
Andrea tersentak kaget mendengar penuturan Ren tentang mamanya. Dia melihat sekeliling toilet.
Untung saja sepi, jadi tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka.
“Sebaiknya kamu ikut aku!” ajak Andrea. Dia membawa Ren ke belakang sekolah tempat biasa dia mengobrol dengan Dale.
Mereka duduk di batu besar, menghadap sawah Pak Iwan yang baru ditanami. Padinya masih pendek, berderet rapi sampai ujung mata.
Ren menatap kosong, lalu bicara, “sejak kakakku meninggal, mamaku jadi berubah. Dia sering mengurung diri dan tergantung dengan obat penenang. Aku tidak dianggapnya, padahal aku juga anaknya." Sorot mata Ren meredip.
"Bayangkan, dua tahun ini aku dianggap tidak ada. Padahal aku ini anaknya, bukan anak tiri.” Ren menghapus air mata dengan lengan bajunya.
“Aku masak sendiri, nyuci sendiri, setrika baju sendiri, bangun sendiri. Mamaku tidak peduli.”
“Ayahmu?”
“Papaku?"
"Iya, Papamu."
"Dia kecewa dengan Mama yang tidak mau melupakan kakakku, lebih sering di luar daripada di rumah. Mama semakin stres, kalau tahu Papa tidak di rumah.”
Andrea mengusap-usap bahu Ren, tidak menyangka sahabatnya punya masalah sebesar itu, dan menanggungnya sendirian.
Selama ini dia terlihat tegar, tetapi ternyata dia tidak sekuat itu. Setegar-tegarnya karang, akan merapuh juga jika setiap hari ombak tak henti menerjang.
Ren hanya seorang gadis belia sepertinya, cita-cita saja masih berubah-ubah. Kalau tidak malu, makan juga masih ingin disuapin.
“Maaf, Ren. Mamamu tidak diajak terapi?”
“Mamaku berobat, saran dokter dirawat di sana, tetapi aku tidak setuju. Aku tidak mau jauh darinya.” Ren menarik nafas panjang.
"Yang sabar, Ren."
"Sudah beberapa hari ini mamaku tidak mau tidur, aku dan Papa bergantian menjaganya. Kalau tidak ada yang menjaga, dia bisa kalap."
“Ooh, jadi itu sebabnya kamu kemarin tidur pulas banget.”
“Iya, Ndre, sori kemarin kamu ditinggal tidur begitu saja. Waktu aku bangun, mamaku mengamuk, dari sore sampai malam. Aku tidak bisa mengendalikannya, barang-barang di rumah semuanya hancur. Tetanggaku yang menghubungi Papa, tetapi Papa malah mengirim petugas rumah sakit jiwa untuk menjemput Mama.” Ren menutup muka dengan jilbabnya.
Andrea menelan saliva. “Aku kemarin mendengar mamamu memanggil-manggil, Ren.”
Ren mengernyitkan dahi. “Kapan?”
“Aku masih di sana, kamu tidur di sofa, pulas banget.”
Ren berpikir. “Jadi kemarin kamu mendengar mamaku berteriak? Kenapa nggak bangunin aku, Ndre? Kamu tahu? Mamaku akan langsung mengamuk kalau tidak segera ditenangkan.”
“Kamu tidur, Ren, dan aku nggak tahu harus berbuat apa. Kirain mamamu hanya marah-marah." Andrea membela diri.
“Aaahh ....” Ren menatap Andrea. “Mamaku anfal, Ndre.” Suara Ren meninggi, Andrea sampai terkejut, dan menjauhkan badan. "Aku berusaha menjaganya siang malam agar dia tidak kumat. Mamaku harus minum obat, Ndre, kalau telat, dia ....” Ren berdiri, matanya menatap tajam Andrea.
“Aku nggak tahu, Ren.”
"Harusnya kamu bangunkan aku!" Ren membalikkan badan, dia berjalan meninggalkan Andrea.
“Ren! Ren! Aaaarrgghh ....” Andrea meremas kepalanya.
Dia berlari mengejar Ren. Suara bel masuk berdentang, mengiringi langkah-langkah lebar mereka di koridor kelas.
Di kelas, guru matematika baru sedang berdiri. Seorang guru muda, berwajah lembut dalam balutan jilbab sederhana.
Penampilannya jauh beda dari Bu Anis yang berkarisma. Ia tidak bisa menyembunyikan mimik wajahnya yang terkejut melihat kelakuan anak-anak di kelas itu.
Andrea dan Ren masuk beriringan.
Teman-teman sekelasnya tengah ribut tidak karuan.
“Itu KM nya, Bu.” Zainal menunjuk ke arah Ren.
Guru baru itu melihat ke arah Ren, seolah minta pertanggungjawaban atas teman-temannya.
“Dan yang satu pengawalnya, Bu,” celetuk Akri.
Teman-temannya tertawa riuh.
__ADS_1
Bu guru baru melihat ke arah Andrea.
“Cewek tapi setengah cowok,” lanjut Akri. Teman-temannya malah semakin riuh.
Andrea dan Ren mencium tangan guru baru itu, lalu duduk.
“Sekretarisnya yang itu, Bu, Princes KW satu.” Joni melihat ke arah Zellina yang sedang mendengarkan musik dari headset di telinganya.
“Kalau kami, duo tuk tak, Bu ....” Dewi merangkul bahu Rani, lalu dadah-dadah ke layar gawai.
“Huuuuuuu ....” Seperti biasa mereka dihujani lemparan tutup pulpen, oleh yang pegang pulpen.
“Kalau saya ....” Zainal berdiri.
“Anak keong,” potong Akri.
Zainal merengut, dia kembali duduk dengan mulut misuh-misuh. Kelas semakin riuh.
“Kalau Ibu yang cantik ini siapa?” Salsa meredakan suasana riuh yang diciptakan teman-temannya. Kelas menyepi.
“Oh, euhh, baik, perkenalkan, saya Bu Raisa, guru matematika kalian yang baru.”
“Woww, Ku Menangiiiiiss .... ” Akri bernyanyi menirukan lagu yang pernah viral.
“Itu mah Rosa, Bos.” Joni mencolek bahu Akri.
Teman-temannya tertawa, bahkan ada yang terpingkal, dan melanjutkan lagu yang dinyanyikan Akri.
“Lu nonton itu juga, Kri? kayak emak gue aja.” Dewi meledek.
Bu Raisa geleng-geleng kepala, dia mulai gerah berada di sana. Raut mukanya berubah-ubah, kadang kesal, kadang malu, lalu terlihat seperti mau menangis.
“Terus, Raisa nyanyi apa?” tanya Akri. Joni berpikir.
“LDR.”
“Lama dan rindu, eaaakk ....” Akri menggebrak meja sambil tertawa bahagia. Joni mengguncang-guncang bahunya, ikut senang Akri bisa juga menggombal.
Bu Raisa duduk di kursinya, dengan hati gereget, menunggu anak-anak didiknya berhenti bercanda. Tetapi sia-sia, diberi kesempatan mereka semakin tidak tahu diri, bercanda sesuka hati.
Ia menyerah, membawa bukunya dan berpamitan. “Mungkin hari ini kita belum bisa memulai pelajaran, kalian teruskan saja bercanda.” Bu Raisa keluar.
“Ternyata beliau baperan,” kata Akri.
“Lu sih ....”
“Lu, tuh ....”
“Lu juga ....”
"Lah, gue dari tadi tidur ...."
Mereka saling menyalahkan, sehingga keributan tidak bisa dikendalikan.
Andrea yang sedang kacau ikut keluar, Ren menatap punggungnya dengan kesal, Zellina tidak peduli dengan keduanya. Persahabatan mereka semakin memanas.
Fany kembali menunjukkan senyum sarkasme di balik komik Jepangnya.
**
“Dulale ... Dulale ... westin wergan ... wesma werma ....” Andrea membaca mantra dengan suara lemah tersendat. Sudah lama dia di lorong itu, berjongkok sendirian, menikmati kegalauan hatinya.
Dale datang, bersandar ke tembok dengan kaki diangkat sebelah. Tangannya memainkan burung kertas warna emas.
“Jadi saya sudah boleh ikut ke sini lagi?" tanya Dale.
Andrea tidak bisa menahan tangis, dia sesenggukan di depan Dale.
"Euleuh-euleuh, kenapa, Neng?"
“Aku sedih, kenapa sahabatku membenciku, padahal saat ini juga aku butuh mereka ....” Air matanya tidak bisa ditahan, disekanya berkali-kali dengan tangannya.
Dale memberinya saputangan, bersulam bunga-bunga dengan benang emas. Andrea menerimanya, untuk lap ingus. Dale meringis, saputangan itu baru dicuci di mata air puncak gunung salak.
"Mereka jahat sama, Neng? Kok ngga ada sinyal bahaya ke saya?"
__ADS_1
"Sinyal kamu belum 4G!" Andrea kesal.
"Porji teh naon?"
"Huhuhuuu ... kamu mah malah bercanda saja, aku lagi bete, tidak punya teman, mereka jahat, Ibu juga jahat!"
“Sstt! Neng tidak takut ada yang mengetahui kalau Neng lagi bicara sendirian?" Dale melihat-lihat sekitar.
Andrea berdiri, dia juga melihat situasi. "Aku harus bagaimana?"
"Neng kan ada saya," jawab Dale.
“Aku nggak bisa, kamu dan aku berbeda. Aku takut musyrik,” sahut Andrea.
“Saya kan hanya membantu, Neng tidak usah percaya sama saya. Anggap saja saya ini manusia, yang kata Neng, bo ... boniiii ....”
“Bodyguard.”
“Nahh, iya itu, bodigad.”
Andrea terdiam, dia masih mengelap-elap ingusnya. “Aku ....”
“Wajar sih Neng ragu, aku mah apa atuh, hanya percikan kembang api ....” Dale merendah.
“Aku ... butuh kamu, tapi aku takut"
"Neng masih takut sama saya? Masa?"
"Takut ... takut, jatuh cinta sama kamu.” Andrea berkata lirih.
Dale tertawa terpingkal, rahangnya terbuka lebar.
Andrea pura-pura cemberut, padahal malu setengah mati.
“Neng, lihat dirimu!” Dale memutar badan Andrea. “Kamu itu cantik, masih muda, dan manusia. Masa jatuh cinta sama saya? Yang bluwek, jarang mandi, punya rupa tidak jelas, dan bukan manusia."
“Kamu jarang mandi?”
“Tempat mandi saya jauh, puncak gunung, males."
Andrea meringis, sambil menutup hidung.
Dale mencium keteknya. “Ya nggak lah, Neng. Nggak bau,” katanya. “Badan saya nggak mengeluarkan keringat.”
“Ooh, pantesan.”
Dale memegang bahu Andrea. “Lihat saya, Neng!” Andrea menatap Dale.
Wusss!!
Satu hembusan saja Dale sudah berubah, jadi si Belang.
Andrea mundur, meskipun pernah bertemu, tetap saja dia gemetar, tetapi kali ini tidak sampai ngompol.
Wusss!!
Dia berubah lagi jadi kakek bungkuk dalam balutan baju pendekar, saking bungkuknya wajahnya sampai tertutup caping kepalanya.
Andrea semakin mundur. “Stop! Udah, Dal!”
Wusss!!
Dale berubah lagi seperti semula, jadi Oppa Korea.
“Itu saya, Neng. Aslinya begitu, asal Neng tahu saja. Masih takut jatuh cinta sama saya?”
Andrea menggeleng cepat, dengan wajah pucat.
Dale terkekeh. “Saya sengaja berwujud lain, agar Neng ingat, saya jelek.”
“Iya, kamu jelek banget," lirih Andrea. Lalu tertawa, menertawakan dirinya sendiri.
bersambung
Terima kasih sudah membaca, semoga semakin suka
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya yaa
Jangan sungkan jika ingin berbagi vote, biar Aithor nggak kekurangan vitamin ...