My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 82 Menginap di Hotel Berbintang


__ADS_3

Bagaimana pendapat kalian jika mengetahui orang yang kita percaya bisa melindungi, ternyata seorang yang akan menikam?


Sakit sekali bukan?


Itulah yang dialami Andrea, ketika mengetahui apa yang telah dilakukan kakak dari ayahnya, ingin melenyapkannya dari muka bumi ini dengan cara yang sangat kejam.


Sekuat tenaga dia ingin memungkiri semuanya.


Di sisi lain, Andrea tahu Dale tidak mungkin mengarang cerita. Untuk kali ini dia berharap Dale melakukan itu, mangarang. Tetapi, itu tidak mungkin dilakukan Dale.


Uaknya, yaitu Bu Nisma, adalah orang yang paling dia sayangi setelah ibunya, dia juga yang paling diharapkan sebagai tiang penyangga hidupnya setelah ayahnya tiada. Tempatnya berkeluh kesah, dan bermanja-manja. Tidak ada lagi yang bisa dia andalkan, selain Uakna itu. Apalagi, kesehatan ibunya sedang dalam keadaan tidak baik.


Andrea menangis tertahan. Dia sangat takut.


“Apa Ua istri berubah karena si Aa?” Andrea bergumam. Masih berusaha berpikir uaknya itu baik.


Dale tidak menjawab.


“Ini semua gara-gara si Aa,” gumamnya lagi.


Dalam keadaan terpuruk seperti itu, hal yang paling cepat dilakukan adalah dengan mencari kesalahan orang lain.


Andrea menatap Dale, matanya merah, dan basah. “Iya kan, Dal?”


Dale tetap terdiam.


“Dal, aku lagi ngomong sama kamu! Jawab dong!” teriaknya.


“Bukan, Neng. Den Dodo juga korban.” Dale akhirnya menjawab, setelah disuruh.


“Bullshits!” gerutu Andrea.


“Apa itu, Neng?” tanya Dale, dahinya mengerut.


“Omong kosong, bohong, hoax!” sahut Andrea.


“Punten!” Seseorang memanggil.


Andrea terkejut.


“Maaf, Teteh baik-baik saja?” tanya orang itu. Rupanya pemilik salah satu mobil di sana, yang datang untuk membawa mobilnya. Dia terkejut melihat Andrea bersungut-sungut sendirian. Dikiranya kejepit, atau kehilangan sesuatu.


“Eh, ngga apa-apa.” Andrea mengerjapkan mata, dia segera pergi dari situ, sambil menyeka mata dia memberi isyarat kepada Dale untuk mengikutinya.


Orang itu melihatnya dengan pandangan aneh. “Cantik-cantik kurang waras,” gumamnya.


Andrea kembali kepada teman-temannya yang ternyata sedang video call dengan Zainal. Hatinya masih tidak karuan, tetapi dia harus bisa menyembunyikan semuanya. Teman-temannya tidak usah terlibat lagi, kasihan mereka, pasti sangat lelah ikut terjerumus ke dalam semua masalahnya. Apalagi, tadi sempat mau jadi korban kekejaman uaknya.


“Ndre, ini si Zay!” seru Ren.


Andrea melambaikan tangannya. Tampak di layar gawai Ren wajah Zainal hidung semua.


"An An, aku kangen kamu, KM, dan Inces. Kalian kapan balik?” tanya Zain, dengan mulut mengunyah makanan.


Melihat dari bumbu-bumbu yang menempel di bibir besarnya sih seperti sedang makan mi instan mentah yang ditaburi bumbunya. Itu makanan favoritnya, setelah kerang ijo. Biasa lah, keong makan keong.


“Zay, komedo kamu banyak banget,” seru Zellina, sambil cekikikan.


Zainal menggosok-gosok tepian hidungnya, sehingga makin melebar saja itu lubang hidungnya. Bisa buat sembunyi cicak.


“Masa sih? Aku lupa belum pencet, Nces,” sahut Zainal, dengan mimik wajah dirubah-rubah, menjijikan.


Gigit buang muka, melihat kelakuan sejenisnya yang dia intip dari layar gawai Ren.


“Kita sekarang pulang kok, mudah-mudahan besok bisa masuk,” sahut Zellina.


“Kalau enggak capek,” timpal Ren.


"Memang kalian sekarang di mana?"


"Bandung, dong, dingiiin ... Brrr!!" Zellina memeluk dirinya sendiri.


"Aaah, salam yaa, buat Kang Emil!" seru Zay.


"Kagak ada, sudah tidur," sahut Ren.


Zainal merengut. “Ya deh, aku tunggu kalian, atau labas saja sekalian sampai minggu depan, kan libur!” seru Zainal.


“Libur?” tanya Ren.


“Lho, kalian enggak baca grup?” Alis Zainal bertautan.


“Enggak, grup kelas ribuan chat, malas panjat-panjat aku, habis panjat gunung.” Ren memijit kakinya.


“Jadiiii, hari Senin besok kita libur, kakak-kakak mau try out.” Zainal tersenyum manja.


“Benar, Zay?” Zellina memanjangkan lehernya, ke dekat layar.


“Dengar libur, itu leher Inces sudah kayak angsa di kuali,” kata Zainal.


“Berapa hari, Say?” tanya Zellina lagi.


“Empat hari. Besok juga sepertinya kita bebas, kelasnya mau mulai dibereskan untuk kakak-kakak kita."


“Horee!!!” Zellina melonjak kegirangan, dia menari-nari balet di hamparan rumput sintetis kebanggaan kota Bandung itu.


Tidak lama wajah Zainal di layar terpotong-potong, suaranya juga tersendat-sendat. Lalu gelap.


“Yahh, si Zay mati!” seru Ren.


“Hah?” Zellina menghampiri, sambil terus menari-nari balet. “Serangan jantung?”


“Huss! Sinyalnya putus,” sahut Ren.


“Sudah kayak urat malu kamu, tuh, putus,” ujar Gigit.


“Maksud kamu?” Zellina sewot.


“Menari-nari, ditertawakan orang tuh!” Gigit menunjuk orang-orang yang sedang cekikikan melihat Zellina.


Ren menutup gawainya.


“Yess! Minggu depan kita libur. Tahu begitu, kita jangan dulu pulang ya, Ndre,” kata Ren. Dia melirik Andrea yang dari sejak datang diam saja.


“Aahh, kita pulang lagi saja, yuk! Ndre, setelah Kak Dodo datang, kita kembali saja ke kampung.” Zellina merayu Andrea dengan memeluknya.


“Enak saja, kalau kalian mau balik lagi, aku mau pulang saja, aku kangen ayah dan ibu." Gigit bicara dengan nada yang sendu. Kelihatan sekali dia seorang yang cinta keluarga. “Apa kamu enggak kangen rumah, Zell?”

__ADS_1


“Enggak,” jawab Zellina.


“Pantas saja.” Gigit geleng-geleng kepala.


“Aku akan kangen kepada tempat yang respek sama aku.” Zellina duduk dekat Ren, lelah juga dia habis menari-nari.


“Rumah kamu enggak respek?” tanya Ren.


“Rumah aku bisu, mana bisa respek,” sahut Zellina.


Gigit tersenyum kecil, memahami keadaan anak gedongan semacam Zelina. “Jadi, rumah uanya Andrea respek, Zell?” tanyanya.


Zellina terdiam, dia seperti terjebak oleh kata-katanya sendiri. “Euhmm, sangat respek, apalagi Ua istri, dia baik banget. Iya kan, Ndre?” tanyanya.


Andrea diam saja.


“Kamu kenapa, Ndre?” tanya Ren.


Andrea mengambil ranselnya yang dia tinggalkan tadi. “Sebaiknya kita pulang sekarang,” katanya.


“Lho, kita kan menunggu Kak Dodo,” sahut Zellina.


“Dia tidak jadi datang.”


“Kenapa?” Zellina menatapnya heran. Andrea mengangkat bahu. Zellina segera mengambil gawainya.


Dodo tidak bisa dihubungi.


“Percuma kita menunggu dia sampai pagi, Aa Dodo tidak akan muncul.”


"Kok bisa, Ndre?" tanya Ren.


"Bisa saja, dia kan tidak bisa dipercaya." Andrea mulai mencela kakaknya itu di depan teman-temannya.


“Kamu tahu dari mana? Ponsel kamu kan mati.” Zellina sewot.


"Aku tahu, sifatnya dia. Tukang bohong, tukang PHP, menyebalkan!" seru Andrea, sambil menatap Gigit.


Gigit menjadi jengah juga, merasa tersindir.


"Aku tidak peduli urusan kalian, pokoknga aku mau menunggu dia di sini, sampai datang!" Zellina merengut seperti biasanya. Setan manjanya merasuk lagi.


Pak Supri mulai berdiri, melihat Nona-nya marah-marah.


“Kamu kenapa sih, Zell, ingin banget menunggunya?” tanya Andrea.


Zellina semakin merengut.


Ren berdiri, menengahi ketegangan yang terjadi pada kedua sahabatnya itu.


“Kok kalian malah bertengkar sih? Ndre, kamu yakin kakak kamu tidak akan datang?” tanya Ren.


“Iya, Ren. Dia masih di kamarnya kok, kalau tidak percaya kamu hubungi saja dia."


“Tidak mungkin!” seru Zellina. “Dia tadi yang bilang, akan langsung ke sini naik bis, dia tidak mungkin bohong sama aku,” serunya lagi, dengan wajah hampir menangis.


“Dia dilarang Ua istri.” Andrea berkata lirih. Zellina menatapnya.


Ren tahu, Andrea pasti mengetahui itu dari Dale. “Ya sudah, kita pulang saja,” kata Ren.


“Kalian saja yang pulang, aku mau di sini.” Zellina beranjak pergi.


Pak Supri mengikutinya. “Non, mau ke mana?”


"Ke mana saja, Pak Supri kalau mau pulang juga ngga apa-apa."


"Oh, saya akan jaga Non."


“Zell, tunggu dulu!” Ren ikut mengejar. “Kamu mau ke mana?”


“Terserah aku dong, aku masih mau di sini.” Zellina berdiri di pinggir jalan.


“Ini sudah malam, takut. Di kota orang lagi.” Ren meraih bahunya.


“Kenapa harus takut? Ini bukan di alam gaib kok. Kalau perlu, kita bisa cari hotel.”


Ren mematung, dia sudah tahu karakter Zellina. Tidak akan menyerah begitu saja dengan keinginannya.


Dia memutar kepala, melihat ke arah Andrea dan Gigit yang tetap mematung di tempatnya masing-masing.


“Bagaimana ini?” serunya.


“Ya Tuhan, apalagi ini!” Andrea membantingkan kembali ranselnya ke rumput. Gigit menghampirinya. Ren memutar mata. Zellina tetap mematung. Pak Supri garuk-garuk rumput.


“Kamu baik-baik saja?” tanya Gigit.


Andrea tidak menjawab, dia menutup muka, lalu menangis.


Gigit memandanginya. Tidak segera meraihnya seperti yang sudah-sudah. Dia sudah bertekad, tidak memberi dulu Andrea harapan.


Maafkan aku, Ndre, aku tidak ingin kamu terluka lebih dalam lagi kalau aku memberi perhatian lebih lagi, batin Gigit. Dia berjalan menjauhi Andrea.


Andrea melirik dengan ujung matanya.


Dale memandangi Andrea.


“Neng, jangan menangis. Nanti teman-teman Neng malah bertanya-tanya, dan harus tahu semuanya.”


Andrea mengusap air matanya. Dia melirik Gigit yang semakin menjauh darinya.


Gigit benar-benar sudah berbeda. Dan itu terjadi, bersamaan dengan cerita kepalsuan uaknya. Andrea merasa hancur.


"Neng jangan khawatir, harus kuat."


“Kamu benar, Dal. Sebaiknya aku kuat.” Andrea mengelap ingusnya.


“Neng tenang saja, kan ada saya. Saya tadi belum selesai memberi informasi. Ua istri mengancam Den Dodo, kalau bersikeras ke sini, dia akan memerintahkan orang suruhannya mencelakakan Neng dan teman-teman.”


Andrea terkulai, dia tidak kuat mendengar semuanya itu.


“Ck.” Andrea mengalihkan pandangan dari Dale.


Dale melanjutkan ucapannya, “Den Dodo tidak mau kalian celaka, makanya dia menurut. Jadi, Neng jangan salahkan Den Dodo dalam masalah ini. Di juga menderita, tadi saja sedang melamun, kelihatan sedih sekali.”


“Aku harus bagaimana, Dal?” Andrea berjongkok, dia sudah salah lagi menilai Dodo.


“Neng harus kuat, kadang kita tahu orang dari luarnya saja, sedangkan isi hatinya belum tentu.”

__ADS_1


“Kamu benar. Ua yang penyayang, ternyata bisa jadi beruang. A Dodo yang pikasebeleun, bisa jadi penolong."


“Sekarang Neng jangan perlihatkan kesedihan Neng, Neng harus kuat, ada saya, ada Ibu yang menunggu di rumah, ada Den Dodo, yang ternyata sangat peduli kepada Neng.”


“Benarkah si Aa peduli sama aku?”


“Den Dodo peduli kepada Neng, buktinya, gembok itu dia yang susupkan ke ransel Neng.”


“Begitu ya?” tanya Andrea.


“Iya, Den Dodo sendiri yang bilang. Walaupun awalnya dia berharap saya akan menakuti hari-hari Neng Andrea. Tetapi, dia sekarang senang, saya hadir dalam hidup Neng Andrea ternyata ditugaskan untuk menjaga Neng."


“Itu bukan peduli, kebetulan," ketus Andrea. "Eh, kata kaku si Aa yang bilang? Dia juga bisa melihat kamu?" lanjutnya.


“Saya dulunya ikut dia, Neng. Den Dodo pernah membuka gembok itu. Tetapi, saya Ikut doang, ngga menjaganya, hanya menemani."


“Apa? Beda ya?"


“Beda, karena perjanjian kami hanya untuk menjaga cucu perempuan juragan saya."


Andrea menatap lampu-lampu di sekitar alun-alun dengan mata nanar. Teman-temannya juga sedang terdiam, memandangi keramaian kota Bandung yang terasa sepi.


Gigit entah di mana.


**


"Zell, sebenarnya apa yang A Dodo janjikan sama kamu?" Andrea bertanya pelan ketika mereka sudah ada di sebuah hotel mewah di Bandung. Zellina, Nona muda yang tidak diragukan lagi tajirnya yang menang.


Bagaimana tidak menang, kendaraan dia yang punya, ATM juga dia yang penuh, yang lainnya tinggal nurut saja, urusan kelar.


Zellina masih menatap lampu-lampu kota dari jendela kamar di lantai lima.


"Dia mau datang, ikut kita, Ndre. Mungkin dia akan tinggal sama kamu." Zellina bicara pelan.


"Maksud aku, janji dia sama kamu?" tanya Andrea.


Zellina beranjak, dia duduk di ranjang hotel yang lebar. Ren menghampirinya, mereka bertiga duduk berjejer, seperti sedang menunggu dipanggil dokter.


Zellina menunduk, dia merasa sangat sedih sekali. Harusnya dia sampaikan ini kepada teman-temannya dengan sukacita, tetapi dia tidak tahan lagi jika harus menanggungnya sendirian.


"Sebenarnya, kita sudah jadian, Ndre," lirihnya.


Andrea terbelalak.


Ren malah meloncat kaget, lalu memeluk Zellina. "Benarkah? Benarkah?" tanyanya.


Zellina mengerjap-ngerjapkan matanya. "Iya, Ren. Aku sudah jadian sama Kak Aldo."


Andrea berdiri. "Kapan?" tanyanya dengan suara tinggi.


Ren melepaskan pelukannya, Zellina menatap Andrea.


"Kamu kenapa, Ndre? Bukankah bagus Zellina punya pacar?" tanya Ren.


"Aku hanya mau tanya, kapan jadiannya?" tanya Andrea lagi.


"Tadi, pas mobil diperbaiki," sahut Zellina.


Andrea menepuk dahinya. "Astaga, jadi kalian menghilang itu untuk jadian?" tanya Andrea.


Dia menatap Zellina dengan sorot mata tajam, lalu bibirnya menyungging, dan akhirnya menghambur memeluk Zellina.


"Wooaahh, selamat yaaa, ternyata kalian saling menyukai, aku senang sekali, Zell ...."


Ren sampai meloncat ke pinggir karena kaget malihat Andrea sesenang itu. Zellina juga memeluk Andrea dengan erat. Mereka sampai berguling ke kasur.


Ren ikut memeluk mereka, dan mereka pun tertawa-tawa bahagia.


"Kenapa kamu tidak bilang-bilang kalau kalian saling naksir?" tanya Andrea, setelah puas guling-gulingan di kasur.


Zellina menutup wajahnya, dia terlihat malu, wajahnya memerah. "Aku juga tidak tahu, Kak Dodo naksir aku. Dia langsung nembak aku," teriaknya, sambil tertawa.


"Hah??" Ren tidak percaya.


"Bagini nih, nembaknya." Zellina mengarahkan jarinya yang dibentuk pistol ke dada Ren. "Dor!" lanjutnya, sambil tertawa lagi. "Lalu dia memberi aku rumput ilalang."


"Hah??" Ren tidak percaya lagi. "Begitu? Memang kalau ditembak cowok begitu?"


Zellina terpingkal. "Aku lupa, kalian dua jomlo yang belum pernah ditembak cowok seromantias itu."


"Huuuhh!!" Andrea dan Ren melempar Zellina dengan bantal.


Zellina tertawa lagi, dia benar-benar senang bisa berbagi kebahagiaan dengan kedua sahabatnya itu.


Lelah bersenang-senang, mereka tidur berjejer. Ketiganya menerawang langit-langit hotel yang bersih.


"Ndre, kamu tidak apa-apa kan, aku pacaran dengan kakak kamu?" Zellina bertanya dengan wajah berseri-seri.


Andrea menolehnya. "Kenapa kamu bilang begitu? Aku malah senang kamu jadi kakak ipar aku."


"Benar?" Zellina balik menoleh.


"Iya, kamu kan banyak duit, aku bisa minta jajan kapan saja." Andrea cengengesan.


Ren bangun. "Terus, kalau kamu sudah punya pacar, Kak Yadi bagimana?" tanyanya.


Andrea dan Zellina menoleh ke arah Ren bersamaan.


"Ren, kamu lupa dia siapa?" tanya Zellina. "Iya kali, aku masih mengharapkannya," lanjutnya.


Ren mengangguk-angguk, dengan mulut monyong-monyong. "Aku kan pengen tahu doang, Zell," ujarnya.


"Lagian, pertanyaan kamu aneh-aneh saja, bikin hati aku yang sedang berbunga-bunga ini rontok." Zellina memegang dadanya.


Andrea dan Ren mencebik. Sirik.


Zellina melirik kedua sahabatnya itu. "Jangan sirik, aku paling dulu punya pacar, kalian harusnya panggil aku kakak!"


"Whats?" Ren berseru.


Lemparan bantal kembali mendarat di wajah Zellina.


"Kamu pikir ini cerita selir-selir dalam dinasty kerajaan?" Andrea mendengus.


bersambung


*punten \= permisi/maaf

__ADS_1


__ADS_2