh.
“Cicing, maneh!” Dodo menepak jambul Ujang. Ujang mundur-mundur sambil membereskan jambulnya.
“Aku memang tidak tahu, mereka hanya salah paham. Asep menyukai Andrea.” Dodo menjelaskan.
"Apa?" Gigit geleng-geleng kepala.
Andrea turun dari teras, diikuti Zellina.
“Sebenarnya ini ada apa, A? Git? Zell?” Andrea menatap mereka satu per satu.
Zellina sedikit ragu, tetapi dia juga berpikir Andrea berhak tahu.
“Gigit itu bukan jatuh, Ndre. Dia dipukuli mereka ini,” kata Zellina.
“Hah??” Andrea melebarkan matanya, tidak percaya dengan apa yang dia dengar. “Git?” Dia memanggil Gigit, seolah meminta penjelasan.
Gigit berjalan, mengambil gelas di bangku panjang, lalu berbalik.
“Sudahlah, lupakan saja. Aku juga baik-baik saja.” Gigit hendak pergi, Andrea berjalan menahannya.
"Tidak bisa begitu, Git. Mereka harus menjelaskan kenapa bisa begitu. Kalau perlu aku melaporkan semuanya kepada Ua.” Andrea menatap tajam Dodo.
“Sudahlah, Ndre. Mereka hanya cemburu, dikiranya aku pacar kamu, begitu kan?" Gigit menoleh kepada teman-temannya Dodo.
Andrea balik lagi ke hadapan Dodo. “Bilang tuh, sama teman-temanmu, A, kalau naksir? Ngaca!” seru Andrea. Dia tidak rela Gigit dikeroyok seperti itu.
Dia kembali berjalan ke arah Gigit, lalu menggandeng tangan Gigit untuk masuk ke dalam rumah. Hubungannya dengan Dodo yang mulai membaik mulai terusik lagi.
Zellina berlari menyusul. “Ndre, tunggu!”
Dodo menarik nafas panjang, lalu membuangnya sekaligus.
“Baralik!”* serunya kepada teman-temannya. Teman-temannya bubar jalan.
__ADS_1
*bersambung