My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 27 Cewek Indigo


__ADS_3

“Makasih ya, sudah mau mengantar pulang.” Andrea tersenyum sambil memberikan helm kepada Gigit. Cowok itu membuka kaca helmnya, membalas senyuman Andrea.


“Sama-sama, boleh kan kapan-kapan ....” Gigit menggerakkan tangannya memberi isyarat menelefon.


Andrea mengangguk. “Boleh dong, tapi jangan sekarang!”


“Kenapa?”


“Ponselku habis batere.” Andrea mengacungkan ponselnya.


Gigit tersenyum lagi, lalu pamit. Senang Andrea sudah tidak memaksakan diri meng-Gue kan diri lagi.


Andrea melepas kepergian Gigit.


Waktu Asar sudah lewat, matahari semakin bergeser ke barat, senja perlahan tiba, mengukir senyum pahit Andrea berikut segala prasangka yang mulai terbit di hatinya. Ada apa dengan ibu? Batinnya.


“Neng?” Andrea menoleh ke luar pagar.


Bi Cicih membuka pintu pagar. “Baru pulang?”


“Iya, Bibi dari mana?”


“Pulang dulu, masuk-masukin dulu hayam, sama entog.”


“Emang nggak bisa pulang sendiri, Bi?” Andrea mengambil kunci rumah dalam tas.


“Bisa, tapi kan nggak bisa buka kandang sendiri.” Bi Cicih menyimpan keresek yang dibawanya di meja teras. “Malah si Nang, anak Bibi yang belum pulang.”


“Laahh, Bibi, anak ayam aja dicari, anak sendiri nggak.”


“Biarin, kan bisa buka kandang sendiri.” Bi Cicih menimpali. Andrea geleng-geleng kepala mendengar Bi Cicih menyamakan anaknya dengan anak bebek.


Mereka masuk, Andrea langsung menyegarkan diri di kamar mandi.


Bi Cicih membuka keresek yang dibawanya, gorengan panas ditata di piring, lalu dibawa ke depan televisi. Bi Cicih asyik menonton sambil ngemil.


“Bi!” Panggilan Andrea mengejutkan Bi Cicih yang sedang mengikuti sinetron berjudul panjang.


“Ah, si Neng, ngagetin aja.”


Andrea mencomot tahu isi toge. “Bibi ngelihat ada yang aneh nggak dari Ibu?”


“Yang aneh gimana?”


“Yaa, gerak-geriknya, atau Ibu pernah cerita apa gitu.”


Bi Cicih berhenti mengunyah, tetapi gorengannya dijubelkan semua ke mulut, pipinya kembung sebelah. “Xebbenanya vivi huga hudahh ....”


“Bibi habisin dulu makanannya!”


Bi Cicih mengunyah lagi, lalu minum. Dia melanjutkan bicara, “sebenarnya Bibi juga sudah mau tanya sama Ibu, kenapa akhir-akhir ini sering tugas, dan kelihatan capek banget. Bibi juga sering di suruh kerokin. Tapi Bibi nggak berani."


“Yang lain?”


“Ehmm ... Bibi takut salah, Neng,” kata Bi Cicih.


“Kenapa? Aku nggak ingin sesuatu terjadi sama Ibu, Bi. Sepertinya Ibu merahasiakan sesuatu.”


“Neng juga curiga?”


Andrea terdiam, tidak mungkin dia ceritakan pertemuannya dengan Tante Dina, Bi Cicih suka ember, nanti luber ke mana-mana, kan berabe.


"Nggak, mau tahu aja."


“Ibu juga sering nelfon sembunyi-sembunyi, Neng.”


“Gitu ya, Bi?”


Bi Cicih mengangguk. Andrea menghabiskan tahu isi, ditambah cabai rawit. Matanya tertuju pada adegan seorang perempuan yang sedang genit-genitan menelefon seorang lelaki di belakang meja kerja.


“Dasar pelakor!” umpat Bi Cicih mengomentari adegan itu.


Andrea menggigit cabai, rasa pedas merebak di mulutnya. “Judulnya apa, Bi?” tanya Andrea.

__ADS_1


“Istriku Tidak ada Kapok-Kapoknya Meladeni Pengusaha Muda Buaya Darat Sudah Turunan.” Bi Cicih bersemangat menyebutkan judul sinetron.


Alis Andrea bertautan. Menggigit lagi cabai yang pedasnya sudah berkobar menguasai mulutnya, lebih menyala-nyala.


Entah kenapa, kata-kata Bi Cicih membuatnya takut. Takut ditujukan kepada ibunya.


**


Minggu sore ibunya pulang, langsung beristirahat di kamar. Andrea tidak berani mengganggunya.


Dipegangi anak kunci yang sekarang menggantung di lehernya. Andai Dale ada di sini, batinnya.


Senin siang Andrea mencegat Fany di pintu.


“Boleh ngomong sebentar?” Dia menyejajarkan langkahnya dengan Fany yang terus saja melangkah dengan mata tetap pada komik jepangnya.


Andrea menarik bukunya. Fany menariknya kembali lalu mempercepat langkahnya menuju ke perpustakaan. Wajahnya kelihatan kesal.


“Dasar, aneh.”


Andrea menyusul Fany masuk ke perpustakaan. Menyapa Bu Neni, penjaga perpustakaan yang sedang asyik dengan gadgetnya.


Sepi, Andrea merasakan udara dingin ketika memasuki perpustakaan. Tentu saja, ruangan itu kan ber-ac.


Fany sudah duduk di bangku panjang yang menghadap meja di sisi tembok. Andrea duduk di sebelah kanannya.


Tangan Fany bergerak-gerak, seperti menyuruh seseorang untuk duduk di bangku kosong sebelah kirinya.


Andrea merinding, meskipun dia terbiasa bergaul dengan jin tapi Dale tidak pernah membuatnya takut.


“Please, Fan. Kasih tahu aku, dari mana kamu tahu tentang Dale?”


“Dari dia.” Fany menoleh ke sebelah kirinya.


Andrea terkejut. “Dia … Jin juga?”


“Bukan, dia hanya hantu gentayangan. Dulu pernah sekolah di sini." Akhirnya Fany bicara agak panjang, walau pelan cukup membuat Andrea mengerti.


Hening, Fany kembali membaca. Andrea tidak peduli, nanti dia tinggal cari tahu lagi di google.


“Ngapain ikuti gue? Mendingan tanya sendiri sama jin lu itu, biar tidak ada fitnah antara mereka.”


“Lah, gimana sih? jadi kamu nyuruh aku percaya sama jin? Katanya dia tidak bisa dipercaya. Jadi mana yang harus aku percaya, jin apa kamu?” Andrea menyolot.


“Terserah, lu, emang gue pikirin.” Fany tetap sekaku mayat. Hidupnya benar-benar hanya untuk dirinya sendiri. Tidak bisa diharapkan bantuannya.


Andrea mendengus, lalu beranjak meninggalkan Fany dengan arwah gentayangannya.


Ketika lewat di depan mejanya, Bu Neni terkejut. “Eh, kapan kamu masuk? Kartu perpustakaannya mana?” tanya Bu Nani.


"Hanya mampir, Bu, saya tidak minjem buku." Andrea berlari, takut ditagih pungutan liar.


“Ndre!” Ren berlari menghampiri Andrea. “Dari mana sih?”


“Perpus. Susah juga ya ngomong sama makhluk setengah astral,” kata Andrea.


“Maksudnya si Fany?” tanya Ren, wajahnya celingukan ke arah ruangan perpustakaan.


Andrea menangguk. “Siapa lagi. Eh, tahu ngga? Si Fany ternyata indigo, dia ....”


“Ngga, stop, Ndre! Aku nggak mau tahu. Kamu ditunggu Bu Kania,” potong Ren. Tangannya menggamit tangan Andrea, menyeretnya ke ruangan Bu Kania.


Ren sudah kenyang dengan cerita-cerita makhluk halus yang selalu disodorkan Andrea, antara percaya dan tidak karena dia sendiri tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri.


"Ada apa?" tanya Andrea, meringis tangannya sakit ditarik begitu.


"Ga tau," ujar Ren.


Di ruangan Kepala Sekolah.


“Silakan duduk!” Bu Kania mempersilakan Andrea. Wanita single parent itu terlihat bersahaja, sangat pantas menjadi seorang kepala sekolah. Tapi ketika ingat kelakuannya ketika mesam-mesem sendiri, Andrea jadi ragu dengan kesahajaannya.


“Ada apa ya, Bu?” tanya Andrea.

__ADS_1


Bu Kania melirik, bola matanya mengintip dari kacamata yang melorot.


“Saya sudah mendengar, tentang masalah yang terjadi kepada Bu Anis. Dan ada desas-desus, itu akibat dari jin yang kamu bawa ke sekolah. Saya sendiri tidak percaya hal yang demikian, tetapi itu semua menjadi keresahan baru tiap siswa sekolah ini. Saya mau tahu langsung dari sumbernya, bagaimana ceritanya sampai ada rumor seperti itu?”


Andrea menekur, tidak menyangka keceplosan mulut waktu itu akan menyebabkan dirinya diseret ke meja bunga-bunga di kantor kepala sekolah.


“Saya minta maaf, Bu. Itu hanya kekhilafan saya ketika bercanda. Saya senang Ibu tidak mempercayai gosip itu.”


“Gosip? Jadi itu benar gosip ya? Tetapi bagaimana dengan Bu Anis? Dia merasakan sendiri kejadian-kejadian aneh itu.”


“Maksud Ibu? Katanya tidak percaya.”


“Hanya mau tahu saja.”


“Ibu merasakan ngga?”


Bu Kania menggeleng.


“Nahh, kan? Ibu juga nggak merasakan itu. Saya yakin teman-teman juga nggak, mereka hanya takut. Masalah gaib memang susah dibuktikan, Bu. Saya berharap, Bu Anis hanya sedang berhalusinasi.”


Bu Kania menyimak dengan serius. Andrea berpikir sebentar.


“Atau Ibu bisa tanya ke Fany,” lanjut Andrea. Dia masih kesel sama makhluk pojokan itu, dan akan membuatnya membayar perlakuannya kepada dia tadi.


“Fany?”


“Iya, Bu. Fany teman sekelas saya. Dia itu indigo, sering melihat penampakan. Dia sendiri yang bilang." Andrea serius.


"Fany sekarang sedang di perpustakaan, dia bilang kepada saya tidak mau diganggu karena sedang bersama roh gentayangan. Sekarang Ibu bisa simpulkan, sebenarnya siapa yang suka bawa makhluk halus ke sekolah dan menyebarkan rumor nggak masuk akal." Andrea semakin bersemangat melaporkan Fany.


Bu Kania terkejut. “Sudah-sudah, pokoknya jangan sampai ada kejadian aneh lagi, saya tidak mau berurusan dengan yang begituan. Karena tidak ada bukti, saya tidak bisa memberikan sanksi, juga tidak ada peraturan untuk gangguan jin, kecuali sudah keterlaluan, tentu akan kami pikirkan untuk membuat peraturan baru untuk siswa yang mempunyai peliharaan seperti itu. Sekarang boleh keluar, kembali ke kelas!”


“Soal Fany? Perlu saya ajak ke mari?”


“Oh, jangan! kamu kembali saja ke kelas."


Andrea mengangguk, lalu permisi sambil mencium tangan Bu Kania. Bu Kania mengusap-usap lehernya.


Ren yang dari tadi setia menunggunya di depan pintu segera merangkul pundak Andrea, bersimpati atas masalah yang dialami sahabatnya itu.


“Kamu ngga apa-apa, Ndre?”


“Ngga, hanya bingung aja.”


“Bingung kenapa?”


“Kok bisa ya Bu Kania bisa punya anak kaya si Zainal?”


“Hahaha, bisa aja sih, si Zay kan lahir dari keongnya, jadinya begitu.”


“Oh, iya ....”


“Lu nggak tahu ya, kalau di rumahnya Bu Kania banyak keong?”


Andrea menggeleng.


Ren tertawa-tawa sampai ke kelas. Andrea mengerutkan dahi semakin tidak mengerti.


Zellina cemberut, karena tidak diajak mereka. “Kaliaaan, jahaaatt!”


Ren mengeluarkan permen loli dari saku roknya.


“Nihh, aku beliin ini.”


“Uuuuunch, thank you somayy ….” Zellina tersenyum manis.


Andrea senang kedua sahabatnya sudah akur lagi.


Dari kejauhan Andrea melihat Fany memasuki ruangan Bu Kania, diantar penjaga sekolah.


"Syukurin ...." gumamnya.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2