My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 36 Dianggap Pecapacor


__ADS_3

Ren keluar dari ruangan Kepala Sekolah, kembali ke kelasnya.


Langkahnya gontai, menekur, menyusuri koridor sepi, siswa kelas lain sedang khusyuk belajar. Menerima ilmu, menyimpan dalam kepala, untuk bekal di masa depan nanti.


Sesekali matanya mencuri pandang kaca tembus pandang kelas. Ada iri pada netranya, ketika melihat kelas lain damai belajar seperti itu.


Lambat laun dia mendengar suara khas teman-teman sekelasnya, ketika langkahnya semakin dekat.


Hatinya kali ini gundah, peringatan Kepala Sekolah dan guru-guru membuatnya semakin merasa tidak berguna. Sebagai anak maupun sebagai murid yang tidak bisa diandalkan.


Tidak diacuhkan Andrea yang datang dari arah taman, dia langsung masuk ke kelasnya yang lebih mirip sekolah TK.


“Bu Raisa tidak mau mengajar lagi di kelas kita, teman-teman.” Ren bicara di depan kelas. Teman-temannya serentak menoleh.


“Mengajar saja belum, sudah menyerah.” Seperti biasa Akri yang berkomentar. Ditendangnya bola takraw sampai melambung ke depan kelas.


Ren memungutnya, lalu bicara lagi, “beliau tidak sendiri, semua guru yang mengajar kelas ini ikut mogok, hari ini tidak ada yamg mau mengajar.”


Ren membolak-balik bola rotan itu, lalu menatap satu per satu teman sekelasnya.


“Mau sampai kapan kita begini? Jadi kelas yang tidak disukai guru. Kelas yang hanya terkenal dengan biang onar, tidak menghargai guru, bahkan membuat guru menangis.” Suara Ren meninggi.


“Kenapa baru sekarang? Selama hampir dua tahun ini mereka tidak pernah mengeluh?” tanya Akri. “Kenapa setelah Bu Raisa mengeluh, semua jadi mengeluh?” lanjutnya.


“Karena kemarin kita ada Bu Anis, beliau yang selalu membela kita di depan guru dan kepala sekolah.” Ren bicara hampir menangis.


Semuanya terdiam, seolah mengakui itu.


“Terserah kalian, jika masih mau belajar dan mencari ilmu, bersikaplah selayaknya anak sekolah, bukan bersikap seperti calo di terminal!” lanjut Ren. Dia gemas sendiri, melemparkan bola ke arah Akri, lalu duduk. Mencari sesuatu di tasnya.


Andrea yang mendengarkan sambil bersandar di pintu segera melangkah masuk.


“Kita diboikot ceritanya?” Akri berdiri sambil menenteng tasnya. “Ya sudah, Gue pulang!” Diikuti gengnya, Akri berjalan.


“Jangan seperti anak yang kurang ajar, Kri. Mereka guru kita, wajar kalau mereka marah. Kita yang harus introspeksi, karena kesalahan memang ada pada kita. Kalau kalian bolos sekarang, aku yang harus bertanggung jawab lagi.” Ren memperingatkan.


“Terus kita mau apa di sini? Tidak akan ada guru yang datang.” Joni menimpali.


“Setidaknya mereka akan pertimbangkan, jika kita perlihatkan bahwa kita sekelas masih mau belajar.” Ren memasang wajah memohon kepada geng Akri.


“Iya, Bos. Sebenarnya aku juga takut kalau ketahuan bolos oleh bapakku.” Deni menunduk.


“Euuh, cemen, lu!” Joni menepis rambut Deni.


“Deni benar, kalau sampai mereka melapor kepada orang tua, kita juga yang susah. Hari ini kita hanya diberi peringatan, entah kalau kita semakin keterlaluan. Bisa jadi dikeluarkan. Kalian mau menyusahkan orangtua?"


“Terus lu mau berbuat apa?” Akri mendekati Ren.


“Kita buat pernyataan, kita semua berjanji tidak akan ribut lagi, dan benar-benar memerhatikan guru kalau sedang mengajar. Tolong untuk semuanya, untuk hari ini saja, jangan main-main di kelas. Itu pun kalau ada guru yang mau masuk." Ren memandangi teman-temannya, lalu mengeluarkan kertas dan pulpen.


Dia melirik kepada Andrea yang malah asyik memandangi sawah dari jendela kelas.


Ren berjalan ke arah bangku Salsa. “Sa, kamu tulis pernyataannya, aku enggak bisa.” Dia menyerahkan selembar kertas folio kepada Salsa.


“Apalagi, aku,” jawab Salsa.

__ADS_1


“Sebentar, aku cari contoh surat pernyataan di google.” Dewi membuka gawainya.


Geng Akri masih menunggu di depan kelas, akhirnya mereka sadar kalau Ren benar. Mereka tidak seharusnya melawan dengan bolos, tetapi berjuang untuk mendapatkan kembali pengajaran guru mereka.


“Bagaimana kalau kita demo?” Zainal mengacungkan kipasnya.


“Sana ajak keong, Ibu Lu sendiri didemo!” bentak Akri.


Zellina masuk, wajahnya masih merengut.


“Ces, kita demo yuk!” ajak Zainal, tidak menyerah begitu saja.


“Demo apa?”


“Kelas kita diboikot, para guru enggan mengajar kita hari ini.”


Dengan suara cempreng Zellina bicara, “kita bukan harus demo ke sekolah, tetapi demo sama dia!” Zellina menunjuk Andrea.


Andrea yang baru menyadari teman-teman sekelasnya melihat ke arahnya terkejut. Dia balik badan “Kok aku?”


“Iya, kamu, kamu itu pecapacor,” jelas Zellina.


“Apa pecapacor?” tanya Joni.


“Perebut calon pacar orang.”


Teriakan, “huuuuuu ....” menggema di kelas.


“Miss disconnected beraksi,” seru Akri sambil tepuk tangan.


Anak-anak cewek mengerubungi Zellina, mereka jadi punya gosip baru. Dewi melancarkan aksinya, memasang kamera on, semangat mendapat konten baru.


Andrea jadi kesal juga diperlakukan begitu oleh Zellina, dia mau melabrak, tetapi Dale mencegah.


“Kalau Neng meladeni, Neng Rinces akan semakin mengamuk.”


“Baru juga calon pacar, masih milik bersama kali, hahahahaa ....” Joni malah meledek. “Neng Unyel sama Aa saja,” lanjutnya, diusap-usap dagunya sendiri, sok ganteng.


“Apa sih, Jojon!!” seru Zellina.


“Iya nih, Inces ada-ada saja, kan kasihan An An, dia juga naksir sama Yad Yad.” Zainal menghampiri Andrea, lalu mengusap-usap punggungnya, sok peduli.


Andrea menepis tangan Zainal dengan keras. “Kagak! Sok tahu! Dia bukan tipe Gue,” bentak Andrea. Zainal terperanjat ketakutan, dia kembali ke tempat duduknya.


Ren hanya melirik kepada kedua sahabatnya itu, bergantian. Teman-teman sekelasnya ribut lagi, dia sangat lelah memperingatkan.


Salsa tidak selesai-selesai membuat surat pernyataan, sampai ganti beberapa lembar.


Geng Akri tidak sabar ingin segera tanda tangan, mereka belajar tanda tangan di papan tulis, sambil saling meledek.


Andrea tidak peduli, dia duduk dan mengeluarkan buku pelajaran, ditemani Dale.


“Sebenarnya kalau Bu Anis kembali, semua akan balik seperti semula, Neng.” Dale mulai prihatin dengan keadaan kelas Andrea.


“Iya, aku tahu,” gumam Andrea.

__ADS_1


“Kalau begitu, kenapa Neng tidak berusaha membujuk Bu Anis lagi?”


“Sudah, enggak berhasil.”


“Coba lagi, Neng! Soalnya, meskipun satu kelas tiap hari tanda tangan surat pernyataan sampai ubanan juga, teman-teman Neng ini sudah bakatnya begitu, susah diatur, mereka rajin sekolah bukan untuk belajar, tetapi bermain. Mereka dikendalikan jin temannya Neng.” Dale menjelaskan dengan santai.


“Hahh??” Andrea terperanjat. Untung saja teman-temannya tidak mendengar.


“Dengar, Neng. Teman Neng yang suka di pojok itu, perintahkan teman gaibnya untuk menghasut mereka tidak suka belajar, main terus, mengolok-olok guru. Biar dia pintar sendiri, dan dianggap genius. Padahal sebenarnya dia tidak pintar, tetapi dibantu temannya itu.”


Andrea memicingkan mata. “Seperti kamu bantu aku dulu?”


Dale mengangguk. “Iya, Neng.”


“Jadi, sejak awal kamu sudah tahu?


Kok, enggak pernah cerita sama aku?”


“Buat apa? Tidak ada pengaruhnya juga buat Neng. Neng tidak termasuk yang mudah terhasut.”


“Siapa saja yang terhasut?”


“Hampir semuanya, kecuali Neng dan teman-teman yang kuat iman," kata Dale.


"Dia, dia, dia tuh, termasuk dia yang gerakkannya mirip keong.” Dale menunjuk beberapa teman sekelasnya, termasuk Akri dan gengnya, juga melihat ke arah Zainal.


"Dia mudah banget dihasut, hatinya rapuh," lanjut Dale.


“Terus aku harus bagaimana?” tanya Andrea.


Salah seorang temannya melirik. Andrea pura-pura menguap.


“Neng harus bisa membujuk Bu Anis, oleh Bu Anis jin itu takut. Soalnya dia suka sama Lyla. Dia tidak bisa bertindak seenaknya."


“Hmm, di dunia kalian juga ada ya pencitraan.” Andrea berbisik. "Kalau begitu, dia saingan kamu ya?" tanya Andrea lagi.


“Enggak juga, Lyla lebih memilih saya jadi temannya, kok.” Dale merapikan jasnya.


Andrea berpikir. “Pantas saja, Fany tidak menyukaimu. Jelas banget dia dipengaruhi buruk. Mungkin dia cemburu, Dal."


"Jelas. Lyla kan tidak pernah menerima cintanya," sahut Dale.


Andrea mencibir. "Memang kamu diterima?"


"Belum juga, sih." Dale menggaruk kepalanya.


Berbarengan dengan itu Fany masuk, dia menatap tajam ke arah Dale, dan Dale menatap jin yang mengikutinya, sedangkan Andrea menatap lekat Fany.


bersambung


happy reading, Readers


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komen, vote, dan rate yaa


Terima kasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2