
Di dalam mobil ketiganya bercanda seperti biasa lagi, meskipun Andrea masih mencium aroma persaingan dari sorot mata Ren. Sedikit menyengat.
Zellina menyetel lagu Stay With Me dari Chanyeol.
“Tambah volumenya, Zell!” pinta Andrea. Dia suka lagu itu.
“Berapa mangkok, Ndre?”
“Si Non, udah seperti lagi jajan bakso saja.” Sopirnya Zellina ikut nimbrung sambil terkekeh.
“Asyik juga ya jalan pas jam pelajaran begini, perbaikan syaraf otak.”
“Ehm, kamu bener, Ndre, sering-sering aja kita kunjungi guru yang gak masuk.” Zellina memutar setengah badan dengan jempol mengacung.
“Iya, kalian asyik, aku yang repot tadi, cari alasan ke guru piket demi ini, nih!” Ren menunjukkan selembar surat izin.
“Itu bagian kamu, kan cita-citamu jadi diplomat,” kata Andrea.
“Diplomat itu kerjanya mengunjungi guru, Ndre?” tanya Zellina.
Andrea dan Ren membantingkan punggung ke jok mobil. Bersamaan dengan itu ponsel Zellina berdering.
“Aww, Gaes! Oh My God ini Kak Yadi!” teriak Zellina. Matanya melebar memandangi layar ponsel. “Haalloooo, Kakaak,” ucapnya.
“Biasa aja kali,” lirih Ren. Dia memandang ke luar kaca mobil, wajahnya ditekuk dua.
“Iya, Kak. Aku tadi suruh teman aku untuk bagikan flyer-flyer itu ke seluruh kelas ... Whats? Jadi, pada nyampah? ... Oke, oke, Kak, nanti aku urus.” Zellina nampak terdiam mendengarkan, lalu bicara lagi, “iya, maaf. Tadi Kakak ke kelas aku? Ini aku lagi dalam perjalanan menuju rumah Bu Anis ... Andrea? Iya, ini sama dia.” Zellina memutar kepala, melihat ke arah Andrea. “Kak Yadi mau ngomong,” bisiknya.
“Ngomong apa?” Andrea balik berbisik.
“Nggak tau.” Zellina menyodorkan ponselnya.
“Loudspeaker aja, Zell!” Andrea enggan nerima ponsel Zellina yang mahal bening berkilau seperti itu, takut pengen.
Zellina memencet ikon gambar mix duduk.
“Hallo, Kak, ini Andrea.” Andrea mulai bicara.
“Hai, Ndre, kalian mau kemana?” suara Yadi tenggelam dalam musik dalam mobil. Pak Supri mengecilkan volume suara musik, rupanya dia juga kepo.
“Kita mau ke rumah Bu Anis, Kak.”
“Kenapa nggak minta diantar Kakak?” suara kecewa terdengar dari sana.
“Oh, ini sudah pakai mobil Zellina, Kak.” Andrea memandangi Ren dan Zellina yang mulai menatapnya penuh curiga. Dia menyesal kenapa minta loudspeaker.
“Ooh, padahal saya selalu nunggu telfon kamu, kan saya pernah bilang sama kamu kalau ada perlu apa-apa, bisa hubungi ....”
“Oh, Kak, kita udah sampai, nanti lagi ya. Assalamu’alaikum.” Andrea buru-buru memijit ponsel Zellina, meskipun tidak tahu yang dipijit ikon apa, karena dari sana masih terdengar Yadi memanggil-manggil namanya.
Zellina dan Ren masih menatapnya, Andrea cengengesan sendiri. Mobil tiba-tiba berhenti.
“Kok berhenti, Pak?” tanya Andrea.
“Katanya sudah sampai, Neng," sahut Pak Supri.
“Oh, belum, Pak, jalan lagi aja!”
Pak Sopir garuk-garuk kuping sebelum kembali tancap gas. Perasaan dia tadi mendengar Andrea bilang sudah sampai.
“Kalian kenapa melihat aku seperti itu?” tanya Andrea.
“Kamu ada apa sama Kak Yadi?” tanya Ren.
__ADS_1
“Iihh, Andrea kamu nikung aku yaa?” Zellina merengut.
“Emang kamu siapanya Yadi?” tanya Ren kepada Zellina. Itu bukti persaingan masih bergejolak.
“Yadi kan gebetan aku, pada lupa?” semprot Zellina, masih dengan wajah cemberut.
“Kamu ini kenapa sih, aku nggak ada apa-apa sama Yadi. Dia bukan tipeku.” Andrea berusaha membela diri.
“Bohong banget." Zellina meluruskan badannya kembali melihat ke depan.
“Buat apa aku bohong. Asal kalian tahu ya, aku ini pencinta perjalanan jalur selatan. Kalian tahu jalan itu? Naik turun, berbelok-belok. Ketika sedang menikmati itu, aku sering teringat akan persahabatan kita.” Andrea mulai berfilosofi.
“Maksudnya?” tanya Ren.
“Persahabatan itu ibarat perjalanan, Ren, Zell. Ketika berkendara di jalan, kadang kita ngegas, kadang biasa saja, nyalip juga halal, tetapi kita juga janga lupa harus injek rem, dan perhatikan rambu-rambu demi keselamatan. Persahabatan juga begitu, ada kalanya harus perang urat syaraf, tetapi usahakan mendingin lagi atau bisa saja terasa flat. Nahh, kita jangan lupa untuk menahan emosi dan saling mengingatkan, seperti rem." Andrea berhenti sejenak, menunggu reaksi teman-temannya.
"Ada satu hal yang paling harus sangat hati-hati, kalau perlu hindari," lanjutnya.
“Apa itu?” tanya Pak Supri, rupanya dia juga benar-benar menyimak.
“Tikungan, Pak. Bahaya,” jawab Andrea. Melihat ke arah Ren yang memonyongkan bibirnya. “Kalau kita tidak hati-hati, bisa tabrakan,” lanjutnya.
“Kalau diperhatikan ceritanya, jalur selatan yang Neng maksud itu mana? Nagreg?” Pak Supri malah tertarik dengan jalur jalannya.
“Naahh, Bapak tahu jalan itu?”
“Waahh, kalau jalan itu mah menuju kampung saya, Neng, saya kan orang Kawali.”
“Kawali itu sebelah mana Singaparna, Pak?” Andrea bertanya dengan asal sebut.
“Jauh atuh, Neng.”
“Iiihh, apa sih ini malah ngomongin Hawaii, Singapura.” Zellina merengut lagi, sopirnya terdiam. “Pak Supri diem dulu!” perintahnya.
“Baik, Non.”
“Dari tadi aku ngomong kamu ngerti ngga?” tanya Andrea.
“Nggak,” jawab Zellina.
Andrea merapatkan pipinya ke kaca mobil. Ren tersenyum geli.
“Terserah, lu,” gumam Andrea.
“Selamat datang di persaingan.” Ren berbisik. Lagu-lagu soundtrack Goblin terdengar lagi, melarutkan emosi yang mendengarnya.
“Ndre, kok kita ngga sampai-sampai?” tanya Zellina.
Andrea tersentak. “Iya ya, kita berhenti di mana, Ren?”
“Lho, kok nanya aku?”
“Terus siapa yang tahu?”
Empat orang dalam mobil itu saling pandang.
“Bapak tahu?” tanya Zellina. Pak Supri menggeleng.
Ren mengeluarkan ponselnya, mau menghubungi teman sekelasnya yang tahu.
Di rumah Bu Anis, Andrea, Ren, dan Zellina disambut dengan ramah oleh Bu Anis. Berbeda ketika sedang mengajar mereka, Bu Anis di rumahnya tampak manis dan bersahaja.
Rambutnya terurai lepas tanpa tusuk konde, gaun panjang membungkus badannya yang ramping, membuat dia terlihat elegan. Konon, Bu Anis adalah wanita keturunan ningrat.
__ADS_1
“Apa kabar, kalian?” tanyanya dengan senyum tersungging, cantik yang klasik.
“Baik, Bu.” Jawab Andrea dan Ren. Zellina sedang ada di teras bermain-main dengan kucing peliharaan Bu Anis.
“Zellina, sini! Ngapain di situ?” teriak Bu Anis.
“Kucingnya bagus, Bu. Boleh ngga diajak ke rumah?” tanya Zellina.
“Boleh kalau Mimiy mau,” jawab Bu Anis.
“Beneran, Bu? Namanya Mimiy ya? Bisa dijodohin sama si Garfe.” Mata Zellina berbinar. “Pus ... ikut yuuk!” rayunya, lalu menggendongnya.
Tetapi kucingnya malah loncat, lalu lari ke pangkuan Bu Anis setelah sebelumnya mencakar tangan Zellina. Zellina menjerit tertahan.
“Tidak mau ternyata, kan?” dengan lembut Bu Anis menggaruk-garuk dagu kucingnya yang kini ada di pangkuannya.
“Yaahh, kenapa?” Zellina merengut.
“Karena dia punya harga diri, masa betina main ke rumah jantan.” Bu Anis menjelaskan.
“Bilangin, Bu. Ngga akan digerebek kok,” ujar Zellina.
Bu Anis geleng-geleng kepala. Andrea dan Ren tersipu melihat kelakuan Zellina.
“Eh, iya. Ada apa kalian kemari? Bukannya seharusnya sedang belajar? Bagaimana guru pengganti saya?”
“Kami belum ada guru pengganti, Bu,” kata Andrea.
“Oya? Tapi bukan berarti kalian tidak belajar kan? Ada perpustakaan, ada buku paket, soal-soal.”
Andrea melihat kepada Ren, memberi kode untuk segera bicara.
“Ehm, begini, Bu. Maksud kita datang ke sini mewakili teman-teman sekelas. Mau minta maaf jika selama ini saya dan teman-teman membuat Ibu kurang nyaman, membuat Ibu tidak kerasan menjadi wali dan mengajar kami, tetapi kami semua benar-benar kehilangan Bu Anis, kami sekelas ingin Ibu kembali mengajar, memberikan ilmu, menjadikan kami pintar Matematika,” kata Ren dengan suara dibuat sesantun mungkin.
Bu Anis mengelus-elus kucingnya. Tidak berapa lama beliau berkata, “seharusnya kalian tidak perlu repot-repot membujuk. Saya resign bukan karena kalian.” Bu Anis melepaskan kucingnya yang mulai berontak ingin main.
“Sebenarnya kalian itu anak-anak yang kreatif, walaupun sedikit aktif, saya suka, itu tandanya kalian sedang berkembang dengan baik. Kalian juga tidak bodoh, walaupun selalu telat mengerti, tetapi bisa mengikuti pelajaran saya dengan baik.” Bu Anis menarik nafas, mimik wajahnya berubah sendu.
“Sebenarnya sudah lama saya tidak nyaman dengan gangguan tidak kasat mata yang sering menerpa saya, entah lah, ....” Kata-kata Bu Anis terhenti lagi. Kali ini dia menunduk, seperti sedang menahan sesuatu yang berat. Andrea dan Ren menahan nafas.
Bu Anis melanjutkan, “tetapi, bukan karena itu saja saya memutuskan berhenti. Selain saya sudah lelah menjadi tenaga honorer tanpa kepastian diangkat, saya juga mau menjalani terapi.”
“Terapi?” tanya Andrea.
“Bu Anis sakit apa?” tanya Ren.
“Terapi itu yang jug gijag gijug gijag gijug, ya, Bu?” tanya Zellina. Pundaknya bergoyang-goyang.
“Itu kereta api ...” jawab Bu Anis, Ren dan Andrea berbarengan.
Zellina tersipu malu.
Bu Anis tidak mau menjelaskan terapi apa, yang pasti dia akan menjalani sesuatu yang berhubungan dengan psikologi.
“Ibu benar-benar tidak ingin memikirkannya lagi? Demi kami, anak-anak Ibu.” Andrea kembali membujuk. Di sudut matanya ada basah yang menggenang. Dia terbawa suasana, melihat Bu Anis yang seolah pasrah dengan sakitnya.
Andrea merasa sangat bersalah, Bu Anis harus menjalani terapi, mungkin saja gara-gara Dale.
Hampir saja dia ceritakan semuanya, agar Bu Anis tidak perlu takut lagi, karena dia sudah mengurung Dale dalam gembok.
“Baiklah, karena kalian sudah ke sini, saya tentu sangat berterima kasih. Kalian sudah peduli dengan saya. Tetapi, saya juga minta kepada kalian untuk menghormati keputusan yang telah saya ambil.”
Andrea, Ren, dan Zellina terdiam, yang terdengar hanya suara manja Mimiy di kolong meja.
__ADS_1
Bersambung ya, Gaes.
Jangan lupa like, komen, dan vote 🙏