My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 40 Hangat Untuk Semua Orang


__ADS_3

Andrea jengah juga dipandangi aneh oleh Ren dan Gigit. Dia buru-buru berdiri.


“Euuhh, ini habis makan piza enggak minum, seret,” jawabnya.


“Aku cari minum, kalian ngobrol saja dulu.” Andrea mengambil tasnya, lalu pergi mencari gerai minuman.


Gigit mencomot Piza yang disodorkan Ren.


“Biasanya kalau seret pegang leher ya, kok dia pegang pipi?” tanya Gigit.


“Mungkin sakit gigi juga, sausnya pedas,” sahut Ren.


Gigit menaikkan alisnya sebelah, lalu menggigit piza yang di tangannya.


"Bukannya kalau sakit gigi itu karena kemanisan?”


“Ehmm, dia mah aneh, orangnya suka beda dari orang lain.” Ren menjawab asal-asalan.


Mereka berbincang dengan akrab. Gigit orangnya menyenangkan, Ren seperti sudah mengenalnya lama, padahal bertemu saja baru tiga kali.


Yang pertama kali ketika Gigit mengantar Andrea, dia sempat tidak suka karena menyangka dia salah seorang pengikut geng motor. Kedua kali, ketika mengantarnya pulang, menggantikan tetangganya yang menjadi pengemudi ojek online. Ren mulai sadar kalau Gigit itu orang baik. Yang ketiga, sekarang ini, lumayan bisa melihat kepribadiannya yang memang enak diajak bergaul. Ren jadi respek dengan dia.


Tidak berapa lama Andrea datang dengan tiga cup minuman dingin.


“Wuiihh, masih bisa traktir nih?” tanya Ren.


“Masih ada sisa kan tadi dari patungan beli piza,” jawab Andrea, blak-blakan.


“Sori ya, Git, hanya bisa traktir minum, maklum kita sedang jadi duo kere.” Andrea cengar-cengir.


“Santai, Ndre, kalau kalian berkenan, mau makan atau minum apa tinggal bilang, aku yang traktir.” Gigit tersenyum.


“Betul nih?” Ren mulai berani pegang lengan Gigit, dia refleks mengguncang-guncangnya.


Gigit mengangguk.


“Aku mau harum manis karakter di sebelah sana,” tunjuk Ren.


“Harum manis itu permen kapas?” tanya Gigit.


Ren mengangguk.


“Boleh,” lanjut Gigit.


Ren kegirangan, seperti bocah ingusan. “Aku mau beli karakter Winnie the Pooh. Kartun favorit aku," katanya.


Andrea menyedot minumannya dengan rikuh. Dia tidak menyangka Ren akan memalukan seperti itu.


“Kamu mau karakter apa, Ndre?” lanjut Ren.


“Ngga ah, kenyang.”


“Ya sudah, kamu tinggal pilih.” Gigit menegaskan lagi.


“Pasti pasti,” sahut Ren, lebih tegas.


Bosan mengobrol, mereka pergi ke arena bermain. Mencoba permainan dengan ceria. Tentu saja setelah membeli permen kapas keinginan Ren.


Kehadiran Gigit di antara mereka membuat suasana semakin menyenangkan.


Andrea senang melihat Ren tertawa kembali seperti biasanya. Tidak peduli itu tawa asli atau kepalsuan, yang penting sahabatnya itu bisa melupakan sesaat kesedihan hatinya.


Dihadapkan pada ibu yang sakit lebih menyedihkan dari pada dihadapkan pada ibu yang akan memberi papa tiri.


Andrea menantang Ren main Pump It Up, yang selalu jadi permainan favorit anak-anak muda.


Tentu saja Ren menolak, dia tidak biasa joget-joget di depan orang. Walaupun terbiasa bela diri, badannya kurang lentur untuk dance.


Akhirnya Gigit yang berani menerima tantanga Andrea. Mereka main freestyle.


Gigit kewalahan juga, karena Andrea lihai memainkannya.


Pengunjung yang lain sampai ikut menonton mereka. Tetapi, saking semangat, Andrea terlalu melebar ketika mengayunkan kaki, sehingga kakinya terperosok.


“Aaa ....” Tubuh Andrea oleng ke sisi papan dance, para penonton terpekik, untung saja Gigit sigap menahan. Pekikan penonton berubah jadi ciee yang menggema.


Kaki Andrea keseleo sedikit. Andrea dipapah Gigit, kepalanya celingukan, mencari Dale.


“Terlalu semangat,” kata Gigit, sambil membawa Andrea duduk. Andrea meringis.


“Ngga apa-apa, Ndre?” Ren menghampiri.


“Keseleo dikit.”


“Buka sepatunya dulu, aku urut,” pinta Gigit.


“Ngga usah, biar aku istirahatkan saja dulu.”


Andrea malu jika Gigit memegang kakinya, takut bau. Dia sedang berkeringat banyak seperti itu, pasti kakinya juga basah, tidak terbayang aromanya. Saat ini pun dia lagi risi, Gigit dekat banget, sedangkan keteknya juga banjir.


Semoga saja cowok ini pilek mendadak, atau buta bau, biar tidak bisa mencium aroma ketek gue, batinnya.


Akhirnya mereka bertiga duduk, melihat lalu lalang pengunjung arena bermain yang didominasi anak-anak kecil.

__ADS_1


“Gimana kakinya, Ndre?” tanya Ren.


“Sudah enakkan, kok.”


“Syukurlah, aku tukar ini dulu ya,” kata Ren, sambil memperlihatkan gulungan tiket yang diperolehnya dari permainan-permainan sebelumya.


“Semoga bisa ditukar sama tiket konser,” kata Gigit.


“Mana ada, paling bisa ditukar penghapus pensil.”


“Kali aja, ada.”


“Titip ini ya! Jangan dimakan!” Ren menyerahkan permen kapasnya kepada Andrea, lalu pergi membawa gulungan tiketnya.


“Buat apa coba kalau enggak dimakan?” Andrea membuka tutup plastik, ingin mencubit permen kapas Winnie The Pooh yang dititipkan Ren, tetapi Gigit mencegahnya, dia menarik permen kapas Ren dari tangan Andrea.


"Eh, kenapa?" Andrea heran.


“Kaki kamu sudah enggak sakit kan?”


Andrea menggeleng.


Gigit menariknya berdiri, dan menggenggam tangannya. Andrea membiarkan kakinya melangkah mengikuti tangan Gigit membawanya.


Hangat genggaman tangan Gigit mulai menjalar sampai ke jantungnya. Sakit keseleo tadi raib entah ke mana, berganti debaran yang mengasyikan.


“Kalau mau, bilang! Jangan main cubit punya orang,” kata Gigit, tanpa melepaskan genggaman tangannya.


Andrea memilih permen kapas bentuk emoticon senyum yang berambut lucu.


“Kamu suka ini?” tanya Gigit.


“Iya, aku suka dengan senyuman.”


“Ada alasan khususnya kenapa bisa suka itu?”


“Ngga ada, aku suka saja dengan yang selalu tersenyum. Berarti mereka menikmati hidup, dan ketika kita menikmati hidup, berarti kita sedang bersyukur. Senyum itu mendamaikan, tahu.”


Gigit memiringkan wajahnya agar bisa tepat ada di depan wajah Andrea. Senyumnya lebar, tetapi dengan mata juling ke tengah.


Andrea memukul pundaknya. “Itu bukan tersenyum, terjangkit epilepsi.”


Gigit meringis, sambil mengusap-usap bahunya.


Ren berlari-lari menghampiri. Ditangannya ada tiga buah loli pop. “Kalian aku cari-cari, ternyata di sini."


"Bukannya tadi kamu enggak mau?” tanya Ren, melihat permen kapas di tangan Andrea.


“Enak saja, kalau enggak dibelikan habis tuh tadi harum manis kamu, Ren. Dicubiti diam-diam.”


“Terus punyaku mana?” tanya Ren.


Gigit menepuk kepalanya. “Lupa banget, ketinggalan di sana.”


“Iiihhh ... Kalian memang jahaddd!!”


“Ayo ambil!” Gigit menarik tangan Ren yang merengut. “Kamu tunggu saja di sini, Ndre!”


Ada lirik lain dari Andrea ketika melihat Gigit memegang tangan Ren juga.


Ternyata dia memang begitu kepada semua orang, pikirnya.


Andrea memandangi permen kapas dintangannya, mencari kembali hangat yang tadi dia rasakan. Tidak ada.


Andrea malah merasakan ngilu lagi di kakinya. “Si Daldeldol ke mana?” gumamnya.


Dia heran kenapa Dale tidak muncul ketika dia jatuh tadi, padahal sekecil apa pun kecelakaan yang terjadi padanya, dia pasti muncul.


Digoyang-goyang angkel kakinya, masih ada ngilu di sana. “Apa dia enggak menemukan jengkol?” gumamnya lagi, dia jadi khawatir. Dilihatnya sekeliling, lalu mulai membaca mantra, “Dulale ... Dulale ... Westin ....”


“Ndre!” Suara Ren menghentikan mantra Andrea. Gigit mengikutinya di belakang.


“Sudah sore, kita pulang, yuk!”


“Yuk,” sahut Andrea.


“Kita naik taksi online saja, males naik angkot, takut keguguran.” Ren mengambil ponselnya.


“Keguguran? Memang kalian pahlawan?”


“Itu gugur ....” Ren dan Andrea memukul Gigit dengan permen kapas masing-masing.


Mereka berpisah di depan mol. Gigit menemani mereka sampai memasuki taksi online.


“Lain kali kita jalan lagi ya, Git!” seru Ren.


“Terima kasih untuk semuanya,” lanjut Ren.


“Oke, kontak saja, ya!” Gigit mengacungkan gawainya.


Ren dan Andrea melambaikan tangan dari dalam mobil. Gigit memakai helm, lalu melaju dengan motornya mendahului.


“Menyenangkan juga ya dia,” kata Ren.

__ADS_1


“Ceilee, berkesan, katanya anak motor urakan,” sindir Andrea.


“Kan dia bukan anak motor, dodol.”


“Makanya don’t judge someone by the cover.”


“Yes i know," sambar Ren.


“Sesuai aplikasi, Neng?” tanya sopir taksi.


“Yes, sir!” sahut Ren lagi. “Eh, di toang jangan ngebut-ngebut ya, Pak. Ini ada yang keseleo.”


"Apa hubungannya coba?" protes Andrea.


Ren menyimpan telunjuknya menyuruh Andrea diam.


“Iya, Neng, siap! Lagian toang yang akan dilewati juga pendek, enggak panjang ngagebay seperti jaman dulu.”


“Wah, dulu panjang banget ya, Pak?”


“Panjang, seram, sering banyak begal. Sekarang mah pendek, toang sudah jadi bangunan bertingkat dan kota. Kurang seru.”


“Lahh, Bapak pengen banyak begal lagi?” tanya Andrea.


“Bukan begitu, kurang seru maksudnya jaman sudah berubah.”


“Kita mah seru-seru saja ya, Ren.” Andrea dan Ren cekikikan, Pak Sopir tidak meneruskan curhatnya.


Permen kapas masing-masing masih utuh di dalam plastik. Dalam hati mereka berjanji akan menyimpan pemberian manis Gigit itu baik-baik.


Hampir jam lima sore, Andrea membuka pagar. Ibunya bertolak pinggang di depan pintu.


“Sekolah bubar lebih awal, bukannya kasih kabar, malah keluyuran,” berondongnya.


“Iya, maaf.” Andrea berjalan masuk ke dalam rumah.


“Dari mana dulu?” Yuli menyusul.


“Ke mol sama Ren.”


Andrea yakin, ibunya pasti menjemput ke sekolah.


“Kenapa ponselnya dimatikan?”


“Tidak dimatikan, habis baterai.”


“Ibu tidak melarang kamu pergi jalan sama teman-teman kamu, Ndre, tetapi ingat untuk kabari Ibu, dong!”


“Iya, maaf.” Andrea masuk ke dalam kamarnya.


Ibunya terus mengikuti.


“Kamu ada apa sih, Ndre? Bicara sama Ibu kalau ada masalah.”


“Masalah apa? Aku baik-baik saja. Sudah, Bu, aku mau mandi.”


Selesai mandi Andrea berbaring di kamarnya. Permen kapas dari Gigit terpajang di meja belajarnya. Tersenyum, ke arahnya.


Bagaimana dia bisa berkata sangat filosofis kepada Gigit tentang senyuman, sedangkan dia bersikap masam kepada ibunya.


“Bu,” panggilnya. Ibunya sedang menata piring di meja makan.


“Makan dulu, Ndre!”


Andrea duduk di meja makan. “Maafin aku ya, tadi sudah bikin khawatir.”


Yuli tersenyum, lalu menghampiri Andrea, dan membereskan rambut anak kesayangannya itu.


“Tidak apa-apa, Ibu juga minta maaf karena langsung menegur. Ibu khawatir sekali, Ndre, apalagi tadi mendengar berita dari satpam sekolah, katanya tadi ada kerasukan masal.”


“Iya,” sahut Andrea, dia mengambil tempe goreng tepung. Ibunya mendadak terdiam sambil memegangi kepala. “Ibu kenapa?” tanyanya.


“Tidak apa-apa.”


Dari hidung ibunya Andrea melihat cairan merah pekat keluar perlahan. Andrea meloncat berdiri. “Ibu mimisan!” serunya.


Yuli memegang hidungnya, dia segera mengambil tisu dan mengusapnya. Andrea gemetar, dia kaget melihat darah segar mengubah warna tisu menjadi merah.


Yuli bersikap tenang seolah tidak apa-apa, dia membersihkan darahnya sampai habis.


“Ngga apa-apa, ini hanya kecapaian. Waktu kecil Ibu suka mimisan juga. Ibu bersihkan dulu.”


“Ayo, Bu, aku antar !” Andrea memegang bahu ibunya.


“Tidak usah, Ibu sendiri saja, kamu makan saja!”


“Tapi, Bu?”


“Sudah, enggak apa-apa, Ndre!”


Yuli pergi ke kamarnya, Andrea mematung. Ibunya tidak pernah cerita kalau sering mimisan waktu kecil. Apa lagi ini? Hatinya semakin tidak menentu.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2