My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 24 Merayu Guru Kesayangan


__ADS_3

Malamnya.


“Ndre, makan malam dulu!"


“Iya, Bu.” Andrea meletakkan pulpen di atas bukunya. Netranya kembali memandangi kotak gembok antik di depannya.


Dia berpikir tentang apa yang dibicarakan Fany di sekolah. Sudah bukan rahasia lagi kalau Fany itu adalah anak genius, dia bisa mengerjakan soal apa saja yang orang lain tidak bisa. Dan kali ini ada sesuatu yang tak kalah mengejutkan, dia bisa melihat Dale, jin penjaganya. Apakah dia indigo juga?


Andrea melepaskan nafas dari hidungnya sekaligus. Masalah besar kalau Fany sampai membocorkan semuanya itu. Dia bisa dikucilkan di sekolah, atau lebih buruk, dikeluarkan, karena dituduh tukang santet.


“Emang gue pikirin? Kalau Fany berani bocorkan, aku minta saja buktinya, apa dia bisa buktikan?” gumamnya.


Senyumnya menyeringai, seolah siap berperang dengan Fany.


Tetapi kemudian senyum sarkasme di bibirnya hilang, teringat dengan peringatan Fany tentang Dale. Jangan terlalu mempercayai makhluk itu.


Kalau apa yang dibicarakan Fany itu betul, ternyata dia selama ini berteman dengan jin yang bisa saja pembohong.


Yang namanya makhluk halus kan tidak bisa dilihat apa tujuannya, bisa saja dia berpura-pura menolong dengan tujuan lain. Maha jahat Jin dengan segala tipu dayanya. Mungkin lebih jahat dari netizen.


Andrea bergidik, tidak mau sampai terjadi sesuatu dengan dirinya atau ibunya.


“Tapi kenapa Aki sampai memelihara Dale segala? Apakah dia bukan dipelihara? Tapi hasil buruan? Apa dia benar peliharaan Aki?” Andre semakin bertanya-tanya.


“Ndre, lagi apa sih? Ayo makan malam dulu!” Ibunya tiba-tiba muncul.


“Ya ampun, Ndre. Ngapain liatin gembok sampai seperti itu, sebenarnya itu gembok apa sih?”


Andrea tersenyum kepada ibunya. “Ini love lock.” Dia menyatukan jarinya membentuk love, dan menunjukkan kepada ibunya.


“Apaan itu teh?”


“Ah, Ibu nggak gaul. Belum pernah ke Paris sih ya?”


“Pernah, beberapa minggu yang lalu kan kita ke sana.”


“Kapan?”


“Waktu jemput kamu, kan kita lewat sana.”


“Iih itu Paris van Java. Lagian lewat pinggiran doang." Andrea manyun.


"Di Paris tuh ada tempat wisata yang namanya love lock, di sana kita bisa nyimpen gembok, sambil ucap do'a dengan pasangan biar hubungan langgeng, terus kuncinya dilempar ke sungai. Biar nggak bisa dibuka pelakor." Andrea memegang dadanya, membayangkan dia berada di sana, bersama Dale yang sudah berubah jadi manusia.


“Hehh! Masih sore udah mimpi. Lagian mau ucap janji sama siapa?” tanya Yuli, menyelidik. “Jangan-jangan sama tukang ojek itu?”


“Iiiihh ... Ibuuu,” gusar Andrea, lamunannya terganggu karena ibunya menyebut cowok tukang ngebut itu.


“Ladeni.” Yuli mencibir.


“Woaahh, Ibu ngomongnya udah kayak Bi Cicih, ladeni ....” Andrea mengikuti gaya bicara Bi Cicih kalau lagi mencibir.


“Ayo makan dulu! Ibu udah lapar.”


Andrea menutup kotak kayu, lalu beranjak mengikuti ibunya yang sudah terlebih dulu keluar kamar.


Urusannya dengan Dale belum selesai, masih banyak penasaran yang butuh penjelasan di kepalanya, tetapi belum saatnya untuk membuka kembali gembok tempatnya terkurung.


**


Pagi hari Jum'at.


Selesai mengikuti pengajian bersama di lapangan, Andrea menggandeng tangan Ren. Pasmina panjang terlampir di pundaknya.


“Gimana rasanya dibonceng dia?”


“Dia siapa?” tanya Ren.


“Si tubut.”


"Tubut?" Ren mengernyitkan dahi.


"Tukang ngebut."


"Oh, Kang ojek kemarin?" Ren terus saja berjalan, Andrea menunggu jawaban. “B aja,” jawab Ren.


“Pasti dia ngigit.” Andrea menyeringai memperlihatkan gigi gingsulnya.


“Memang dia Gigit.” Ren tertawa. Andrea juga. “Ternyata dia bukan cowok motor, Ndre.”


“Emang kamu nanya?”


“Nggak sih, dia yang ngajak ngobrol terus. Sekalian saja aku tanya. Eehh, dia nanyain kamu lho,” lanjut Ren. Mereka berhenti berjalan.


“Masa?” Andrea merasa aneh.

__ADS_1


“Beneran, dia nanya kamu tuh cewek apa cowok.”


“Buta kali.”


“Soalnya rata, katanya.” Ren berlari menjauh sambil tertawa-tawa.


Andrea melihat dadanya sendiri, mau meraba tapi malu banyak orang. “Reeeeeen!” Akhirnya dia menjerit mengejar Ren.


“Aku kok nggak semangat ya Bu Anis nggak ngajar lagi.”


Andrea menghentikan larinya ketika mendengar Salsa bicara pada temannya.


“Bukan kamu saja, sepertinya kita sekelas juga, tuh lihat!” Andrea menunjuk ke dalam kelas dengan dagunya. Teman-temannya terlihat payah, tidak bergairah. Bangku Akri dan gengnya kosong. Biasanya kalau Jum’at pagi, mereka tidak pernah absen, karena ada jam Bu Anis mengajar.


“Cari solusi dong, Ndre, kita butuh Bu Anis.” Salsa memelas. Dia memang cewek sedikit bener di kelasnya, bener-bener ingin belajar, karena punya cita-cita ingin kuliah di Bandung.


“Iya, ini juga lagi aku pikirin.”


Mereka masuk ke dalam kelas.


“An An, guru Matematika kita sekarang siapa?” Zainal menepuk pundak Andrea, kopiah miring menclok di kepalanya. Hampir menutupi sebelah matanya.


“Gak tahu, kok tanya aku, bukan nanya ibumu?”


“Kamu kan tukang nguping,” kata Zainal. Andrea mendelik, mengasongkan kepalan tangannya ke depan hidung Zainal.


“Ini apa?” tanyanya.


“Tangan,” jawab Zainal.


“Bukan, keong.”


“Aaaahhh, An Aaaann ....” Zainal lari menjauh.


“Hahahahaa ... Anak siput takut keong.” Andrea menjulurkan lidah ke arah Zainal. Dia buru-buru duduk dekat Ren. “Emang aku rata ya, Ren?” bisiknya.


Ren memandangi tubuhnya dengan cermat. “Iya sih, kayak papan penggilesan.” Ren terkekeh.


“Makanya tutupi dengan ini nih, biar nggak kelihatan.” Ren menjulurkan jilbabnya.


“Aku belum pengen, belum bisa harus duduk manis juga.”


“Emang aku bisa?” tanya Ren. “Jilbab itu keharusan, bukan keinginan.”


“Oh iya, Ren. Anak-anak kelihatannya mau Bu Anis balik. Bagaimana kalau kita menemui Bu Anis.” Andrea memberikan usul.


Ren mengeluarkan buku dari dalam tasnya, buat kipas-kipas. “Mau apa?”


“Bujuk lah, Ren. Bu Anis kan resign karena kejadian di kelas kita.”


“Nanti deh kita bicarakan.”


“Jangan nanti, Ren ....” Andrea menghentikan ucapannya, dia melihat Zellina tergopoh-gopoh masuk kelas dengan setumpuk kertas di tangan.


“Teman-teman, aku ada flyer, mana tahu berminat ekskul basket.”


Zellina mulai membagi-bagikan flyer yang dibawanya.


“Banyak amat, Zel?” tanya Andrea.


“Biar semua kebagian, Ndre.”


“Padahal satu aja cukup, ditempel di mading, nanti juga ada yang baca. Ini namanya pemborosan.”


“Nggak apa-apa, Ndre, nggak ada masalah buat aku. Aku akan melakukan apa pun demi kesuksesan cintaku.” Zellina sok iya.


Andrea lupa, Zellina itu horang kaya, gedung sekolah saja bisa dia beli, apalagi hanya setumpuk flyer.


Ren melirik Zellina yang sangat bersemangat.


Dia berdiri. “Teman-teman, aku mau bicara.” Ren sengaja menggunakan otoritasnya sebagai ketua kelas untuk menghentikan aksi Zellina yang semakin membuatnya bete.


“Sebentar dong, Ren, aku belum selesai,” teriak Zellina.


“Kamu yang berhenti dong, yang akan aku sampaikan lebih penting dari selebaran gak penting itu.”


Zellina berhenti membagikan flyer denga memasang wajah kesal.


“Ren,” kata Andrea.


“Teman-teman ....” Ren mengacuhkan panggilan Andrea. “Sudah dua hari ini kita tidak belajar Matematika, guru pengganti Bu Anis sepertinya belum ada. Apa kalian setuju kalau aku dan Andrea menemui Bu Anis untuk membujuknya kembali ke sekolah ini?”


“Setuju, M!” teriak Zainal, tangannya mengacung.


“Kok, M?” tanya Ren.

__ADS_1


“Kamu kan KM,” jawab Zainal.


Ren memutar mata. “Heuhh!” solotnya kepada Zainal. “Yang lain?”


“Yakin berhasil, Ren?” tanya Dewi. Rani mencoleknya, dia sudah bersiap memasang kamera ponselnya untuk main tuk tak.


“Berhasil atau tidak, kita akan tahu setelah berusaha. Aku setuju, Ren." Salsa angkat bicara.


“Betul kata Salsa, kalian ada yang mau ikut?” tanya Andrea, dia melirik Fany. Yang dilirik asyik menunduk membaca komik.


Zellina yang masih kesal segera duduk di bangkunya. Bibirnya manyun beberapa centi, matanya menatap Ren yang sok berkuasa.


“Kita percayakan semuanya kepada kalian saja ya, teman-teman,” kata Salsa. Anak-anak mengiyakan, lalu melanjutkan aktivitasnya kembali.


“Ya sudah, Zell, sopir kamu hari ini nunggu?” tanya Andrea.


“Nunggu siapa?”


“Nunggu kamu lah, masa nunggu orang lain.”


“Ya nunggu lah, dia kan sopirku," jawab Zellina.


“Kalau gitu kamu ikut ya, kita sekarang mau numpang mobil kamu,” rayu Andrea.


“Emang aku kuntilanak?” cibir Zellina kepada Ren, dia seperti punya peluru untuk menembak.


“Apaan sih, Ndre, kita bisa naik angkot.” Ren berusaha mencegah, terlihat jelas rona persaingan mencuat.


“Kamu mau naik angkot, trus balik ke sini lagi sekolah udah bubar, jam segini angkot susah,” jawab Andrea.


“Ya sudah, aku mah orangnya santuy, yuk jalan!” Zellina menggandeng tangan Andrea. “Tolong bagikan ya, nanti aku kasih bonus. Seluruh siswa harus dapat." Zellina menyerahkan flyer kepada salah satu teman cowoknya.


“Siap, Princes.” Yang mendapat amanat bersemangat. Zellina kedip-kedip. Apa sih yang tidak bisa dilakukan dengan uang.


“Ayo dong, Ren!” Andrea menarik tangan Ren.


Ren terpaksa mengikuti mereka.


Sekarang mereka berjalan seperti biasanya, jejer tiga, seperti pembawa bendera upacara.


"Selamat berjuang, merayu guru kesayangan kita semua, girls ... Semoga berhasil!" Dewi merekam mereka dengan ponselnya.


Andrea, Ren, dan Zellina dadah-dadah.


Andrea berjalan di tengah. “Sepertinya udah lama kita ngga begini, ya?” Andrea mencolek dagu Ren dan Zellina yang masih diam-diaman.


Mereka kompak membuang muka. Andrea tertawa, lalu menggaet leher kedua sahabatnya itu kiri dan kanan. Ren dan Zellina memekik kesakitan.


“Leherku, Ndre!”


“Si Andre, jilbabku nyengsol niihh!” teriak Ren.


“Makanya jangan musuhan mulu!” ancam Andrea.


“Siapa yang musuhan?” tanya Ren dan Zellina berbarengan.


“Oh, nggak ya? Kirain musuhan,” goda Andrea.


“Kita ngga musuhan, Ndre, si Mauren tuh, yang dapetnya nggak habis-habis,” kata Zellina.


Ren terdiam. Iba juga pada Zellina yang tidak tahu apa-apa, kena damprat terus. Tidak seharusnya dia bersikap seperti itu kepadanya, hanya karena Zellina lebih percaya diri menunjukkan rasa sukanya kepada Yadi. Sedangkan dia hanya bisa mengagumi dalam hati.


Zellina lebih segala-galanya, dia tidak mampu bersaing. Melihat cara Yadi memandangnya pun, sudah bisa dijadikan arti, kalau dia harus menepi.


“Sori, Zell, ngga maksud kok. Aku akhir-akhir ini banyak pikiran.” Ren beralasan.


“Aaahh, Ren ... kenapa nggak bagi-bagi?” Zellina memegang lengan Ren.


“Bagi-bagi, emang sembako?”


Andrea membereskan jilbab Ren. “Kita semua punya masalah, Ren, tetapi persahabatan kita harus tetap kompak.”


“Betul betul betul ....” Zellina tersenyum sumringah. Mereka bertiga berpelukan.


"Sudah cukup dramanya, Pak Supri sudah menunggu,” lanjut Zellina.


Mereka segera berlari ke tempat petugas piket, untuk meminta izin.


Berhasilkah Andrea membujuk Bu Anis?


Bagaimana nasib jin ganteng Dale selanjutnya?


Baca terus yaa...


Jangan lupa like, dan komennya 😁😁

__ADS_1


__ADS_2