
Pagi yang cerah, Andrea memeluk ibunya begitu turun dari motor.
“Selamat bekerja, Bu, jangan lupa makan siang.”
“Tumben amat, kamu manis pagi ini.”
Andrea tersenyum. “Aku kan manis dari dulu, Bu, sama anak sendiri lupa.”
“Iya ya, Ibu kemarin lupa kamu anak siapa?”
“Iiih, Ibuuu.”
“Habis, asem banget kayak cucian seminggu.”
“Cucian seminggu bacin kali, Bu.”
“Kalau kamu jadi pacarnya Lee Min Ho, tuuh, pasti jadi bacin.”
“Itu bucin.”
“Sudah ah, sana masuk! Nanti kesiangan.”
Sekali lagi Andrea memeluk ibunya, tidak menghiraukan siswa-siswi yang kebetulan melihatnya.
Kesedihan yang menimpa Ren telah menyadarkannya, bahwa ibunya adalah segalanya di dunia ini. Dia ingin ibunya itu tetap tersenyum, dengan cara apa pun.
Punya papa tiri juga tidak apa, yang penting ibunya bahagia. Dia juga telah menugaskan Dale untuk selalu menjaga ibunya di kantor.
Andrea langsung berbaur dengan yang lainnya memasuki gerbang.
“Anak TK,” seru Salsa yang kebetulan sama-sama masuk.
Andrea melotot. “Biarin.”
“Kalian kemarin ke mana? Guru piket sampai bertanya ke kelas.”
“Oya? Kemarin kita ....”
“Ndre, Sa!” Ren memanggilnya dari meja piket. Andrea dan Salsa menghampiri.
“Lagi apa?” tanya Andrea.
“Mau melaporkan yang kemarin.”
“Iya, sebaiknya kalian melapor, sebelum laporan izin kemarin diberikan kepada kepala sekolah.” Salsa memberi saran.
“Kemarin tidak ada keributan apa-apa kan, Sa?” tanya Ren.
Salsa menggeleng. “Tidak ada, hanya saja Pak Haris mencari kamu setelah istirahat ke dua.”
Ren garuk-garuk jilbab.
Bu Raisa datang, memandangi mereka, lalu duduk.
“Pagi, Bu,” sapa mereka.
“Pagi,” sahut Bu Raisa. Jutek. Mereka tidak mungkin harus merayunya lagi untuk kembali mengajar.
“Ibu piket hari ini?” tanya Ren.
“Iya, ada apa?”
“Euhh, saya mau menyerahkan surat jalan kemarin.”
Bu Raisa memeriksa surat jalan Ren. “Memang untuk dua hari?”
Ren dan Andrea menunduk.
“Saya tidak ada urusan dengan izin kemarin, kalian pertanggungjawabkan dengan guru piket kemarin.” Bu Raisa tidak menghiraukan mereka.
Ren dan Andrea saling pandang.
“Baik, Bu, terima kasih.” Ren mengambil surat jalannya lagi dengan pelan.
Dia mengajak Andrea dan Salsa meninggalkan meja piket. Bu Raisa masih tidak mau diajak kompromi.
“Gawat nih, laporannya mungkin sudah di ruangan Kepsek.” Andrea misuh-misuh.
Mereka memasuki kelas dengan galau.
Pagi itu kelas sudah ramai seperti biasa, korban kerasukan masal sudah kembali masuk.
Termasuk Zainal yang sedang main tebak-tebakan anggota BTS sama Joni.
“Ayo tebak siapa saja, Jon?” tanya Zainal.
“Jimin,” tebak Joni, sambil mengorek-ngorek kuping.
__ADS_1
“Jun Hyuk.” Zainal berseru.
“Lah, katanya anggota BTS.” Joni berang.
“Jun Hyuk juga kan orang Korea.”
“Iya, tapi bukan BTS.”
“BTS itu apa sih?” tanya Zainal.
“Teka-teki silang, oon.”
“Ah kamu mah mengarang, itu TTS.”
Begitulah kira-kira obrolan mereka, semau gue, asal mangap dan bersuara. Menambah kegaduhan.
Zellina asyik dengan gawainya. Masih bersikap tidak peduli dengan kedua sahabatnya.
Pak Haris masuk, anak-anak segera duduk.
“Hari ini kalian baca bab Menulis Fiksi. Lalu praktik sesuai perintahnya. Ren dan Andrea ikut ke kantor!”
Pak Haris keluar mendahului. Anak-anak menatap Ren dan Andrea.
“Mau belajar bolos, ni yee.” Joni terkekeh.
Ren mengernyitkan dahi. “Kita enggak bolos kemarin,” sahutnya.
“Lahh, terus ke mana? Ketiduran atau langsung bikin rujak sama Bu Anis? Jangan-jangan langsung di booking Om Om.” Akri menimpali sambil tertawa.
“Hehh! Jaga mulut ya!” teriak Andrea.
“Uunchh, jangan marah sayang! Kalau mulut Abang di pagar nanti jontor,” ledek Joni lagi.
Gengnya Akri kembali tertawa, dikuti teman-teman sekelasnya, tawa yang bikin panas kuping Andrea dan Ren.
“Sudah, jangan ladeni mereka, kita berangkat, Pak Haris menunggu.” Ren menggamit tangan Andrea.
Zellina melirik sekilas ke arah mereka, ada sungging dari bibirnya. Dia melihat ke arah Fany, keduanya tersenyum puas penuh kemenangan.
Kelas ribut lagi, tugas dari Pak Haris hanya beberapa orang yang mengerjakan, sebagian besar kembali seperti anak autisme. Setan pojok pasti semakin senang misinya berhasil.
Sementara itu di kantor guru, Andrea dan Ren sedang berusaha menjelaskan apa yang terjadi kemarin.
“Kalau begitu kejadiannya, kenapa tidak menghubungi guru piket dulu, kan kalian ada pegang ponsel.”
“Maaf, kemarin saya panik, tidak sempat berpikir banyak.”
“Euuhh, enggak, Pak.”
“Terus, ikut panik?” Andrea terdiam. “Kalian tahu sendiri, sekolah ini paling ketat masalah absensi. Siswa dengan absen bolos sekali langsung diberi peringatan keras.”
“Tetapi kami tidak bolos, Pak.”
“Kalian memohon kepada guru piket, meminta izin ke rumah Bu Anis dengan tujuan mendiskusikan sesuatu yang penting. Lalu tidak kembali sampai jam pelajaran berakhir, betul?”
“Iya benar, Pak.”
“Itu bukan bolos? Terus kalian mendiskusikan apa? Asal kalian tahu, guru piket menghubungi Bu Anis sebelum istirahat pertama. Beliau bilang kalian sudah pulang, dan mengatakan kalau tujuan kalian datang ke rumahnya itu tidak jelas.” Pak Haris menggebrak meja.
Guru yang ada di sana sampai terkejut.
"Saya tidak habis pikir, seorang ketua kelas, murid paling bisa diandalkan untuk mengatur teman-teman sekelasnya ternyata bisa berbuat seperti itu. Pantas saja kelas kalian sangat tidak bisa diatur.”
Pak Haris duduk, memijit-mijit kepalanya, sambil memandangi Ren dan Andrea yang menunduk.
“Pak Haris jaga tensi, Pak!” kata Bu Komala. “Sudah serahkan saja kepada kepala sekolah,” lanjutnya.
“Terima kasih, Bu Kom, sudah mengingatkan. Memang saya sekarang jadi sering pusing sejak memegang kelas ini, apakah saya sudah terkena darah tinggi ya?” keluh Pak Haris.
“Yang sabar ya, Pak,” kata Bu Komala.
“Maafkan kami, Pak. Jika kepanikan saya kemarin membuat Bapak pusing dan tensi naik. Saya bersedia diberi sanksi apa saja. Tetapi saya mohon, untuk tidak memberi sanksi kepada Andrea, dia hanya menemani saya.” Ren bersuara.
Andrea melirik Ren. “Ngga, Pak, saya juga salah.”
“Sudah cukup! Jangan malah saling bela seperti itu. Kali ini saya hanya memberi peringatan, lain kali, jika terulang, orang tua kalian yang akan kami undang di sini.”
“Baik, Pak,” jawab Andrea.
“Sebagai Wali kelas, saya tidak akan menyerahkan laporan ini kepada kepala sekolah, tetapi ingat, hanya untuk kali ini. Jika terjadi lagi, saya tidak mau membela kalian lagi.”
“Terima kasih, Pak.”
“Sekarang bersihkan toilet, selama pelajaran saya.”
Andrea dan Ren beriringan menuju toilet, diiringi tatapan guru-guru yang masih ada di kantor.
__ADS_1
“Maaf ya, Ndre, kamu jadi ikutan kena sanksi.” Ren mulai mengepel lantai toilet.
“Ngga apa-apa, Ren. Kita hadapi ini bersama. Misalnya kamu dihukum sendirian pun aku pasti akan membantu.”
“Semalam Papaku pulang, dia bilang mampir ke klinik, dan Mama sudah mulai berubah.”
“Berubah bagaimana, Ren?” Andrea menghentikan aksinya mengelap cermin.
“Mamaku sudah bisa tersenyum kepada Papa.”
“Alhamdulillah, itu berita bagus.”
“Iya, papaku sampai menangis. Aku juga, saking senangnya.”
“Tapi enggak cerita tentang dia kan?” Andrea menyilangkan telunjuknya di atas bibir.
“Ngga, lah.”
“Bagus, cukup kita berdua saja yang tahu.”
“Hehh! Kalau kerja yang benar, malah merumpi,” seru seseorang.
Kakak kelas cantik dan dua orang temannya bersandar di pintu toilet. “Pantas saja, ternyata kalian. Sudah merangkap jadi OG sekarang?”
Kedua temannya cekikikan.
Ren dan Andrea menghentikan pekerjaannya, membiarkan mereka masuk dan sengaja mengotori lantai lagi.
“Sabar, Ndre!” bisik Ren, ketika melihat Andrea kesal.
Ternyata kekesalan mereka tidak sampai di situ saja, selang beberapa saat banyak siswi kelas dua belas yang masuk untuk berganti pakaian olah raga.
“Sabar, Ren,” balas Andrea.
Setelah sepi, mereka membersihkan kembali toilet dengan penuh tanggung jawab.
Mereka kembali ke kelas dengan wajah lusuh.
“Kerja rodi, Em?” tanya Akri. “Makanya kalau bolos ajak-ajak, biar banyak yang bantu ketika harus kosrek WC,” lanjutnya.
Ren menghampirinya. Teman-teman sekelasnya ribut memanas-manasi, seolah senang jika ada keributan. Semua tahu Ren jago karate.
"Sikat, Ren!"
"Tunjukkan sabuk hitammu!"
"Tendang! Tendang!"
"Sleding!"
"Heh! Lu kira mereka mau main bola?"
Ren tidak menghiraukan teriakan teman-temannya. “Lu mau jadi ember ya?” tanyanya. Sorot matanya penuh selidik kepada Akri.
“Kagak, panci,” sahut Akri.
“Lu kan yang kemarin hubungi nomor Gue?”
“Waduhh, Gue bukan Om Om ....” Akri menjawab sambil tergelak.
Membuat Ren berang, dia menggebrak meja Akri. “Jawab!” teriaknya.
Akri terperanjat. “Lu kenapa sih?”
“Gue tanya, Lu yang hubungi gue kan? Karena di sini, hanya lu yang tahu kondisi mama gue.”
Akri mengernyitkan dahi. “Kenapa dengan Tante Aini?”
“Ren, sudah!” Andrea menarik tangan Ren. Dia tidak mau teman-temannya malah penasaran. “Pak Bayu sebentar lagi datang,” bisiknya.
Ren menatap Akri tajam, lalu kembali ke tempat duduknya dengan wajah masih kesal.
“Kenapa mamanya?”
“Bos kenal mamanya Ren?”
Akri tidak menjawab pertanyaan teman-temannya, dia menghampiri Ren.
“Kenapa tante Aini?” tanya Akri lagi.
“Sudah, Kri, bukan saatnya bertanya terus.” Andrea memohon kepada Akri, maksudnya biar Ren tenang dulu.
"Gue harus tahu, Ndre. Dia tante gue."
"Beliau baik-baik saja," sahut Andrea. Dia mendorong dada Akri, agar kembali ke tempat duduknya. Andrea juga baru tahu Ren dan Akri sepupuan. Pantas bela dan buli terus di Zainal, pikirnya.
*bersambung
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya, Readers, dengan like, komen, vote dan rate, biar Author semakin semangat
Terima kasih*